Pak Djarot saya kuatir komunikasi 2 arah kita mengganggu kawan2 yg lain, 
terutama yg tdk tertarik dgn riset... tapi mungkin seperti kata Pak BTS, kan 
tinggal di delete saja kalau tidak mau baca, hehe itu jg alasan sy mengapa 
judulnya sy beri nama bapak, tapi alasan saya yg lain adalah bahwa sy sendiri 
masih dlm tahapan belajar meneliti sehingga moga2 saja ada masukan/koreksi dr 
bapak/ibu referensiers kalau pendapat kita salah...

betul bahwa proses yg sy alami, menyusun thesis master dan doktorat, baru tahap 
belajar, jauh dr ahli, karenanya sy masih suka bingung antara tarikan deduksi 
dan keinginan utk induksi seperti yg sy ceritakan... mengenai gabungan antara 
induksi dan deduksi, ini sy kira penelitian yg wajar pak, bukan inovasi, 
eklektik, posmo, dst...

karena bukankah hasil dari induksi adalah hipothesis, lalu ketika hipothesis 
tsb di test prosesnya adalah deduksi... tetapi yg saya tahu gabungan induksi 
dan deduksi tidak direkomendasikan utk menyusun disertasi/thesis S3 karena 
terlalu lama prosesnya...

mungkin pak Djarot sudah tahu, tapi apabila belum, ada website yg cukup 
memberikan pengantar ttg ini:

http://www.socialresearchmethods.net/kb/dedind.php

salam...


--- On Wed, 12/16/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:

From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: [email protected]
Date: Wednesday, December 16, 2009, 2:38 PM







 



  


    
      
      
      Pak Eko, sejauh saya alami, berinduksi-ria sama seriusnya dengan 
berdeduksi-ria, yang menurut saya keduanya diperlukan jam terbang untuk bisa 
menjadi ahli. Kita sudah tahu bedanya, dan ada pengalaman seseorang menulis 
disertasi dengan menggabungkan keduanya menjadi dua fase. Jika kita dalam 
proses deduksi, biasanya diambil satu teori sebagai landasan teori, kemudian 
diturunkan-turunkan hingga menjadi sebentuk kuesioner. Pengalaman tadi menarik, 
karena beliau melakukan induksi lebih dulu untuk menemukan indikasi-indikasi, 
kemudian setelah mantap, indikasi yang ditemukan lewat proses induksi 
dikembangkan menjadi kuesioner juga. Jadi keduanya memang bisa bekerjasama, dan 
mungkin dengan mencampur-campur ini muncul inovasi....eklektik ....posmo ????

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 12/16/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 16, 2009, 6:28 PM







 



    
      
      
      Pak Djarot,

Benar pak, saya memang telah terbiasa dgn deduksi sebelumnya.. .Saya belajar 
deduksi terutama ketika menyusun thesis master di Belanda di bawah bimbingan 
prof Inggris, John Howe... sejak dr itu pendekatan deduktif mengurat akar 
sehingga thesis master saya yg kedua di Perancis pun menggunakan pendekatan 
deduktif, tetapi karena di Perancis bebas2 saja ya tdk apa2...

ketika mulai menyusun thesis S3, saya dianjurkan oleh co-pembimbing utk mencoba 
induksi... setelah saya pelajari memang menarik walau ada resiko riset menjadi 
lebih lama karena kalau deduksi bisa lebih terencana dan terkontrol.. .tapi 
akhirnya saya pilih juga...

