Selamat Mas Djarot,
anda telah turut juga mensosialisasikan istilah vernacular ke rekan-rekan
perencanaan lainnya.

Waktu melaksanakan seminar Vernacular Architecture pertama di Indonesia,
istilah inipun masih asing di telinga rekan-rekan arsitek kita, yang kadang
mencampur adukkan dengan istilah arsitektur tradisional, asli, lokal,
masyarakat bawah, kontekstual, dll. yang pengertiannya sangat berbeda. Namun
dengan berlanjut dan semakin mendunianya acara seminar dengan topik tersebut
serta peserta dan peminatnya, maka semakin luas pula penggemar yang
menggunakan istialh tersebut, termasuk yang semakin mendalam pemahamannya,
atau sebaliknya menggunakan untuk pengertian yang berbeda (seperti foto copy
bangunan posmo yang sesungguhnya bukan posmo). Tentu saja belajar dari yang
vernakular bukan berarti memasukkan produk arsitektur moderen sebagai bagian
dari golongannya (Wisma Dharmala Paul Rudolph? oh no !). Produk vernakular
seringkali tak ada hubungannya dengan proses penciptaan atau perancangan
secara sadar (pak Wawo: formal).

Yang saya catat dari Mas Djarot:
......--> vernakular --> unsur produk --> arsitektur --> bangunan -->
permukiman --> ....???

Kajian terhadap produk vernakular di kawasan Timur negara kita maupun di
tengah kota Jakarta Metropolitan sendiri hingga saat ini baru diidentifikasi
secara diskriptif.  Saya sendiri termasuk yang tidak percaya bahwa suatu
yang vernakular di suatu waktu-ruang-kultural tertentu dapat menjadi
bermanfaat bagi komunitas dalam waktu-ruang-kultural yang berbeda....
termasuk sebagai acuan rancangan arsitektur, kota ataupun permukiman
misalnya. Hayo mas...challenge....!

Salam,
ATA

2010/1/8 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Eyang Wawo dan Pak Eka, serta sahabats semua,
>
> Terima kasih atas penjelasannya. menurut saya, dalam sastra-kebudayaan ada
> fenomena yang mirip vernakular yaitu FOLKLORE yang tokohnya di Indonesia
> adalah James Dananjaya. Saya pernah membaca sebuah buku beliau dan meyakini
> ada kesamaan antara arsitektur vernakular dengan folklore itu, yang intinya
> tradisi rakyat.
>
> Dalam pengamatan saya yang tidak sistematis, saya berani merumuskan suatu
> hipotesis bahwa vernakularitas ini ada dimana-mana, tentunya bersandingan
> dengan high style yang juga ada di berbagai bidang. Ada lagu karangan
> komponis terdidik, tetapi juga ada lagu glenyengan buatan kang Suro. Ada
> resep masakan bikinan koki berpendidikan ilmu gizi tetapi juga ada peyek
> mbok Tumpuk di Bantul. Ada rancangan pakaian dengan konsep canggih karena
> perancangnya pernah magang pada desainer top dunia, tetapi juga ada desain
> kain kebaya ala ndeso yang jika dipakai malahan lebih seksi pemakainya. dst
> dst dst Tampaknya vernakularitas ini juga merambah arsitektur dan planning.
> Kan begitu Pak.
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Fri, 1/8/10, Hannie Waworoentoe <[email protected]>*wrote:
>
>
> From: Hannie Waworoentoe <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] vernacular settlements
> To: [email protected]
> Date: Friday, January 8, 2010, 1:40 PM
>
>
>
> Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah
> vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai
> tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher
> lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama digunakan
> untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali pada
> pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah semata-mata
> tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi formal, oleh
> karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang diakui sebagai
> bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram, sehingga juga tidak
> diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya pengertian vernacular. Later
> on anything which was not formal or official became a vernacular atau suatu
> lidah bahasa. Ini tanggapan saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini
> untuk segala sesuatu yang belum jadi resmi ok.  Dengan sendirinya bisa saja
> kita kembangkan suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.
>
>  ------------------------------
> *From:* ffekadj <4ek...@gmail. com>
> *To:* refere...@yahoogrou ps.com
>
> *Sent:* Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
> *Subject:* [referensi] vernacular settlements
>
>
>
> Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada
> karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements' ,
> istilah ini selalu diulang-ulang Pak 
> Wawo<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5595>.
> Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih
> sebelumnya. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
> >
> > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya
> tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang
> the architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan
> teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang
> merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala
> pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih
> tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di
> Timor yang sangat unik.
> >
> > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu
> menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi
> mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada
> waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di sebuah rumah
> makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng Kalasan"
> heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya. Pengelolanya
> seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah makan itu setiap
> malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, khususnya Korea-korea
> itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! Nah, bandara
> internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......?? ?
> >
> > Sementara begitu Pak.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
>
>  
>

Kirim email ke