Milister ysh,
‘Kanan Kiri OK’ adalah satu dari demikian banyak judul film2 komedi Warkop DKI yg banyak berciri jenaka, ringan dan sering berasosiasi ‘kearah sana’ seperti ‘Saya Suka Kamu Punya’ (198.) ….‘Atas Boleh Bawah Boleh (1986), ‘Depan Bisa Belakang Bisa’ (1987), ‘Dongkrak Antik’ (1982), ‘Gantian Dong‘ (1985)… dsb. Utk diketahui……. Asal mula judul asli film tsb adalah “Kiri-Kanan Ok”….. Tapi karena namanya dimasa orde baru segala sesuatu bisa mudah bermakna “mengganggu stabilitas negara”…… maka tak cukup sekedar diperlukan peran BSF (Badan Sensor Film)…. Ratusan film dari total produksi film Indonesia yang mencapai 2.438 film harus berurusan dengan Departemen Penerangan dan Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda)—lembaga pengawasan di daerah di bawah koordinasi Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) di era Orde Baru---sejak saat skenario film ditulis hingga revisi judul film sebelum beredar. Film-film itu masih harus menghadapi kejamnya gunting Badan Sensor Film (sekarang Lembaga Sensor Film) dan keputusan Jaksa Agung yang sewaktu-waktu bisa membatalkan peredaran film……….. Judul komedi Warkop “Kanan Kiri OK” adalah hasil perubahan dari “Kiri Kanan OK. "….. “......Kalau kata Kiri didulukan kesannya PKI”…. Begitu alasan Laksusda…… Pengalaman Sophan Sophiaan lain lagi. Saat membuat film 'Tinggal Landas', karya novel Bondan Winarno, ia disarankan oleh Dirjen RTF waktu itu utk menambahkan kata "Buat Kekasih". "Kata ‘Tinggal Landas’ itu tak boleh dipakai karena Indonesia sedang berada dalam masa tinggal landas," kata pria asal Makassar itu terbahak. Judy Soebroto kini 64 tahun, masih memendam rasa kecewa yang dalam. Film garapannya, “Nyoman dan Presiden”, 20 tahun lalu dilarang hanya karena ia menolak mengganti judul film menjadi “Nyoman dan Merah Putih”. Judy memperlihatkan setumpuk dokumen yang telah lusuh dimakan usia. Ia menunjukkan surat lolos sensor Badan Sensor Film pada 1989. Film itu telah dinyatakan lulus dengan judul Nyoman dan Presiden. Dan menurut Judy, tak satu frame pun yang disensor dari film itu. Sebuah surat panggilan dari Departemen Penerangan kemudian meruntuhkan harapan Judy yang ingin menyaksikan filmnya diputar di bioskop-bioskop. Judy diminta mengganti judul film dengan lima judul lain: 'Nyoman dan Bapaknya', 'Nyoman dan Kita', 'Nyoman dan Bangsa', 'Nyoman dan Merah Putih', dan N'yoman dan Indonesia'. "Saya menolak karena kalau judulnya diganti akan menghilangkan makna seluruh film," ucapnya. Ia mengungkapkan, tak ada yang berbahaya dari filmnya. Ia tak menghina presiden, juga tak mengkultuskannya. Filmnya hanya bertutur tentang seorang bocah Bali berusia 11 tahun yang terobsesi ingin bertemu Presiden Soeharto. Kalau tetap memakai judul itu, ucap Judy mengutip pejabat Departemen Penerangan yang menemuinya, film itu bisa merongrong kewibawaan lembaga kepresidenan. Lantaran tetap menolak mengganti judul, 'Nyoman dan Presiden' dilarang beredar di bioskop komersial. Peraih Piala Citra FFI 1978 sebagai penata artistik terbaik dalam film 'Jakarta-Jakarta' itu pun seketika bangkrut. Ongkos produksi sekitar Rp 700 juta melayang. "Saya benar-benar jatuh miskin," ucapnya. --- On Mon, 4/27/09, Risfan M <risf...@..........> wrote: From: Risfan M <risf...@.........> Subject: [referensi] Untuk bung Fajar: Kanan-Kiri Oke To: "referensi" <[email protected]> Date: Monday, April 27, 2009, 5:39 PM Bung Fajar dan rekans ysh, Pepatah mengatakan "Always two sides of everything." Satu benda yang sama bisa dilihat berbeda, dari kanan atau kiri. Begitu juga "pembangunan. " Pada satu masa "strategi pembangunan" itu diperdebatkan dari sudut kanan vs kiri. Hal itu tentu bedampak pula pada pandangan atas "strategi pengembangan wilayah" sebagai turunannya. Adalah pusat-pusat pertumbuhan, yang dilihat dari sisi kanan merupakan mata rantai penyebaran kegiatan (dan kue) pembangunan, ada spread effect. Tapi hal yang sama, dari sisi kiri dilihat sebagai "penghisap kemakmuran daerah". Mata rantai pusat-pusat didapati sebagai tentakel gurita kapitalis global (back-wash effect). Negara dunia ketiga yang pro-kapitalis, oleh kaum kiri yang percaya "teori ketergantungan" , disebut negara kapitalis pinggiran yang perannya membantu menghisap surplus dari desa-desa, dibawa ke kota-kota, ke metropolitan, untuk selanjutnya dialirkan ke pusat-pusat (kapital) dunia. Entah sudut pandang mana yang benar. Keduanya punya argumen. Tapi, sebagai awam secara random di lapangan bisa dilihat fakta yang mendukung keduanya. Ada penyebaran kegiatan (spread effect), sarana-prasarana, sebaran kue nya juga sampai ke desa. Tapi jika dilihat dari barang yang dikonsumsi penduduk, dibeli dimana, diproduksi dimana, dan implikasi aliran uang, tampaknya penghisapan surplus (back-wash effect) dan capital flight juga terjadi. Mungkin saja memang "kanan-kiri oke". Pertanyaannya: apa implikasinya bagi strategi pengembangan wilayah? Tapi itu tentu hanya cerita lama ya. Jadul. Saya hanya ingat dulu disuruh baca: 1. Emil Salim, "Perbangunan dan Pemerataan." 2. Thee Kian Wie, "Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan (1981) 3. Arief Budiman, "Teori Pembangunan Dunia Ketiga", 1995 3. Michael Lipton 'Why Poor People Stay Poor: Urban Bias in World Development', Temple Smith : London , 1977 4. Friedman, J., and Weaver, C. (1979), Territory and Function ; The Evolution of Regional Planning’, Edward Arnold : Weaver, C (1979) Salam, Risfan Munir

