Pak Aby, Bu Cut, Rekans ysh,

Kalau istilahnya "keberpihakan" menurut pemahaman keagamaan saya ya berpihak 
kepada kaum dhuafa. Seberapa besar kota/wilayah pro, peduli dan memberi ruang 
bagi kaum miskin. 
Selanjutnya Islam kan mengajarkan harmoni, egaliter, kebersihan, musyawarah. 
Menurut saya itu nilai universal Islam yang kalau diterapkan betul-betul akan 
menghantar pada tujuan hidup kota/wilayah. Seperti pesan abadi "gemah ripah 
lohjinawi, tata tentrem kerta raharja" atau baldatun toyyibatun warobbun 
ghofur. Insya Allah sustainable.

Selebihnya adalah urusan budaya mungkin. Artinya kebiasaan hidup komunitas 
muslim akan mencerminkan pola gerak dan pemilhan lokasinya. Misal mengelilingi 
masjid. Pola tata ruang dalam skala site, mungkin kota kan dipengaruhi budaya 
juga.
Waktu sekolah kan kita belajar arsitektur dan tata letak budaya Bali, Minang, 
Sasak, Badui, Batak. Belakangan juga marak diangkat China town di kota-kota 
kita. 
Hanya kalau Hindu-Bali dianut orang Bali, Kongfusian dianut orang China, jarang 
suku lain menganut, sehingga antara agama dan budaya seperti melekat. Sedang 
Islam sebagai agama dianut oleh beragam suku yang punya budaya masing-masing 
sehingga mungkin tidak se-eksklusif budaya Bali, China, Jepang dalam tampilan 
fisik agama/budaya. Kalau saya amati masing sering terjadi debat apakah satu 
bentuk/rancangan itu Islami atau budaya Timur Tengah. Contoh populer ialah 
bentuk menara masjid. Apakah harus berbentuk "bawang". Kalau menurut arsitek 
Nu'man itu budaya timur tengah, bukan Islam, maknya dia buat menara polos saja. 
Jadi kalau menyangkut desain, pola fisik ruang, mungkin muslim Jawa, muslim 
Minang, muslim Batak, bisa saja penampilan fisiknya beda.

Faham pribadi saya prinsipnya: berpihak pada kaum miskin, sederhana, harmonis, 
egaliter (tidak eksklusif), hemat (efisien), proses kebijakannya bermusyawarah. 
Sehingga menurut saya ada bangunan mentereng mewah, walau itu rumah ibadah, di 
tengah banyaknya orang miskin itu sangat tidak Islami. Saya setuju dengan pola 
1:3:6, bahkan kalau bisa lebih merata.

Ada satu prinsip lagi dalam Islam, yaitu "kehendak bebas". Beda Adam dan 
umatnya dengan malaikat dan setan ialah "boleh" milih, jalan surga apa jalan 
neraka. Dan inilah kisah manusia sepanjang zaman, yang tercermin juga dalam 
konflik kepentingan di kota dan wilayah. Mungkin begitu? Wallahu a'lam.

INTERMEZO: Ada satu cerita dari kunjungan saya ke Jatim minggu lalu. Seorang 
Camat terpilih sebagai yang terbaik dalam pelayanan dan good-governance. Ketika 
ditanya apa resepnya, dia bilang karena kantornya diapit "masjid dan kuburan", 
sehingga ingat Tuhan dan kematian selalu. Mungkin kita bisa usul, jangan gusur 
kuburan, justru taman kota dijadikan kuburan.

