Rekan Ramalis dan milisters ysh,

Mohon maaf utk yg merasa terganggu dgn bahasan bersangkut dgn ayat2 dari kitab 
suci…… dan terimakasih utk  yg berminat….
Pendapat rekan Ramalis ttg substansi keberpihakan spt ttg pro poor dan whatever 
rincian sederetan  agendanya serta  keberpihakan pro sustainability (ayat 13 
s/d 18) saya kira sih pd dasarnya benar saja……. Hanya didepan itu dlm tafsiran 
saya ada 3 (tiga) pertanyaan  besar berendeng dari Tuhan (ayat 10 s/d 12) yg 
tentu itu perlu lbh diperhatikan lagi …. Yg tentunya perlu dijawab oleh manusia 
dgn konsistensi, kejujuran, keseriusan  dan konkretisasi …. dan bukannya hanya 
lip service plin-plan belaka…… seperti  “Ya.... pd dasarnya saya sih mau2 aja 
ya Tuhan (atau ya teman2)… ya tapi  coba lihatlah kondisi saya aja masih kayak 
gini.. gimana coba?”…… (pdhal justru pengorbanan  dan perjuangan manusia disaat 
ia sendiri sdg dlm  keadaan lemah dan kesulitan itulah yg  amat besar sekali 
pahalanya baik diakhirat maupun juga ditunaikan oleh Tuhan didunia ini)…………

Tiga (3) kalimat tanya berendeng  itu Ialah  pertama pertanyaan diayat 10 ( 
intronya dimulai dari ayat 8 : Bukankah kami telah…….dst....) lalu……QS 90:10 
:…. “Dan membentangkan baginya 2 jalan?....” (maksudnya (a) jalan yg mudah dan 
(b) jalan yg sulit.....)…..Lalu diikuti oleh pertanyaan diayat 11 : …QS 90:11…. 
”Falaqtahamal ‘aqabah ( Mengapa dia tidak berjihad untuk menempuh jalan 
pendakian // yg penuh kesulitan, onak dan duri?)….. lalu barulah diikuti oleh 
ayat tanya berikutnya lagi :   …QS 90:12…. ”Wa maa adraaka mal ‘aqabah…. 
(Sejauh manakah pengetahuanmu ttg menempuh jalan pendakian yg sulit itu?)……….. 

Jadi kalau diperhatikan…… Tuhan sebenarnya bukan  lbh mementingkan apa saja  
rincian agenda2 ideal  yg akan anda kerjakan (13s/d18)….. tapi krn Tuhan itu 
amat mengenal karakter umum manusia  itu bgmn… dan Tuhan sdh mengukurnya….. 
ialah umumnya  manusia lbh senang yg enak2 dan menghindari yg sulit2 dan 
berat2……  maka Tuhan lbh mementingkan menanyakan  (diayat 11) ….”Mengapa dia 
tidak berjihad  (why do not they do jihad…) dan menempuh jalan  yg mendaki dan 
sulit?...... 
Spt ketika mas BTS katakan bahwa “Pengelola kota harus berpihak kepada semua 
segmen... itu yang adil.”…….. disitulah anda tak sekedar cukup  (mudah) 
merumuskan hanya ide2 yg ideal bagi silemah dn simiskin terus…. Lalu salah2 
sikaya nanti lalu  sekedar dijadikan sapi perah lalu kurus kering dan kabur 
dari Indonesia…… Tapi bgmn anda (sulit) hrs membangun utk semua segmen 
masyarakat agar semua puas dan semua bisa hidup…. Sehingga krn itulah 
(sulitnya)… maka lalu keluar strategi2 manusia spt  a.l. “subsidi silang” 
misalnya…..   dan sebenarnya liberalisasi (yg utk kepentingan politik sesaat  
kini lalu dibelokkan menjadi provokasi pengertian ektrim negatip seperti 
‘neolib’) adlh salah satu upaya kebijakan ekonomi ttg  bgmn sikaya yg diberi 
beban membantu simiskin  dan hrs bayar pajak… perlu tetap diberi kelonggaran 
dan keleluasaan hak hidup…… tapi dampak negatipnya tetap perlu dijaga/ 
dimonitor/ dibatasi  oleh
 pmrth…. Dan dampak positipnya agar dpt dipetik/ dipanen utk sebanyak2 
kesejahteraan simiskin…… spt ttg adanya  modal yg tak hrs dikeluarkan oleh 
pmrth/ bangsa ini.....employment/ kesempatan kerja, pajak dsb. yg muncul dari  
yg kaya/ perusahaan2 besar…  
Liberalisasi atau memberi kesempatan hidup dan berkembang pd sikaya/ perusahaan 
besar  sebenarnya tak bedanya ibarat mengelola bahaya dan potensi  arus 
listrik……. pd dasarnya berbahaya dan bs mematikan… tetapi dikelola sdmikian 
rupa hingga bs menjadi energi2 yg aman dan bermanfaat baik  sbg alat 
penerangan…. Alat penggerak… alat  pemanas….. alat pendingin dsb…... atau 
ibarat arus sungai yg jg bisa berbahaya bila banjir… tapi dgn dibuat bendungan… 
maka bisa timbul irigasi bagi sawah petani atau jadi pembangkit listrik 
mikrohidro….
Pmrth tak mungkin/ sulit utk dpt  membangun/ berpihak bagi sikecil/ simiskin/ 
silemah kalau tak ada juga sosok sikaya/ perusahaan2 besar (yg punya daya beli, 
bisa bayar pajak  dan dpt bangkitkan multiplier effect perekonomian) dan 
perusahaan2 besar (yg menciptakan kesempatan kerja dan pajak)……. 
Demikian juga bagi planners…..  bgmn akan memberi kesempatan kerja bg sikecil 
kalau tak pernah berani berpikir mendorong perkembangan jumlah dan populasi  
kota2 besar spt kota2 megacity dan metropolitan  diluar jawa (agar sekalian 
mudah dimarketing-kan/ nebeng topik posting lain saat ini) … dimana industri2 
dan jasa2 (sbg habitat sikaya) dpt lbh mudah berkembang….. dimana dampak 
positipnya bisa dirasakan simiskin…… krn muncul peluang2 baru kesempatan kerja 
dan multiplier2 effect ekonomi baru lainnya…
Jadi saya kira  itulah (jihad, seriousness, konkretisasi.. yg semuanya butuh 
olah  pikir….teknologi dsb.  ) ……. yg sebenarnya lbh ditunggu oleh Tuhan dan 
perlu dijawab oleh manusia scr konkrit dan sambil penuh perjuangan…… dan 
bukannya sekedar urusan2  adu definisi2  ideal2 dan indah2 tapi tak pernah 
mampu direalisasikan…… justru krn manusia menghindar utk berjihad dan 
bekerjakeras  meneteskan keringat  dan menguras pikiran... juga dana.... utk 
sesamanya, utk bangsanya dan utk negaranya…………

Salam, 
 

--- On Mon, 6/29/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@......> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@.......>
Subject: Re: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
To: [email protected]
Date: Monday, June 29, 2009, 9:16 PM













Dear all.
 
Kalau pengelolaan harus ditunjukan kepada kaum marginal, miskin, anak anak, 
yatim piatu dan orang tua..... romantis banget. Saya khawatir, kota akan jadi 
kacau. Pengelola kota harus berpihak kepada semua segmen... itu yang adil.
 
Thanks. CU. BTS.
 


--- On Tue, 6/30/09, Ramalis Prihandana <rama...@......> wrote:


From: Ramalis Prihandana <rama...@.......>
Subject: Re: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, June 30, 2009, 1:53 AM









Ass.w.w
Mohon maaf apabila persepsi saya kurang epat,
 
Pak Hengky yth, apa yang terkesan buat saya dalam Al Balad, adalah keberpihakan 
yang harus ditunjukan oleh orang orang yang diberi amanah (sesuai dengan 
kapasitas dan kompetensi masing masing) dalam pengelolaan kota yang harus 
ditunjukan kepada kaum marginal, miskin, anak anak, yatim piatu dan orang 
tua..... dan bagaimana sebenarnya kita harus membela entitas alam yang telah 
mengakomodasikan kita di dunia. 
 
Dalam pemahaman saya mungkin pro - poor (dimana poor diartiakan sebagai kondisi 
dari poverty = kerentanan) dan sustainability.
 
Mohon pandangannya
 
Salam 
 
ramalis

--- On Tue, 6/30/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:


From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Date: Tuesday, June 30, 2009, 6:07 AM









Rekan Muhammad Koeswadi ysh, 
Mencoba menjawab anda dgn amat keterbatasan saya…. 
Al Balad (Mekah; kota, negara)  adalah surat yg paling saya kagumi, krn disitu 
diturunkan ayat2  yg paling gamblang tentang berjuang dan berjihad demi negara, 
bangsa dan tanah air……. 

--- On Sun, 6/28/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@. ......> wrote:


From: muhammad koeswadi <m_koesw...@. .......>
Subject: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
To: "alumni planologi" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Sunday, June 28, 2009, 6:46 PM








Pro rekan milis

Asw. Seru banget ulasan keberpihakan TR. bahkan ada komen yg menyebutkan. 
..tergantung dari sudut mana...ini kiranya bener banget.
 
























      

Kirim email ke