Pak Indra ysh, saya kira kita sangat mungkin mewujudkan gagasan bapak itu.
Kalau sebelumnya kita bisa merevitalisasi bangunan dan kompleks Budha dan
Hindu di Jawa Tengah dan berbagai tempat lainnya, konon pula bangunan dan
kompleks Islam pada masa jayanya. Jangankan itu, bangunan-bangunan yang
melambangkan penindasan kepada bangsa ini pun masih bisa kita rehabilitasi,
seperti benteng Vredeburg, dan juga Pemda Kota Ternate saat ini sedang
merehabilitasi benteng-benteng Portugis-Spanyol-Belanda di sekeliling pulau.
Terlampir saya sampaikan foto mesjid (tertua di nusantara) di utara Kota
Ambon yang dikunjungi Ibu Reny tahun lalu, terletak di Hila. Dibangun pada
tahun 1414, dan pada tahun 1664 tiba-tiba mesjid ini berpindah ke hilir di
tempatnya sekarang sejauh 12 km hanya dalam satu malam! Mesjid ini
direhabilitasi kembali oleh LIPI pada tahun 1982, pada masa Prof.Dr. Tb.
Bachtiar Rifai. Sebenarnya di dekat mesjid ini terdapat juga gereja tertua
di Maluku, yang sayangnya terbakar pada masa kerusuhan sosial yang lalu.

Penataan Pantura hendaknya sejalan dengan 'revitalisasi jalan rempah', jadi
mulai Aceh sampai ke Kepri, berlanjut ke Banten, Pantura, Madura, bercabang
ke Makasar-Manado-Maluku dan NusaTenggara-Maluku. Untuk Pantura, menarik
bapak sebutkan titik-titik Banten-Cirebon-Demak, bisa saja dimulai dari
Demak. Dengan kemampuan yang kita miliki, bisa saja pembangunan itu
diwujudkan dalam satu malam!

'Penyerangan ke Malaka' dalam buku sejarah juga dilakukan oleh pelaut-pelaut
Bugis, dan banyak yang tertahan menjadi pyrates di Kepri. Yang paling intens
memang dilakukan oleh armada Aceh, ada dua kali mereka menguasai Malaka dan
Johor. Namun yang terpenting adalah : sejarah menyuruh kita segenap komponen
bangsa ini untuk menguasai (peluang-peluang di) Selat Malaka.

Mudah-mudahan Allah swt mengampuni dosa-dosa kita.

Salam.

-ekadj
2009/7/27 indra budiman syamwil <[email protected]>

>
>
> Uda Eka, Pak Djarot dan Pak BSP,
>
>
>
> Tertarik dengan diskusi yang ramai tentang Jagad Jawa sampai tempat
> keramat.
>
> Saya berjalan-jalan di Masjid Demak 3 minggu yang lalu, dan membeli tiga
> jilid buku tipis tentang sejarah Demak dan Keraton Dhimak Bintoro di halaman
> masjid sesudah Jumatan. Saya perhatikan tiang tatal masjid yang barangkali
> sudah beberapa kali di perbaiki. Masjid itu mempunyai mezanin yang saya
> kurang tahu apakah ditambahkan belakangan atau memang dalam proses
> perkembangannya semasa atau sesudah Kerajaan Dhimak Bintoro mereka sudah
> mengenal bangunan berlantai 2. Mungkinkan mereka mengenal membuat tiang yang
> besar itu dan mezanin itu dari teknologi perkapalan Majapahit atau Jung Cina
> dari pelaut-pelaut Cina dan masyarakat pelaut Cina yang ditinggalkan oleh
> Cheng Ho.
>
> Bila Masjid Demak sudah demikian kokoh konstruksinya bagaimana gerangan
> Istana Demak sendiri yang dikatakan oleh beberapa orang Portugis seakan-akan
> bercahaya dilihat dari Masjid Demak.
>
> Di Kadilangu, wilayah makam Sunan Kalijaga berbeda dengan di kota-kota
> besar, keramaian memperlihatkan terjadinya kegiatan ekonomi yang
> menghidupkan PKL setempat dan sangat tertib, teratur dan bersih. Kekuatan
> apa yang menggerakan sehingga tempat tersebut tetap bersih, mestinya ada
> kepranataan sosial apakah itu datangnya dari kharisma makam orang besar
> seperti Sunan Kalijaga ataukan proses kepranataan lokal yang terbangun lama
> (masa Demak) dan terpelihara sampai sekarang.
>
> Saya tercenung cukup lama melihat Sungai Tuntang dam membayangkan sungai
> yang saat ini hanya 3m lebarnya dahulu bisa dilayari sampai ke Grobogan dan
> mungkin lebarnya sampai 40-50m.
>
> Kalaulah kita dapat merekonstruksi situs kerajaan Demak ini sampai ke
> pelabuhan kerajaan di Jepara dan galangan kapal kerajaan di Semarang akan
> menjadi Taman mini tersendiri yang akan menghidupkan Kota Demak sebagai
> pusat heritage kerajaan Dhimak Bintoro.
>
> Ada beberapa bacaan yang memperlihatkan pelabuhan Demak ini terbesar di
> Asia Tenggara pada masanya, lebih besar dan ramai dari Malaka ? Dengan
> menguasai Malaka dari tangan Portugis diharapkan oleh Pati Unus dan Ratu
> Kalinyamat, Demak akan menguasai seluruh jalur sutera ke selatan China,
> sehingga Demak dan sekutunya (Aceh dan Johor) akan sebesar China. Jalur
> Sutera dari jazirah Asia dan ke Indonesia pun menjadi sinambung. Kalau lah
> dasar perhitungan seperti ini merupakan kebijakan beberapa ekspedisi, saya
> sangat kagum dengan kedigdayaan dan politik regional bangsa ini pada masa
> kerajaan Demak Bintoro yang sangat singkat itu.
>
> Bila Tata Ruang Pantura juga disusun dengan melihat situs-situs kerajaan
> Demak, Cirebon, dan Banten yang dipelihara sebagai artefak tentu kita tidak
> terkaget lagi jika terjadi pembangunan yang menutup situs penting yang penuh
> dengan sejarah kebesaran masa lalu ini. Budayawan, arkeolog dan antropolog,
> ahli sejarah seyogianya dilibatkan dalam diskursus ini, agar TTR kita
> mempunyai nuansa heritage yang kental dan bisa diceritrakan sampai ke anak
> cucu. Mohon pencerahannya...... dan tertarik untuk bertamasya ke situs-situs
> lainnya.
>
>
>
> Wassalam,
>
> Indra B Syamwil
>
>  .
>
> 
>

Kirim email ke