Lho Pak Bambang, Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan paradigma yg paling diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan diskusi antropologis, Pak.... Saya rasa itu lebih merupakan diskusi filsafat (falsafah?) tentang apa cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia dan juga pendekatan-pendekatan yg perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau Bhutan melakukan pemilihan kepada paradigma kebahagiaan ( happyness) dan bukan pertumbuhan (not growth), itu khan bagian dari pilihan-pilihan strategis bangsa Bhutan dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Saya rasa, kita tidak harus memilih paradigma kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, tertus terang, pilihan strategis bangsa Bhutan itu bisa menjadi "pengingatan" bagi kita yang cenderung memilih paradigma pertumbuhan (growth) di dalam pilihan strategis pembangunan bangsa......Apakah hal itu telah benar dan sesuai dengan apa yg dicita-citakan Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak...
--- On Fri, 5/29/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo To: [email protected] Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM Mas Fadjar ysh, Maaf saya tidak mau mengajak milist ini kearah antropo-discussion. Saya cuman benar2 tidak bisa memahami begitu banyaknya kebetulan yang terjadi di negara ini dan semua berbuah pada sebuah kenikmatan ... meskipun ini baru kenikmatan dunia he he he. Salam bambang sp

