Pak BSP, saya menangkap ajakan panjenengan untuk serius itu semacam menuju ke 
suati situasi planning yang kritis. Mohon maaf jika ungkapan ini terkesan 
menilai bahwa planning yang saya kenal dalam milis ini seolah-olah tidak 
kritis. Bukan maksud saya menghakimi, melainkan membuat kategori semata untuk 
melangkah ke diskusi lebih mendalam.

Kita bisa belajar dari dunia surat kabar. Sebuah artikel yang berhasil di muat 
sudah melalui proses bermacam-macam dan melibatkan pencermatan banyak orang. 
Para ilmuwan sosial selalu melihat bahwa artikel tersebut sudah melalui proses 
kajian oleh beberapa pihak yang diduga memiliki ideologi tertentu di benaknya 
ketika mengakaji artikel itu. Artinya, artikel yang lolos terbit sudah melalui 
proses pertarungan ideologi di dalam kantor penerbit, khususnya meja redaksi. 
Artinya, proses dan aktor di balik suatu plan menentukan karakternya. 

Saya kira proses melahirkan suatu rencana tata ruang juga melalui proses 
semacam itu. Dengan demikian ada kesan bahwa di balik suatu rencana tata 
keruangan ada "proses politik" yang unik dan menentukan karakternya. Kasus 
pemilu yang diduga ada keterlibatan pihak asing melalui kucuran dana saya kira 
juga menjadi contoh yang sama. Redaksi yang menerima telpon dari petinggi 
negara untuk tidak memuat artikel dengan tema tertentu juga sami mawon, yang 
menunjukkan bahwa ada intervensi pihak-pihak tertentu dalam setiap rencana.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 7/30/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat
To: [email protected]
Date: Thursday, July 30, 2009, 3:27 PM






 




    
                  Pak Suhadi ysh,
Waktu Solo dibangun katanya karena Kartasura sudah tidak membawa barokah ... 
hal ini disebabkan karena ada pertumpahan darah akibat geger Pacinan. Waktu itu 
sebenarnya wangsit yang diminat adalah berada disebelah timur gunung, maka pada 
waktu itu di solo dibuatlah sebuah gunungan dibagian barat kraton sekarang. 
Pada waktu HB I mau mbangun Yogyakarta dia pertama memikirkan bahwa Ambar 
Ketawang merupakan sebuah lokasi yang bagus. Ternyata akhirnya yang dipilih 
adalah di lokasi alas yang dipenuhi oleh pohon Bering. Nama ini kemudian 
diberikan pada nama pasar yaitu Bering Harjo.
Waktu Dayeh Pakuan Pajajran dibangun, merka juga menggunakan pendekatan dan 
membagi kota dalam 3 blok Kutaraja, Kutadalem dan Kraton. Semua mengarah ke 
timur-barat.
Saya hanya ingin memperlihatkan bahwa pemahaman ruang dari para arsiteknya masa 
itu ternyata cukup bagus kala tidak dikatakan excelent dalam melakukan 
planning. Bahkan seorang Doktor dari Gajah Mada bernama Bondan Hermani Slamet 
membuat sbeuah thesis doktor tentang tata ruang Majapahit. Semua itu ternyata 
bersumber tentang pemahaman keruang dalam bentuk yang holistik. Holistik yang 
se listik listiknya. Karena disana dipadu antara aspek fisik dan meta fisik 
antara sosial dan politik.... karena mereka takut kalau salah akan berakibat 
pada kelanjutan kehidupan kerajaannya. Ini berbeda dengan sekarang ... sebuah 
perencanaan tata ruang yang salah tidak akan langsung berakibat pada hilangnya 
kota itu.
Nah mungkin kita perlu lebih memikir lagi ... bisakah kita berpikir seperti 
jaman dulu yang LEBIH SERIOUS memikirkan penataan ruang karena alasan hidup 
mati dinasti.
Salam
bsp
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke