Nah itu ibu Ida sdh mulai keluar n pulih lagi naluri planologinya yg canggih yg lama terpendam ya?........
Tapi ngomong2 pemikiran ttg Bappenas/ PU yg kalau benar kalau mikirin pembangunan KTI lalu main menomorsatukan program infrastruktur di KTI .....sptnya itu termasuk salah satu jebakan fallacy yg terus menerus bikin gagal selain dari fallacy umum lainnya yg juga menyebabkan kegagalan lain yg berpikir bhw memulai pembangunan KTI yg penting memulai dgn eksplorasi SDAnya ....utamanya dari menyedot hasil lautnya .........atau fallacy lain lagi bhw mendahulukan memberdayakan bidang agri dan agro pedalamannya jauh lbh penting daripada mendahulukan mengembangkan manufaktur dan injeksi SDM industri manufaktur pada kota2 utama terbesarnya sbg pusat layan utama kawasan.............. Kalau kita mau kembali percaya pada apa kata bapak pembangunan regional spt Francois Perroux atau Boudeville....l/k dikatakan bhw menanam pondasi pembangunan kawasan tertinggal adlh dgn bgmn meletakkan didepan perusahaan/ industri yg memimpin .....yg mempunyai daya propulsif yg kuat (mungkin maksudnya spy begitu menginjakkan kaki dibumi kawasan tertinggal .....esok lusanya tanpa pake jatuh bangun, trial n error dan bangkrut lalu langsung bisa tancap gas membangun dan membangun dan langsung menghasilkan dampak ganda yg luas........ Kalau kita mau kembali mengingat2 bgmn pd 1967/68 RI dibawah suharto/ Sumitro memulai politik ekonominya yg terbuka dan mengundang masuk PMA (sbgmn China juga mencapai tingkat pertumbuhannya yg menakjubkan kini dgn mulai mengundang PMA) ......kita lihat Jepang tanpa banyak minta syarat cengeng babibu infrastruktur dsb spt umumnya PMDN kita namun mrk langsung saja main tancap gas......... Bahkan selagi kita belum punya secuwilpun jalan tol ....bandara kita juga masih Kemayoran dan Halim dan pelabuhan laut kita jg masih Priok apa adanya kala itu ..... kawasan industri jg blm mrpk sesuatu yg populer dibangun .........lalu pada 1972 utk pertama kalinya mobil sedan Toyota hasil rakitan dalam negeri kita di Sunter Jkt utk pertamakalinya mulai meluncur dijalan2 raya ibukota (selain jg spdmotor Honda) .....lalu kini jalan2 tol ibukota kita macet ....malah kita kini ekspor mobil juga ......mobil2 Eropa dan AS yg semula adlh pemain utama dan kini hanya sekedar pemain pinggiran dan kalah semua oleh Jepang ...juga bgmn industri substitusi impor kita spt elektronika, bahan bangunan, bahan kimia dsb sejak itupun lalu berkembang dan sampai kini ....... semuanya bukan dimulai dan didahului dgn ‘infrastruktur’ ......namun dgn memanfaatkan apa yg ada........ Kalau kita mau perhatikan dgn cermat pembangunan (regional) di Jawa (demi utk membangun logika yg sama bagi KTI) ...........yg terjadi adlh faktanya infrastructures follow industries dan bukannya sebaliknya (walau sebaliknyapun bisa)....... Jalan2 kemudian diperlebar krn terus menerus dijejali dgn mobil2 hasil rakitan industri dlm negeri kita ........demikian juga jalan tol dibangun krn jalan2 biasa tak lagi memadai .....proyek2 perumahan, kawasan rekreasi dan pusat2 belanja dibangun krn perkembangan industri (selain tentu saja krn tuah APBN dan hutang LN jor2an yg menghasilkan banyak okb) telah menyebabkan terus berkembangnya jumlah SDM berpendapatan menengah atas (selain tentu klas UMR yg juga tetap saja mampu membangkitkan demand akan barang2 industri kelas murahan serta produkpertanian) .......yg pola konsumsinya telah menyebabkan meningkatnya permintaan akan berbagai macam jasa dan barang produk serta industri manufaktur kita diberbagai sektor ........ Selain krn hutang LN (yg krn bocornya parah dmpaknya pd 1998 mencekik leher kita) ....maka pmrth dpt membangun berbagai infrastruktur kota juga diakibatkan krn masyarakatpun kemudian mampu (hrs) membayar pajak, juga pajak PBB ...... yg semua itu banyak berpangkal dari adanya industri manufaktur perkotaan yg banyak menciptakan kesempatan kerja, penghasilan dan berbagai dampak gandanya spt perumahan, berkembangnya kota dsb....... Krn itu seyogyanya kita perlu mulai mengubah asumsi lama kita bhw pembangunan kawasan tertinggal bukan utamanya mula2 dikrnkan dibangunnya infrastruktur yg lengkap (aplgi boleh ngutang dan bocor pula) dan eksplorasi SDA......namun adlh akibat adanya industri memimpin (manufaktur perkotaan) yg hadir ......lalu muncul/ berkembang jumlah SDM pendapatan menengah atas .......lalu kota berkembang .....aglomerasinyapun tumbuh pula ........yg kota terbesarnya lalu memancarkan dampak spillovernya maupun spread effectnya ...lalu radius tertentu kawasan sekitarnya berkembang......... Macet, urban sprawl, sedikit pencemaran lingkungan dan berbagai dampak negatip perkotaan lainnya yg muncul spt meningkatnya kriminalitas dsb adalah resiko awal yg wajar yg tak usah terlampau dirisaukan .....yg pada urban development pd tahap berikutnya nanti berbagai dampak negatip itu dapat dikoreksi/ diperbaiki.........salam, aby Re: [referensi] Re: Pembangunan Wilayah Thursday, April 8, 2010 10:02 AM From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Kalau kita bicara soal knp konsentrasi pembangunan masih di wilayah barat, ada beberapa alasannya. Pertama krn penduduknya banyak dan persoalan yg dihadapi juga banyak. Perlu dana besar utk mengatasinya. Kedua, investasi di wilayah barat lebih tinggi return-nya, lebioh mudah dan lebih cepat pula. Ini penting mengingat resources yg terbatas. Bappenas dan PU boleh saja menyusun strategi dan mengajukan program infrastruktur utk KTI, tapi yg menentukan DPR. Komisi infrastruktur di DPR bisa ubah program yg dousulkan.kalau pun usulan disetujui komisi infrastruktur, komisi anggaran masih bisa merubah lokasinya. Kita mesti ingat, anggota dewan mendahulukan kepentingan konstituennya spy nanti kepilih lagi. Kebetulan jumlah wakil dr wilayah barat lebih banyak.

