Kalau land developer publik yah memang tuntutannya memang tidak sekedar
jualan,… harus dicari mekanismenya bagaimana berjualan tanah sambil
memastikan bahwa warga Madura tetap menjadi tuanrumah di daerahnya
sendiri,……  itu yang perlu dcari,…. 

Kalau tidak seperti itu, …. Yah, tinggal menunggu saja swasta yang berjualan
dan malah tidak terkontrol,… bagaimana mengontrol swasta,coba,….

Kalaow diam-diam saja, dan bapel tidak bergerak di area “berjualan tanah”
ini yah tinggal tunggu waktunya para developer swasta yang malah cenderung
mendorong proses meminggirkan warga Madura itu,… 

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of [email protected]
Sent: 23 June 2009 12:29
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: SURAMADU

 






Pa Eka, Dwi dan lainnya.
P. Jawa di bangun jl Deandles oleh Belanda, daerah yg subur, infrastruktur
yg lengkap jd Pulau yg paling cepat berkembang, dan merupakan pulau terpadat
di dunia dan pusat pertumbuhan ekonomi Nusantara. Sumatera bagian Timur
berkembang lebih cepat di bandingkan bagian Barat, saya tdk melihat adanya
infrastruktur yg lebih memadai, tapi karena adanya pasar komoditas dunia
(udang, kelapa sawit, kayu, dlnya) dan relatif punya akses keluar. Bisa juga
kalau pake contoh Bali, dia tidak jual lahan, Bali jual pelayanan dan
culture. Ut Batam, sejalan dgn pemikirannya pak Eka, yaitu jualan tanah,
diberikan kewenangan penuh kepada Otorita Batam, jualan kawasan Industri,
Pariwisata, Housing, sempat Boom dan sekarang menjadi fastest growing City
di Indonesia. Tapi berbeda dgn Pulau Bintan, Kawasan Wisata Lagoi diberi
konsesi (33 000 Ha) dan Kawasan Industri Lobam (4 000 Ha) tdk laku tuh
jualan tanah, hanya siap tdk lebih dr 10 % yg bisa dijual, dan relatively P.
Bintan tdk terpengaruh berkembang. 
Pertanyaannya sekarang thd P. Madura yg sdh punya Jembatan, apakah akan
berkembang atau mau jualan tanah supaya berkembang. Sepertinya kita perlu
obat obat perangsang yg di tempatkan di P. Madura, bukan jualan tanah.
Jangan jualanlah nanti orang Madura tdk lagi jadi tuan rumah di pulaunya. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

  _____  

From: "Benedictus Dwiagus Stepantoro" 
Date: Tue, 23 Jun 2009 11:06:07 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: SURAMADU

Pak Eka,.. setuju deh denganbapak

 

Mungkin bukan jualan tanah, pak,.. tapi jualan lahan.. kalau jualan tanah,
kesannya ini tanah buat urukan,.. hehehehhe

 

Memang pada akhirnya seperti itu: pengembangan kawasan è pengembangan lahan
è jualan lahan. 

 

Kalau memang berniat mengembangkan kawasan, yah jangan lantas berkutat pada
perencanaan tata ruang saja,.. tapi sudah harus berani bagaimana
mengembangkan lahan, dan bagaimana berjualan lahan,…

Jangan cuman bermain dengan spidol dan mewarnai zona-zona, dan kemudian
mencoba “freeze the land”,.. saya sendiri kurang begitu mengerti bagaimana
“membekukan lahan” … efektif kah itu dengan membekukan lahan? Setelah
dibekukan, terus diapain,.. bukan kah begitu pertanyaannya,… 

Para pengelola perkotaan atau badan pengelola kawasan saatnya sudah harus
belajar layaknya private land developer,….. yang tahu sebuah potensi,.. tahu
market,.. dan tau bagaimana mengelolanya jadi sbuah benefit,…  dan yanglebih
penting act seperti land developer,….. 

Jangan cuman modal rtrw baru dan perda, lantas dibekukan lahan,… Atau cuman
modal insentif dan disinsentif pajak……. Ngontrol perijinan ….

Yang ada nanti dikadalin market,… 

Beda kalau badan pengelola itu juga act sebagai land developer ….

harus investasi, beli lahan itu, dan maksimasikan,… kalau perlu seimbangkan
profit interest dan social interestnya,… 

artinya badan pengelola SURAMADU hukum wajibnya adalah sebagai vehicle dalam
bentuk sebuah land developer,…… dia mengelola kawasan, berarti mengelola
lahan,… 

dan syarat seorang land developer untuk dapat mengelola lahan, ya dengan
memiliki akses kepada kempemilikan lahan,….. alias mengakuisisinya,…..

untuk kemudian dikelola,…. 

Bagaimana dengan dananya,…. Khan ada BPD, daripada duit nganggur disimpan
disertifikat BI,…… atau mau PPP, bikin joint venture,….   

Pada akhirnya yah harus kreatifdan inovativ buat jadi pengembang lahan,..
dan Bapel suramaduharus menjadi pengembang lahanyanghandal,.. jangan kalah
dengan private land developer,..

 

Kalau gak salah, seperti itu ya yang  terjadi di Kop Van Zuid-nya Rotterdam,
Pak Eka?

Ketika jembatan erasmus mulai membentang  menghubungkan antara wil utara
rotterdam yang lebih livable dengan wil selatan yang deprived,… 

Upaya pengembangan lahan, melalui redevelopment, revitalisation, …wajib
dilakukan,…  jangan malah pembekuan lahan,….. 

Justru si RotterdamDevelopment Cooperation sebgai BUMD yang bisnis land
development ini langsungbergerak,…… mangakusisi lahan, bikin
rencanapengembangan lahan, dimatangkan lahannya, kemudian di kelola,
disewa,….. dengan demikian sambil mengalirkan profit, ia masih  bis apunya
control,.. karena perjanjian sewanya punya klausul2 yang jelas, untuk tetap
menjaga kulaitas ruang fisik, social dan budaya,… mungkin pak Eka atau
rekan-rekan lain mau nambahin lagi,.. hehehehehhe.

 

Yah, ini coret-coret ngawur saya sebelum terbang ke Surabaya siang ini,….
hehehehehe

 

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of ffekadj
Sent: 22 June 2009 18:59
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: SURAMADU

 








Pak DwiAgus, saya lanjutkan sedikit lagi mengenai 'kunci' dalam
pengembangan kawasan di manapun di dunia ini, mudah-mudahan berguna bagi
yang sedang mendalami, yaitu 'pengembangan kawasan' adalah 'jualan
tanah'. Sebenarnya ada faktor manajemen perubahan nilai lahan yang
dilakukan oleh pengembang kawasan, apakah real-estate, KEK, Kapet, dll.
Persamaan matematisnya saya turunkan sebagai berikut :

pengembangan kawasan = jualan tanah, atau fungsi diferensialnya :

f [pengembangan kawasan] = f [jualan tanah]

Sehingga sebenarnya sangat sederhana, dan tidak perlu terlalu repot
memikirkan yang lain. Mudah-mudahan berguna. Salam.

-ekadj

--- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> ,
"ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
>
> Pak DwiAgus, pengembangan kawasan seperti Madura, Batam, KEK, dll
memang
> perlu ilmu/pengetahuan khusus, yang disebut dengan 'urban/area
> management'. Jadi hal seperti ini tidak bisa dijawab dengan memuaskan
> oleh planning, civil engineering, dan public policy. Untuk 'area
kecil'
> dipelajari secara khusus di PL-Untar. Beberapa pakar yang menguasai
> urban management ini di Surabaya yang saya kenal di antaranya:
> Alisyahbana dan Hendro Gunawan. Mengenai Kop van Zuid, silahkan
merujuk
> ke link <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2800> ini.
> Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> ,
"Benedictus Dwiagus Stepantoro"
> bdwiagus@ wrote:
> >
> > Mungkin Proyek Kop van Zuid-nya rottedam bisa dipakei Bappel
SUramadu.
> Agak
> > mirip polanya,..
> >
> > Pak Eka Dj, kuncen Rotterdam bisa mengimpartasi knowledgenya,
> mungkin,..
> > hehehehe.
> >
> > Regards,
> >
> > dwiagus



Kirim email ke