Dear Pak Risfan,

Thanks utk commentnya. 

 

Teratarik juga dengan tantangan yang diajukan pak risfan,.. Menggali
berbagai inovasi dan tools yang diterapkan departemen,. 

Ada seorang rekan (Umi) yang sudha berupaya memetakan tools2 yang ada,dengan
mencoba mereview berbagai peraturan dan kebijakan terkait pemantauan dan
evaluasi yang dikeluarkan oleh beberapa kementrian atau lembaga
pemerintahan, mulai dari menkeu, depdagri,bappenas, menpan,. 

 

Walaupun ada pemikiran untuk mengintegrasikan tools2 yang ada tersebut,
memang keliatannya mustahil untuk mengintegrasikannya,..apalagi kalau pengen
dibikin standard evaluasinya,.. 

Mungkin yang distandardkan itu yah indkator-indikatornya (seperi pemikiran
yang juga keluar dari bappenas,lewat pak Dadang Solihin,.. ) mungkinitu
yanglebih possible,.. membuat indikator-indikator yang dipakai
bersama-sama,.. tidak hanya oleh berbagai lintas sektoral department, tapi
juga oleh para stakeholder,. bisa para lembaga pemberibantuan, pengamat,
akademisi,. jadi kalau bicara sebuah achievement (atau under-achievement)
paling tidak bisa bicara dengan "bahasa" yang sama dan ukuran yang sama
jelasnya,... 

Jadi para capres tidak sembrono mengklaimnya untuk bahan iklan,.. hehehhee

 

Mencoba bermain-main dengan tools yang ada memang exciting sepertinya,. dan
salah satunya bisa saja mencoba mengawinsirikan logframe dengan balance
score card (BSC) misalnya,. 

Dan sepertinya memang bisa saja ketika menyusun dan menggunakan logframe, 4
perspective BSC ini bisa dipakai sebagai basis referensinya,.. Jadi kita
memastikan bahwa input output sampai outcome itu harus menggunakanperspektif
yang lengkap ,. Bagaimana menjamin financial sustainability-nya, bagaimana
mengakomodir customer/client'ssatisfaction, bagaimana menjamin internal
process yang berkualitas, dan memancing pertumbuhan organisasi/entity.. 

Contonhya, Salah satu praktisi MONEV, RickDavies mengusukan memasukkan
"suara target group" dalam mean/source of verification untuk pengukuran
indicator achievement,. saya rasa ini sebagai upaya memasukkan perspektif
klien (Client Perspective, sebgai 1bagiandari balance score card ya khan?)..


 

Jadi bisa saja kalau mau.. semua tools dari departemn itu bisa saja saling
melengkapi,. kalu dari DEPKEU bisaberarti mengambil perspektif
finansialnya,.. depdagri mengambil perspektif clientnya,. Bappenas mengambil
perspektif inovasi/learning, .. Menpan mengambil perspective internal
process/business,. 

 

Begitu juga ketika membangun indikator-indikator pencapaian nasional,.. yah
mungkin harus diupayakan komprehenif menhanykut 4 Aspek dariBSC itu,.
jangan cuman ngurusin processnya, tapi  lupa client's perpective,. atau lupa
aspek keberlanjutan finansialnya,.

Seperti halnya kalau kita menganalisa program-program capres,.. bisa saja
kita menggunakan BSC ini untuk melihat kelengkapan perspektifnya,. bisa saja
sebuah program capres terlihat pro-rakyat, mencoba memuaskan clientnya (yang
adalah rakyat yang dibelanya), tapi lupa bagaimana membangun program
pelengkapnya yang didsarkan pada perspektif keberlanjn
finansialnya,.bagaimana pendanaan program pro-rakyat untuk jadi sustainable
itu..

 

Yah begitu lah,. namun segalanya tidak ada yang mustahil di negeri kita yang
tercinta ini, Indonesia Raya  

 

 

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

" 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Risfan M
Sent: 17 June 2009 05:52
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Menciptakan Indonesia Akuntabel

 







