Begitulah bapak-bapak (ibu-ibu belum ikutan?) yssshh, Baru satu (kelompok) pertanyaan saja jawabannya sudah se abrek-abrek ke-bhinneka-annya...
Memang dahulu, jaman kerajaan, jaman master builder, jaman...ada tokoh yang sangat definitif, letak, bentuk dll ditentukan oleh mereka yang memiliki posisi menentukan... Sesuai dengan perkembangan waktu-ruang-kultural, dunia semakin berkembang menjadi melting pot berbagai tata nilai....value bukan lagi ditentukan oleh para brahmana, ksatria atau wesia ....kaum sudra bahan merasa berhak untuk menduduki plot-plot yang semula diangngap sakral.... karena itu, melihat rekan-rekan yang pernah terdidik di bidang arsitektur, saya suka tidak mengerti kenapa masih ada yang "memarahi' pemilik rumah yang mengatur tata ruang dalam berbeda dari apa yang semula dirancang baginya oleh sang arsitek.... Demikian pula masukan bagi (r)uu penataan ruang yang (baru) lalu juga agar sifat ke 'top down'annya semakin berkurang. 'Lah wong' sejak ruu sampai beberapa tahun ini menyusun pp-nya saja masih bermasalah, padahal kota seisinya berubah terus dan kebutuhan pengelolaan dan pelayanannya menyangkut hajat hidup orang banyak di setiap waktu di setiap segmennya... Jadi...bagaimana kalau 'penataan ruang' kota tidak lagi tidak bersifat 'fiskal' saja, tetapi 'proses peningkatan kualitas' yang dinamis dan berjalan setiap saat. Walikota, bupati dan jajarannya, beserta yang merasa mumpuni di bidang ini, ya perlu berkiprah setiap waktu juga, tidak 'menunggu' foto rtr kotanya jadi, apalagi menunggu tingkat propinsi, regional, hingga nasional berdasarkan pp dan berbagai perangkat yang masih ingin sangat 'ideal' (kabarnya pp yang akan terbit juga tidak mengacu kepada ke-'rigid'an konsep tata ruang yang lama) ...termasuk diperairan sungai dan laut. Pemangku kepentingan lokal sangat bertanggung jawab atas tercapaiannya 'peningkatan kualitas' di setiap tahap perubahan ini. Walau sedikit, kalau yang tercapai adalah penigkatan kualitas, tentunya jauh lebih baik daripada tercapainya 'kuantitas wujud fisikal' walau penuh embel-embel atau brand ...apapun ukuran labelnya... Biarlah setiap jaman menghasilkan peninggalan sesuai dengan ciri 'peradaban' di jamannya.... ...pancingan lain, semakin tidak jelas (rigid) semakin demokratis (katanya) ...kan pilihan terbanyak yang berjaya...he he he Salam, ATA 2009/7/23 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Pak Dwiagus, saya malah kurang memperhatikan kaitan ordo dengan tampilan > fisik gereja. Jika gereja dibangun pra-konsili vatikan II (jadi sebelum > tahun 1960) memang ada semacam semangat mengundang umat dengan tampilan > menara yang diatasnya ada lonceng untuk menandai saat akan ada Misa Kudus. > Di pertapaan Rowoseneng Temanggung, lonceng digunakan untuk menandai "doa > lima waktu" diantara para rahib karena semboyan mereka adalah Ora et Labora. > Jadi yang bekerja di kebun bisa menghentikan sejenak pekerjaannya dan segera > berdoa bersama di dalam gereja. Jadi mirip dengan loudspeaker di masjid > untuk memberitahu umat agar segera berdoa karena sudah waktunya. > > Desain gereja pasca konsili vatikan II sudah direaspi semangat mengangkat > budaya lokal dan kecenderungan ini berkembang meluas pada saat ini. Sekarang > tampilan gereja sudah lebih banyak menggunakan referensi budaya lokal, > meskipun masih ada juga gereja-gereja baru yang menggunakan referensi > nostalgis masa lalu, khususnya dari Eropa. Hal ini memang diserahkan kepada > keinginan umat lokal, dan "diawasi" oleh keuskupan setempat untuk menjaga > agar gereja sungguh Rumah Tuhan, bukan Mall atau tempat pameran karena ada > ketentuan yang mengatur desain gereja di dalam naskah konsili vatikan II. > Misalnya, unsur budaya lokal boleh digunakan sejauh menambah kekhusukan dan > kesucian suasana gereja, dst. Jika gereja tersebut adalah milik ordo atau > kongregasi tentunya ya berusaha memunculkan identitasnya Pak, ya mirip > desain kantor bank BNI atau BCA yang berusaha memperkenalkan identitasnya > kepada publik. > > Jika desain gereja ke-eropa-eropa-nan mungkin karena kebanyakan para pastor > pernah ke eropa, khususnya tempat-tempat suci di eropa sehingga ketika > membangun gereja memori itu ikut bermain dalam proses perancangannya. Ini > sangat wajar dan manusiawi, sebab manusia memang memiliki memori yang > membuatnya menjadi unik. Mereka ke eropa umumnya menempuh pendidikan sampai > tingkat doktoral baru bisa menjadi rohaniwan yang sempurna menurut standar > gereja Katolik. Kalau gereja protestan (sebutan dari pihak Katolik) atau > reformasi (sebutan mereka sendiri untuk diri sendiri) saya nggak banyak > tahu. > > Era sekarang (di Jogja yang saya tahu) pembangunan gereja lebih banyak > dicampuri tangan umat, khususnya para donatur. Sangking semangatnya membantu > material, misalnya, wajah interior gereja bisa belang-bonteng karena > sumbangan material atau hiasan yang diberikan para donatur. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On *Wed, 7/22/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro > <[email protected]>*wrote: > > > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> > Subject: RE: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 > To: [email protected] > Date: Wednesday, July 22, 2009, 4:30 PM > > > > PakDjarot, > > > > Apa arsitektur gereja katolik itu dipengaruhi oleh ordo pastor parokinya ya > pak,… > > > > Kalau gereja Karmelit dari ordo O’Carm, saya perhatikan ada kesamaan bentuk > kerucut dibelah horizontal, … kayak gereja karmelit di Meruya, dan kebon > jeruk,dan juga di SUkajadi Bandung,. > > Agak lain dengan gereja ordo Jesuit ,.... yang biasanya ada menara tinggi > dan belnya,… seperti Gereja Blok B. Kebayoran baru,.. > > > > Apa ada falsafah khusus, atau apa kebetulan ajah arsiteknya sama,… tinggal > copy paste blueprintnya saja,.. > > > > Ini pertanyaan iseng sajah pak,.. atau pengamatan saya yang ngawur,.. > hehhehe > > > > Regards, > > * **B.Dwiagus S.*** > > *http://bdwiagus. blogspot. com* > > *http://bdwiagus. multiply. com * > > > > "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to > watch somebody else doing it wrong, without comment." - *T. H. White* > > * * > > *:::... Indo-MONEV ...:::* > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People > anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to > the work on *monitoring and evaluation* and other related development > issues including development aid works, particularly in Indonesia. > Indo-MONEV is also supporting the network for *InDEC* (*Indonesian > Development Evaluation Community*) > > Join in by sending an email to: *indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com * > > Find also Indo-MONEV in facebook: *http://www.facebook .com/group. > php?gid=34091848 > 127&ref=ts<http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> > * > > > > *From:* refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] *On > Behalf Of *Djarot Purbadi > *Sent:* 22 July 2009 07:26 > *To:* refere...@yahoogrou ps.com > *Subject:* Re: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 > > > > > > Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui tulisan > Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik saya belum > pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang dapat menjadi > atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan manusia). > Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek fisik-keruangan > kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah umat Allah > bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi bangunan > arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih > dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang semula > berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total ke arah arsitektur Jawa > yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan seolah-olah di > tempat itu belum pernah ada bangunan lama yang bersejarah. > > > Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya temukan > di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya waktu itu > (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini ungkapan lokal yang > saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di tempat yang > sekitarnya tanah kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan > gereja-gereja itu berebutan umat, mirip toko-toko yang berebut simpati > konsumen yang diduga lewat di depan tokonya. Hal ini situasinya khusus, > yaitu mendirikan gedung gereja untuk menarik umat....fisik- visual digunakan > untuk menarik umat. > > Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah masyarakat > karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman mereka. > Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya kebutuhan > spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta Hidup. Dalam > kasus ini masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting atau > panggung kehidupan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia yang multi > dimensi. Oleh karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya pada > skala tertentu justru penataan setting yang cocok dengan karakter kehidupan > masyarakat yang menjadi fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata > setting itu menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan > pikiran bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan pada > akhirnya ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang tinggal di > dalamnya. > > Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On *Sun, 7/19/09, ffekadj <4ek...@gmail. com>* wrote: > > > From: ffekadj <4ek...@gmail. com> > Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM > > > > Pak Djarot ysh, > > Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap, > mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi, > namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut : > > Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah bila > hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu dan > pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita harus > terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa ada > kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus ada amal > yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang mengajarkan > itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila melihat > ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan', untuk mencapai tahap > tertentu. > > Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal sedikit > hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang seharusnya > dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila kita tinjau > dari satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga mencerminkan dimensi > budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama. Selain kasus > mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat kecenderungan penempatan > mesjid yang berada di tengah lingkungan perumahan di Jawa. Karena akses > terbatas, terkadang kita tidak dapat melihat mesjid tersebut dari jalan > umum. Mungkin ini pengalaman sempit saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura > dan Pansela, tidak banyak mesjid yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan. > > Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/ langgar > pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik > (syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun > (taubat, walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di sekitar > mesjid), serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun yang > berkunjung. Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti mall, > hotel, dll yang menyediakan tempat ibadah di basement panas atau pojok > tertentu. Atau mungkin cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti itu? > > Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di > mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya tenang, > di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan umum. > > Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata mencerminkan > suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia, tetapi lebih kepada > 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim seperti tergambar > dalam ajaran Hindu : ruwa > bineda<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3655>, > selalu ada dua jalan : yang diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak > Pandora sudah terbuka di dunia ini. Konsep syukur-taubat- amal ini sering > saya jadikan rujukan dalam menilai SQ komunal di berbagai tempat. > > Sementara demikian dulu pak. Salam. > > -ekadj > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > > > Pak > > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi, > > > >  > > > > Saya > > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius seperti > > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain. > > > >  > > > > PERTAMA. > > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap > tempat > > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa > menjadi > > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat untuk > berdoa > > dan memohon ampun, bersyukur serta > > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan merupakan > Bait > > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan menjumpai > jiwa > > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di luar > manusia > > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman > tertentu > > yang khas agama Katolik. > > > >  > > > > Saya > > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu sementara > dalam > > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan > se-eksplisit itu, > > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab saya > belum > > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam > sebuah doa, > > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya > merupakan > > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal > > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia > dikehendaki > > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma untuk > > mengembangkan agama. > > > >  > > > > Gambaran > > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya diambil > > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan > akhirat, > > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran cinta > kasih > > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan > > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan > kadang pada > > tataran “bahasa manusiaâ€� bisa berbeda ungkapannya, misalnya yang > satu dengan > > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa. > Misalnya, > > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan > tujuan > > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya sama, > bahasa > > gramatikalnya berbeda. > > > >  > > > > Sekilas > > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea tentang > ruang > > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya. Dalam > > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi tentrem > gemah > > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti dan > > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia > arsitek > > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik jika > bisa > > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang > diinspirasi > > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya > bisa > > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman > Islam. > > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak. > > > >  > > > > Tentang > > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm) ketika > beliau > > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung > mahasiswa-2 Arab > > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di > tempat > > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat yang > lebih > > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi > dengan > > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu kata > yaitu > > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah > > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang tempat > itu > > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur > berhaji > > masih sempat diskusi arsitektur juga. > > > > > >

