Pak Eka

idenya menggelitik, pak.
Kalau boleh ngasih opsi, saya mungkin lebih prefer di kabupaten Belu. Mungkin 
di Atambua, atau deket pasar mattoain perbatasan dgn Timor Leste. 
Kalau di maumere dan ende, masih nanggung jaraknya. 
Kalau di Belu, mungkin jadi pintu gerbang pula ke Timor Leste. Selain juga 
memfasilitasi arus barang dan jasa dari Srbaya ke situ, yg saya pikir lumayan 
demandnya.

Demikian pak, 
Salam
Dwiagus
»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ffekadj" <[email protected]>
Date: Mon, 04 Jan 2010 16:38:49 
To: <[email protected]>
Subject: [referensi] butuh bandara internasional di ntt


Referensiers,

Saya pernah terbang dari Timika langsung ke Bali dengan Garuda, dan saya
kira ini adalah jarak penerbangan domestik reguler terpanjang di
Indonesia saat ini. Waktu tempuh sekitar 4 jam, walau Pak Wawo
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3015>  pernah mengalami
jarak tempuh yang lebih panjang antara Biak-Jakarta tahun 1962.
Sepanjang perjalanan melintasi Kepulauan Maluku Tenggara dan Selatan
serta Nusa Tenggara. Terbayang juga selama perjalanan bila tiba-tiba
terjadi gangguan tentunya harus mendarat di suatu tempat. Pilihan yang
paling mungkin saat ini tentunya El Tari Kupang, yang berada di luar
jalur penerbangan, dan kurang layak untuk dikembangkan lebih lanjut.
Saya kira lokasi yang relatif mungkin adalah di Pulau Flores, bisa di
Ende atau Maumere, namun keduanya tetap butuh konstruksi bandara baru.
Bila ada, Manotar bisa langsung tancap gas dari Timika tanpa mengisi
bbm. Sementara demikian. Salam.

-ekadj



Senin, 04/01/2010 11:55 WIB
Kronologi Garuda Tak Diberi BBM oleh Freeport di Timika
<http://www.detiknews.com/read/2010/01/04/115511/1271122/10/kronologi-ga\
ruda-tak-diberi-bbm-oleh-freeport-di-timika>
Chazizah Gusnita - detikNews



Jakarta - Gara-gara tak mendapat avtur, penumpang pesawat Garuda harus
menunggu 4,5 jam di Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua, yang dikelola
PT Freeport, pada 3 Januari 2009.

Berikut ini adalah kronologi insiden tersebut seperti diceritakan pilot
Garuda Kapten Manotar Napitupulu yang juga Presiden Federasi Pilot
Indonesia, kepada detikcom, Senin (4/1/2010):

Hari Sabtu tanggal 2 Januari 2010 pukul 23.30 WIB, pesawat Boeing
737-400 nomor GA 652 berangkat dengan rute
Jakarta-Denpasar-Timika-Jayapura. GA 652 dipiloti oleh Kapten Achdiyat.
Karena cuaca buruk di Timika, akhirnya Achdiyat memutuskan terbang dari
Denpasar langsung ke Jayapura, baru ke Timika.

Di Jayapura inilah, petinggi PT Freeport Indonesia bersama 2 stafnya
ingin ikut pesawat GA 652. Padahal tiket ketiganya adalah GA 653.

"Karena sudah buru-buru, semua sudah siap berangkat. Dokumen sudah
selesai. Kalau (mereka) ikut berarti dokumen berubah lagi, harus nunggu
lagi. Memang aturannya juga harus seperti itu, nggak bisa," kata
Manotar.

Kapten Achdiyat mendarat di Timika dari Jayapura pukul 07.10 WIT, Minggu
3 Januari. Kapten Manotar melanjutkan perjalanan Achdiyat dengan jenis
pesawat yang sama namun nomor penerbangan GA 653. Manotar berangkat
pukul 11.00 WIT dengan rute Timika-Jayapura-Timika-Denpasar-Jakarta.

Setiba di Jayapura, GA 653 ini harusnya berpenumpang rombongan bos
Freeport. Namun petinggi Freeport tersebut memilih tak ikut penerbangan
Manotar dan ingin berangkat pagi tanggal 4 Januari dengan pesawat yang
dipiloti Kapten Achdiyat.

Kapten Manotar pun meneruskan penerbangan lagi ke Timika. Nah, di
Timika, Manotar mendapat masalah kekurangan BBM. Sisa avtur yang ada
sekitar 8.000 liter. Padahal pesawat membutuhkan 13.000 liter.

"Saya minta diisi lagi 6.000-7.000 liter buat nanti sisa teman yang akan
bawa," ungkap Manotar.

Namun setelah menunggu lama di bandara, pesawat Manotar tak kunjung
mendapat pasokan. Manotar pun mendatangi kepala bandara untuk menanyakan
pengisian BBM itu. Oleh kepala bandara dijelaskan kalau Garuda tak bisa
mengisi BBM di Timika. Disebutkan bahwa Direktur Garuda harus minta
maaf.

"Saya pikir persoalannya sudah selesai karena station manager Garuda
sudah berbincang-bincang dengan pihak Freeport soal ini dan sudah
selesai. Tapi ternyata lain di mulut lain di hati," imbuhnya.

Karena BBM tak mencukupi guna meneruskan perjalanan ke  Denpasar,
Manotar memutuskan terbang ke Biak. Sampai di Biak, pesawat diisi BBM
sesuai kebutuhan.

"Masak kita harus minta Pak Menhub buat lagi bandara di Timika,"
tandasnya.

(gus/nrl)



Kirim email ke