Dear Pak Abimanyu... Wah pertanyaan Pak Abimanyu lokasi mesjid yang tepat sulit juga untuk dijawab. Soalnya kalau saya sembahyang menganut " LAST IN - FIRST OUT" (L.I.F.O.). Thanks. CU. BTS.
--- On Wed, 7/22/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 To: [email protected] Date: Wednesday, July 22, 2009, 8:09 AM Maaf ya rekan-rekan. ..., bolehkah saya mengajukan pertanyaan nyeleneh tapi praktis...? Kalau bangunan ibadahnya mesjid, lebih cocok mana, di tengah permukiman atau dibagian Barat - Barat Laut? Bagian Timurnya justru lapangan luas sebelum ke kawasan penggunaan lain ?. Soalnya kalau saat solat Ied atau Jumat, seringkali bagian Timur berdesak-desakan sedangkan bagian Barat-nya justru kosong.... Highest and the best value....? siapa bilang begitu...? Hmmmm.....apakah 'value' itu ? Lahan atau ruang...? ...atau waktu-ruang- kultural ? Kecuali cuma untuk monumennya "arsitek" atau bagus dilihat dari angkasa..... ..??? Salam, Abimanyu 2009/7/22 ffekadj <4ek...@gmail. com> Pak Djarot ysh, saya kira kita sudah hampir bertemu di suatu titik, bila bangunan ibadah itu sebenarnya dan seharusnya berada di titik tengah permukiman. Dan untuk masyarakat religius seperti di Indonesia ini, bangunan ibadah itu bisa menjadi titik energi yang menggerakkan motivasi dan aktivitas masyarakat dalam kehidupan dlsb. Posisinya seharusnya berada pada the highest and the best value secara land-use. Kalau di Jepang saya melihat bila the best value itu diperuntukkan untuk taman (RTH), sehingga peruntukan apa pun yang berdekatan dengan taman tersebut akan memiliki nilai lahan lebih tinggi. Namun kasus di beberapa perkotaan di Indonesia, posisi kedekatan dengan mesjid atau bangunan ibadah lainnya, menjadi faktor penentu margin harga lahan. Saya coba terapkan dalam tabel neraca lahan yang sedang saya modifikasi. Saya kurang tahu juga apresiasi gereja bagi masyarakat Nasrani. Dalam 'Angels and Demons' sedikit banyak tergambarkan hal tersebut, namun saya belum mampu menanggapi lebih lanjut. Dulu sempat saya kunjungi beberapa dom di Eropah, seperti di Ghent, Frankfurt, dan Notre Dame; dan coba menangkap hikmahnya terutama ketika apresiasi itu masuk ke zaman pertengahan. Termasuk apresiasi ketika malam-malam datang ke tempat Pak Wawo di Tomohon, yang juga melalui jalanan kiri-kanan gereja dan seminari; serta juga perjalanan dari Maumere ke Ende. Untuk daerah-daerah dengan percampuran umat beragama, simbol bangunan ibadah juga menandai suatu wilayah dominasi agama, dan mengambil tempat di pinggir jalan utama. Saya kira 'jalan ke Kaenbaun' termasuk dalam hal tersebut, karena sudah berada dalam daerah transisi Protestan-Katholik. Termasuk juga jalanan di Tapanuli, bila kelihatan mesjid maka itu kampung muslim dan bila kelihatan gereja maka itu kampung nasrani. Di Trans Sulawesi malah lebih beragam, termasuk bila kelihatan pura maka itu kampung transmigran dari Bali. Dengan demikian bangunan ibadah tidak mesti berlokasi terpusat di tengah permukiman, namun bisa pertanda hub ke dalam komunitas setempat. Banyaknya pendirian rumah ibadah tidak sekedar karena meluasnya permukiman dan meningkatnya kemakmuran. Di dalam ajaran Islam juga menyebutkan tentang cara-cara amaliah untuk mendirikan bangunan-bangunan ibadah dan umum; dan sering ditafsirkan adalah mendirikan mesjid dsb. Pak Har mendapatkan data dari berita Bazis bila saat ini ada lebih 2 juta hektar tanah wakaf di seluruh Indonesia. Bayangkan bila seluruh tanah wakaf tersebut dibangunkan mesjid. Sehingga perlu suatu pemikiran fuqaha dan perencana untuk mendayagunakan tanah wakaf tersebut untuk kepentingan umat yang tidak mesti berbentuk bangunan ibadah. Saya kira saat ini gagasan tersebut sedang dipikirkan oleh Pak Nana dkk. Mungkin sementara demikian dulu pak, kelak disambung lagi. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Ekadj, terima kasih atas pencerahan yang saya terima melalui tulisan > Bapak yang runtut ini. Terus terang dari ajaran agama Katolik saya belum > pernah menggalinya secara serius, apakah ada unsur-unsur yang dapat menjadi > atau dijadikan referensi dalam tata ruang (wadah kehidupan manusia). > Tradisinya memang mungkin berbeda, bahkan saya rasakan aspek fisik-keruangan > kurang mendapat tekanan, misalnya, yang namanya gereja adalah umat Allah > bukan gedungnya. Oleha karenanya, kadang konservasi dan prservasi bangunan > arsitektur kurang mendapat perhatian karena aspek rohani yang lebih > dipentingkan. Pemugaran gereja Ganjuran di Bantul, misalnya, yang semula > berciri arsitektur kolonial sekarang berubah total ke arah arsitektur Jawa > yang ramai dengan ornamen kraton. Bangunan di buat baru dan seolah-olah di > tempat itu belum pernah ada bangunan lama yang bersejarah. > > Fenomena gereja berceceran sepanjang tepi jalan kiri dan kanan saya temukan > di sepanjang perjalanan Kupang Kefamenanu. Menurut informan saya waktu itu > (2006) gedung gereja lebih banyak daripada umatnya, ini ungkapan lokal yang > saya tangkap. Bahkan kadang gedung gereja didirikan di tempat yang sekitarnya > tanah kosong melulu. Informan saya bahkan mengatakan gereja-gereja itu > berebutan umat, mirip toko-toko yang berebut simpati konsumen yang diduga > lewat di depan tokonya. Hal ini situasinya khusus, yaitu mendirikan gedung > gereja untuk menarik umat....fisik- visual digunakan untuk menarik umat. > > Saya sangat salut ketika pendirian rumah ibadat ada di tengah masyarakat > karena kebutuhan nyata masyarakat sendiri di tengah permukiman mereka. > Artinya, pendiriannya berdasarkan kebutuhan nyata, khususnya kebutuhan > spiritual terdalam untuk senantiasa dekat dengan Sang Pencipta Hidup. Dalam > kasus ini masyarakat sendiri berusaha melakukan penataan setting atau > panggung kehidupan mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia yang multi > dimensi. Oleh karenanya, menurut saya, bagi para planner tampaknya pada skala > tertentu justru penataan setting yang cocok dengan karakter kehidupan > masyarakat yang menjadi fokus penting. Persoalannya, referensi untuk menata > setting itu menggunakan acuan yang mana ? Hal ini kiranya sesuai dengan > pikiran bahwa pada awalnya manusia menata ruang kehidupannya dan pada > akhirnya ruang kehidupan itu akan membentuk karakter manusia yang tinggal di > dalamnya. > > Sekian dulu ya Pak, jika ada yang kurang disambung lagi. Nuwun. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Sun, 7/19/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: Jagad Jawa 1 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, July 19, 2009, 8:45 PM > > > > > > >  > > > > > > Pak Djarot ysh, > Terima kasih atas uraian dan penjelasannya yang cukup lengkap, mudah-mudahan > menambah khazanah pengetahuan kita. Saya ingin menanggapi, namun secara > bertahap, beberapa hal sebagai berikut : > Manunggaling terhadap konsep syukur-taubat- kebaikan bukan hal mudah bila hal > ini serenta harus diwujudkan dalam ekspresi ruang : pada tempat itu dan pada > waktu itu. Mungkin dapat dibayangkan bila suatu ketika kita harus terharu, > kagum, dan bahagia, sementara dalam waktu bersamaan terasa ada kekurangan > dalam diri, terasa khilaf, egois, dan selanjutnya harus ada amal yang akan > dilakukan. Di dalam Islam sebenarnya ada jalan yang mengajarkan itu, hal itu > yang disebut dengan 'pengendalian' . Ekstrimnya bila melihat ajaran Budha, > bila 'nafsu' itu harus 'dilawan', untuk mencapai tahap tertentu. > Saya kurang dapat menguraikan untuk individu, namun secara komunal sedikit > hal yang menjelaskan adalah lokasi tempat ibadah (mesjid) yang seharusnya > dapat mencerminkan ekspresi komunal terhadap ruang. Dan bila kita tinjau dari > satu tempat ke lain tempat, penempatan mesjid juga mencerminkan dimensi > budaya di daerah tersebut dalam resepsinya terhadap agama. Selain kasus > mesjid di sekitar kraton itu, saya juga melihat kecenderungan penempatan > mesjid yang berada di tengah lingkungan perumahan di Jawa. Karena akses > terbatas, terkadang kita tidak dapat melihat mesjid tersebut dari jalan umum. > Mungkin ini pengalaman sempit saja, sewaktu menyusuri jalan Pantura dan > Pansela, tidak banyak mesjid yang saya lihat berlokasi di pinggir jalan. > Ekspresi beragam itu seharusnya menempatkan lokasi mesjid/surau/ langgar pada > tempat yang terbaik dan lega serta dibangun dengan kualitas baik (syukur), > anggun dan pengasih sehingga berkehendak untuk minta ampun (taubat, walau > sering disalahtafsirkan dengan menempatkan kuburan di sekitar mesjid), serta > mencitrakan keinginan untuk beramal bagi siapapun yang berkunjung. > Kebalikannya bila kita melihat bangunan umum seperti mall, hotel, dll yang > menyediakan tempat ibadah di basement panas atau pojok tertentu. Atau mungkin > cara ini bisa menghasilkan ekspresi seperti itu? > Saya senang waktu tahun lalu ke kampus UGM dan menyempatkan sholat di mesjid > dekat gedung apa itu, yang dekat jembatan McD itu. Suasananya tenang, di > sekitarnya ada kolam dan taman. Namun aksesnya jauh dari jalan umum. > Jadi konsep kehidupan yang diajarkan dalam Islam tidak semata mencerminkan > suatu tujuan terhadap model kehidupan kasih dan bahagia, tetapi lebih kepada > 'keselamatan' dunia akhirat. Pemaknaannya yang ekstrim seperti tergambar > dalam ajaran Hindu : ruwa bineda, selalu ada dua jalan : yang diridhoi dan > tidak diridhoi, karena kotak Pandora sudah terbuka di dunia ini. Konsep > syukur-taubat- amal ini sering saya jadikan rujukan dalam menilai SQ komunal > di berbagai tempat. > Sementara demikian dulu pak. Salam. > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > Pak > > Ekadj, Pak Risfan dan sahabats referensi, > > > >  > > > > Saya > > usahakan menjelaskan, semoga tidak menjadi semakin terlalu serius seperti > > ungkapan hati Pak Risfan di email yang lain. > > > >  > > > > PERTAMA. > > Saya sangat setuju bahwa menurut gagasan / ide dalam kitab suci setiap > > tempat > > di bumi seyogyanya menjadi tempat suci, dalam bentuk visualnya bisa menjadi > > masjid atau yang lain, dan dalam sebutan universal menjadi tempat untuk > > berdoa > > dan memohon ampun, bersyukur serta > > melakukan kebaikan. Dalam agama Katolik, tubuh manusia bahkan merupakan Bait > > Allah atau Rumah Tuhan karena Tuhan selalu berkenan hadir dan menjumpai jiwa > > dan hati manusia di dalam tubuh manusia; jadi bukan hanya ruang di luar > > manusia > > yang merupakan tempat suci. Pandangan ini tentu didasari rumusan iman > > tertentu > > yang khas agama Katolik. > > > >  > > > > Saya > > jadi mengerti bahwa dalam Islam jelas disebut ada tiga hal itu sementara > > dalam > > tradisi agama saya (sejauh saya tahu) memang tidak disebutkan se-eksplisit > > itu, > > meskipun jika dicari barangkali ya mungkin ada (nggak yakin, sebab saya > > belum > > pernah mencarinya). Jika saya ingat-ingat lagi, ada konsep di dalam sebuah > > doa, > > dan doa itu ada di dalam kitab Perjanjian Baru adalah: bumi hendaknya > > merupakan > > "Kraton nDalem" alias "Kerajaan Allah", yang sangat ideal > > penuh dengan cinta kasih. Ini tentu bukan berarti semua orang di dunia > > dikehendaki > > menjadi masyarakat seagama dari suatu agama tertentu; bukan dogma untuk > > mengembangkan agama. > > > >  > > > > Gambaran > > visualnya seperti apa, ya multi interpetasi. Bagi saya konsepnya diambil > > nilainya yang transenden, yaitu Tuhan/Allah menjadi raja di dunia dan > > akhirat, > > maka berarti cinta kasih abadi menguasai seluruh kehidupan. Ajaran cinta > > kasih > > ini saya kira ada di semua agama, hanya narasinya bisa tidak sama, dan > > penerapannya bisa beragam juga. Pada tataran nilai abstrak sama dan kadang > > pada > > tataran â€Å"bahasa manusia� bisa berbeda ungkapannya, misalnya > > yang satu dengan > > bahasa Latin yang lain Yunani yang lain lagi dengan bahasa Jawa. Misalnya, > > Gusti Allah iku sangkan lan paraning dumadi = Tuhan adalah asal dan tujuan > > kehidupan = Tuhan adalah Alfa dan Omega kehidupan; gagasan intinya sama, > > bahasa > > gramatikalnya berbeda. > > > >  > > > > Sekilas > > saya duga, sebenarnya pada tataran ide ada banyak kesamaan idea tentang > > ruang > > pada berbagai keyakinan/agama jika kita memang bisa menemukannya. Dalam > > khasanah Kejawen ada gagasan ideal dari suluk dalang: tata titi tentrem > > gemah > > ripah lohjinawi, dst saya nggak hafal. Teman saya dari Undip meneliti dan > > menulis idea ruang dengan cara menggali dari khasanah wayang Jawa (dia > > arsitek > > dan dalang sih). Gagasan ideal tentang ruang ini tema yang menarik jika bisa > > dipelajari dan ditemukan titik-titik pertemuan antar gagasan yang > > diinspirasi > > dari ajaran suci agama kita masing-masing. Minimal dari milis ini saya bisa > > belajar banyak tentang konsep dan konsepsi ruang dari sudut agama/iman > > Islam. > > Terima kasih,...dan. ....lanjutkan Pak. > > > >  > > > > Tentang > > Mono-orientasi, saya ingat dongeng dari Prof Parmono Atmadi (alm) ketika > > beliau > > pergi menunaikan ibadah haji. Ketika di Mekkah beliau dirubung mahasiswa-2 > > Arab > > yang sedang survai tentang kesan para peziarah terhadap arsitektur di tempat > > itu. Beliau berjanji mau mengungkapkan kesan pribadi asal di tempat yang > > lebih > > leluasa. Setelah mendapat tenda yang leluasa kemudian beliau diskusi dengan > > para mahasiswa itu dan kesimpulannya hanya satu, katanya: hanya satu kata > > yaitu > > "no orientation" . Maksudnya, rancangan arsitektur di Mekkah sudah > > benar, sebab tidak perlu berorientasi ke mana lagi karena memang tempat itu > > adalah titik orientasi itu sendiri. Itulah kalau profesor arsitektur berhaji > > masih sempat diskusi arsitektur juga. >

