PEMBANGUNAN WILAYAH
Saatnya Beraksi di Timur
Kompas, Selasa, 6 April 2010 | 04:30 WIB
 
Pulau Jawa adalah masa lalu, Sumatera dan Kalimantan adalah masa kini, 
sedangkan Kawasan Timur Indonesia adalah masa depan. Ungkapan itu sering 
dilontarkan pelaku ekonomi nasional dengan berpijak pada perspektif sumber daya 
alam dan kedaulatan wilayah. Ketika sumber daya alam di Pulau Jawa dan Kawasan 
Barat Indonesia (KBI) kian menipis, Kawasan Timur Indonesia (KTI) menjadi 
tumpuan. Potensi ekonomi tersebar pada 12 provinsi di KTI, yakni 6 provinsi di 
Pulau Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 2 di Kepulauan Maluku, dan 2 di Papua. 
Sebagai contoh, di KTI, potensi energi panas bumi terdapat di wilayah Nusa 
Tenggara dan Sulawesi. Saat ini energi panas bumi di KTI yang tergarap baru 
sebagian kecil. Pulau Sulawesi yang memiliki potensi cadangan energi panas bumi 
959 megawatt electrical (MWe) baru termanfaatkan 40 MWe.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Agus Martowardojo menyebutkan, struktur 
perekonomian KTI didominasi sektor berbasis sumber daya alam. Sektor pertanian 
(yang mencakup subsektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan) 
menyumbang 27 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB) serta sektor 
pertambangan dan penggalian yang menyumbang 18 persen dari PDRB. Hanya saja, 
dibandingkan dengan KBI yang didominasi kontinental (daratan), KTI lebih sarat 
problematik. Limpahan potensi sumber daya alam KTI tersebar tidak merata di 
kepulauan. Untuk menjangkau dan mengolahnya, perlu biaya dan waktu berlipat 
ganda dibandingkan dengan di KBI. Setiap kali sarana dan fasilitas publik 
hendak dibangun, situasi dilematis mencuat. Ongkos yang dikeluarkan tidak 
seimbang dengan nilai ekonomisnya.

Dari sekitar 218,8 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 29,6 juta berdiam di 
KTI. Sementara luas KTI 62 persen wilayah RI. Lebih dari 50 persen luas KTI 
adalah kepulauan dan perairan. Celakanya, paradigma anggaran publik sangat 
lekat dengan aspek populasi dan masih berpihak pada daratan. Dari 183 
kabupaten/kota tertinggal di seluruh Indonesia, 128 di antaranya berada di KTI. 
Sebaliknya, alokasi keuangan negara sekitar 70 persen berpihak ke KBI. 
Ketertinggalan itu terutama karena aspek sarana dan prasarana (50,81 persen), 
perekonomian lokal (18,35 persen), sumber daya manusia (17,41 persen), bencana 
alam dan konflik (9,38 persen), serta kelembagaan daerah (4,02 persen). Sebaran 
penduduk yang tidak didukung infrastruktur transportasi memadai berdampak pada 
pelayanan hak dasar, yakni pendidikan, kesehatan, dan penghasilan di bawah 
standar layak.

Capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Utara (75,16) yang 
menempati urutan kedua nasional setelah DKI Jakarta (78) seperti menjadi hampa 
ketika dikomparasikan dengan 11 provinsi lain di KTI. Pasalnya, Provinsi Papua 
mencapai nilai terendah (57). Potret IPM di KTI menunjukkan sebagian besar di 
bawah IPM nasional (71,17). Yang (sedikit) membanggakan, di tengah keterbatasan 
itu, proses pembangunan di KTI dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren 
positif. Ketua Forum Kelompok Kerja KTI Winarni Monoarfa mengungkapkan, 
indikator-indikator makroekonomi menunjukkan pertumbuhan ekonomi di KTI 
mengalami percepatan. Meski rata-rata pertumbuhan PDRB kawasan ini 4 persen, 
sejumlah wilayah, seperti Sulawesi, lebih dari 6 persen, di atas rata-rata 
pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat, kontribusi KTI 
terhadap perekonomian Indonesia masih relatif rendah. Kontribusi KTI hanya 7 
persen dari total PDB Nasional 2008 yang Rp 4.954
 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari tiga provinsi, yaitu Sulawesi 
Selatan, Papua, dan NTB. Kontribusi ini relatif rendah dibandingkan dengan Jawa 
dan Bali, yaitu 59 persen, Sumatera 23 persen, dan Kalimantan 11 persen.

Rekomendasi
Selaras dengan visi Indonesia 2025 yang maju, adil, dan makmur, keberpihakan 
terhadap KTI tidak lagi hanya cukup dengan political will, tetapi sudah harus 
menjadi political action. Diperlukan kerangka implementasi yang lebih konkret 
untuk mengatasi permasalahan KTI.
Mengingat masa depan KTI bukan hanya di darat, tetapi jauh lebih berpotensi 
pada potensi kelautan, saatnya tersedia basis data pelaku usaha di sektor 
kelautan dan pesisir. 

Diperlukan ”konsolidasi-inovasi-sinergi” semua pemangku kepentingan, antara 
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antara perbankan dan pemerintah, antara 
masyarakat dan pemerintah, antara dunia usaha dan pemerintah.
Boleh jadi, harus ada ”new deal” sesama pemangku kepentingan di KTI untuk 
mengoptimalkan sumber dayanya ataupun antara KTI dan pemerintah pusat dalam hal 
perlakuan khusus yang lebih spesifik dan lebih adil serta implementatif.

Upaya Bank Mandiri menggelar Papua Investment Day Oktober 2009 dan Maluku 
Investment Day 2010 merupakan contoh komitmen lembaga perbankan untuk mendorong 
pelaku ekonomi menggerakkan potensi yang ada. Praktik cerdas untuk pola-pola 
kemitraan, seperti public private partnership, model bedah desa, dan model 
kawasan produksi, juga harus lebih dikembangkan. KTI menunggu aksi nyata!
 
 

--- On Tue, 4/6/10, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] Pembangunan Wilayah
To: [email protected]
Date: Tuesday, April 6, 2010, 3:56 AM


  



Rekans ysh,

Mengutip Kompas hari ini (6/4/10):
Pembangunan Wilayah, Saatnya Beraksi di Timur , pulau Jawa adalah masa lalu, 
Sumatera dan Kalimantan adalah masa kini, sedangkan Kawasan Timur Indonesia 
adalah masa depan.

Ada yang mengikuti diskusinya?

Salam,
Risfan Munir









      

Kirim email ke