Pak Eka, sebuah rumah tangga di Kaenbaun indikasinya jelas: satu rumah tangga 
ditandai dengan rumah bulat dan lopo. Sebuah rumah tangga isinya ya hanya 
ayah-ibu-anak yang belum mendirikan rumah tangga sendiri. Umumnya orang 
Kaenbaun mendirikan rumah bulat sendiri jika sudah menikah, kayaknya enggan 
untuk hidup menumpang karena ada aturan adatnya. Jika sudah menikah mereka 
langsung mendirikan rumah bulat, karena di dalamnya ada batu suci untuk berdoa, 
juga aturan adat harus mendirikan rumah bulat sebelum yang lain. Selama saya 
studi hanya ada 10 KK hidup menumpang karena belum mendirikan rumah bulat, 
tetapi enggak sempat bertanya apa alasannya. Jadi, ketahanan ekonomi atau 
pangan skala keluarga tampaknya sudah jelas, ada kaitan dengan isi rumah bulat 
(jagung) dan lopo (padi, dan biji-bijian). Dalam bentuk apa orang Kaenbaun 
menyimpan hartanya ? Sepintas saya lihat dalam wujud hasil bumi dan emas 
(gelang, kalung dsb) serta hewan (babi, sapi).

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 12/15/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: ekonomi rumah tangga
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 15, 2009, 10:20 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eko, dan rekan-rekan ysh.



Sebelum menanggapi beberapa hal, saya ingin mengklarifikasi beberapa

hal. Sebelumnya saya sempat bingung juga dengan penggunaan istilah,

apakah lebih tepat keluarga (family) ataukah rumah tangga (household).

Namun sepertinya dominan literatur menggunakan istilah 'rumah tangga',

yang merupakan keluarga inti (the nuclear family). Hal ini katakanlah

seperti dulu Pak Risfan melakukan survai lapangan, lalu mengetuk pintu

sebuah rumah: "selamat sore, ada berapa orang yang tinggal di rumah

ini?" Jadi pengertian rumah tangga adalah beberapa orang yang tinggal

dalam satu rumah, dengan komposisi terstruktur seperti yang saya

tuliskan terdahulu. Namun sistem administrasi kependudukan kita

kelihatannya menggunakan istilah 'keluarga', seperti penggunaan 'kartu

keluarga', kepala keluarga, dst. Dengan kata lain bisa saja di Kaenbaun

sebuah kartu keluarga tertulis 9 orang, padahal yang tinggal di rumah

itu hanya 4 orang. Dari hal ini kita bisa memahami penggunaan istilah

'rumah tangga' justru lebih tepat dan terukur untuk administrasi

pembangunan dan kegiatan penelitian.



Saya nemu lagi nih satu buku, judulnya "Household: Comparative and

Historical Studies of the Domestic Group", editor Robert McC. Netting

dkk. Isinya merupakan kumpulan hasil penelitian terpilih tentang aspek

kerumahtanggaan di seluruh dunia.  Ada beberapa kasus yang mirip dengan

Kaenbaun, serta kasus yang diungkapkan Pak Risfan.



Saya ambil satu artikel "The Urban Household in Dependent Development" ,

karya Hackenberg dkk. Mengambil lokasi penelitian di Oaxaca City -

Mexico dan Davao City - Filipina. Peneliti menguji konflik kepentingan

antara 3 pihak: pemerintah, rumah tangga, dan individu. Kepentingan

pemerintah adalah mengamankan kebijakannya: membutuhkan tenaga kerja

terdidik dan terampil, menyediakan/ memfasilitasi kawasan

industri/komersial untuk kebutuhan ekonomi modern yang formal serta

kepentingan pemodal pada khususnya. Rekrutmen biasanya ditujukan pada

anggota-anggota rumah tangga yang potensial, dan miskin. Di lain pihak,

setiap rumah tangga tentunya menginginkan suatu keutuhan dan

kohesivitas.



Akhirnya kepentingan pemodal selalu menang, sang anggota rumah tangga

memasuki dunia pekerjaan, ada yang di kota yang sama atau di kota lain,

namun mereka menempati rumah yang berbeda, atau membentuk rumah tangga

tersendiri. Dalam hal ini rumah tangga asal telah kehilangan salah satu

benteng pertahanan ekonominya, dan dapat menurunkan kualitas hidup rumah

tangga tersebut.



