Ysh P Risfan dan para referensier

Menarik sekali tulisan P Risfan (saya tidak baca email sebelumnya),
saya sebagai Planner awam ingin juga menyampaikan pendapat tentang tataran
MANAJEMEN.  Menurut saya "how to manage" bisa juga di antisipasi dalam
tataran PLANNING. Maksud saya dalam merencanakan produk tentu kita bisa 
mencanangkan bagaimana mengontrol dan memelihara produk itu.

Tentunya akan menjadi pertimbangan bagi kita, kalau kita merencanakan
sesuatu tapi kita tidak yakin bahwa ini achieveable atau managable, tentu
kita tidak feel comfortable bukan?

Saya rasa profesi Urban Planner bisa ditingkatkan menjadi Urban Manager,
seperti running a company aja.(Jadi Lowongan kerjanya tambah banyak :) )
Menurut P BTS sudah ada undang-undang berkaitan dengan ini ya.

Saya dengar Depdagri sedang ditawari Pengukuran Kinerja Malcolm Baldridge,
yaitu pengukuran Performance Pelayanan Masyarakat, yang biasa digunakan di
Amerika Serikat untuk pelayanan Swasta/ BUMN/ Publik termasuk kantor
PEMDA, yang didalamnya bisa ada unsur ISO, Balanced Scorecard, Key
Perfomance Indicator dlsb. Dalam sistem tersebut leadership dan orientasi
hasil memiliki bobot yang sangat tinggi.

Kalau kita belum siap seluruhnya bisa saja di ukur kinerja secara parsial
dulu, misal kantor lurah dulu.  Demikian pendapat saya. Terimakasih. Maaf
kalau ada yang salah.








Rekan Referensiers ysh.,
Tulisan Prof Iwan D itu tampaknya memang tidak menunjukkan keseluruhan
cerita. GPRA yang dimaksud seingat saya tidak muncul sendirian. Sehingga
timbul kesan seolah cuma menyusun Logframe - visi, misi, program lengkap
dengan indikator input, output, outcome, impact.
Di negara ybs, seingat saya itu bagian dari upaya besar yang dipimpin oleh
Wapres Al Gore dengan National Performance Review nya. Upaya besar itu
sebetulnya banyak dilaksanakan di tataran MANAJEMEN pelayanan pulic, bukan
di tataran PLANNING nya.
Konsep REINVENTING Governance, adalah bagian dari itu. Saya kira rekan
Dwiagus sebagai penggiat Monev bisa menggali berbagai inovasi dan tools
yang diterapkan departemen, Pemda yang selain Logframe juga diaplikasikan
Balance Scorecard, berbagai jenis ISO dan tools TQM.
Kita tahu kapasitas Al Gore yang mirip Emil Salim, yang biasa membuat
program pemerintah menjadi GERAKAN NASIONAL, bukan sekedar proyek-proyek
sesaat, tapi didukung berbagai unsur masyarakat dan swasta.
Gerakan National Performance Review (NPR), juga tidak diberlakukan sebagai
instruksi pemerintah, tapi kampanye dengan berbagai insentif, dorongan
melalui bantuan teknis bagi yang melakukan, promosi best practices, dst.
Ini menjadi trend dunia dekade 80an. Di negara commonwealth kebanyakan
pakai istilah New Public Management.

Setuju dengan komentar rekan BTS, tulisan Prof Iwan itu menjadi seolah
penulisnya kurang periksa apa yang terjadi, sehingga tidak mengevaluasi
keadaan yang ada. Seperti kita ketahui, angin Reinventing Governance,
...berbasis Kinerja, dst juga sudah mulai diadopsi berbagai instansi dan
Pemda di negara kita. Adanya di tataran MANAJEMEN, sehingga mungkin kurang
disinggung di kalangan Planning. Akan lebih baik kalau Prof Iwan juga
sedikit mengulas upaya-upaya itu. Di negara kita upaya itu dimulai sebelum
reformasi, terputus, lalu diaktifkan lagi. Berbagai aplikasi tools
pengukuran kinerja sudah banyak dicoba diterapkan. Anggaran berbasis
Kinerja (Permendagri 59), reformasi birokrasi di beberapa instansi a.l. Di
lingkungan Depkeu (Bea Cukai, Pajak, dll), ISO kuga sudah dicobakan di
berbagai unit pelayanan (RS, Puskesmas, Sekolah, dst). Juga partisipasi
swasta dalam mrating dan mempromosikan inivasi pemerintah (daerah) dalam
pelayanan yang lebih akuntabel,
 responsif dan partisipatif juga telah terjadi seperti inisiatif KPPOD,
Jawa Pos Pro Otonomi Daerah, dst. Saya kira akan menarik kalau bisa
diulas dan di-Monev.

Kasimpulan saya, kalau diulas hanya aspek planning dan pencantuman
indikator kinerja GPRA menjadi seperti aplkasi Logframe yang sudah banyak
dilakukan. Tapi bagaimana itu menjadi gerakan (waktu itu NPR) di USA dan
pengaruhnya ke seluruh dunia, itu justru yang menarik. Bagaimana spirit
itu ditumbuhkan, bagaimana hal yang biasa di perusahaan swasta (manajemen
mutu) kok sulit amat diterapkan di birokrasi pelayanan publik. Bagaimana
beberapa instansi, Pemda kok bisa (Depkeu, Gorontalo, Kab Solok, Jembrana,
Solo, dst), apa key success factors nya? Ini akan lebih bermanfaat.

Salam,
Risfan Munir





Kirim email ke