Maaf ya rekan-rekan...., bolehkah saya mengajukan pertanyaan nyeleneh tapi
praktis...?
Kalau bangunan ibadahnya mesjid, lebih cocok mana, di tengah permukiman atau
dibagian Barat - Barat Laut?
Bagian Timurnya justru lapangan luas sebelum ke kawasan penggunaan lain ?.
Soalnya kalau saat solat Ied atau Jumat, seringkali bagian Timur
berdesak-desakan sedangkan bagian Barat-nya justru kosong....
Highest and the best value....? siapa bilang begitu...?
Hmmmm.....apakah 'value' itu ? Lahan atau ruang...?
...atau waktu-ruang-kultural ?
Kecuali cuma untuk monumennya "arsitek" atau bagus dilihat dari
angkasa.......???

Salam,
Abimanyu

2009/7/22 ffekadj <[email protected]>

>
>
> Pak Djarot ysh, saya kira kita sudah hampir bertemu di suatu titik, bila
> bangunan ibadah itu sebenarnya dan seharusnya berada di titik tengah
> permukiman. Dan untuk masyarakat religius seperti di Indonesia ini, bangunan
> ibadah itu bisa menjadi titik energi yang menggerakkan motivasi dan
> aktivitas masyarakat dalam kehidupan dlsb. Posisinya seharusnya berada pada
> the highest and the best value secara land-use. Kalau di Jepang saya melihat
> bila the best value itu diperuntukkan untuk taman (RTH), sehingga peruntukan
> apa pun yang berdekatan dengan taman tersebut akan memiliki nilai lahan
> lebih tinggi. Namun kasus di beberapa perkotaan di Indonesia, posisi
> kedekatan dengan mesjid atau bangunan ibadah lainnya, menjadi faktor penentu
> margin harga lahan. Saya coba terapkan dalam tabel neraca lahan yang sedang
> saya modifikasi.
>
> Saya kurang tahu juga apresiasi 
> gereja<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1727>bagi masyarakat 
> Nasrani. Dalam 'Angels and Demons' sedikit banyak
> tergambarkan hal tersebut, namun saya belum mampu menanggapi lebih lanjut.
> Dulu sempat saya kunjungi beberapa dom di Eropah, seperti di Ghent,
> Frankfurt, dan Notre Dame; dan coba menangkap hikmahnya terutama ketika
> apresiasi itu masuk ke zaman pertengahan. Termasuk apresiasi ketika
> malam-malam datang ke tempat Pak Wawo di Tomohon, yang juga melalui jalanan
> kiri-kanan gereja dan seminari; serta juga perjalanan dari Maumere ke Ende.
>
> Untuk daerah-daerah dengan percampuran umat beragama, simbol bangunan
> ibadah juga menandai suatu wilayah dominasi agama, dan mengambil tempat di
> pinggir jalan utama. Saya kira 'jalan ke Kaenbaun' termasuk dalam hal
> tersebut, karena sudah berada dalam daerah transisi Protestan-Katholik.
> Termasuk juga jalanan di Tapanuli, bila kelihatan mesjid maka itu kampung
> muslim dan bila kelihatan gereja maka itu kampung nasrani. Di Trans Sulawesi
> malah lebih beragam, termasuk bila kelihatan pura maka itu kampung
> transmigran dari Bali. Dengan demikian bangunan ibadah tidak mesti berlokasi
> terpusat di tengah permukiman, namun bisa pertanda hub ke dalam komunitas
> setempat.
>
> Banyaknya pendirian rumah ibadah tidak sekedar karena meluasnya permukiman
> dan meningkatnya kemakmuran. Di dalam ajaran Islam juga menyebutkan tentang
> cara-cara amaliah untuk mendirikan bangunan-bangunan ibadah dan umum; dan
> sering ditafsirkan adalah mendirikan mesjid dsb. Pak Har mendapatkan data
> dari berita Bazis bila saat ini ada lebih 2 juta hektar tanah wakaf di
> seluruh Indonesia. Bayangkan bila seluruh tanah wakaf tersebut dibangunkan
> mesjid. Sehingga perlu suatu pemikiran fuqaha dan perencana untuk
> mendayagunakan tanah wakaf tersebut untuk kepentingan umat yang tidak mesti
> berbentuk bangunan ibadah. Saya kira saat ini gagasan tersebut sedang
> dipikirkan oleh Pak Nana dkk.
>
> Mungkin sementara demikian dulu pak, kelak disambung lagi. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
> >
> > Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui tulisan
> Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik saya belum
> pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang dapat menjadi
> atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan manusia).
> Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek fisik-keruangan
> kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah umat Allah
> bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi bangunan
> arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih
> dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang semula
> berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total ke arah arsitektur Jawa
> yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan seolah-olah di
> tempat itu belum pernah ada bangunan lama yang bersejarah.
> >
> > Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya
> temukan di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya
> waktu itu (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini ungkapan
> lokal yang saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di tempat
> yang sekitarnya tanah kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan
> gereja-gereja itu berebutan umat, mirip toko-toko yang berebut simpati
> konsumen yang diduga lewat di depan tokonya. Hal ini situasinya khusus,
> yaitu mendirikan gedung gereja untuk menarik umat....fisik-visual digunakan
> untuk menarik umat.
> >
> > Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah masyarakat
> karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman mereka.
> Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya kebutuhan
> spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta Hidup. Dalam
> kasus ini masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting atau
> panggung kehidupan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia yang multi
> dimensi. Oleh karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya pada
> skala tertentu justru penataan setting yang cocok dengan karakter kehidupan
> masyarakat yang menjadi fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata
> setting itu menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan
> pikiran bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan pada
> akhirnya ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang tinggal di
> dalamnya.
> >
> > Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> >
> > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> >
> > --- On Sun, 7/19/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
> >
> > From: ffekadj 4ek...@...
> > Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1
> > To: [email protected]
> > Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Â
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Djarot ysh,
> > Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap,
> mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi,
> namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut :
> > Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah bila
> hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu dan
> pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita harus
> terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa ada
> kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus ada amal
> yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang mengajarkan
> itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila melihat
> ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan', untuk mencapai tahap
> tertentu.
> > Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal
> sedikit hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang
> seharusnya dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila kita
> tinjau dari satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga mencerminkan
> dimensi budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama. Selain
> kasus mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat kecenderungan
> penempatan mesjid yang berada di tengah lingkungan perumahan di Jawa. Karena
> akses terbatas, terkadang kita tidak dapat melihat mesjid tersebut dari
> jalan umum. Mungkin ini pengalaman sempit saja, sewaktu menyusuri jalan
> Pantura dan Pansela, tidak banyak mesjid yang saya lihat berlokasi di
> pinggir jalan.
> > Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/ langgar
> pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik
> (syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun
> (taubat, walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di sekitar
> mesjid), serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun yang
> berkunjung. Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti mall,
> hotel, dll yang menyediakan tempat ibadah di basement panas atau pojok
> tertentu. Atau mungkin cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti itu?
> > Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di
> mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya tenang,
> di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan umum.
> > Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata
> mencerminkan suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia, tetapi
> lebih kepada 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim seperti
> tergambar dalam ajaran Hindu : ruwa bineda, selalu ada dua jalan : yang
> diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak Pandora sudah terbuka di dunia
> ini. Konsep syukur-taubat- amal ini sering saya jadikan rujukan dalam
> menilai SQ komunal di berbagai tempat.
> > Sementara demikian dulu pak. Salam.
> > -ekadj
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Pak
> > > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > Saya
> > > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius
> seperti
> > > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > PERTAMA.
> > > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap
> tempat
> > > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa
> menjadi
> > > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat untuk
> berdoa
> > > dan memohon ampun,  bersyukur serta
> > > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan merupakan
> Bait
> > > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan menjumpai
> jiwa
> > > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di luar
> manusia
> > > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman
> tertentu
> > > yang khas agama Katolik.
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > Saya
> > > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu
> sementara dalam
> > > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan
> se-eksplisit itu,
> > > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab saya
> belum
> > > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam
> sebuah doa,
> > > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya
> merupakan
> > > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal
> > > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia
> dikehendaki
> > > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma untuk
> > > mengembangkan agama.
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > Gambaran
> > > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya
> diambil
> > > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan
> akhirat,
> > > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran
> cinta kasih
> > > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan
> > > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan
> kadang pada
> > > tataran â€Å"bahasa manusia� bisa berbeda ungkapannya,
> misalnya yang satu dengan
> > > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa.
> Misalnya,
> > > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan
> tujuan
> > > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya
> sama, bahasa
> > > gramatikalnya berbeda.
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > Sekilas
> > > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea tentang
> ruang
> > > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya. Dalam
> > > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi tentrem
> gemah
> > > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti
> dan
> > > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia
> arsitek
> > > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik jika
> bisa
> > > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang
> diinspirasi
> > > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya
> bisa
> > > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman
> Islam.
> > > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak.
> > >
> > > ÂÂ
> > >
> > > Tentang
> > > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm)
> ketika beliau
> > > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung
> mahasiswa-2 Arab
> > > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di
> tempat
> > > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat
> yang lebih
> > > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi
> dengan
> > > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu
> kata yaitu
> > > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah
> > > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang tempat
> itu
> > > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur
> berhaji
> > > masih sempat diskusi arsitektur juga.
> >
>  
>

Kirim email ke