Entah relevan atau tidak, silakan "menikmati" postingan berikut ini.
Salam, Roos Akbar --- On Mon, 6/8/09, xxxxxx <[email protected]> wrote: > > From: xxxxxx <[email protected]> > > Subject: [el77itb] Membantu membuka Lapangan Kerja > > To: > > Date: Monday, June 8, 2009, 2:05 PM > > > > Aww, > > > > Bang xxxxx, > > > > 1. MODEL TERAS INDOMARET > > Teras Indomaret se Indonesia, bisa disewa, termasuk di > > Jakarta. > > Bentuknya sewa putus artinya laku, nggak laku bayar sewa, > > tapi bisa bulannan dengan > > kontrak tahunan. > > Modal jadi ga perlu gede lah, cukup uang sewa 400rb/bulan, > > etalase 300-500rb (aset). > > Modal usaha sekitar 300-500rb/hari, tapi dalam 1 hari > > kembali dengan variasi > > keuntungan 20-100% ditahap awal (1-2 bulan) pertama. > > Jadi ga mahal bukan untuk membuka lapangan kerja untuk yang > > membutuhkan? > > > > 2. MODEL BASAR KAKI LIMA > > Kalau mo buka BAZAAR seperti di GASIBU.. biaya sewa > > harian+pengamanan berkisar Rp 20 > > ribu/ hari minggu. Investasi tenda ukuran 2x3= Rp 250 ribu, > > 3x3= Rp 350-400 ribu. > > > > Di Cikarang JABABEKA sewa 1 tahun 500rb, operasional per > > minggu Rp 20 ribu. > > > > Ga mahal bukan? Terjangkaulah, tapi bisa membantu 6-10 > > orang penusaha kecil memasarkan > > produknya > > > > 3. MODEL BAGI HASIL > > > > Seperti di pujasera Giant 22% dari Omzet. > > Di dipati ukur 30% dari omset + pajak penjualan 10% > > > > Rasanya di Jakarta lebih banyak variasinya. Di Raffles Hill > > Cibubur, kontrak ruko 30- > > 40juta/tahun > > > > 4. Model Pedagang Keliling > > > > Dengan uang 200ribu kita bisa membantu pedagang keliling > > jualan teh botol dll, 300ribu > > untuk jual buah segar atau aneka gorengan dll. > > > > Bisnis Cuci kiloan, dengan order awal mencuci mukena > > masjid, rata-rata hanya 2-3 kg > > jadi Rp 8-12 ribu/ masjid.Pengalaman saya cukup 1-2 bulan > > kita bantu kasih order awal, > > selanjutnya sudah full load dengan order anak kost. > > > > 5. MODEL menambah modal pedagang laris > > > > Sering kita melihat pedagang sate, pecel, Es Doger, cukup > > laris tapi tidak berkembang > > pesat. Mengapa? karena keuntungan harian pas-pasan untuk > > hidup (makan, sekolah anak, > > transport, sewa rumah dll) sehingga tidak bisa menyisihkan > > untuk pengembangan usaha. > > > > Subhanallah, kalau kita berikan pinjaman modal usaha 500 > > ribu saja, dalam 2-3 bulan > > usaha tersebut akan berkembang pesat. Mengapa? karena > > keuntungan bertambah dan karena > > dia dipaksa tidak menggunakan keuntungan tambahan tersebut > > untuk hidup, tetapi murni > > untuk digulirkan kembali sebagai modal usaha > > Hitungannya begini: modal 500 ribu dengan keuntungan > > minimum 50%/hari dalam 2 hari > > modal rooribu tersebut sudah jadi iuta, 2 hari kemudian > > sudah jadi 2 juta. dst. > > Ini riil. Bisnis makanan umumnya untung 100%, angka 50% > > saya asumsikan laku hanya 60- > > 70%. > > Setahun kemudian mereka umumnya sudah mendaftar untuk naik > > haji. > > Pola ini pernah diterapkan terhadap pedagang kaki lima > > dibeberapa kota. > > > > 6. MODEL memodali pengrajin Jaket Kaos > > > > Dengan 10 juta rupiah untuk membeli 3 mesin jahit JUKI dan > > bahan baku, dalam 4 bulan > > saat ini omzet hariannya sudah mencapai 5juta/hari. > > > > Insya Allah tulisan ini akan memotivasi rekan-rekan untuk > > segera merintis menyediakan > > lapangan pekerjaan buat yang membutuhkan. Kalau mau tahu > > lebih banyak tentang bisnis > > lain bisa call saya di xxxxxxxx > > > > Mohon maaf jika terkesan menggurui. > > > > wass, > > > > xxxxxxx > > > > > > > > > > > > hotasi simamora wrote: > > > Iwan Pras,dan Para Milister > Untuk menghindari pergerakan gerobak2 dorong, sebenarnya bisa dengan > membuat 'gudang' atau tempat penyimpanan. Pada lokasi yang menjadi > tempat PKL, sudah dibuatkan lubang untuk mendirikan tenda, meja dan > kursi. Pada saatnya akan beraktivitas, tinggal membongkar dan > memasang. Tapi memang, ini untuk lokasi yang memang cukup banyak para > PKLnya, seperti yang dekat prapatan senen. > Sekedar tambahan untuk dapat lebih memahami rohnya kenapa pedagang > kaki lima muncul, > Saya pernah wawancara beberapa pedagang yang ada di ambasador, yang > menempati ruang terbuka. Mereka berjualan pakaian, dengan luas ruang > usaha sekitar 1.5 x 3 m, di los terbuka. Pada malam hari, barang > dagangan mereka hanya ditutupi dengan tenda terpal. > Ketika saya tanyakan sewa tempat untuk 'PKL' di dalam mall ambasador, > ternyata lumayan besar, yaitu 35 juta per tahun. Kemudian, mereka > harus membayar listrik, sebesar rp 600 ribu per bulan. > Bila dikalkulasi, per hari untuk membayar sewa, mereka harus > mengeluarkan sekitar rp 110 ribu. Kalau mereka memiliki pekerja 2 > orang dengan gaji per hari sekitar rp 35 ribu per orang, total > pengeluaran yang harus mereka sisihkan sekitar rp 180 ribu. Artinya, > kalau hanya dapat untung Rp 200 ribu per hari, sudah tidak memadai lagi. > Tentunya ini akan menyulitkan bagi pedagang ekonomi mikro. Sementara, > di kaki lima, mereka dengan modal terbatas (pinjam dari rentenir > sekitar rp 1 juta) mampu membayar cicilan harian dan plus keuntungan > yang bisa dibawa pulang. Harga jual juga menjadi lebih rendah, dan ini > cukup terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita. > Coba perhatikan pedagang buah kaki lima. Jeruk impor, bisa dijual > dengan harga rp 5000 per kg. Tentunya sulit kita bayangkan, harga > jeruk di pusat buah segar atau mall atau pasar. Saya punya teman, yang > bos buah, dia memiliki 'pekerja' sebanyak 400 orang. Tapi sebenarnya, > mereka itu tidak digaji, tapi menggaji dirinya sendiri, dengan menjadi > penjual buah di atas gerobak dorong. > Hal tersebut di atas, akan sangat sulit untuk diformalkan, apabila > akan mengakibatkan ada biaya tambahan. Kecuali, ditata sedemikian > rupa, sehingga tidak mengganggu keindahan, kenyamanan dan ketentraman > suatu kawasan. > Kalau kita berjalan di perkantoran modern, sebenarnya ada cukup banyak > masyarakat berpenghasilan rendah, yang juga beraktivitas disitu, > seperti, office boy, supir, dsb. Mereka juga tentunya akan mencari > lokasi tempat makan yang murah, yang disesuaikan dengan kantong mereka. > Para ibu-ibu, yang karena lokasi rumahnya sangat jauh dari tempat > kerjanya, hampir tidak memiliki waktu untuk berbelanja. Sore hari, > sembari berganti moda angkutan, tentunya akan menghemat waktu > sekaligus juga hemat biaya, ibu-ibu berbelanja sebagian dari kebutuhan > rumah tangga. > Tentunya, hal ini juga harus menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. > Semoga bermanfaat > Salam > HS > > ------------------------------------------------------------------------ > *From:* Irwan Prasetyo <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Wednesday, June 10, 2009 18:22:31 > *Subject:* Re: [referensi] Re: Penyediaan Lahan ut PKL > > Ysh, Para Milister, > > Setuju sekali PKL mendapat perhatian untuk penggunaan lahan temporer, > namun saya juga ingin mengangkat issue pergerakan PKL ini, terutama > gerobak-gerobak dorong itu. Perlu difasilitasi jalur-jalurnya, jam-jam > pergerakannya juga. > > Saya perhatikan pergerakan gerobak-gerobak tersebut di jalan lokal sempit > yang tidak ada trotoarnya pada jam-jam sibuk, sehingga menyebabkan > kemacetan. Kasihan dua-duanya ya gerobak ya mobil. Demikian usulan saya. > Terimakasih. > > Pak Iman dkk ysh, > > Beberapa topik terkait PKL dan Jokowi > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7092 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7092>> ini sudah banyak > dibahas dan dapat dilihat di arsip > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7100 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7100>> kita. Saya ingin > mengungkap sedikit mengenai bentuk PKL ini, dari uraian Pak Djarot > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3442 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3442>> seharusnya PKL > sebagai sektor informal ini tidak menempati ruang usaha yang tetap, > apalagi mempunyai gudang > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5106 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5106>> juga. Bila > tetap, maka bentuknya sudah beralih kepada sektor formal > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3076 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3076>> , dan membutuhkan > banyak persyaratan. > > Pewadahan PKL ini seharusnya didisain secara temporer atau kagetan. > Beberapa contoh yang pernah saya lihat di beberapa tempat, sifat > temporer bentuknya tidak rutin day-to-day, dan boleh menempati > ruang-ruang publik yang leluasa. Contoh pewadahan PKL ini adalah Pasar > Blaak <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7006 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7006>> di > Rotterdam, yang digandrungi teman2 saya dari Delft untuk datang setiap > hari Rabu dan Sabtu. Area Blaak sehari-hari hanyalah plaza biasa yang > digunakan untuk jalur transportasi. Di barat Amsterdam ada kota kecil > Beverwijk, yang setiap Sabtu ramai dikunjungi dari seluruh penjuru > Belanda. Area PKL menempati bangunan-bangunan hanggar yang kelihatannya > tidak begitu digunakan. Flea market > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/5106 > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5106>> di Tokyo > menempati area sekitar stadion bola, dst. Tidak ada pedagang yang steady > berlokasi secara tetap. > > Sebenarnya Pemda DKI pernah bereksperimen seperti itu, yaitu menyediakan > ruang di Parkir Timur Senayan pada hari Minggu, juga 'Sogo jongkok' di > sekitar Tanah Abang. Seharusnya hal ini dapat dihidupkan lagi di > beberapa tempat lain, dan diatur waktunya sehingga menjadi Pasar Senen, > Pasar Minggu, Pasar Rebo, Pasar Jum'at, dst. Mereka diarahkan untuk > menggunakan ruang publik yang leluasa secara temporer sehingga tidak > mengganggu aktivitas perkotaan lainnya. Saya kira konsep ini bisa > dikembangkan di kota-kota besar dan menengah kita. > > Demikian sedikit saran. Salam. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com > <mailto:referensi%40yahoogroups.com>, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> > wrote: > > > > > > Pak Iman, pak Risfan dan milister ysh, > >  > > Waduh.. lagi enak2 ngikutin diskusi ttg Manohara kok sdh pada > ngajakin pindah  ngomongin soal PKL siih?..... > > Saya setuju 100% contoh praktis penanganan PKL kota Solo oleh Walikota > Jokowi dapat dikedepankan  dgn syarat ….. kalau yg namanya > “arus urbanisasi� di Indonesia sudah mulai mendekati  > reda…. Yg ditandai dgn angka urbanisasi yg telah mencapai katakan >  angka 80% (Indonesia pd 2008  telah 50%)……… > tapi kalau angka urbanisasi kita blm mencapai > 80-85%...…yg itu artinya  arus urbanisasi kita masih deras > sekali…… saya baru  50% saja dulu setuju kota Solo > dijadikan contoh (city planning) krn yg 50% lagi kita msh harus mengurus > manajemen arah tujuan2 urbanisasi/ migrasi dari penduduk kota lbh kecil/ > desa secara nasional  (management of urban flow)…… yg > menyerbu kekota2 dimana bila tidak diintervensi dgn teknologi > keruangan…. arus itu nampaknya tidak  akan mengubah pola > kecenderungan favoritisme penduduk dlm memilih kota2 > tujuannya…… yg itu akan berdampak tidak akan mengubah pola > kecenderungan primacy dan ketimpangan > >  persebaran besaran kota2 yg ada sekarang………..  > > Angka urbanisasi terbesar muncul di megapolitan Jabodetabek…… >   diikuti 3 kota terbesar lainnya Surabaya, Medan, > Bandung……. kemudian berikutnya pada kota2 metropolitan tahap > awal spt Palembang, Semarang, Makassar dsb…… barulah > berikutnya…. dgn angka yg semakin kecil terjadi pada kota2 > menengah spt. Solo, Kediri, Manado, Pontianak dsb.… berikutnya > lagi dgn angka yg semakin lbh kecil lagi  terjadi pada kota yg lbh > kecil lagi … malah kotamadya Magelang  pernah dilaporkan sbg > minus pertambahan  jumlah penduduknya…… > > KotaSolo baik sbg  salah satu contoh ttg manajemen PKL pada kota > dgn angka urbanisai tidak terlalu besar… tetapi kita blm punya > contoh sukses atau tak sangguplah rasanya akan mengelola kota2 besar dgn > arus urbanisasi yg demikian besarnya  tanpa disisihkan kebijakan/ > strategi mengalirkan sbgn arus urbanisasi kerencana kota metro atau > rencana kota mega lainnya…… > > Selain itu PKL bukanlah masalah perkotaan yg berdiri sendiri… ia > berkait erat pula dgn pemukiman ilegal dan kumuh….. keduanya > memiliki satu  persamaan ciri… ialah kenekatan dan sikap > bisaan…… sebagian bsr berpikir……begitu ada ruang yg > mereka anggap kosong dan strategis ditengah kota… kesanalah mereka > masuk……tanpa peduli lagi estetika kota dan azas > legalitas……. > > Mereka memang bikin penguasa kota geleng kepala…. Tetapi para > penguasa kota2 besar yg kewalahan dgn arus urbanisasi… tapi terus > berpikir mengatasinya dikota mereka sendirinya dan mereka tak > pernah berpikir ttg bgmn mengalirkan sebagian arus urbanisasi itu kekota > besar lain… sebenarnya mrk patut digelengin kepala juga…… > krn mereka pd dasarnya tergolong keras kepala juga…… sdh tahu > pekerjaan mrk tak akan pernah berhasil tapi  sombong dan nekat > juga……… > > Salam, > >  > > > > --- On Sun, 5/31/09, Risfan M risf...@... wrote: > > > > > > From: Risfan M risf...@... > > Subject: RE: [referensi] Penyediaan Lahan ut PKL > > To: "isoedradjat@ ..." isoedradjat@ ... > > Cc: "refere...@yahoogrou ps.com > <mailto:referensi%40yahoogroups.com>" refere...@yahoogrou ps.com > <mailto:referensi%40yahoogroups.com> > > Date: Sunday, May 31, 2009, 7:28 PM > > > > Dear Pak Iman & Rekans yth, > > > > Contoh praktis barangkali Kota Solo. Pertama, pendekatannya yang > memanusiakan pelaku sektor informal (PKL). Kedua, memberi tempat, > lokalisasi yang dibayar lewat retribusi harian yang dikelola sangat rapi > (anti bocor), tanpa downpayment. Sebagian lagi, dirapikan tempat > jualannya, tertib dan rapi. Tapi lalu penegakannya juga konsisten. Kalau > melihat beberapa site, seperti sekitar Mangkunegaran, bahkan > bangunan-bangunan semi permanen yang jadi semi ruko bisa dibersihkan. > Selain itu juga kerjasama dengan pertokoan modern. > > > > Saya sempat tanya langsung ke Walikota Pak Jokowi, kenapa begitu > telaten soal UMKM, PKL. Jawabnya: Solo sudah tak punya lahan lagi untuk > kegiatan ekonomi skala besar. Jadi memang harus serius soal pemanfaatan > lahan yang terbatas. > > > > Kesimpulan, selain teknik tata ruang, juga ada soal manajemen > pelayanannya, yang perlu diperbaiki. Dan, perubahan sikap Pemda (dan > urban planner) bahwa pembukaan lapangan kerja juga tanggung jawabnya. > Jadi berhentilah menganggap PKL sebagai perusuh. Dari awal jurusan > Planologi sudah peduli ini, di awal 1960an kan ada diktat stensilan > tentang "hawkers and peddlers" dari bule-bule pelopor > Planologi ITB itu. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > isoedradjat@ yahoo.com wrote: > > > Headline Kompas hari ini 1 Juni 2009 "Satpol PP Cerminan Pemda" , > sebenarnya kesantunan Satpol tdk cukup mencerminkan Pemda dalam > menertibkan PKL, krn dibalik itu banyak persoalan persoalan yg belum > terjawab, apakah itu kemiskinan, lapangan pekerjaan, komposisi informal > sektor, ekonomi kerakyatan dsb. Di aspek Tata Ruang, sebenar sdh mencoba > menjawab terutama perencanaan Tata Ruang Kota, pasal 28 UU No 26/ 2007 > tentang PR, ut menyediakn Ruang Terbuka Hijau , Non Hijau, jaringan > pejalan kaki, sektor informal, dan ruang evakuasi bencana. Menurut saya > hal ini tdk mudah, apalagi kalau dikaitkan terbatasnya hal penguasaan > lahan oleh Pemda, hak kemilikan masyarakat, kemampuan pemda dsb. > Barangkali teman teman bisa share ut mewujudkan cita cita ini. Tabek trm > ksh. > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > ------------------------------------------------------------------------ > New Email addresses available on Yahoo! > <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/> > > > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. > Hurry before someone else does! >

