Pak Onnos dkk ysh. Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel, tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya.
Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering the Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang berat dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional (Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby) + dkk. Atau kalau ada yang mau menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak BSP & BTS). Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja, aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar, seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan masalah mereka? Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Sugiono Ronodihardjo <sugion...@...> wrote: > > > Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak guru yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah jam sekolah. Pernah saya ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur. Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan' terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ? > > Wassalam, > > Onnos > > > > To: [email protected] > From: 4ek...@... > Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000 > Subject: [referensi] Re: jalur sepeda? > > > > > > > Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu > 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah. Pelakunya > bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala > sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari kemiskinan > perkotaan? Salam. > > -ekadj > > --- In [email protected], "Harya Setyaka" harya.setyaka@ > wrote: > > > > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang > bercita-cita jadi ojek? > > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999.. > > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi > dalam konteks pengangguran.. > > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek dengan > solusi transportasi salah obat jadinya.. > > > > Salam, > > -K-

