Pak Eka, barangkali ada pengalaman yang tidak langsung terkait dengan topik 
ekonomi rumah tangga, yaitu tentang ketahanan pangan di Kaenbaun. Setelah saya 
telusuri dan sempat dicibiri oleh evaluator laporan penelitian karena arsitek 
kok bicara pangan dan petanian, saya mendapat penguatan dari pandangan Prof 
Mubyarto soal ekonomi kerakyatan berbasis Pancasila. Beliau mengritik pandangan 
seorang penulis artikel, yang mengatakan bahwa orientasi pertanian adalah pada 
laba. Kata beliau, ini sebuah penyempitan masalah karena paradigma yang 
digunakan hanyalah agribisnis. Beliau menyarankan, untuk Indonesia tidak bisa 
hanya dengan paradigma agribisnis, sebab fenomena agriculture itu lebih luas 
dan terkait dengan aspek sosial, politik dan budaya. Saya lega, sebab yang 
terjadi di Kaenbaun lebih tepat dipandang dengan paradigma agriculture yang 
mengandung aspe sosial, budaya dan politik. Mengapa ? Ya, sebab hasil-hasil 
pangan di Kaenbaun tidak banyak yang dijual ke
 luar, melainkan dinikmati sendiri warganya.

Basis pangan orang Kaenbaun ada pada rumah bulat (gudang jagung) dan lumbung 
atau lopo (gudang padi, bukan beras). Jika ketahanan ekonomi nasional adalah 
merupakan ketahanan yang ditopang oleh unit-unit ekonomi skala yang lebih kecil 
hingga skala keluarga, maka persoalan ekonomi rumah tangga tidak cukup 
dipandang dengan kacamata ekonomi-bisnis yang hanya berorientasi laba. Apakah 
begitu ?

Saya jadi mengerti, perubahan fakultas ekonomi di UGM sekarang yang menjadi 
"Fakultas ekonomi dan bisnis" saja tampaknya bertentangan dengan pandangan Prof 
Mubyarto, yang melihat fenomena ekonomi dengan kacamata yang lebih luas (ada 
aspek sosial, politik dan budaya, dan lainnya), bukan sekedar persoalan 
matematis......tesis saya tentang perlunya unsur "sosio" dalam setiap tema 
diskusi tampaknya mendapat penguatan dari Prof Mubyarto di tahun 2003. Mungkin 
pandangan semacam ini juga sudah ketinggalan jaman ya ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 12/14/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: [email protected]
Date: Monday, December 14, 2009, 11:26 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Onnos dkk ysh.



Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang

saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel,

tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau

meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di

koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena

ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan

ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya.



Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering the

Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila

bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat

luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang berat

dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang

menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional

(Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby) + dkk. Atau kalau ada yang mau

menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak

BSP & BTS).



Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota

dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja,

aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan

pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar,

seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana

mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang

memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan

masalah mereka?



Sementara demikian dulu pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..>

wrote:

>

>

> Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak guru

yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah jam sekolah. Pernah saya

ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur.

Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja

alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi

pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih

sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan'

terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ?

>

> Wassalam,

>

> Onnos

>

>

>

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> From: 4ek...@...

> Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000

> Subject: [referensi] Re: jalur sepeda?

>

>

>

>

>

>

> Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu

> 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah. Pelakunya

> bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala

> sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari kemiskinan

> perkotaan? Salam.

>

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" harya.setyaka@

> wrote:

> >

> > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang

> bercita-cita jadi ojek?

> > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999..

> > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi

> dalam konteks pengangguran. .

> > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek dengan

> solusi transportasi salah obat jadinya..

> >

> > Salam,

> > -K-





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke