Pak Eka yang hebat, ternyata deposit pengalaman dan pengetahuan panjenengan 
luar biasa. Saya membayangkan, jika sejarah yang lebih otentik ditulis dengan 
melibatkan kajian heritage yang komprehensif tentulah sejarah menjadi "murni" 
tidak dicemari oleh subyektivitas sejarawan. paparan panjenengan sebagai sebuah 
dongeng saja sudah sangat menarik, seperti ketika kita asyik membaca dongeng 
Winnetou dan Old Shaterhand itu. Matur nuwun atas berbagi dongeng ini.

Menurut saya, yang menarik adalah bagaimana terjadinya proses dialog budaya 
pada masa lalu yang menghasilkan keunikan-keunikan warisan yang kita terima. 
Jika selain mendongeng kemudian kita bisa mengungkapkan butir-butir mutiara 
dialog tersebut tentulah akan menjadi referensi yang bagus. Peranag dan 
okupansi suatu wilayah barangkali banyak terjadi di masa lalu, tetapi tema 
tentang dialog budaya atau saling bercampurnya budaya-budaya yang berjumpa saya 
kira menjadi hal yang menarik....tentunya juga bisa ditemukan pelajaran yang 
terkait dengan tata keruangan yang menjadi perhatian milis kita ini. Para 
pendahulu mungkin tidak sengaja meninggalkan jejak dialog mereka, kitalah yang 
wajib menemukannya.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 7/29/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat [2 Attachments]
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 29, 2009, 2:22 AM






 




    
                  
        [Attachment(s) from - ekadj included below]
      


      
            Pak Djarot dan Pak Indra ysh, saya gabung saja ya jawabannya.
 
Lokasi Hila ada di pantai utara Kota Ambon, bisa dicek via GoogleEarth. 
Perjalanan dari Ambon menempuh waktu sekitar 2 jam, bisa dari Hative atau 
Passo. Saya dua kali ke sana, pertama tahun 2006 mengantar Pak Panca cs 
jalan-jalan, dan tahun 2008 kemarin mengantar Ibu Reny cs dan orang-orang Ambon 
sendiri yang seumur-umur belum pernah kesana. Yang seru tahun 2006 itu, karena 
baru usai sedikit letupan konflik sosial, sehingga memang terasa tegang juga 
selama dalam perjalanan. Sebagaimana diketahui, selama dalam perjalanan kita 
akan melalui kampung muslim dan kampung nasrani, selang-seling. Kadang melihat 
mesjid yang dibakar, kadang melihat gereja yang dibakar. Karena naik mobil, 
tentu kami selalu jadi sorotan pandang penduduk, siapa tahu mata-mata. 
Terlampir saya sampaikan sketsa lokasi sebagaimana yang diharapkan Pak Djarot, 
serta kondisi benteng yang rupanya baru direhab. Cerita tentang hal ini dapat 
dilihat di link ini, dan ini. Untuk foto-foto
 tambahan, siapa tahu Ibu Reny cs masih menyimpan dan mau di-share, dan siapa 
tahu juga dilirik Mas Danu untuk ikutan pameran.

 
Yang saya lihat di dalam mesjid tersebut adalah seperti mesjid umumnya. 
Lantainya tanah dan dilapisi karpet. Ada yang aneh juga, ada satu tempat yang 
cekung ke bawah. Rupanya itu tempat berdirinya muazzin, dan mungkin karena 
sangkin lamanya maka tempat itu makin merendah. Tonggak tua masih ada, dan 
salah satunya diletakkan di serambi mesjid dan dibalut kain putih. 

Mengenai teknik memindahkan/ membangun mesjid dalam satu malam, saya kira perlu 
dipelajari arsitek kita zaman kini. Ada video di YouTube, yang kelihatannya 
cukup kontroversial namun menarik juga. Namun sewaktu di Osaka saya sempat 
melihat pekerja bangunan di sana dapat membuat sebuah rumah mewah hanya dalam 1 
hari dengan teknik prefabrikasi. Mungkin Pak Indra bisa bercerita.

 
Mengenai gereja di samping benteng itu, sebenarnya dulu dibangun untuk para 
opsir Belanda. Namun sayang juga gereja tua itu terbakar. Kebetulan memang 
penduduk Hila mayoritas muslim, dan terdapat beberapa keluarga yang nasrani. 
Sampai sekarang keluarga nasrani itu masih belum kembali. Saat ini saya kira 
telah tumbuh klaster-klaster permukiman yang lebih tegas di Ambon, dan butuh 
waktu cukup lama untuk merajut kembali adat pela gandong. Saya mencoba 
menapaktilas lagi perjalanan ke Ambon, mengingat Tuanku Imam Bonjol pernah 
sempat 2,5 tahun dibuang ke tempat ini, sebelum dibuang ke Manado. Sak saya 
beliau memang ditempatkan di sekitar Hila ini.

 
Bila ditelusuri wilayah Timur ini memang akan menemukan banyak kejutan-kejutan 
sejarah, yang bisa memaksa Diknas untuk mengganti buku-buku teks sejarah. 
Seperti misalnya kerajaan Islam pertama di nusantara sering disebut orang 
Samudera Pasai (1297), padahal kekedatonan Ternate telah bermula sejak 
sekurangnya 1232. Kemudian profil antropologi- fisik rakyat Maluku Utara cukup 
dominan berdarah Arab. Coba deh tanyakan Pak Ibenk. Dengan kata lain, Maluku 
memang lebih global pada masanya dibanding Indonesia Barat saat ini. Beberapa 
catatan pernah saya sampaikan 1 2.

 
Mengenai perjalanan 3 orang datuk (RiBandang, RiTiro, RiPatimang) yang 
mengislamkan  5 raja Bugis, saya menemukan beberapa versi. Yang tercatat dalam 
sejarah, dalam Bo' Sangaji Kai disebutkan 2 datuk yang pertama itu mengunjungi 
Bima terlebih dahulu di penghujung abad 16. Kemudian baru berlanjut ke Sulsel. 
Namun di Dara Bima disebutkan ada 2 kuburan yang dikeramatkan, dan bisa jadi 
kedua datuk itu kembali lagi ke Bima di akhir hayatnya. Dari buku itu juga 
disebutkan orang Melayu/Minang mendapatkan previlege di Bima. Malah orang 
Manggarai yang berwajah Melanesia banyak yang mengaku keturunan Minang.

 
Perjalanan ke Sulsel di awal abad 17 dari 3 datuk itu telah dapat mengIslamkan  
5 raja Bugis : Tallo-Goa-Wajo- Luwu-Bulukumba. Namun dari ayah saya mengatakan 
salah seorang dari 3 datuk ini telah sampai ke Sulu dan mengislamkan raja Sulu 
(Filipina Selatan). Ada satu tambahan informasi lagi yang saya peroleh dari Lym 
Campay, ketika tentara kita membentangkan merawa (bendera Minangkabau yang 
berwarna merah-kuning- hitam) di suatu suku Dayak di Kalimantan Timur, 
tiba-tiba timbul penghormatan yang sangat dalam dari suku tersebut.


Ini sekedar 'turi-turian' dari seorang yang belajar jadi juru kisah, story 
teller, atau bayo parturi yang katanya juga right-brainer pak, dan itu juga 
karena permintaan Pak Djarot saja.
 
Mengenai kisah Demak-Pajang sepertinya perlu dilanjutkan pak, kan sudah ada 
referensi dari emperan mesjid itu. Salam.
 
-ekadj
 
 
2009/7/28 indra budiman syamwil <ibsyam...@hotmail. com>


  



Uda Eka,
 
Saya juga berterimakasih atas kiriman foto ini Pak Eka, belum sampai kaki 
melangkah ke Ambon. Siapakah gerangan yang sampai ke Ambon dan membangun Masjid 
ini? Apakah betul ada sejarah perjalanan pelaut Arab sampai ke Papua dan 
Ternate lalu ke Filipina dan juga sampai ke Bali sebelum Vasco da Gama? Saya 
mendapat info dari teman Nyoman Nuarta, seniman patung, bahwa ada salah satu 
motif Bali yang disebut 'Patra Mesir' yang sebenarnya diadopsi orang Bali dari 
ornamen kapal pelaut Arab ini. Maaf Pak Eka mungkin rekan-rekan dalam forum ini 
sudah tahu tapi saya kurang pasti. Profesor Tanimura dari University Tsukuba 
pernah menjelaskan kepada saya bahwa kota Manila sebelumnya bernama Spanyol, 
tetapi jauh sebelumnya bernama seperti nama kota Arab. Dan menurut ceritra yang 
dikabarkan kepada Beryl kakak saya dari Raja Luwu bahwa 3 Datuk dari 
Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke Raja Gowa dan Luwuk di Sulawesi 
bukan datang dari ranah minang (Pagaruyung)
 melainkan turun dari Filipina. Wah bagaimana mungkin orang Minangkabau bisa 
berakar di Filipina? Dan kelihatannya global traveling orang Indonesia sudah 
terjadi sejak zaman dahulu.

Dari buku kecil yang saya dapatkan di emperan Masjid Demak diterangkan  bahwa 
seorang Portugis yang diterima oleh Sunan Prawata (Prawoto?) menyatakan dalam 
ceritra perjalanannya bahwa Sunan Prawata menyatakan niatnya untuk meluaskan 
hegemoni ke Kerajaan Gowa dan Malaka, karena dia ingin seperti Sultan Turki 
(Otoman?) yang menguasai Balkan. Disini saya terkagum dengan luasnya 
pengetahuan dan informasi di zaman dahulu, sepertinya globalisasi sudah seperti 
sekarang ini, sungguhpun sekarang lebih mampat. Mungkin harus baca buku Pak 
Slamet Mulyana untuk bisa menerawang situasi dan kondisi sosio-ekonomi kerajaan 
zaman dahulu dan interaksinya dengan mancanagara. Terimakasih sekali lagi atas 
info Masjid tertua di Ambon. 

 
Salam,
Indra B Syamwil
 
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: dpurb...@yahoo. com
Date: Mon, 27 Jul 2009 18:23:17 -0700 



Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat







Pak Ekadj, terima kasih, kiriman fotonya mengandung informasi yang luar biasa. 
Jika kita hanya melihat secara visual saja, tanpa mencoba berimajinasi untuk 
memasuki pengalaman batin, tentu masjid itu hanya biasa saja. Tetapi setelah 
mendengar informasi tekstual yang panjenengan berikan, rasanya jiwa ini 
melambung ke masa lalu yang penuh dengan syukur. Roh apa yang menggerakkan para 
pendahulu hingga sampai tempat yang jauh untuk memperkenalkan Jalan Allah ? 
Rasanya sama ketika saya mendengar bahwa di dekat masjid legendaris itu juga 
ada gereja tertua. Luar biasa !


Pengalaman sejenak ini tentu akan sangat kaya jika ada penjelasan tekstual 
lainnya yang lebih lengkap, sebab jika informasinya sungguh lengkap maka akan 
terjadi dialog batin antara pengamat dengan obyek yang diamati. Pak Apakah ada 
informasi yang lebih mendalam berkaitan dengan masjid dan gereja tertua itu ? 
Pesannya, suatu heritage, yang terkait dengan fenomena suci maupun kekejaman, 
akan bisa berbicara sendiri kepada pengamat jika ada dongengnya. Jika sampai 
pada tahap dialog batin maka batin kita tentulah diperkaya. Penataana ruang 
saya kira juga punya tugas memperkaya kehidupan batin manusia yang menghuni 
atau menggunakannya. Apakah begitu ? Mohon pencerahan.


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 7/27/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:



From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat [1 Attachment]
To: refere...@yahoogrou ps.com

Date: Monday, July 27, 2009, 11:16 PM


  


Pak Indra ysh, saya kira kita sangat mungkin mewujudkan gagasan bapak itu. 
Kalau sebelumnya kita bisa merevitalisasi bangunan dan kompleks Budha dan Hindu 
di Jawa Tengah dan berbagai tempat lainnya, konon pula bangunan dan kompleks 
Islam pada masa jayanya. Jangankan itu, bangunan-bangunan yang melambangkan 
penindasan kepada bangsa ini pun masih bisa kita rehabilitasi, seperti benteng 
Vredeburg, dan juga Pemda Kota Ternate saat ini sedang merehabilitasi 
benteng-benteng Portugis-Spanyol- Belanda di sekeliling pulau. Terlampir saya 
sampaikan foto mesjid (tertua di nusantara) di utara Kota Ambon yang dikunjungi 
Ibu Reny tahun lalu, terletak di Hila. Dibangun pada tahun 1414, dan pada tahun 
1664 tiba-tiba mesjid ini berpindah ke hilir di tempatnya sekarang sejauh 12 km 
hanya dalam satu malam! Mesjid ini direhabilitasi kembali oleh LIPI pada tahun 
1982, pada masa Prof.Dr. Tb. Bachtiar Rifai. Sebenarnya di dekat mesjid ini 
terdapat juga gereja tertua di Maluku,
 yang sayangnya terbakar pada masa kerusuhan sosial yang lalu.


Penataan Pantura hendaknya sejalan dengan 'revitalisasi jalan rempah', jadi 
mulai Aceh sampai ke Kepri, berlanjut ke Banten, Pantura, Madura, bercabang ke 
Makasar-Manado- Maluku dan NusaTenggara- Maluku. Untuk Pantura, menarik bapak 
sebutkan titik-titik Banten-Cirebon- Demak, bisa saja dimulai dari Demak. 
Dengan kemampuan yang kita miliki, bisa saja pembangunan itu diwujudkan dalam 
satu malam!


