Pak Djarot ysh, saya kira kita sudah hampir bertemu di suatu titik, bila
bangunan ibadah itu sebenarnya dan seharusnya berada di titik tengah
permukiman. Dan untuk masyarakat religius seperti di Indonesia ini,
bangunan ibadah itu bisa menjadi titik energi yang menggerakkan motivasi
dan aktivitas masyarakat dalam kehidupan dlsb. Posisinya seharusnya
berada pada the highest and the best value secara land-use. Kalau di
Jepang saya melihat bila the best value itu diperuntukkan untuk taman
(RTH), sehingga peruntukan apa pun yang berdekatan dengan taman tersebut
akan memiliki nilai lahan lebih tinggi. Namun kasus di beberapa
perkotaan di Indonesia, posisi kedekatan dengan mesjid atau bangunan
ibadah lainnya, menjadi faktor penentu margin harga lahan. Saya coba
terapkan dalam tabel neraca lahan yang sedang saya modifikasi.

Saya kurang tahu juga apresiasi gereja
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1727>  bagi masyarakat
Nasrani. Dalam 'Angels and Demons' sedikit banyak tergambarkan hal
tersebut, namun saya belum mampu menanggapi lebih lanjut. Dulu sempat
saya kunjungi beberapa dom di Eropah, seperti di Ghent, Frankfurt, dan
Notre Dame; dan coba menangkap hikmahnya terutama ketika apresiasi itu
masuk ke zaman pertengahan. Termasuk apresiasi ketika malam-malam datang
ke tempat Pak Wawo di Tomohon, yang juga melalui jalanan kiri-kanan
gereja dan seminari; serta juga perjalanan dari Maumere ke Ende.

Untuk daerah-daerah dengan percampuran umat beragama, simbol bangunan
ibadah juga menandai suatu wilayah dominasi agama, dan mengambil tempat
di pinggir jalan utama. Saya kira 'jalan ke Kaenbaun' termasuk dalam hal
tersebut, karena sudah berada dalam daerah transisi Protestan-Katholik.
Termasuk juga jalanan di Tapanuli, bila kelihatan mesjid maka itu
kampung muslim dan bila kelihatan gereja maka itu kampung nasrani. Di
Trans Sulawesi malah lebih beragam, termasuk bila kelihatan pura maka
itu kampung transmigran dari Bali. Dengan demikian bangunan ibadah tidak
mesti berlokasi terpusat di tengah permukiman, namun bisa pertanda hub
ke dalam komunitas setempat.

Banyaknya pendirian rumah ibadah tidak sekedar karena meluasnya
permukiman dan meningkatnya kemakmuran. Di dalam ajaran Islam juga
menyebutkan tentang cara-cara amaliah untuk mendirikan bangunan-bangunan
ibadah dan umum; dan sering ditafsirkan adalah mendirikan mesjid dsb.
Pak Har mendapatkan data dari berita Bazis bila saat ini ada lebih 2
juta hektar tanah wakaf di seluruh Indonesia. Bayangkan bila seluruh
tanah wakaf tersebut dibangunkan mesjid. Sehingga perlu suatu pemikiran
fuqaha dan perencana untuk mendayagunakan tanah wakaf tersebut untuk
kepentingan umat yang tidak mesti berbentuk bangunan ibadah. Saya kira
saat ini gagasan tersebut sedang dipikirkan oleh Pak Nana dkk.

Mungkin sementara demikian dulu pak, kelak disambung lagi. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui
tulisan Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik
saya belum pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang
dapat menjadi atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan
manusia). Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek
fisik-keruangan kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja
adalah umat Allah bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi
dan prservasi bangunan arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek
rohani yang lebih dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul,
misalnya, yang semula berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total
ke arah arsitektur Jawa yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di
buat baru dan seolah-olah di tempat itu belum pernah ada bangunan lama
yang bersejarah.
>
> Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya
temukan di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya
waktu itu (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini
ungkapan lokal yang saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan
di tempat yang sekitarnya tanah kosong melulu. Informan saya bahkan
mengatakan gereja-gereja itu berebutan umat, mirip toko-toko yang
berebut simpati konsumen yang diduga lewat di depan tokonya. Hal ini
situasinya khusus, yaitu mendirikan gedung gereja untuk menarik
umat....fisik-visual digunakan untuk menarik umat.
>
> Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah
masyarakat karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah
permukiman mereka. Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata,
khususnya kebutuhan spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan
Sang Pencipta Hidup. Dalam kasus ini masyarakat sendiri berusaha
melakukan penataan setting atau panggung kehidupan mereka sendiri sesuai
dengan kebutuhan manusia yang multi dimensi. Oleh karenanya, menurut
saya, bagi para planner tampaknya pada skala tertentu justru penataan
setting yang cocok dengan karakter kehidupan masyarakat yang menjadi
fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata setting itu
menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan pikiran
bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan pada akhirnya
ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang tinggal di
dalamnya.
>
> Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Sun, 7/19/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1
> To: [email protected]
> Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Djarot ysh,
> Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap,
mudah-mudahan menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi,
namun secara bertahap, beberapa hal sebagai berikut :
> Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah
bila hal ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat
itu dan pada waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita
harus terharu, kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan
terasa ada kekurangan dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya
harus ada amal yang akan dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan
yang mengajarkan itu, hal itu yang disebut dengan 'pengendalian' .
Ekstrimnya bila melihat ajaran Budha, bila 'nafsu' itu harus 'dilawan',
untuk mencapai tahap tertentu.
> Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal
sedikit hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang
seharusnya dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila
kita tinjau dari satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga
mencerminkan dimensi budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap
agama. Selain kasus mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat
kecenderungan penempatan mesjid yang berada di tengah lingkungan
perumahan di Jawa. Karena akses terbatas, terkadang kita tidak dapat
melihat mesjid tersebut dari jalan umum. Mungkin ini pengalaman sempit
saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura dan Pansela, tidak banyak mesjid
yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan.
> Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/
langgar pada tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas
baik (syukur), anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta
ampun (taubat, walau sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan
di sekitar mesjid), serta mencitrakan keinginan untuk beramal bagi
siapapun yang berkunjung. Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum
seperti mall, hotel, dll yang menyediakan tempat ibadah di basement
panas atau pojok tertentu. Atau mungkin cara ini bisa menghasilkan
ekspresi seperti itu?
> Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di
mesjid dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya
tenang, di sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari
jalan umum.
> Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata
mencerminkan suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia,
tetapi lebih kepada 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang
ekstrim seperti tergambar dalam ajaran Hindu : ruwa bineda, selalu ada
dua jalan : yang diridhoi dan tidak diridhoi, karena kotak Pandora sudah
terbuka di dunia ini. Konsep syukur-taubat- amal ini sering saya jadikan
rujukan dalam menilai SQ komunal di berbagai tempat.
> Sementara demikian dulu pak. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > Pak
> > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi,
> >
> > ÂÂ
> >
> > Saya
> > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius
seperti
> > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain.
> >
> > ÂÂ
> >
> > PERTAMA.
> > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci
setiap tempat
> > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa
menjadi
> > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat
untuk berdoa
> > dan memohon ampun,  bersyukur serta
> > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan
merupakan Bait
> > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan
menjumpai jiwa
> > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di
luar manusia
> > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan
iman tertentu
> > yang khas agama Katolik.
> >
> > ÂÂ
> >
> > Saya
> > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu
sementara dalam
> > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan
se-eksplisit itu,
> > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab
saya belum
> > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam
sebuah doa,
> > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi
hendaknya merupakan
> > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal
> > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di
dunia dikehendaki
> > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma
untuk
> > mengembangkan agama.
> >
> > ÂÂ
> >
> > Gambaran
> > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya
diambil
> > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia
dan akhirat,
> > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran
cinta kasih
> > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama,
dan
> > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan
kadang pada
> > tataran â€Å"bahasa manusia� bisa berbeda
ungkapannya, misalnya yang satu dengan
> > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa.
Misalnya,
> > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan
tujuan
> > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya
sama, bahasa
> > gramatikalnya berbeda.
> >
> > ÂÂ
> >
> > Sekilas
> > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea
tentang ruang
> > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya.
Dalam
> > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi
tentrem gemah
> > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip
meneliti dan
> > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa
(dia arsitek
> > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik
jika bisa
> > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang
diinspirasi
> > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini
saya bisa
> > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut
agama/iman Islam.
> > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak.
> >
> > ÂÂ
> >
> > Tentang
> > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm)
ketika beliau
> > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung
mahasiswa-2 Arab
> > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur
di tempat
> > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat
yang lebih
> > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi
dengan
> > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu
kata yaitu
> > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah
> > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang
tempat itu
> > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur
berhaji
> > masih sempat diskusi arsitektur juga.
>


Kirim email ke