Tapi
 memang tidak mudah, pola pikir saya sering tertuju ke deduksi, anjuran 
pembimbing saya utk melupakan teori tdk bisa dgn serta merta saya turuti...dan 
pola berpikir saya juga selalu hypothesis testing...
 bingung hehe... 

akhirnya saya diskusikan dgn dosen2 dan beberapa teman di labo, mereka mengakui 
bahwa di Perancis mereka tidak terlalu kaku pd formalitas methodology, makanya 
ketika melakukan induksi pun mereka tidak asik membahas phenomenology, 
positivist, dll..tidak kaku terkategorisasi seperti itu...TAPI tidak berarti 
bahwa mereka tidak peduli tdh kualitas knowledge yg diproduksi.. .

salah satunya adalah dgn kritis thd debat epistemology, subyektifitas data 
misalkan dikritisi... data ttg region misalkan tdk dapat terlepas dari konteks 
"power" sehingga memiliki subyektifitas tersendiri, dst.. haha penjelasannya 
bisa panjang lebar, tetapi sangat menarik... di sinilah kontrol mereka thd 
kualitas knowledge yg diproduksi.. . menarik bukan? :)

Sebetulnya dgn melakukan induksi bukan berarti kita anti teori pak, di Perancis 
teori2 telah dipelajari di masa S1 dan master... nah setelah teori dikuasai 
baru kemudian dilupakan sejenak selama
 riset induktif... atau membantu menyusun hypothesis kalau mau deduksi...:)

saya kira deduksi dan induksi kan satu rangkaian siklus riset pak, masing2 
memiliki kelebihan dan kekurangan, menarik kalau bisa keduanya...: )

salam..






--- On Wed, 12/16/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo, induktif vs deduktif
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 16, 2009, 11:32 AM







 



    
      
      
      Pak Eko, jika saya perhatikan posting-posting panjenengan, tampaknya 
panjenengan telah lama berkecimpung dalam pendekatan deduktif, sebab bacaannya 
banyak, teori-teori yang seringkali disitir juga banyak. Sementara saya tidak 
demikian, tidak banyak kosa teori yang saya kuasai. Kesimpulan sementara, 
panjenengan pernah mendalami deduktif beberapa lama sementara saya baru sejak 
tahun 2000 sadar mengikuti induktif tanpa dasar-dasar dan pengalaman deduktif 
sebelumnya. Apakah begitu ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 12/16/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo, induktif vs deduktif
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 16, 2009, 2:39 PM







 



    
      
      
      Pak Djarot, dugaan saya, masalahnya terletak pd pendekatan induktif dan 
deduktif pak...

di sebuah conference tahun lalu ada prof dr US yg mengatakan bahwa umumnya 
scholars Perancis gemar berteori: Foucault, Derrida, Lefebvre, dll, dibantah 
oleh prof Perancis bahwa scholars US lah yg gemar berteori karena yg asik 
membahas Foucault dkk adalah orang2 Amerika...

Di Perancis mereka tdk terlalu kaku thd formalitas pendekatan riset, bisa 
deduktif atau induktif atau keduanya, tetapi memang di lingk ilmu sosial 
(kecuali ekonomi) pendekatan induktif umum digemari... sementara setahu saya 
deduksi lebih digemari di US...

Jadi wajar saja kalau di US
 mereka gemar membahas teori2 orang lain karena sebelum merumuskan hipothesis 
dan metodologi yg akan dipakai, mereka harus menguasai teori dgn sangat kuat... 
sementara dlm pendekatan induktif kita harus
 melupakan teori dan fokus pada data...

Jadi karena Pak Djarot (dan juga saya saat ini) melakukan penelitian dgn 
pendekatan induktif, wajar saja kalau kita lebih menyukai produksi knowledge 
baru dr pd membahas teori2 orang lain... btw, tidak hanya Mendel pak, tapi 
banyak penemuan besar yg dilakukan dgn pendekatan induktif: teori evolusi salah 
satunya...

salam..



--- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 8:33 PM







 



    
      
      
      Saya kira uraian panjenengan telah mengartikulasikan pikiran saya Pak, 
bahwa kita memang harus rajin menggali fenomena di negeri sendiri dan 
menghasilkan teori-teori berbasis fenomena lokal. Tentu sikap batin ini bukan 
sebuah chauvinisme dalam keilmuan, melainkan sebuah kesadaran diri yang 
menghargai keunikan fenomena manusia dimanapun. Silau pada teori-teori lain 
nggak masalah, tetapi mendalami rumah sendiri dan melahirkan teori dari "dimana 
bumi dipijak dan langit dijunjung" tentu sangat menarik. 