'Penyerangan ke Malaka' dalam buku sejarah juga dilakukan oleh pelaut-pelaut 
Bugis, dan banyak yang tertahan menjadi pyrates di Kepri. Yang paling intens 
memang dilakukan oleh armada Aceh, ada dua kali mereka menguasai Malaka dan 
Johor. Namun yang terpenting adalah : sejarah menyuruh kita segenap komponen 
bangsa ini untuk menguasai (peluang-peluang di) Selat Malaka.


Mudah-mudahan Allah swt mengampuni dosa-dosa kita.

Salam.

-ekadj

2009/7/27 indra budiman syamwil <ibsyam...@hotmail. com>






Uda Eka, Pak Djarot dan Pak BSP,


Tertarik dengan diskusi yang ramai tentang Jagad Jawa sampai tempat keramat.
Saya berjalan-jalan di Masjid Demak 3 minggu yang lalu, dan membeli tiga jilid 
buku tipis tentang sejarah Demak dan Keraton Dhimak Bintoro di halaman masjid 
sesudah Jumatan. Saya perhatikan tiang tatal masjid yang barangkali sudah 
beberapa kali di perbaiki. Masjid itu mempunyai mezanin yang saya kurang tahu 
apakah ditambahkan belakangan atau memang dalam proses perkembangannya semasa 
atau sesudah Kerajaan Dhimak Bintoro mereka sudah mengenal bangunan berlantai 
2. Mungkinkan mereka mengenal membuat tiang yang besar itu dan mezanin itu dari 
teknologi perkapalan Majapahit atau Jung Cina dari pelaut-pelaut Cina dan 
masyarakat pelaut Cina yang ditinggalkan oleh Cheng Ho.

Bila Masjid Demak sudah demikian kokoh konstruksinya bagaimana gerangan Istana 
Demak sendiri yang dikatakan oleh beberapa orang Portugis seakan-akan bercahaya 
dilihat dari Masjid Demak.

Di Kadilangu, wilayah makam Sunan Kalijaga berbeda dengan di kota-kota besar, 
keramaian memperlihatkan terjadinya kegiatan ekonomi yang menghidupkan PKL 
setempat dan sangat tertib, teratur dan bersih. Kekuatan apa yang menggerakan 
sehingga tempat tersebut tetap bersih, mestinya ada kepranataan sosial apakah 
itu datangnya dari kharisma makam orang besar seperti Sunan Kalijaga ataukan 
proses kepranataan lokal yang terbangun lama (masa Demak) dan terpelihara 
sampai sekarang.

Saya tercenung cukup lama melihat Sungai Tuntang dam membayangkan sungai yang 
saat ini hanya 3m lebarnya dahulu bisa dilayari sampai ke Grobogan dan mungkin 
lebarnya sampai 40-50m.

Kalaulah kita dapat merekonstruksi situs kerajaan Demak ini sampai ke pelabuhan 
kerajaan di Jepara dan galangan kapal kerajaan di Semarang akan menjadi Taman 
mini tersendiri yang akan menghidupkan Kota Demak sebagai pusat heritage 
kerajaan Dhimak Bintoro.

Ada beberapa bacaan yang memperlihatkan pelabuhan Demak ini terbesar di Asia 
Tenggara pada masanya, lebih besar dan ramai dari Malaka ? Dengan menguasai 
Malaka dari tangan Portugis diharapkan oleh Pati Unus dan Ratu Kalinyamat, 
Demak akan menguasai seluruh jalur sutera ke selatan China, sehingga Demak dan 
sekutunya (Aceh dan Johor) akan sebesar China. Jalur Sutera dari jazirah Asia 
dan ke Indonesia pun menjadi sinambung. Kalau lah dasar perhitungan seperti ini 
merupakan kebijakan beberapa ekspedisi, saya sangat kagum dengan kedigdayaan 
dan politik regional bangsa ini pada masa kerajaan Demak Bintoro yang sangat 
singkat itu.

Bila Tata Ruang Pantura juga disusun dengan melihat situs-situs kerajaan Demak, 
Cirebon, dan Banten yang dipelihara sebagai artefak tentu kita tidak terkaget 
lagi jika terjadi pembangunan yang menutup situs penting yang penuh dengan 
sejarah kebesaran masa lalu ini. Budayawan, arkeolog dan antropolog, ahli 
sejarah seyogianya dilibatkan dalam diskursus ini, agar TTR kita mempunyai 
nuansa heritage yang kental dan bisa diceritrakan sampai ke anak cucu. Mohon 
pencerahannya. ..... dan tertarik untuk bertamasya ke situs-situs lainnya.


Wassalam,
Indra B Syamwil




. 




. 




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke