Pak Fadjar ysh, beberapa tahun yang lalu saya pernah sesorah
<http://tech.groups.yahoo.com/group/kerabat-antropologi/message/7418>  
di forum antropolog, dan saya cuplik lagi di bawah. Intinya antropologi
itu bukan sekedar ilmu, tetapi juga merupakan "bahasa". Salam.

-ekadj


--- In [email protected], <efha_mardians...@...> wrote:
>
> Lho Pak Bambang,
>
> Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan paradigma yg paling
diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan diskusi
antropologis, Pak....
>
> Saya rasa itu lebih merupakan diskusi filsafat (falsafah?) tentang apa
cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia dan juga pendekatan-pendekatan
yg perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau Bhutan melakukan pemilihan
kepada paradigma kebahagiaan ( happyness) dan bukan pertumbuhan (not
growth), itu khan bagian dari pilihan-pilihan strategis bangsa Bhutan
dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Saya rasa, kita tidak harus
memilih paradigma kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, tertus
terang, pilihan strategis bangsa Bhutan itu bisa menjadi "pengingatan"
bagi kita yang cenderung memilih paradigma pertumbuhan (growth) di dalam
pilihan strategis pembangunan bangsa......Apakah hal itu telah benar dan
sesuai dengan apa yg dicita-citakan dahulu
>
> Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak...
>
>
>
> --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote:
>
>
> From: bspr...@... bspr...@...
> Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo
> To: [email protected]
> Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM
>
> Mas Fadjar ysh,
> Maaf saya tidak mau mengajak milist ini kearah antropo-discussion.
Saya cuman benar2 tidak bisa memahami begitu banyaknya kebetulan yang
terjadi di negara ini dan semua berbuah pada sebuah kenikmatan ...
meskipun ini baru kenikmatan dunia he he he.
> Salam
> bambang sp
>
.... Pak Fikar dan kerabat2 ysh,
Sebelumnya saya sampaikan bilamana saya bukan seorang antropolog,
justru sebenarnya secara tidak sadar sedang mempelajari hal itu.
Bila anda membaca sedikit tulisan saya, sebenarnya saya sedang tidak
menggambarkan suatu ilmu, tetapi adalah bahasa. Jadi antropologi
adalah bahasa yang beredar, dan mau tidak mau setiap orang akan
berusaha kalau tidak mau disebut dipaksa untuk berbicara dengan
bahasa itu. Mungkin ini penafsiran amatir saya.

Saya tidak mengabaikan Geertz, bukunya telah saya baca sejak 20
tahun yang lalu. Justru tercerahkan, karena membuka alam pertama
saya tentang bangsa-bangsa. Boleh jadi rujukan, namun maunya setelah
itu lebih banyak swakarya yang mengungkapkan jatidiri kita sendiri.
Kemarin saya baca Babad Tanah Jawi bahasa Indonesia, ternyata
klasifikasi sosial bisa lebih rumit dari yang digambarkan Geertz.
Dan saya belum nemu literatur yang memuaskan tentang hal ini. Karena
ini persoalan bahasa, maka saya mencari sendiri jalan ke hal itu,
termasuk mengintip di milis ini. Dan ternyata luar biasa, dalam
beberapa hal banyak tabir yang bisa kita ungkap sendiri.

Mungkin pertanyaan naif saya kepada kerabat antropologi, sejauh mana
anda memahami bangsa anda sendiri? Pertanyaan ini yang saya simpan
pada posting sebelumnya. Bila anda merasa terpanggil, silahkan
dijawab, dan kita bisa memulai berbagi informasi secara sehat.
Bilamana tidak, kita mungkin hanya tumbuh sebagai generasi pembaca
buku cerita, atau komentator iseng.

Karena ini adalah persoalan bahasa, tentunya antropologi adalah
penting untuk pembangunan. Tentunya saya setuju dengan pandangan
sebelumnya tentang perlunya meningkatkan peran itu dewasa ini. Sejak
beberapa tahun ini saya sudah melibatkan rekan2 antropolog untuk
beberapa pekerjaan teknis. Cobalah, betapa tidak kurang pentingnya
antropologi ini.

Harapan yang tersimpan adalah bagaimana para kerabat antropologi
dapat menemukan kesejatian bangsa Indonesia dan suku-suku bangsanya,
dan karenanya kita bisa bermartabat dalam pergaulan dunia. Bilamana
mungkin seperti yang saya lihat di Jepang bulan lalu,
ketika 'keajaiban ekonomi Jepang' hanya dapat dilakukan oleh 'orang'
Jepang dan 'budaya' Jepang. ....

Kirim email ke