Pak Djarot ysh,

Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap,
mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi,
namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut :

Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat-kebaikan bukan hal mudah bila
hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu
dan pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita
harus terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan
terasa ada kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya
harus ada amal yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan
yang mengajarkan itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian'.
Ekstrimnya bila melihat ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan',
untuk mencapai tahap tertentu.

Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal
sedikit hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang
seharusnya dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila
kita tinjau dari satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga
mencerminkan dimensi budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap
agama. Selain kasus mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat
kecenderungan penempatan mesjid yang berada di tengah lingkungan
perumahan di Jawa. Karena akses terbatas, terkadang kita tidak dapat
melihat mesjid tersebut dari jalan umum. Mungkin ini pengalaman sempit
saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura dan Pansela, tidak banyak mesjid
yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan.

Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/langgar
pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik
(syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun
(taubat, walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di
sekitar mesjid), serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun
yang berkunjung. Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti
mall, hotel, dll yang menyediakan tempat ibadah di basement panas atau
pojok tertentu. Atau mungkin cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti
itu?

Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di
mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya
tenang, di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari
jalan umum.

Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata
mencerminkan suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia,
tetapi lebih kepada 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang
ekstrim seperti tergambar dalam ajaran Hindu : ruwa bineda
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3655> , selalu ada dua
jalan : yang diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak Pandora sudah
terbuka di dunia ini. Konsep syukur-taubat-amal ini sering saya jadikan
rujukan dalam menilai SQ komunal di berbagai tempat.

Sementara demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak
> Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
>
> Â
>
> Saya
> usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius
seperti
> ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
>
> Â
>
> PERTAMA.
> Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap
tempat
> di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa
menjadi
> masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat
untuk berdoa
> dan memohon ampun,  bersyukur serta
> melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan
merupakan Bait
> Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan
menjumpai jiwa
> dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di
luar manusia
> yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman
tertentu
> yang khas agama Katolik.
>
> Â
>
> Saya
> jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu
sementara dalam
> tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan
se-eksplisit itu,
> meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab
saya belum
> pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam
sebuah doa,
> dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya
merupakan
> "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal
> penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia
dikehendaki
> menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma
untuk
> mengembangkan agama.
>
> Â
>
> Gambaran
> visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya
diambil
> nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan
akhirat,
> maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran
cinta kasih
> ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan
> penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan
kadang pada
> tataran “bahasa manusia” bisa berbeda ungkapannya,
misalnya yang satu dengan
> bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa.
Misalnya,
> Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan
tujuan
> kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya
sama, bahasa
> gramatikalnya berbeda.
>
> Â
>
> Sekilas
> saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea
tentang ruang
> pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya.
Dalam
> khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi
tentrem gemah
> ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti
dan
> menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia
arsitek
> dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik
jika bisa
> dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang
diinspirasi
> dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya
bisa
> belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman
Islam.
> Terima kasih,...dan.....lanjutkan Pak.
>
> Â
>
> Tentang
> Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm)
ketika beliau
> pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung
mahasiswa-2 Arab
> yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di
tempat
> itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat
yang lebih
> leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi
dengan
> para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu
kata yaitu
> "no orientation". Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah
> benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang
tempat itu
> adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur
berhaji
> masih sempat diskusi arsitektur juga.


Kirim email ke