Rekan Referensiers ysh.,
Tulisan Prof Iwan D itu tampaknya memang tidak menunjukkan keseluruhan
cerita. GPRA yang dimaksud seingat saya tidak muncul sendirian. Sehingga
timbul kesan seolah cuma menyusun Logframe - visi, misi, program lengkap
dengan indikator input, output, outcome, impact.
Di negara ybs, seingat saya itu bagian dari upaya besar yang dipimpin oleh
Wapres Al Gore dengan National Performance Review nya. Upaya besar itu
sebetulnya banyak dilaksanakan di tataran MANAJEMEN pelayanan pulic, bukan
di tataran PLANNING nya.
Konsep REINVENTING Governance, adalah bagian dari itu. Saya kira rekan
Dwiagus sebagai penggiat Monev bisa menggali berbagai inovasi dan tools yang
diterapkan departemen, Pemda yang selain Logframe juga diaplikasikan Balance
Scorecard, berbagai jenis ISO dan tools TQM.
Kita tahu kapasitas Al Gore yang mirip Emil Salim, yang biasa membuat
program pemerintah menjadi GERAKAN NASIONAL, bukan sekedar proyek-proyek
sesaat, tapi didukung berbagai unsur masyarakat dan swasta.
Gerakan National Performance Review (NPR), juga tidak diberlakukan sebagai
instruksi pemerintah, tapi kampanye dengan berbagai insentif, dorongan
melalui bantuan teknis bagi yang melakukan, promosi best practices, dst. Ini
menjadi trend dunia dekade 80an. Di negara commonwealth kebanyakan pakai
istilah New Public Management.

Setuju dengan komentar rekan BTS, tulisan Prof Iwan itu menjadi seolah
penulisnya kurang periksa apa yang terjadi, sehingga tidak mengevaluasi
keadaan yang ada. Seperti kita ketahui, angin Reinventing Governance,
...berbasis Kinerja, dst juga sudah mulai diadopsi berbagai instansi dan
Pemda di negara kita. Adanya di tataran MANAJEMEN, sehingga mungkin kurang
disinggung di kalangan Planning. Akan lebih baik kalau Prof Iwan juga
sedikit mengulas upaya-upaya itu. Di negara kita upaya itu dimulai sebelum
reformasi, terputus, lalu diaktifkan lagi. Berbagai aplikasi tools
pengukuran kinerja sudah banyak dicoba diterapkan. Anggaran berbasis Kinerja
(Permendagri 59), reformasi birokrasi di beberapa instansi a.l. Di
lingkungan Depkeu (Bea Cukai, Pajak, dll), ISO kuga sudah dicobakan di
berbagai unit pelayanan (RS, Puskesmas, Sekolah, dst). Juga partisipasi
swasta dalam mrating dan mempromosikan inivasi pemerintah (daerah) dalam
pelayanan yang lebih akuntabel,
responsif dan partisipatif juga telah terjadi seperti inisiatif KPPOD, Jawa
Pos Pro Otonomi Daerah, dst. Saya kira akan menarik kalau bisa diulas dan
di-Monev.

Kasimpulan saya, kalau diulas hanya aspek planning dan pencantuman indikator
kinerja GPRA menjadi seperti aplkasi Logframe yang sudah banyak dilakukan.
Tapi bagaimana itu menjadi gerakan (waktu itu NPR) di USA dan pengaruhnya ke
seluruh dunia, itu justru yang menarik. Bagaimana spirit itu ditumbuhkan,
bagaimana hal yang biasa di perusahaan swasta (manajemen mutu) kok sulit
amat diterapkan di birokrasi pelayanan publik. Bagaimana beberapa instansi,
Pemda kok bisa (Depkeu, Gorontalo, Kab Solok, Jembrana, Solo, dst), apa key
success factors nya? Ini akan lebih bermanfaat.

Salam,
Risfan Munir

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 16 June 2009 20:16
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] [OPINI di KORAN] Menciptakan Indonesia Akuntabel di
Tahun 2015

 







Dear Dwiagus dan milister lainnya.

 

Kalau aku baca artikelnya dari Prof. Iwan Darmansyah, kayaknya beliau tidak
pernah mendapat pekerjaan dari Departemen Keuangan sehingga pengetahuan
mengenai dunia perencanaan, khususnya perencanaan anggaran, beliau banyak
ketinggalan.

 

Soalnya apa? Apa yang dia kemukakan itu sudah dan sedang diimplementasikan
di Indonesia. Khususnya PP 21/2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan
Anggaran K/L. Soal apakah pelaksanaannya belum sempurna, itu betul, namanya
juga baru berjalan sekitar 5 tahun terakhir ini.

 

Thanks. CU. BTS.

 

 

 

--- On Tue, 6/16/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
wrote:

 

 

Kirim email ke