Sahabat Referensiers ysh,

Pertama, kalau mau diambil hikmah, warning terhadap unsur bahaya dari neolib 
ini penting. Walaupun kalau saya boleh berpendapat neolib ini ibarat "morfin", 
ada fungsinya untuk kedokteran, tapi risikonya tinggi kalau salah takaran. 
Suntikan kewirausahaan, privatisasi, peran swasta penting untuk menumbuhkan 
efisiensi dan kontrol melalui persaingan, serta untuk menyertakan modal swasta. 
Istilah Pak Thee Kian Wie (Kompas kemarin) neolib moderate yang fungsional.

Dalam pembangunan prasarana, contoh jalan raya. Solusi pemerintah, untuk jalan 
tol untuk mengatasi transportasi jalur padat, diundang peran swasta. Sekali 
modal swasta masuk, maka pertimbangan keuntungan bicara. Dan bisa 
diperjual-belikan sahamnya. Bahkan Menteri PU terlibat dalam penetapan tarifnya 
Apakah tarif memihak konsumen/publik atau pemodal? Silahkan menilai.

Saya punya pengalaman 10 tahun, tiap 6 bulan mengajukan permohonan telpon. 
Tidak pernah terlayani, alasan sambungan ke lingkungan habis. Baru setelah 
Cacuk S, yang mantan eksekutif IBM itu masuk, ada perombakan, menyuntikkan 
kewirausahaan. Balik Telkom yang mengejar konsumen. Dengan risiko juga 
mengundang modal swasta. Yang diterus-teruskan sehingga seperti "jualan" aset 
publik itu.

Kesimpulan awam saya, pada takaran tertentu, diterapkan dalam kadar tertentu, 
privatisasi, neolib fungsional ada gunanya. Tapi mungkin bukan sebagai mazhab 
keseluruhan sistem ekonomi. Dan pada umumnya tiap negara menganut sistem 
campuran.

Tapi memang perlu diingatkan kepada tiap penguasa. Karena pemerintah kita 
biasanya mengidap sindrom "good boys". Ingin selalu jadi pengikut "yang baik", 
kadarnya melebihi negara pencetusnya. Di USA petani disubsidi, disini kalau tak 
diteriaki, subsidi hampir ditiadakan.

Di bidang urban development, maunya sebagian PDAM diswastakan. 
Tapi sekarang agak realistis dengan mengenalkan pola pengelolaan keuangan ala 
BLUD, yang mirip Jawatan tempo dulu (bagi yang mampu kena tarif komersial, yang 
lemah disubsidi).

Tapi kalau bicara peran pemerintah, apalagi subsidi, yang perlu ditekankan 
adalah transparansi dan harus bebas KKN. Negara kita seharusnya mampu menjamin 
kehidupan rakyatnya, memberi pelayanan publik gratis atau murah. Seandainya 
hasil minyak, tambang dan hutan tidak dikorupsi atau dibagi di kalangan elit 
semata.
 
Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Sent: Wednesday, May 27, 2009 2:08 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo



Uda Eka dan Sahabat Referensiers Ysh,
Saya tidak bermaksud menjawab secara langsung pertanyaan uda Eka, hanya 
menggeser pertanyaan tersebut, atau katakanlah menambahkan lagi pertanyaan yang 
kira-kira begini:  “apakah pendekatan  neoliberalisme itu ada dalam kebijakan 
pembangunan daerah (regional development)”?. 
Kalau tentang  Indonesia, terus terang saya tidak tahu karena  saya belum 
menemukannya. Mungkin sahabat referensiers bisa beri pencerahan.  Tetapi kalau 
di negara-negara lain, tulisan tentang pendekatan neoliberalism dalam spatial 
development  relatif banyak, apalagi yang berkenaan dengan masalah  perkotaan. 
Kita ambil contoh Australia. Dalam tulisannya, Tonts dan Haslam-MaKenzie (2005) 
"Neoliberalism and Changing Regional Policy in Australia". International 
Planning Studies  10( 3–4): 183–200, pendekatan neoliberal mulai muncul pada 
dekade 1980an. Sebelumnya, pada decade 1970an, di bawah pemerintahan PM  
Whitlam (Partai Buruh), pemerintah Federal turun tangan langsung mengatasi 
ketidakmerataan kesejahteraan sosial melalui pembangunan regional. Whitlam 
mengangkat isu kemiskinan. Pada jaman Whitlam inilah dibentuk Department of 
Urban and Regional Development (DURD). Setelah pemerintahan Whitlam jatuh pada 
1975, DURD tidak lagi efektif. 
 
Periode ketika pembangunan regional mendapat perhatian langsung pemerintah 
Federal inilah yang kemudian disebut sebagai periode strategi 
“interventionist”. Ini yang membedakannya dengan pendekatan neoliberal yang 
muncul pada dekade 1980an. 
 
Zamannya PM Howard? Saya kutipkan langsung tulisan Tonts:
 
Upon winning the election, Howard soon announced a series of major policy 
reforms aimed at further liberalizing the economy and downsizing the public 
service. This represented a return to the more “hard-line” neoliberal agenda 
that had characterized Australian politics in the 1980.
 
Di AS, scholar seperti Saskia Sassen, Storper, Alen Scott, David Harvey,  dll  
banyak menulis tentang landscape ekonomi urban dan regional akibat pengaruh 
dari pendekatan neoliberal. Bahasa politiknya, kalau tokh harus dibuat 
dikotomi, scholar tersebut agak berbau sosialis, agak kiri. Mungkin begitu 
istilah gampangnya ya rekan Eko van Paris (CMIIW). 
 
Kembali pada pertanyaan uda Eka: dalam mazhab ekonomi apa 'sistem perencanaan 
dan pembangunan' yang telah terbangun selama ini dapat tumbuh berkembang 
mencapai wujudnya yang ideal?  
 
Di antara kemungkinan jawabannya, satu hal yang sama sekali tidak boleh 
dilupakan, ideal  menurut apa yang diamanatkan  konstitusi.
 
Seorang pengamat dan praktisi politik  boleh mengatakan bahwa Korea Utara 
ekonominya hancur lebur karena system ekonominya tertutup. Seorang diplomat 
yang pernah bertugas di sana mengatakan kekagumannya di tengah keterisolasian 
Korut, pemerataan kesejahteraan masyarakat di Korut sangat mengesankan, tidak 
ada kriminilitas, tidak ada kemacetan, tidak ada korupsi yang sangat menonjol.
 
Hancur dan ideal itu menurut siapa?  Beberapa kali  saya naik taksi di Chicago 
(gini-gini mantan “Chicago-pinggiran Boy” .. he he he he) si sopir Hispanic itu 
nyerocos terus tentang beratnya hidup di Chicago, habis untuk bayar pajak.. 
bayar ini bayar itu… Persis seperti nyerocosnya sopir taksi yang biasa ngetem 
di Bandara Changi. Kota dengan system ekonomi yang memberikan kemakmuran itu, 
ideal menurut siapa? 
 
Dan, adakah konsekuensi perubahan sistem karena perubahan mazhab ekonomi? 
Tulisan singkat ini sudah memberikan jawaban tidak langsung.
 
Salam hangat untuk semua sahabat,
 
Nuzul Achjar
 
 
 
 
 

Kirim email ke