Namun terkadang ada juga rumah tangga yang menang. Dengan mengabaikan

penawaran ekonomi modern, mereka mempertahankan keutuhan rumah tangga,

apalagi effort ekonomi rumah tangga ini bertambah dengan kian besarnya

anak-anak yang dapat membantu di bidang produksi. Melalui pembentukan

modal bersama maka rumah tangga ini memiliki kemampuan untuk membayar

pendidikan yang baik untuk anggota rumah tangga, yang akhirnya akan

menarik perhatian pemerintah dan pemodal untuk bergabung dengan mereka.

Demikian hal ini berputar terus-menerus, yang menunjukkan kohesivitas

suatu rumah tangga senantiasa diuji. Dari studi kasus, peneliti

menyimpulkan bahwa rumah tangga yang dapat mempertahankan kohesivitasnya

cenderung lebih berhasil secara ekonomi dan kehidupan.



Sementara demikian dulu. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M <risf...@... > wrote:

>

> Pak Eko, Pak Djarot,

> Â

> Itu juga saya tanyakan sebelumnya. Ternyata generasi mudanya pada

pindah ke kota? Jadi sebetulnya perdesaan tersebut memang tidak

berkembang. Tidak bisa menghidupi jumlah penduduknya yang meningkat.

Bagaimanakah nsib anggota keluarga yang ke kota? Jangan-jangan Pak

Djarot meng-exclude- kan mereka dari analisisnya?

> Mudah-mudahan tidak lestari di desa tapi mengirim masalah ke tempat

lain?

> Memang tidak harus sih satu desa menghidupi jumlah penduduknya yang

berkembang, migrasi juga boleh, tapi kan harus dipersiapkan dengan baik

sejak dari desanya. Bukan begitu?

> Â

> Pak Djarot, saya hanya ingin balance saja. Kadang apa kita tidak

berfikir terlalu "priyayi", maksudnya "mengharamkan" motif ekonomi, tapi

lupa bahwa "sang istri" (anggota keluarga lain) harus sembunyi-sembunyi

kerja keras untuk menutupi "ongkos kemuliaan" suami yang priyayi

(referensi saya novel Canting oleh Arswendo). Sehingga mungkin yang

layak "dimulyakan" justru sang istri yang harus banting tulang menghidup

anak-anak dan hobi suami.

> D.p.l jangan-jangan warga desa studi Bapak yang begitu mulia,

sesungguhnya bisa hidup karena anak-anak mereka yang di Malaysia,

Singapura, Hongkong dst. (Ini tipical perekonomian desa-desa Jatim, NTB,

NTT kan?)

> Â

> Salam,

> Risfan Munir

> Â

> Â

> Â

>

>

> --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@... wrote:

>

>

> From: Eko B K ekobu...@...

> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Tuesday, December 15, 2009, 2:46 AM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Djarot, apakah mereka tidak pernah berpikir utk menambah tenaga

kerja, modal, mekanisasi pertanian dst. kemudian menjual surplus dan

berorientasi laba? Saya tertarik ingin mengetahui apakah mereka tidak

tertarik pd laba karena keterbatasan (tanah tdk subur, modal tidak ada,

dst) atau karena secara kultur memang tidak tertarik pd laba... apakah

mereka tdk terpikir bahwa dgn kemampuan ekonomi yg meningkat mereka bisa

memperbaiki taraf hidup (pendidikan anak, kenyamanan, sampai naik haji)?

Tks.

>

> Salam.

>

> --- On Tue, 12/15/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Risfan M risf...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Tuesday, December 15, 2009, 9:37 AM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

>

> Pak Djarot,

> Â

> Sekarang ini banyak kajian anthropo-economy. Saya tidak tahu

kubu-kubunya dimana, tapi publikasinya kayaknya kian banyak. Saya banyak

mengambil manfaat waktu memfasilitasi pengembangan klaster UKM dan

pengembangan ekonomi lokal di beberapa daerah. Kalau di Ekonomi,

biasanya ada dibawah kajian Ekonomi Kelembagaan.

> Â

> Salam,

> Risfan Munir

> Â

> Â

> Â

> Â

> Â

> Â

>

>

> --- On Mon, 12/14/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Monday, December 14, 2009, 11:54 PM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

> Pak Eko, tanahnya sangat luas, sebab tanah adat mereka 1000 ha hanya

untuk sekitar 200 KK. Tanahnya gersang, kurang hujan, dan tenaga kerja

untuk pertanian hanya seluas rumah tangga di tempat itu. Hasilnya hanya

di kebun dalam satu musim tanam hanya untuk keluarga sendiri.

>

> Salam,

>

> Djarot Purbadi

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Tuesday, December 15, 2009, 12:48 PM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

> Pak Djarot, apakah hasil pangan yg dinikmati sendiri di Kaenbaun tsb

bukan akibat dari lahan yg sempit sehingga tdk ada surplus (pertanian

subsisten)? Apakah kalau produksi pertaniannya berlimpah dan ada surplus

akan dijual juga?

>

> salam.

>

> --- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Tuesday, December 15, 2009, 6:38 AM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

> Pak Eka, barangkali ada pengalaman yang tidak langsung terkait dengan

topik ekonomi rumah tangga, yaitu tentang ketahanan pangan di Kaenbaun.

Setelah saya telusuri dan sempat dicibiri oleh evaluator laporan

penelitian karena arsitek kok bicara pangan dan petanian, saya mendapat

penguatan dari pandangan Prof Mubyarto soal ekonomi kerakyatan berbasis

Pancasila. Beliau mengritik pandangan seorang penulis artikel, yang

mengatakan bahwa orientasi pertanian adalah pada laba. Kata beliau, ini

sebuah penyempitan masalah karena paradigma yang digunakan hanyalah

agribisnis. Beliau menyarankan, untuk Indonesia tidak bisa hanya dengan

paradigma agribisnis, sebab fenomena agriculture itu lebih luas dan

terkait dengan aspek sosial, politik dan budaya. Saya lega, sebab yang

terjadi di Kaenbaun lebih tepat dipandang dengan paradigma agriculture

yang mengandung aspe sosial, budaya dan politik. Mengapa ? Ya, sebab

hasil-hasil pangan di Kaenbaun tidak banyak yang dijual ke

> luar, melainkan dinikmati sendiri warganya.

>

> Basis pangan orang Kaenbaun ada pada rumah bulat (gudang jagung) dan

lumbung atau lopo (gudang padi, bukan beras). Jika ketahanan ekonomi

nasional adalah merupakan ketahanan yang ditopang oleh unit-unit ekonomi

skala yang lebih kecil hingga skala keluarga, maka persoalan ekonomi

rumah tangga tidak cukup dipandang dengan kacamata ekonomi-bisnis yang

hanya berorientasi laba. Apakah begitu ?

>

> Saya jadi mengerti, perubahan fakultas ekonomi di UGM sekarang yang

menjadi "Fakultas ekonomi dan bisnis" saja tampaknya bertentangan dengan

pandangan Prof Mubyarto, yang melihat fenomena ekonomi dengan kacamata

yang lebih luas (ada aspek sosial, politik dan budaya, dan lainnya),

bukan sekedar persoalan matematis... ...tesis saya tentang perlunya

unsur "sosio" dalam setiap tema diskusi tampaknya mendapat penguatan

dari Prof Mubyarto di tahun 2003. Mungkin pandangan semacam ini juga

sudah ketinggalan jaman ya ?

>

> Salam,

>

> Djarot Purbadi

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Mon, 12/14/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote:

>

>

> From: ffekadj 4ek...@gmail. com>

> Subject: [referensi] ekonomi rumah tangga

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Monday, December 14, 2009, 11:26 PM

>

>

> Â

>

>

> Pak Onnos dkk ysh.

>

> Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang

> saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel,

> tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau

> meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di

> koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena

> ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan

> ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya.

>

> Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering

the

> Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila

> bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat

> luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang

berat

> dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang

> menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional

> (Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby) + dkk. Atau kalau ada yang mau

> menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak

> BSP & BTS).

>

> Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota

> dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja,

> aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan

> pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar,

> seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana

> mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang

> memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan

> masalah mereka?

>

> Sementara demikian dulu pak. Salam.

>

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo sugiono_r@ ..>

> wrote:

> >

> >

> > Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak

guru

> yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah jam sekolah. Pernah

saya

> ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur.

> Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja

> alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi

> pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih

> sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan'

> terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ?

> >

> > Wassalam,

> >

> > Onnos

> >

> >

> >

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > From: 4ekadj@

> > Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000

> > Subject: [referensi] Re: jalur sepeda?

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> > Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu

> > 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah.

Pelakunya

> > bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala

> > sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari

kemiskinan

> > perkotaan? Salam.

> >

> > -ekadj

> >

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" harya.setyaka@

> > wrote:

> > >

> > > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang

> > bercita-cita jadi ojek?

> > > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999..

> > > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi

> > dalam konteks pengangguran. .

> > > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek

dengan

> > solusi transportasi salah obat jadinya..

> > >

> > > Salam,

> > > -K-

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke