Referensiers dan P.Eka ysh Pentingnya pemahaman ttg identifikasi
"Kawasan Rawan Bencana" ; perhitungan 'Capacity Restrain' , Treshold.
'Daya Dukung' & "Daya Tampung" dan prinsip2 Eco / Bio Region dlm
Perencanaan & Pemanfaatan Ruang yg diamanatkan oleh U...U 26 / 2007 sbg
landasan serta pentingnya Peraturan Zonasi (Zoning Regulation) dlm skala
rinci sbg bagian dr Mitigasi Bencana semakin terbukti. Pemda harus
benar-benar mengechek apakah Konsultan Perencana yg menyusun RTRW
Kab/Kota telah mengkaji aspek-aspek tsb, sebagai salah satu langkah
dalam upaya melaksanakan 'Quality Control' untuk menjaga "Quality
Assurance" Produk-produk RTRW -nya. Sudah Saat nya . . .? Nah tugas
Pusat mungkin agar lbh teliti mengidentifikasi kws rawan bencana tsb
pada skala Nasional, untuk dirincikan pada Skala Regional dan Lokal .
Dan pastikan yang terkait dengan Konsep Penyelenggaraan Penataan Ruang
sebagai salah satu Pendekatan "baru" Mitigasi Bencana, Jabarannya ada
pada Pedoman-Pedoman (NSPM/K) yang kita buat ... Bravo .. Maju Terus
Pembinaan Bintek Taru. <Poernomosidhi Poerwo>
--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
>
> Referensiers ysh.
>
> Cukup menyentak berita bencana gempa di Sumatera Tengah sejak kemarin,
> dengan fokus di Sumatera Barat. Kelihatannya magnitudo dan dampak
> bencananya jauh lebih besar dari kejadian gempa Maret 2007 yang lalu.
> Kebetulan dua tahun lalu seminggu setelah kejadian gempa, saya
> berkesempatan ke Padang, dan sempat membuat catatan sebagaimana
> disampaikan di bawah. Pada waktu itu wilayah gempa belum mencapai Kota
> Padang, masih sekitar Kabupaten Tanah Datar, Solok, dan sedikit Agam.
> Kondisi saat ini yang meliputi wilayah sangat luas dan padat penduduk,
> tentulah kerusakan dan korban jiwa jauh lebih besar.
>
> Perlu bagi kita untuk memikirkan ulang metode disaster management,
> khususnya tidak sebatas apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dan
> UUPB. Salam.
>
> -ekadj
> Hari Minggu-Senin minggu lalu saya berkesempatan ke Padang, dan
> sedikit melihat akibat-akibat bencana. Dari Padang ke Padang Panjang
> kerusakan terlihat terutama di lembah Anai, khususnya longsoran pada
> beberapa titik dan hingga terakhir pulang longsoran itu masih ada.
> Beberapa bangunan di depan pelayanan wisata terlihat sudah rusak
secara
> struktur. Sebagian penghuni tinggal pada tenda-tenda di atas rel
kereta
> api di seberang jalan. Pada rel kereta api yang merapat ke tebing
masih
> ada guguran batu besar dan sampai saat ini kelihatannya belum dapat
> dipindahkan. Upaya Pemda dan masyarakat membersihkan jalan arteri
> sebagai urat nadi transportasi ini patut dihargai. Menjelang masuk
Kota
> Padang Panjang di panorama, struktur jalan sangat kritis dan telah
rawan
> longsor, sehingga perlu antisipasi segera. Di Kota Padang Panjang
masih
> banyak masyarakat mendirikan tenda-tenda di depan rumah. Cukup banyak
> struktur bangun-bangunan yang rusak, khususnya bangunan umum.
Diperoleh
> informasi bahwa memang sudah 3 hari ini belum ada lagi gempa. Biasanya
> cukup intens gempa setiap harinya walaupun dalam skala kecil. Jalur
> kereta api merupakan wilayah favorit untuk mendirikan tenda,
kemungkinan
> karena pertimbangan struktur yang lebih aman. Dari Padang Panjang ke
> Solok khususnya daerah Batipuh dsk memang tidak terlihat kerusakan
> terlalu besar, dikabarkan Sumani hingga Singkarak dan Solok menderita
> kerusakan cukup luas. Perkiraan saat ini pusat gempa berada di Gunung
> Rajo, sekitar 2-5 km dari jalan arteri, di utara Danau Singkarak.
> Kerusakan bangunan hingga 80%. Namun wilayah sekitarnya kerusakan
tidak
> terlalu besar. Saya tidak sempat melihat kondisi di Solok karena
pulang
> malam hari. Catatan sementara, terdapat beberapa infrastruktur umum
yang
> rusak dan membutuhkan 'perhatian bersama', terutama: jalan-jalan
> arteri dan kolektor yang rusak struktur (retak) dan rawan longsor,
> bangunan peribadatan, sekolah, dan kesehatan, jalur kereta api, dan
> fasilitas umum lainnya. Kemudian adalah bangunan-bangunan pribadi yang
> dibangun dengan konstruksi permanen, hingga semi permanen. Serta
> bangunan-bangunan lainnya, dengan tingkat kerusakan: berat, sedang,
dan
> ringan. Selanjutnya adalah kondisi psikologis masyarakat yang
senantiasa
> perlu mendapatkan dukungan khususnya dari perantauan. Masalah
sumbangan.
> Dari Padang Panjang saya memenuhi mobil kijang dengan bahan makanan
> seperti mie instan, gula, kopi, dll. Pada beberapa tempat saya
> memberikan bantuan, rasanya bantuan seperti ini kurang tepat, karena
> persediaan makanan masih cukup dan ada yang baru panen. Seperti
contoh,
> ada bantuan dari salah satu organisasi perantauan (ratusan juta?)
kepada
> Pemda Kabupaten, yang kemudian dibelikan beras, mie instan, dsb
ternyata
> hal itu dirasakan kurang signifikan dengan kebutuhan masyarakat.
Mungkin
> bantuan seperti ini cocok untuk 'masa tanggap darurat', yang
> durasinya sekitar 3 hari hingga seminggu pasca bencana untuk kondisi
> Sumbar. Kebutuhan yang paling tepat ke depan adalah bahan-bahan
> bangunan, seperti semen, pasir, dsb. yang dapat digunakan untuk
> 'memulai pekerjaan konstruksi'. Kemudian perlu adanya prioritas
> terhadap penanganan, yang menurut saya: bisa dimulai dari
infrastruktur
> umum hingga bantuan ke rumah tangga. Dengan demikian pada saat ini
yang
> sangat dibutuhkan adalah suatu bentuk 'manajemen bencana'
> (disaster management), yang menurut penilaian saya, maaf, sepertinya
> belum dikuasai sepenuhnya oleh pejabat Pemda. Beberapa catatan lain
akan
> saya sampaikan kelak. Sewaktu berangkat dari Padang hari Senin
paginya,
> saya melihat dari pesawat bila Gunung Talang belum menunjukkan
> 'aktivitas vulkanik'. Kemungkinan gempa dari informasi terakhir
> adalah masih 'gempa tektonik'. Demikian sementara yang dapat
> disampaikan. Wassalam.
>
> --- In [email protected], Ramalis Prihandana ramalis@
> wrote:
> >
> > [Attachment(s) from Ramalis Prihandana included below]
> >
> > Ass.w.w
> > Terlampir data gempa Jabar yang terakhir.
> >
> > Saat ini sesuai dengan permintaan Jabar, sedang disiapkan proses
> recovery yang dimulai sejak selesainya tanggap gawat darurat tanggal
17
> September. Pada tahap I recovery akan dilakukan sampai dengan akhir
> bulan Februari. Pola yang akan dipakai adalah pola yogya dimana
> pemulihan dilakukan secara kelompok, dan pengelompokan yang dipilih
> adalah kelompok dasawisma (atau 2 x dasawisma), dengan pengerahan
sumber
> daya dan pendampingan juga secara kelompok.
> >
> > Untuk itu kami telah mengontak seluruh ketua himpunan di ITB dan BEM
> se jabar via sdr. Zuhdi Allam untuk mengiventarisasi dan menyusun pola
> pengaturan tenaga mahasiswa. Dalam hal ini kami tengah mengatur
> koordinasi dengan forum perguruan tinggi, sehingga relawan mahasiswa
> bisa mendapatkan backup akademik dari PT/Univ nya.
> >
> > Salah satu pesan yang kami terima dari Pemda, adalah untuk tidak
> membebani Pemda dengan mobilisasi relawan ini. Untuk itu kami mohon
> saran dan akses dari teman teman alumni untuk back up logistik yang
> diperlukan sampai dengan Februari.
> >
> > Terimakasih atas dukungan anda semua.
> >
> > Salam
> >
> > Ramalis
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Attachment(s) from Ramalis Prihandana
> > 2 of 2 File(s)
> >
> >
> >
> >
> > LAPORAN_GEMPA_110909_pkl_17.00.xls
> >
> >
> >
> > Data
> >
>