Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements', istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5595> . Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih sebelumnya. Salam.
-ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik. > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini beneran,....Kalasan kok di Timor, batin saya. Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......??? > > Sementara begitu Pak. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

