Halo pak Bambang SP yssh (yang sangat saya hormati), Nuwun sewu, saya nderek langkung pak, sebetulnya kalau 'ketiban awu anget' itu bisa enak juga lho... walaupun sepertinya 'sosialisasi dan indoktrinasi' itu di negeri ini memang masih mirip. Harapan saya setelah pesta 'demokrasi' kemarin yang katanya kita terbaik ke-3 di dunia, semoga RTR dapat 'ketiban awu anget' demokrasinya sehingga RTR dapat berfungsi sebagai payung pembangunan dari tingkatan makro-mezzo-mikro ya. Untuk Yogyakarta atau Solo yang gaya masyarakatnya masih 'patembayan' mungkin lebih mudah menyesuaikan perkembangan dibandingkan masyarakat pesisir seperti di jalur Pantura Jakarta - Semarang - Surabaya yang 'agresif'.
Kapan saya dapat ketemu dan belajar banyak lagi dari pak BSP ya... Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Thu, 16 Jul 2009 19:02:00 +0700 Subject: RE: [referensi] RTH, belajar dari Jogya. Mas Sugiono ysh, Tentang RTR saya punya sedikit cerita waktu pak Sekditjen Taru mengadakan sosialisasi. Dia mendapatkan sebuah pertanyaan dari Kiai Ali Maksum dari Pondok Krapyak. Pertanyaannya : mengapa untuk UU TR ini kok kita hanya diikut sertakan sesudah selesai. Ini bukan sosialisasi tetapi indoktrinasi. Saya tahu bahwa pak Sekditjen hanya kena awu anget dari kondisi yang ada di nasional ini. Masalhnya adalah bahwa memang mekanisme UU TR masih sangat sangat ekslusif ... sangat jauh dari inklusifime dalam prakteknya ... jadi ya itulah jadinya. Salam bambang sp _________________________________________________________________ See all the ways you can stay connected to friends and family http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

