Referensiers ysh.

Cukup menyentak berita bencana gempa di Sumatera Tengah sejak kemarin,
dengan fokus di Sumatera Barat. Kelihatannya magnitudo dan dampak
bencananya jauh lebih besar dari kejadian gempa Maret 2007 yang lalu.
Kebetulan dua tahun lalu seminggu setelah kejadian gempa, saya
berkesempatan ke Padang, dan sempat membuat catatan sebagaimana
disampaikan di bawah. Pada waktu itu wilayah gempa belum mencapai Kota
Padang, masih sekitar Kabupaten Tanah Datar, Solok, dan sedikit Agam.
Kondisi saat ini yang meliputi wilayah sangat luas dan padat penduduk,
tentulah kerusakan dan korban jiwa jauh lebih besar.

Perlu bagi kita untuk memikirkan ulang metode disaster management,
khususnya tidak sebatas apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dan
UUPB. Salam.

-ekadj
   Hari Minggu-Senin minggu lalu saya berkesempatan ke Padang, dan
sedikit melihat akibat-akibat bencana. Dari Padang ke Padang Panjang
kerusakan terlihat terutama di lembah Anai, khususnya longsoran pada
beberapa titik dan hingga terakhir pulang longsoran itu masih ada.
Beberapa bangunan di depan pelayanan wisata terlihat sudah rusak secara
struktur. Sebagian penghuni tinggal pada tenda-tenda di atas rel kereta
api di seberang jalan. Pada rel kereta api yang merapat ke tebing masih
ada guguran batu besar dan sampai saat ini kelihatannya belum dapat
dipindahkan. Upaya Pemda dan masyarakat membersihkan jalan arteri
sebagai urat nadi transportasi ini patut dihargai. Menjelang masuk Kota
Padang Panjang di panorama, struktur jalan sangat kritis dan telah rawan
longsor, sehingga perlu antisipasi segera. Di Kota Padang Panjang masih
banyak masyarakat mendirikan tenda-tenda di depan rumah. Cukup banyak
struktur bangun-bangunan yang rusak, khususnya bangunan umum. Diperoleh
informasi bahwa memang sudah 3 hari ini belum ada lagi gempa. Biasanya
cukup intens gempa setiap harinya walaupun dalam skala kecil. Jalur
kereta api merupakan wilayah favorit untuk mendirikan tenda, kemungkinan
karena pertimbangan struktur yang lebih aman. Dari Padang Panjang ke
Solok khususnya daerah Batipuh dsk memang tidak terlihat kerusakan
terlalu besar, dikabarkan Sumani hingga Singkarak dan Solok menderita
kerusakan cukup luas. Perkiraan saat ini pusat gempa berada di Gunung
Rajo, sekitar 2-5 km dari jalan arteri, di utara Danau Singkarak.
Kerusakan bangunan hingga 80%. Namun wilayah sekitarnya kerusakan tidak
terlalu besar. Saya tidak sempat melihat kondisi di Solok karena pulang
malam hari. Catatan sementara, terdapat beberapa infrastruktur umum yang
rusak dan membutuhkan 'perhatian bersama', terutama: jalan-jalan
arteri dan kolektor yang rusak struktur (retak) dan rawan longsor,
bangunan peribadatan, sekolah, dan kesehatan, jalur kereta api, dan
fasilitas umum lainnya. Kemudian adalah bangunan-bangunan pribadi yang
dibangun dengan konstruksi permanen, hingga semi permanen. Serta
bangunan-bangunan lainnya, dengan tingkat kerusakan: berat, sedang, dan
ringan. Selanjutnya adalah kondisi psikologis masyarakat yang senantiasa
perlu mendapatkan dukungan khususnya dari perantauan. Masalah sumbangan.
Dari Padang Panjang saya memenuhi mobil kijang dengan bahan makanan
seperti mie instan, gula, kopi, dll. Pada beberapa tempat saya
memberikan bantuan, rasanya bantuan seperti ini kurang tepat, karena
persediaan makanan masih cukup dan ada yang baru panen. Seperti contoh,
ada bantuan dari salah satu organisasi perantauan (ratusan juta?) kepada
Pemda Kabupaten, yang kemudian dibelikan beras, mie instan, dsb ternyata
hal itu dirasakan kurang signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Mungkin
bantuan seperti ini cocok untuk 'masa tanggap darurat', yang
durasinya sekitar 3 hari hingga seminggu pasca bencana untuk kondisi
Sumbar. Kebutuhan yang paling tepat ke depan adalah bahan-bahan
bangunan, seperti semen, pasir, dsb. yang dapat digunakan untuk
'memulai pekerjaan konstruksi'. Kemudian perlu adanya prioritas
terhadap penanganan, yang menurut saya: bisa dimulai dari infrastruktur
umum hingga bantuan ke rumah tangga. Dengan demikian pada saat ini yang
sangat dibutuhkan adalah suatu bentuk 'manajemen bencana'
(disaster management), yang menurut penilaian saya, maaf, sepertinya
belum dikuasai sepenuhnya oleh pejabat Pemda. Beberapa catatan lain akan
saya sampaikan kelak. Sewaktu berangkat dari Padang hari Senin paginya,
saya melihat dari pesawat bila Gunung Talang belum menunjukkan
'aktivitas vulkanik'. Kemungkinan gempa dari informasi terakhir
adalah masih 'gempa tektonik'. Demikian sementara yang dapat
disampaikan. Wassalam.

--- In [email protected], Ramalis Prihandana <rama...@...>
wrote:
>
> [Attachment(s) from Ramalis Prihandana included below]
>
> Ass.w.w
> Terlampir data gempa Jabar yang terakhir.
>
> Saat ini sesuai dengan permintaan Jabar, sedang disiapkan proses
recovery yang dimulai sejak selesainya tanggap gawat darurat tanggal 17
September. Pada tahap I recovery akan dilakukan sampai dengan akhir
bulan Februari.  Pola yang akan dipakai adalah pola yogya dimana
pemulihan dilakukan secara kelompok, dan pengelompokan yang dipilih
adalah kelompok dasawisma (atau 2 x dasawisma), dengan pengerahan sumber
daya dan pendampingan juga secara kelompok.
>
> Untuk itu kami telah mengontak seluruh ketua himpunan di ITB dan BEM
se jabar via sdr. Zuhdi Allam untuk mengiventarisasi dan menyusun pola
pengaturan tenaga mahasiswa. Dalam hal ini kami tengah mengatur
koordinasi dengan forum perguruan tinggi, sehingga relawan mahasiswa
bisa mendapatkan backup akademik dari PT/Univ nya.
>
> Salah satu pesan yang kami terima dari Pemda, adalah untuk tidak
membebani Pemda dengan mobilisasi relawan ini. Untuk itu kami mohon
saran dan akses dari teman teman alumni untuk back up logistik yang
diperlukan sampai dengan Februari.
>
> Terimakasih atas dukungan anda semua.
>
> Salam
>
> Ramalis
>
>
>
>
>
>
> Attachment(s) from Ramalis Prihandana
> 2 of 2 File(s)
>
>
>
>
> LAPORAN_GEMPA_110909_pkl_17.00.xls
>
>
>
> Data
>


Kirim email ke