Pemikirannya tentang fallacy yang brilliant. Ak mau menambahkan current problem 
yang mungkin dihadapi. Kalo dulu waktu sentralisasi masalah pembangunan KTI 
adalah korupsi. Kalo sekarang setelah desentralisasi masalahnya nambah tidak 
hanya korupsi tetapi juga koordinasi dan ,politik dan sumber daya manusia. 
Pemerintah daerha di beri keleleuasaan penuh untuk membangun infrastrukturnya 
tetapi uangnya darimana? Pinjam ke luar negeri kan harus melalui pemerintah 
pusat, dan kadang kala terjadi miskoordinasi antara pemerintah pusat dengan 
daerah sehingga proyek terkatung2. masalah politik, kecenderungan karena sudah 
pilkada, daerah tidak punya grand design tata ruang untuk jangka 20 - 30 tahun 
ke depan dan lebih menggunakan pragmatisme karena jabatan politik yang hanya 
terbatas 5 tahun. Itu tantangan besar tidak hanya di Timur tapi juga di Barat. 
Masalah sumber daya manusia itu masalah klasik. Bukan tidak ada tenaga ahli 
ditimur, tetapi faktor sistem
 birokrasinya yang membuat para tenaga ahli dan profesional mending lari ke 
jakarta ato ke luar negeri.Sedangkan di lingkungan kab/kota (PNS) lebih senang 
mengurusi yang rutin2 saja, dan PU/Bappenas yang munkin banyak ahli 
perencanaannya dengan otonomi daerah sulit untuk menerapkan proyek2 
nasionalnya. Harus ada semacam Dewan Tata Ruang kayanya di tiap2 daerah yang 
lepas dari pengaruh politik dan berisi kader2 handal di bidang tata ruang dan 
infrastruktur. 

KUS
--- On Fri, 4/9/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: Pulih :-)  [referensi] Re: Pembangunan Wilayah
To: "referensi" <[email protected]>
Date: Friday, April 9, 2010, 4:52 AM















 
 



  


    
      
      
      
Nah itu ibu Ida sdh mulai  keluar n pulih lagi naluri planologinya yg canggih  
yg lama terpendam ya?........ 
 
Tapi ngomong2 pemikiran ttg  Bappenas/ PU yg kalau benar kalau mikirin 
pembangunan KTI lalu main  menomorsatukan program infrastruktur di KTI 
.....sptnya itu  termasuk salah satu jebakan  fallacy yg terus menerus bikin 
gagal  selain dari fallacy umum lainnya yg juga menyebabkan kegagalan lain yg 
berpikir bhw memulai pembangunan KTI yg penting  memulai dgn
 eksplorasi SDAnya ....utamanya dari menyedot hasil lautnya .........atau 
fallacy lain lagi  bhw mendahulukan memberdayakan  bidang agri dan agro 
pedalamannya jauh lbh penting daripada  mendahulukan  mengembangkan  manufaktur 
dan injeksi SDM industri manufaktur pada kota2 utama terbesarnya sbg pusat 
layan utama kawasan..... .........  
 
Kalau kita mau kembali percaya pada apa kata bapak pembangunan regional spt 
Francois  Perroux  atau Boudeville.. ..l/k dikatakan bhw menanam pondasi 
pembangunan  kawasan tertinggal adlh dgn bgmn meletakkan didepan perusahaan/ 
industri  yg memimpin .....yg mempunyai  daya propulsif yg kuat (mungkin 
maksudnya spy begitu menginjakkan kaki dibumi kawasan tertinggal  .....esok 
lusanya tanpa pake jatuh bangun, trial n error  dan bangkrut lalu langsung bisa 
tancap gas membangun dan membangun dan langsung menghasilkan dampak ganda yg 
luas........ 
 
Kalau kita mau kembali mengingat2  bgmn pd 1967/68 RI dibawah suharto/ Sumitro 
memulai politik ekonominya yg terbuka dan mengundang masuk PMA  (sbgmn China 
juga mencapai tingkat pertumbuhannya yg menakjubkan kini dgn mulai mengundang 
PMA) ......kita lihat Jepang tanpa banyak minta syarat cengeng babibu 
infrastruktur dsb spt umumnya PMDN kita namun mrk langsung saja main tancap 
gas......... Bahkan selagi kita belum punya secuwilpun jalan tol ....bandara 
kita juga masih Kemayoran dan Halim dan pelabuhan  laut kita jg masih Priok apa 
adanya kala itu ..... kawasan industri jg blm mrpk sesuatu yg populer dibangun 
.........lalu pada 1972 utk pertama kalinya mobil sedan Toyota  hasil rakitan 
dalam negeri kita di Sunter Jkt utk pertamakalinya mulai meluncur dijalan2 raya 
ibukota  (selain jg spdmotor Honda) .....lalu kini jalan2 tol ibukota kita 
macet ....malah kita kini ekspor mobil juga ......mobil2 Eropa dan AS yg 
semula  adlh pemain utama dan kini hanya
 sekedar pemain pinggiran dan kalah semua oleh Jepang ...juga bgmn industri 
substitusi impor kita spt elektronika, bahan bangunan, bahan kimia  dsb sejak 
itupun lalu berkembang dan  sampai kini ....... semuanya bukan dimulai dan 
didahului dgn ‘infrastruktur’ ......namun
 dgn memanfaatkan apa yg ada........ 
 
Kalau kita mau  perhatikan dgn cermat pembangunan  (regional) di Jawa (demi utk 
membangun logika yg sama bagi KTI) ...........yg terjadi adlh faktanya 
infrastructures  follow industries dan bukannya sebaliknya (walau sebaliknyapun 
bisa)....... 
 
Jalan2 kemudian diperlebar krn terus menerus dijejali dgn mobil2 hasil rakitan 
industri dlm negeri kita ........demikian juga jalan tol dibangun krn jalan2 
biasa tak lagi memadai .....proyek2 perumahan, kawasan rekreasi dan pusat2 
belanja dibangun krn perkembangan industri (selain  tentu saja krn tuah APBN 
dan hutang LN jor2an yg menghasilkan banyak okb) telah menyebabkan terus 
berkembangnya jumlah SDM  berpendapatan menengah atas (selain tentu klas UMR yg 
juga tetap saja mampu membangkitkan demand akan barang2 industri kelas murahan
 serta produkpertanian)  .......yg pola konsumsinya telah menyebabkan 
meningkatnya permintaan akan berbagai macam jasa dan barang produk serta 
industri manufaktur kita diberbagai sektor ........ 
 
Selain krn hutang LN (yg krn bocornya parah  dmpaknya pd 1998 mencekik leher 
kita) ....maka pmrth dpt membangun  berbagai infrastruktur  kota juga  
diakibatkan krn  masyarakatpun  kemudian mampu (hrs) membayar pajak, juga pajak 
PBB ...... yg semua itu banyak berpangkal dari adanya industri manufaktur 
perkotaan yg banyak menciptakan kesempatan kerja, penghasilan
 dan berbagai dampak gandanya spt perumahan, berkembangnya kota dsb....... 
 
Krn itu seyogyanya kita perlu mulai mengubah asumsi lama kita bhw pembangunan 
kawasan tertinggal bukan utamanya  mula2  dikrnkan dibangunnya infrastruktur yg 
lengkap (aplgi  boleh ngutang dan bocor pula)  dan eksplorasi SDA......namun 
adlh akibat adanya industri memimpin (manufaktur perkotaan) yg hadir ......lalu 
muncul/ berkembang jumlah SDM pendapatan menengah atas .......lalu kota 
berkembang .....aglomerasinyap un tumbuh pula ........yg kota
 terbesarnya lalu memancarkan dampak spillovernya maupun spread effectnya 
...lalu radius tertentu kawasan sekitarnya berkembang.. ....... 
Macet, urban sprawl, sedikit pencemaran lingkungan  dan berbagai dampak negatip 
perkotaan lainnya yg  muncul spt meningkatnya kriminalitas dsb adalah resiko 
awal yg wajar  yg tak usah terlampau  dirisaukan .....yg pada urban development 
pd tahap berikutnya nanti berbagai dampak negatip itu dapat dikoreksi/ 
diperbaiki.. .......salam,  
aby   
   
   
Re: [referensi] Re: Pembangunan Wilayah 
Thursday, April 8, 2010 10:02 AM 
From: "i_gume...@yahoo. com" <i_gume...@yahoo. com> 
To: refere...@yahoogrou ps.com 
   
Kalau kita bicara soal knp konsentrasi pembangunan masih di wilayah barat, ada 
beberapa alasannya. Pertama krn penduduknya banyak dan persoalan yg dihadapi 
juga banyak. Perlu dana besar utk mengatasinya. Kedua, investasi di wilayah 
barat lebih tinggi return-nya, lebioh mudah dan lebih cepat pula. Ini penting 
mengingat resources yg terbatas. 

Bappenas dan PU boleh saja menyusun strategi dan mengajukan program 
infrastruktur utk KTI, tapi yg menentukan DPR. Komisi infrastruktur di DPR bisa 
ubah program yg dousulkan.kalau pun usulan disetujui komisi infrastruktur, 
komisi anggaran masih bisa merubah lokasinya. Kita mesti ingat, anggota dewan 
mendahulukan
 kepentingan konstituennya spy nanti kepilih lagi. Kebetulan jumlah wakil dr 
wilayah barat lebih banyak.
 
 
  


      

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke