Par Risfan dan semua sahabat referensiers,
 
Saya setuju dengan pendapat Pak Risfan, bahwa sebenarnya sepeda bisa menjadi 
salah satu moda pergerakan di kota-kota Indonesia. Memang, sebagian kota di 
Indonesia seperti beberapa kota yg berpenduduk besar dan kota-kota yg 
bermorfologi curam, mungkin kurang mendukung sepeda. Tapi kota-kota yg seperti 
itu nggak banyak jumlahnya. Hingga tahun 2000, jumlah daerah kota di Indonesia 
hanya berjumlah 63 buah yang masing-masing kota memiliki jumlah penduduk yang 
bervariasi dari sekitar 8,38 juta penduduk (catatan: DKI Jakarta dianggap 
sebagai satu daerah kota) hingga cuma sebesar 23ribuan penduduk (Sabang, tahun 
2000). Dari ke-63 kota tersebut, jumlah kota yang berpenduduk 1juta atau lebih 
hanya 10 buah kota, sementara jumlah kota yang berpenduduk 500ribu atau lebih 
hanya 18 buah kota (di tahun 2000).
 
Sebagian besar kota lainnya seperti Kota Cianjur, Majalaya, Ambarawa, Pujon, 
Teluk Betung, Kabanjahe, Watampone, Donggala dll adalah kota-kota yang berada 
di wilayah kabupaten, yang biasanya berpenduduk tidak lebih dari 150 atau 
200ribuan per kota. Jadi gambaran kota-kota Indonesia sebenarnya adalah 
kota-kota kecil yang berpenduduk di bawah 250 atau 300ribu jiwa per-kotanya. 
Kota-kota yang berpenduduk satu juta ke atas adalah suatu "pencilan" dalam 
representasi kota-kota di Indonesia, walaupun mereka memiliki peran yang sangat 
sentral dalam perekonomian nasional sehingga memberikan efek demonstratif fokus 
dan perhatian dari banyak pengamat perkotaan.
 
Sebenarnya, sepeda banyak punya potensi sebagai alat transprtasi di sebagian 
besar kota ini. Namun, sayangnya tidak banyak pemerintah kota atau kabupaten 
yang menyadari hal ini sehingga tidak banyak memberikan fasilitas untuk sepeda. 
Pada suatu penelitian kecil yang pernah saya lakukan untuk melihat pola 
pemanfaatan moda transprtasi yang digunakan sehari-hari di beberapa kota kecil 
di Jawa Tengah (Beberapa kota di Jawa Tengah merupakan "kota bersepeda" pada 
beberapa dekade yang lalu), saya memperoleh informasi bahwa mereka yang 
bersepeda hanya didominasi oleh dua kelompok penduduk: (1) mereka yang berusia 
sekolah, itupun hanya ketika melakukan pergerakan transportasi ke sekolah, 
sementara ketika melakukan jenis pergerakan lainnya (misal pergerakan ke tempat 
belanja atau pergerakan untuk kebutuhan sosial lainnya) sangat sedikit yang 
menggunakan sepeda; dan (2) mereka yang keluarganya tidak memiliki alat 
transprtasi lainnya selain sepeda. 
 
Sementara itu, sebagian besar penduduk lain lebih menyukai pergerakan dengan 
sepeda motor untuk jenis pergerakan ke tempat kerja, belanja dan/atau 
pergerakan untuk kebutuhan sosial lainnya, walaupun jarak tempuh yang dilakukan 
adalah di bawah 500 meter. Sementara itu, untuk jarak tempuh yang di bawah 100 
atau 200 meter (saya agak lupa mana yang pasti), lebih banyak yang memiliki 
preferensi berjalan kaki ketimbang menggunakan sepeda. 
 
Jadi, gambaran pemanfaatan sepeda di Indonesia masih merupakan "mainan 
anak-anak" (kalo untuk orang dewasa mungkin katagorinya berubah jadi alat 
olahraga rekreatif) dan buka merupakan alat transprtasi yang diandalkan. 
Apabila dikaitkan sebagai suatu alat transportasi, maka statusnya baru berupa 
alat transportasi ke sekolah, atau alat transportasi dari mereka yang "nggak 
punya". 
 
Ketika sedikit didalami mengapa banyak yang menggunakan sepeda ke sekolah dan 
jarang untuk jenis transportasi yang lainnya, jawaban yang sering muncul adalah 
"karena di sekolah ada tempat parkirnya". Jawaban serupa juga banyak muncul 
sebagai respon bagi pertanyaan kenapa tidak menggunakan sepeda untuk ke tempat 
kerja, belanja dan kegiatan sosial lainnya. Tidak adanya fasilitas parkir 
sepeda yang mampu menimbulkan rasa aman bahwa sepedanya tidak akan hilang 
merupakan alasan yang sering muncul. Sebagian besar tidak mempermasalahkan 
keamanan di jalan raya, tetapi lebih memperhatikan keamanan sepedanya ketika 
parkir di tempat tujuan. Mereka lebih menyenangi menggunakan sepeda motor 
karena selain lebih praktis, sepeda motor juga bisa diparkir di mana saja di 
setiap tempat. Sementara kalau sepeda, kayaknya membutuhkan suatu fasilitas 
tertentu supaya sepedanya aman dari kemungkinan pencurian, kemungkinan jatuh 
dan rusak, dan lain sebagainya. Memang benar,
 karena kalau diperhatikan di lingkungan sekolah, biasanya fasilitas parkir 
sepeda merupakan fasilitas parkir khusus untuk sepeda yang tidak tercampur 
dengan sepeda motor atau mobil. Apalagi kalau dibandingkan dengan fasilitas 
parkir sepeda di negara maju, biasanya fasilitas parkir sepeda ini punya 
"sesuatu" yang bisa digunakan untuk menyenderkan sepeda (atau menjepit roda 
depan sepeda) yang sekaligus bisa digunakan sebagai tambatan dari kunci 
sepedanya. Dengan begitu, sang sepeda akan aman dari pencurian atau kemungkinan 
jatuh dan rusak.
 
Akibat dari ketiadaan fasiitas parkir sepeda yang aman di tempat-tempat umum 
kecuali di sekolah-sekolah ini adalah sebagian besar masyarakat lebih senang 
menggunakan sepeda motor walau hanya untuk jarak yang ngak sampe seratusan 
meter. Kalau di sekitar rumah saya di Semarang, saya sering melihat beberapa 
tetangga yang menggunakan motor hanya untuk sekedar beli sesuatu ke warung 
dekat rumah yang jaraknya paling hanya sekitar 15 atau 30 meter.... Pemborosan 
bahan bakar yang luar biasa kalo sebagian besar masyarakat melakukan seperti 
itu... Dilihat dari kerangkan Protkol Pembangunan Berkelanjutan pun hal itu 
bukan sesuatu yang patut dipertahankan...
 
Jadi, apabila ingin mengkampanyekan pemanfaatan sepeda sebagai alat 
transportasi masyarakat di kota-kota Indonesia, terutama untuk kota-kota kecil 
dan menengah yang di luar ke-18 kota pencilan tadi, bukan pembangunan jalur 
sepeda yang harus dikampanyekan, melainkan pemabangunan fasilitas tempat parkir 
sepeda yang khusus dan aman. Pembangunan jalur sepeda akan berimplikasi 
biaya yang mahal padahal kebutuhan nyata-nya belum tampak. Tapi kalau 
pembangunan fasilitas parkir sepeda di tempat-tempat umum, bisa jadi, akan 
membutuhkan biaya yang lebih murah dan bahkan mudah-mudahan bisa meningkatkan 
animo masyarakat untuk menggunakan sepeda dalam transportasinya sehari-hari, 
terutama untuk jarak transportasi hingga 2,5 km (jarak transprtasi dari 
sebagian besar pergerakan transportasi harian di kota-kota kecil dan menengah 
seperti kota yg saya teliti). Apabila animo masyarakat bersepeda sudah lebih 
besar, baru pembangunan jalur khusus bersepeda akan memiliki
 rasionalitas yang lebih besar.
 
Mungkin segini dulu deh... Sorry kalau kepanjangan..
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- On Sat, 12/12/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:


From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda?
To: [email protected]
Date: Saturday, December 12, 2009, 6:51 AM


Dear all,

Di Indonesia kita punya 500 kota lebih. Barangkali yang sulit ditempuh dgn 
sepeda cuma 50 kota. Yaitu kota besar atau topografinya curam.

Jadi perkara bersepeda ini sebetulnya layak teknis. Hanya soalnya adalah 
budaya. Kita umumnya ingin punya mobil, setidaknya motor. Ini wajar. Tapi 
secara bertahap gengsi dan peran bersepeda demi kesehatan diri, lingkungan ini 
perlu dikampanyekan terus.

Sekarang di kompleks perumahan, kalau mau ke toko di depan komplek, sebetulnya 
kan enak bersepeda, krn ngeluarin mobil kan repot, parkir lbh repot lagi. Di 
komplek rumah saya ada SD/SMP favorit, tiap pagi macet gara2 anak-anak diantar 
mobil sampai depan kelas (kalau bisa). Padahal mayoritas siswa dalam radius 
maks 3 km. Sebaiknya orang tua membiasakan anaknya bersepeda kalau sudah kelas 
5 ke atas. Dulu adik saya suka sepeda mini karena Chica Koeswoyo di film pake. 
Strategi sejenis bisa diterapkan.

ITB misalnya, penuh mobil parkir, padahal setidaknya 20 persen civitas 
akademikanya dalam jarak kurang dari 2 km. 

Jadi soalnya ialah BUDAYA (peduli lingkungan), karena mayoritas kota-kota kita 
kecil kok. Kalau dari Tangerang, Bekasi ke Jkt ya perlu niat tinggi. Tapi kalau 
di Cianjur, Tebing Tinggi, Enrekang, Besuki, atau di metropolitan tapi di 
sekitar kompleks perumahan (ke toko, apotek, kursus) kok kayaknya gak ada 
alasan untuk tidak pakai sepeda. Kepada mereka bisa dikampanyekan budaya 'pola 
sehat' dan 'pengurangan pemanasan global' ini.

Salam,
Risfan Munir





-----Original Message-----
From: franciska windy <[email protected]>
Sent: Friday, December 11, 2009 7:32 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda?


halo rekan2,

baru melihat ada diskusi tentang jalur sepeda. menarik sekali melihat diskusi 
tentang sepeda , juga apakah bisa diterapkan di indonesia.

buat saya di belanda melihat bagaimana teknik sepeda berkembang menarik 
sekali-dari segi sepeda dan pengguna. Awal2 di sini sempat amazed melihat 
orang2 bisa ikat sepatu di sepeda, narik koper sambil sepeda, pake payung di 
sepeda, pake jas di sepeda, makan di sepeda dll.

Sedikit share tentang sepeda di belanda. Karena budaya bersepeda sudah lama di 
belanda (dan mungkin di beberapa tempat di eropa), banyak teknik2 yang 
dikembangkan tentang sepeda (jadi mempermudah pemakainya).


ini salah 1 contoh banyaknya parkiran sepeda di depan stasiun 



sepeda dari awal beli sudah dilengkapi dengan lock - built in. 
tapi tentu saja itu tidak cukup jadi banyak variasi kunci sepeda yang dijual 
(meski ga 100% menjamin.kadang sudah dilock double juga masih dicolong )



banyak tempat parkir sepeda baik di outdoor maupun indoor. 



banyak orang juga membawa sepeda lipat.sepeda ini boleh dibawa di kereta tanpa 
membayar (sepeda lain juga boleh tapi harus bayar)


sekarang juga sudah ada e-bike (electric bike).
electric bike ini didesign awalnya untuk para manula agar tidak terlalu 
capek,tapi sekarang ini bahkan banyak orang membeli e-bike ini (bukan manula)


      

Kirim email ke