Salam,
Risfan Munir










--- In [email protected], cut safana <cutsaff...@...> wrote:
>
> Pak Abi dan para milister Ysh
> Terima kasih Pak Abi, sekali-kali boleh juga atuh, hanya untuk memperkaya 
> cara berpikir saja kok. Sebagai ilustrasi, tadi malam sepanjang pulang 
> kerumah saya mendengar radio yang mengulas tentang 'persepuluhan' dari 
> peradaban Taurat sampai ke era Injil, sangat menarik.
> Salam hormat
> --- On Mon, 7/6/09, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
> 
> 
> From: hengky abiyoso <watashi...@...>
> Subject: Re: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
> To: [email protected]
> Cc: [email protected]
> Date: Monday, July 6, 2009, 7:07 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Ibu Cut Safana ysh, 
> Trims atas minatnya diskusikan masalah PR dicampur sdkt ayat2……dan saya 
> ganti tertarik utk membahas kebijakan perumahan 1:3:6 yg dikatakan oleh ibu 
> sbg 'baik' tapi ‘tidak jalan’… tapi akan  membahasnya dilain 
> kesempatan…. 
> Tapi saya kira/ tafsiran pribadi saya…… aspek teknik dlm PR tetap hrs lbh 
> banyak didalami dan digali dgn teknik PR……. dan ttg perkara moralitas dan 
> konsistensinya….. barulah saya kira msh cocok kalau itu mau disangkutkan 
> dgn ayat2…… 
> Bhw dlm pembahasan masalah teknik sering muncul permintaan agar kita tak 
> melupakan membahasnya pula  dari sudut pandang agama….. ini brkali didasar 
> oleh pertama niatan utk mengingatkan ttg perintah agama menyangkut hal 
> berkait (dari ustadz Koeswadi?)….. sehingga dgn demikian kita tak coba utk 
> berkelit dari tgjawab itu….. tetapi setengahnya yg lain bisa jg didasari 
> oleh semacam pengertian atau kekhawatiran bhw ilmu dan agama adalah 2 hal yg 
> terpisah dan berbeda…… atau ada semacam kekhawatiran bila kita terlampau 
> dalam menggeluti ilmu lalu jangan2 dikhawatirkan kita bisa meninggalkan agama 
> atau bahkan ilmu nanti bertentangan dgn agama .... spt terjadi pd kasus 
> penelitian ilmiah tentang kloning misalnya…… 
> Sebenarnya kontroversi ilmu dan agama bukan hanya terjadi dikalangan Islam 
> saja…. itu pernah terjadi pula di Eropa pada pada abad 18 dan 19……..dan 
> padahal pada abad 20 pemahaman telah sampai pada kesadaran bhw  ilmu 
> berjalan seiring dgn agama.. dan bahkan ilmu dikatakan sbg pendukung 
> agama…… atau BJ Habibie misalnya  sering kemukakan ttg  hubungan erat 
> akal, ilmu dan iman dgn  ‘iptek dan imtak’ atau ilmu pengetahuan, 
> teknologi, iman serta taqwa…….. 
> Sebenarnya banyak sekali cabang disiplin ilmiah yg dahulunya justru muncul 
> dan digali dari kalangan Islam seperti ttg ilmu algorithma yg menjadi dasar 
> dari ilmu komputer, juga ilmu aljabar,  falaq, kedokteran dsb….. tetapi 
> akhirnya Islam justru ‘kehilangan’ semuanya itu justru karena ‘salahnya 
> sendiri’….  spt sebuah otokritik  yg dikemukakan oleh Yusuf Al 
> Qardhawi…… : 
> “…….Ummat Islam terlampau sibuk belajar, mendalami dan berdebat ttg 
> ilmu agama melebihi para sufi dan para fuqaha…..  sehingga mereka 
> melupakan untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi 
> bagi kesejahteraan ummat… sehingga ketika barat dahulu mengambilnya sebagai 
> sumber… lalu meneliti dan mengembangkannya sampai sedemikian majunya dan 
> kita tersadar… tetapi segalanya sudah terlambat … dan tak mungkin lagi 
> kita mampu mengejar ketertinggalan yg jauh itu………”. 
> Saya sih yakin Ibu Cut bukanlah termasuk yg meragukan perkembangan ilmu demi 
> utk mendukung agama…… dn saya lbh mengira pastilah ibu lbh mempertanyakan 
> ttg konsistensi ‘kata dan perbuatan’ dari ilmu, teknologi, iman dan taqwa 
> yg sejauh ini telah dimiliki oleh ummat…… atau khususnya oleh ummat 
> intelektual  penataan ruang… dan (mempertanyakan)  apa yg telah 
> diperbuatnya bagi bangsa dan negaranya …..…. 
> Saya sendiri sih hanya sekedar belajar sedikit2… maka kalau tak salah 
>  brkali ayat yg masih agak2 relevan adalah spt  dimulai dgn ayat2 yg masih 
> 'sejuk' spt  Al Insaan 76 : 8-9……: 
> “….Dan mereka memberikan makanan yg disukainya kepada orang yg miskin, 
> anak2 yatim  dan tawanan…. (dan) …Bahwasanya kami memberi makanan itu, 
> semata2 untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan 
> dan ucapan terimakasih daripadamu….”. 
> Atau yg lbh eksplisit dan tegas barangkali Al Baqarah 2: 44 ……..: 
> “…Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan.. sedangkan kamu 
> mengabaikannya. . padahal kamu telah membaca Kitab?... mengapa kamu tidak mau 
> mengerti?... ....”. 
> Atau barangkali yg lebih keras lagi adlh spt pada  As Shaff 61:3….: 
> “……Amat besar kemurkaan disisi Allah, kalau kamu hanya berkata tentang 
> kebaikan tanpa memperbuatnya…..” 
> Bgmn pendapat2 rekan ustadz BSP, Risfan, Andri, Ekadj, Koeswadi, Moh. Surti, 
> ustadzah Ramalis dan rekan2 yg lainnya?.... . mohon koreksi serta siraman 
> rohaninya yg lbh banyak...... 
> Salam,
> 
> --- On Fri, 7/3/09, cut safana <cutsaffana@ .........> wrote:
> 
> 
> From: cut safana <cutsaffana@ .........>
> Subject: Re: [referensi] SUDUT PANDANG QUR'AN KEBERPIHAKAN TATA RUANG
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Date: Friday, July 3, 2009, 4:24 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Abi dan Milister Ysh,
> 
> Ulasan Bapak sangat menarik bagi saya. Pada dasarnya untuk semua aspek di 
> dunia ini perlu keseimbangan, sebagai eksekutor dan pembuat kebijakan, 
> seyogyanya Pemerintah (& pemda) harus mampu menjaga keseimbangan pemanfaatan 
> ruang, dll, untuk hajat hidup rakyat banyak, khususnya bidang perekonomian, 
> disisi lain masyarakat (include swasta,dll)  juga perlu bahu membahu dengan 
> pemerintah. Banyak caranya, tidak perlu ideal/sempurna, namun 
> tetap memperhatikan  keseimbangan, dan semua bisa diatur, toch semua bidang 
> keahlian kita miliki, banyak orang pintar, tinggal dikaji dan dirumuskan, 
> duit sebagai modal juga banyak (hutang ...? , asal soft loan, jangan yg 13 
> %). 
>  
> Pak Abi, salah satu contoh  adl kebijakan pembangunan 1:3:6 untuk perumahan, 
> sangat baik (dimata saya), sayang implementasinya yang melenceng. Semua 
> ini  yang penting 'nawaaitu'nya hingga menjadi political will. 
>  
> Saya secara pribadi perlu sadar,  jangan  tunggu sampai badan terbujur 
> kaku........ ......... .....???. mohon pencerahannya, kalau bisa pakai ayat-2 
> lagi Pak. 
>  
> Sekali-kali perlu juga membahas karakter bangsa ini yang katanya sudah mulai 
> tergerus dari koridor-koridor religi (plural) yang ada di negara ini. 
> Sementara masyarakat di luar sana, yang atheis saja masih lebih santun, dan 
> ngopeni sesama .......
>  
> Salam hormat,
>  
> 
> --- On Wed, 7/1/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Rekan Ramalis dan milisters ysh, 
> 
> Mohon maaf utk yg merasa terganggu dgn bahasan bersangkut dgn ayat2 dari 
> kitab suci…… dan terimakasih utk  yg berminat…. 
> 
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
>  
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
>


Kirim email ke