Dulu Gregor Mendel sebagai biarawan asyik sendiri dengan percobaan kacang 
kaprinya, kemudian dia tuliskan temuannya ke dalam jurnal, lama nyaris tidak 
dilirik
 orang. Tetapi setelah 7 tahun meninggalnya barulah orang memperhatikan 
temuannya, akhirnya dikembangkan dan kita tahu telah berkembang dari teori 
menjadi hukum genetika ala Mendel.....tetapi apakah kita
 harus seperti dia, kan jamannya lain,...jadi nggak perlu meniti jejak yang 
sama, sebab cara komunikasi antar ilmuwan sekarang sudah sangat jauh berbeda....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 12/15/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 1:43 PM







 



    
      
      
      Pak Djarot, setahu saya pengkategorian Foucault, Derrida, Lefebvre, dkk 
dlm kelompok Posmo juga dilakukan oleh scholars Amerika yg gemar berdiskusi ttg 
teori2 orang lain (ini saya baca dr sebuah artikel dlm jurnal)... Foucault dkk 
sendiri tidak pernah menyebut dirinya atau pemikiran2nya sebagai Posmo..

Ketertarikan scholars US thd pemikiran2 scholars Perancis dan mengkategorikan 
mereka dlm Posmo juga mengherankan scholars Perancis sendiri, karena di 
Perancis mereka sendiri lebih suka membuat dan mendiskusikan teori mereka 
sendiri dr pd teori orang lain (narsis? hehe)... Kalau kita baca Lefebvre, 
misalnya, dari awal tulisan pun sudah jelas bahwa dia
 mendasarkan dan membandingkan teori2 yg dia bangun dgn teori2 Kant, Leibniz, 
Marx, Hegel, dst.. tetapi dia tidak asik mendiskusikan teori mereka... ketika 
mengkonstruksi definisi ttg space, dia jelas
 mengatakan bahwa dia mengambil dari atau membandingkan dgn banyak sumber, 
Kantian space, Cartesian space, dll.. tetapi dia tidak asik membahas si Kant 
itu sebetulnya mau ngomong ini lho soal space, dst... Kalau kita mau tahu ya 
baca sendiri karya2 Kant... 

Ini saya tdk bermaksud mengatakan scholars yg ini lebih baik dr yg itu, saya 
hanya ingin menyampaikan perbedaaan kebiasaan di negara yg berbeda... Tapi 
selain itu, dgn alasan tsb saya sangat mendukung Pak Djarot dkk utk menciptakan 
teori2 yg kita gali dari bumi sendiri... Tidak perlu kita sibuk mendiskusikan 
teori orang lain, kita hanya perlu mengerti teori2 tsb. walaupun tidak salah 
juga kalau kita mengutip Lefebvre, misalkan, karena kita melihat bahwa teori 
dia cocok dgn yg terjadi di Indonesia, atau teori dia mampu menjelaskan sebuah 
fenomena yg kita pelajari... Jadi kalau seperti orang Perancis, mari kita 
produksi teori2 sebanyak mungkin yg berbasis bumi sendiri, kalau memang bagus 
nanti
 orang2 Amerika pun akan mengutip kita...:)

salam..






--- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] posmo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 6:52 AM







 



    
      
      
      Pak Eka, sejauh saya tahu, posmo itu penghalusan dari terminologi 
"ndangdut", yang arti sebenarnya adalah campur-campur alias eklektik tetapi 
disertai dengan kecerdasan. Nah apakah di dalamnya juga termasuk ada "perasaan" 
atau tidak saya kurang paham, sebab pemahaman saya tentang posmo juga terbatas. 
Mangunwijaya konon juga termasuk kategori posmo, kata seorang kritikus, dan 
dalam bahasa saya itu berdangdut ria...kerenlah jika dikatakan posmo. Kalau 
dikatakan eklektis konotasinya kadang negatif. Muridnya yang menjadi teman 
saya, Eko Agus Prawoto, menurut kajian kami juga termasuk "pemulung" yang 
cerdas, karena ketika keliling kampung-kampung kemudian mengangkat
 kreativitas orang kampung ke dalam karyanya, jadilah karya yang dikagumi.... . 
dosen yang kurang meneliti, bahan pengajarannya hanya dari tulisan orang lain 
atau buku teks juga pemulung
 ya.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 12/14/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] posmo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, December 14, 2009, 8:07 PM







 



    
      
      
      

Pak Aby dan Referensiers ysh.



Ini bukan karena ada iming2 Rolex, tapi saya sungguh terkesima dengan

tulisan di bawah, sehingga perlu meng-quot secara khusus. Bila

diperhatikan sepertinya si penulis sudah mendalami

Derrida+Habermas+ Foucault[ +Aby] dan telah mencapai tingkatan 'ma'rifat'.

Formatnya dekonstruktif, hybrid, multi-fungsi sehingga bisa paradox;

merupakan ciri-ciri post-strukturalism atau juga post-modernism. Ini

merupakan tantangan bagi format rencana dan kebijakan masa kini, yang

seharusnya tidak lagi linier, dan seharusnya juga bergerak secara posmo.

Sepertinya kita memang saatnya untuk berubah. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote:

>

>

> Mungkin hal ini bukan mitos, juga bukan soal gengsi, mari kita tanya

apakah tukang ojek lebih menyukai sepeda motor atau sepeda..berikut

wawancara dgn salah satu tukang ojek, kenapa milih motor bang?

>

> 1. jelas kagak capek bang, emang situ nyang mau ngerokin kalo aye

masuk angin?

> 2. yeh penumpang pasti bakal milih sepeda motor nyang lebih cepet dan

jarak jangkaunya lebih jauh, kalau perlu dr sudirman ane bisa nganter

sampe ke bandara sukarno hatta..tinggal harganya cocok enggak sama

abang...enak aje abang nyuruh ane ganti ke sepeda, kalo penumpang

langganan ane pindah naek ojek si Mi'un pegimane? emang abang mau

ngongkosin makan anak bini aye?

> 3. pasaran harga jual second lebih stabil, liat aja noh poskota, jadi

kalau hasil ngojek kagak bisa buat bayar cicilan motor ya tinggal jual

lagi aja..beres.. .yeh abang sih enak bisa bilang kalo sepeda juga harga

jual secondnya tinggi, mana buktinya? kalo ane jual sepeda lipet entar

disangka hasil colongan lagi, ane kan kagak tampang pake sepeda lipet..

> 4. emisi? EGP, ini sih urusan orang2 kebanyakan duit...buat makan dan

bayar sekolah anak aja susah boro2 mikirin emisi...waktu Bush kagak mau

nanda tangan protokol kyoto aja yg laen diem aje, kenapa ane yg disuruh

capek2 mikirin soal emisi? emang entu mau sepeda koleksinya nyang nyampe

3 biji dijual dua buat ngebayarin sekolah anak2 ane?

> 5. mitos? enak aje ente bilang mitos, ente sih gaulnya ama orang

gedongan mulu, sepeda aja koleksi banyak... nah ane? beliin buat si

Saropah nyang udah SMP aja ane kagak sanggup...jangan dikit2 ngecap

mitos dong bang, ente kayak Orba aje kalo gak sependapat dicap

PKI...bagus juga kalo ente baca apa itu eksepsieun palasi (mungkin

maksudnya exception fallacy), biar kagak stereotaiping mulu, baru

ngeliat satu orang tukang ojek sepeda ubanan dikira semua orang ubanan

mau ngojek sepeda...

>

> (wawancara dgn Ujang, tukang ojek post modernist).. .

>

> salam :)





    
     



 





      

    
     



 







      

    
     



 





      

    
     



 





      

    
     



 







      

    
     



 







      

    
     



 





      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke