Pak Risfan, uraian panjenengan memperkuat tesis saya, bahwa untuk ber-arsitektur ria atau ber-planning ria kita mesti melihat awalnya dari titik yang lain, tidak langsung ke arsitektur atau planning. Tentu ini bukan sebuah pelarian atas ketidakmampuan berarsitektur atau berplanning, melainkan sebuah kesadaran bahwa arsitektur dan tata keruangan ada di dalam jaring-jaring kehidupan, bukan perkara yang terisolasi atau terpisah dari sistem yang lain.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 12/12/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? To: [email protected] Date: Saturday, December 12, 2009, 6:51 AM Dear all, Di Indonesia kita punya 500 kota lebih. Barangkali yang sulit ditempuh dgn sepeda cuma 50 kota. Yaitu kota besar atau topografinya curam. Jadi perkara bersepeda ini sebetulnya layak teknis. Hanya soalnya adalah budaya. Kita umumnya ingin punya mobil, setidaknya motor. Ini wajar. Tapi secara bertahap gengsi dan peran bersepeda demi kesehatan diri, lingkungan ini perlu dikampanyekan terus. Sekarang di kompleks perumahan, kalau mau ke toko di depan komplek, sebetulnya kan enak bersepeda, krn ngeluarin mobil kan repot, parkir lbh repot lagi. Di komplek rumah saya ada SD/SMP favorit, tiap pagi macet gara2 anak-anak diantar mobil sampai depan kelas (kalau bisa). Padahal mayoritas siswa dalam radius maks 3 km. Sebaiknya orang tua membiasakan anaknya bersepeda kalau sudah kelas 5 ke atas. Dulu adik saya suka sepeda mini karena Chica Koeswoyo di film pake. Strategi sejenis bisa diterapkan. ITB misalnya, penuh mobil parkir, padahal setidaknya 20 persen civitas akademikanya dalam jarak kurang dari 2 km. Jadi soalnya ialah BUDAYA (peduli lingkungan), karena mayoritas kota-kota kita kecil kok. Kalau dari Tangerang, Bekasi ke Jkt ya perlu niat tinggi. Tapi kalau di Cianjur, Tebing Tinggi, Enrekang, Besuki, atau di metropolitan tapi di sekitar kompleks perumahan (ke toko, apotek, kursus) kok kayaknya gak ada alasan untuk tidak pakai sepeda. Kepada mereka bisa dikampanyekan budaya 'pola sehat' dan 'pengurangan pemanasan global' ini. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: franciska windy <[email protected]> Sent: Friday, December 11, 2009 7:32 PM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? halo rekan2, baru melihat ada diskusi tentang jalur sepeda. menarik sekali melihat diskusi tentang sepeda , juga apakah bisa diterapkan di indonesia. buat saya di belanda melihat bagaimana teknik sepeda berkembang menarik sekali-dari segi sepeda dan pengguna. Awal2 di sini sempat amazed melihat orang2 bisa ikat sepatu di sepeda, narik koper sambil sepeda, pake payung di sepeda, pake jas di sepeda, makan di sepeda dll. Sedikit share tentang sepeda di belanda. Karena budaya bersepeda sudah lama di belanda (dan mungkin di beberapa tempat di eropa), banyak teknik2 yang dikembangkan tentang sepeda (jadi mempermudah pemakainya). ini salah 1 contoh banyaknya parkiran sepeda di depan stasiun sepeda dari awal beli sudah dilengkapi dengan lock - built in. tapi tentu saja itu tidak cukup jadi banyak variasi kunci sepeda yang dijual (meski ga 100% menjamin.kadang sudah dilock double juga masih dicolong ) banyak tempat parkir sepeda baik di outdoor maupun indoor. banyak orang juga membawa sepeda lipat.sepeda ini boleh dibawa di kereta tanpa membayar (sepeda lain juga boleh tapi harus bayar) sekarang juga sudah ada e-bike (electric bike). electric bike ini didesign awalnya untuk para manula agar tidak terlalu capek,tapi sekarang ini bahkan banyak orang membeli e-bike ini (bukan manula)

