Mas, ini masalah sikap berfikir atawa paradigma. Planolog sebetulnya punya ilmu untuk menganalisis "land value - price", setiap rencana juga punya implikasi kesitu. Tetapi planolog menghindarinya, melupakan ilmu itu (ignor). Akibatnya rencananya yang berdampak nilai tanah dipakai oleh pebisnis properti. Padahal kalau ilmu land economic itu dimainkan betul, kalau toh dimaksudkan untuk publik, maka Pemda akan banyak "terbantu" dalam bargain nilai keuntungan properti yang naik gara-gara investasi pemerintah. Sekarang ini kalau pemerintah investasi (membangun prasarana) justru mereka yang peduli nilai tanah (pengembang) yang untung. Pemerintah malah rugi, karena saat membangun "sarana publik" tanah sudah naik. Padahal naiknya gara-gara investasi (prasarana)nya sendiri. Sejauh ini umumnya planolog "mengharamkan" analisis land value/price. Akibatnya publik rugi. Mudah-mudahan generasi muda planolog lebih melihat kesana. Kadang saya mikir sendiri, saya tulis di www.urbaneconomic.blogspot.com Salam, Risfan Munir www.samuraisejati.blogspot.com
--- On Tue, 11/24/09, andu nusantara <[email protected]> wrote: From: andu nusantara <[email protected]> Subject: [referensi] Menguangkan ruang To: [email protected] Date: Tuesday, November 24, 2009, 12:18 AM irencanakan sebagaidKepada Yth para planolog Kemaren, kita habis plano 50, tentunya selama limapuluh tahun pendidikan planologi berjalan, tentunya banyak hal yang bisa kita appresiasi. Dan waktu kita ngobrol2 ama temen2, ada plesetan bahwa Dinas Tata Ruang sebenarnya salah harusnya Dinas Tatar Uang. Saya juga begitu paham dengan plesetan itu. Tapi tentunya menjadi pemikiran kita, bahwa bagaimana caranya kita bisa menguangkan ruang, selama ini kita bila sebagai tenaga ahli ruang indentik dengan honor tenaga ahli, tetapi kita masih sulit untuk mendatangkan investor agar mau berinvestasi sesuai dengan pemanfaatan ruang yang telah kita rencanakan. Bila kita lihat banyak rencana tata ruang di berbagai daerah yang telah merencanakan kawasan budidaya (industri, pemukiman, perkebunan) namun pelaksanaan dalam pembangunan masih sangat minim, jadi selama 20 tahun kawasan direncanakan sebagai kawasan budi daya namun realisasi hanya lahan nganggur. Bila di pemda akuntan selalui meruangkan uang, membagi uang dalam pos-pos anggaran, tentunya tantangan buat kita bahwa kita mampu menguangkan ruang yaitu membagi ruang menjadi aset dalam mencapai pertumbuhan tanpa mengesampingkan faktor lingkungan. andu

