Pak Suhadi ysh,

Waktu Solo dibangun katanya karena Kartasura sudah tidak membawa barokah ... 
hal ini disebabkan karena ada pertumpahan darah akibat geger Pacinan. Waktu itu 
sebenarnya wangsit yang diminat adalah berada disebelah timur gunung, maka pada 
waktu itu di solo dibuatlah sebuah gunungan dibagian barat kraton sekarang. 

Pada waktu HB I mau mbangun Yogyakarta dia pertama memikirkan bahwa Ambar 
Ketawang merupakan sebuah lokasi yang bagus. Ternyata akhirnya yang dipilih 
adalah di lokasi alas yang dipenuhi oleh pohon Bering. Nama ini kemudian 
diberikan pada nama pasar yaitu Bering Harjo.

Waktu Dayeh Pakuan Pajajran dibangun, merka juga menggunakan pendekatan dan 
membagi kota dalam 3 blok Kutaraja, Kutadalem dan Kraton. Semua mengarah ke 
timur-barat.

Saya hanya ingin memperlihatkan bahwa pemahaman ruang dari para arsiteknya masa 
itu ternyata cukup bagus kala tidak dikatakan excelent dalam melakukan 
planning. Bahkan seorang Doktor dari Gajah Mada bernama Bondan Hermani Slamet 
membuat sbeuah thesis doktor tentang tata ruang Majapahit. Semua itu ternyata 
bersumber tentang pemahaman keruang dalam bentuk yang holistik. Holistik yang 
se listik listiknya. Karena disana dipadu antara aspek fisik dan meta fisik 
antara sosial dan politik.... karena mereka takut kalau salah akan berakibat 
pada kelanjutan kehidupan kerajaannya. Ini berbeda dengan sekarang ... sebuah 
perencanaan tata ruang yang salah tidak akan langsung berakibat pada hilangnya 
kota itu.

Nah mungkin kita perlu lebih memikir lagi ... bisakah kita berpikir seperti 
jaman dulu yang LEBIH SERIOUS memikirkan penataan ruang karena alasan hidup 
mati dinasti.

Salam

bsp

Kirim email ke