Pak Ono, Jogja memang sudah berubah, nggak seperti dulu lagi yang penuh dengan sepeda, khususnya ketika jalan Malioboro masih dua arah. Suasana bersepeda waktu itu memang tampak kuat karena di Tugu masih ada lampu lali-lintas yang dikendalikan secara manual di suatu pojok oleh seorang polisi lalu-lintas. Sekarang, lampu merah dan hijau sudah tidak melekat di bangunan Tugu lagi, pos pengendali lampu juga sudah hilang karena tempatnya digunakan untuk melebarkan jalan Diponegoro. Jogja memang makin cepat dan makin polutif.
Transportasi sepeda masih kuat dari arah Bantul ke Jogja dan Godean ke Jogja, sebab sepeda merupakan kendaraan yang realistis untuk para warga desa (misalnya para tukang bangunan atau bakul-bakul pasar). Naiknya kesejahteraan mereka, biasanya pilihan untuk menggantikan sepeda dengan motor merupakan hal yang umum terjadi. Akibatnya, sekarang arus masuk kota Jogja dari Bantul dan Godean didominasi motor dan sepeda, Jika pagi hari 2/3 jalan digunakan untuk mereka. Saya mengantarkan anak saya selalu berangkat dari rumah pukul 6 tepat, sebab lewat 5 menit saja jalan Godean pasti macet. Kejadian ini sudah bertahun-tahun kami alami dan sudah hafal kapan harus bagaimana. Polusi debu, asap dan suara memang mendominasi kedua jalan itu, bahkan tampak menjadi semacam lembah atau sungai asap setiaop pagi dan sore pukul 16.00 jamnya para pekerja pulang ke rumah (keluar Jogja). Menurut pengamatan saya, sepeda di kedua jalan masuk Jogja itu dalam lima tahun lagi akan menyusut dan digantikan oleh motor semua. Ini hanya pikiran intuitif saja, sebab sekarang mudah memiliki motor dengan kredit ringan, sementara gaya hidup para tukang bangunan dan bakul-bakul juga semakin berubah...punya HP dsb yang makin gaul-lah. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 12/12/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Saturday, December 12, 2009, 9:09 PM Mas dan Mbak Refensier ysh; Bicara masalah upaya mendorong untuk bersepeda ria, saya sepakat bahwa itu dapat mengurangi pemborosan energi, polusi dan menambah badan sehat. Namun, realitas perkembangan yang ada sepeda motor yang lebih banyak digunakan, contohnya kota Jogya yang dulu disebut 'kota sepeda' sekarang berapa prosen yang masih bertahan dengan 'bersepeda ria' setiap hari ? Mungkin, masalahnya bukan 'iklan' motor yang lebih gencar, kiranya kita perlu melihat kenyataan/kecenderu ngan lain, misal adanya perubahan 'gaya hidup' masyarakat selain mungkin tuntutan kebutuhan yang sudah berbeda. Didekat rumah saya ada pangkalan 'ojek' yang setiap hari mangkal sekitar 15 peng-ojek motor, mereka pada dasarnya adalah pengangguran sementara (banyak yang bisa jadi tukang bangunan atau pekerjaan serabutan lain, kalau ada pesanan). Sambil nunggu kerjaan tetap, mereka sejak jam 05.00 sampai 19.00 mencari tambahan dengan sepeda motor (sewaan atau kreditan), penghasilan bersih rata-2 sehari antara Rp. 20.000 s/d 30.000,-. Mungkin banyak pangkalan ojek-motor yang tersebar dimana-mana didekat tempat anda mungkin juga ada. Nah, ini suatu kenyataan yang perlu diamati, apakah ojek-sepeda dapat menggantikannya ? Mungkinkah kita dapat memberikan solusi terbaik untuk keberadaan sepeda motor (tidak hanya ojek) yang semakin menjamur ini ? Seperti: jalur jalan, tempat parkir, keamanan, pengurangan polusi suara & udara dari knalpotnya, dll. semoga tulisan ini bermanfaat. Wassalam, Onnos. To: refere...@yahoogrou ps.com From: harya.setyaka@ gmail.com Date: Sat, 12 Dec 2009 06:53:22 +0000 Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? Sya kira dimana iklan kendaraan bermotor selalu lebih agresif daripada iklan sepeda.. Apakah di Belanda ada pengecualian? Artis2 top nya pada mengiklankan sepeda dan bukan kend bmotor? Mungkin yg mengecualikan Belanda adalah harga bensinnya.. Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Fri, 11 Dec 2009 20:53:09 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Iklan sepeda selama ini kalah jauh dengan iklan motor, apalagi mobil. Jadi pantaslah motor dan mobil mendominasi gaya hidup dimana-mana. Tampaknya sepeda vs kendaraan bermotor akan memasuki pola Cicak lawan Buaya heheeee.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 12/12/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 12, 2009, 10:44 AM Intermezo, Emas pertama Indonesia di SEA Games 2009 diraih oleh atlet "balap sepeda" Risa Suseanty di nomor downhill. Selamat! Saya kira akan baik kalau dia dijadikan ikon promo bersepeda (kayak iklan ..yg pake Rossi) itu lho. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Saturday, December 12, 2009 9:27 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Pak Risfan, uraian panjenengan memperkuat tesis saya, bahwa untuk ber-arsitektur ria atau ber-planning ria kita mesti melihat awalnya dari titik yang lain, tidak langsung ke arsitektur atau planning. Tentu ini bukan sebuah pelarian atas ketidakmampuan berarsitektur atau berplanning, melainkan sebuah kesadaran bahwa arsitektur dan tata keruangan ada di dalam jaring-jaring kehidupan, bukan perkara yang terisolasi atau terpisah dari sistem yang lain Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger

