Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.
Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini beneran,....Kalasan kok di Timor, batin saya. Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......??? Sementara begitu Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 1/5/10, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: butuh bandara internasional di ntt To: [email protected] Date: Tuesday, January 5, 2010, 7:18 PM Pak Dwiagus, boleh juga sarannya, yang pasti Pak Djarot bakalan senang, karena bisa tiap bulan pulang kampung. Yang pasti poros Wini-Atapupu- Atambua sudah dibangun jalan bagus via IBRD. Selama ini jalur udara ke Timor Leste adalah langsung dari Ngurah Rai. Sebenarnya saya dulu pernah mengusulkan di Maritaing Alor, di seberang laut dari Dili. Kalau di Flores bisa sekalian mendayagunakan potensi wisatanya. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Benedictus Dwiagus S." <bdwia...@.. .> wrote: > > Pak Eka > > idenya menggelitik, pak. > Kalau boleh ngasih opsi, saya mungkin lebih prefer di kabupaten Belu. Mungkin di Atambua, atau deket pasar mattoain perbatasan dgn Timor Leste. > Kalau di maumere dan ende, masih nanggung jaraknya. > Kalau di Belu, mungkin jadi pintu gerbang pula ke Timor Leste. Selain juga memfasilitasi arus barang dan jasa dari Srbaya ke situ, yg saya pikir lumayan demandnya. > > Demikian pak, > Salam > Dwiagus > »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!! > > -----Original Message----- > From: "ffekadj" 4ek...@... > Date: Mon, 04 Jan 2010 16:38:49 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: [referensi] butuh bandara internasional di ntt > > > Referensiers, > > Saya pernah terbang dari Timika langsung ke Bali dengan Garuda, dan saya > kira ini adalah jarak penerbangan domestik reguler terpanjang di > Indonesia saat ini. Waktu tempuh sekitar 4 jam, walau Pak Wawo > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/3015> pernah mengalami > jarak tempuh yang lebih panjang antara Biak-Jakarta tahun 1962. > Sepanjang perjalanan melintasi Kepulauan Maluku Tenggara dan Selatan > serta Nusa Tenggara. Terbayang juga selama perjalanan bila tiba-tiba > terjadi gangguan tentunya harus mendarat di suatu tempat. Pilihan yang > paling mungkin saat ini tentunya El Tari Kupang, yang berada di luar > jalur penerbangan, dan kurang layak untuk dikembangkan lebih lanjut. > Saya kira lokasi yang relatif mungkin adalah di Pulau Flores, bisa di > Ende atau Maumere, namun keduanya tetap butuh konstruksi bandara baru. > Bila ada, Manotar bisa langsung tancap gas dari Timika tanpa mengisi > bbm. Sementara demikian. Salam. > > -ekadj

