Pak Arys ysh,

Apakah bapak pernah di Bappeda Irian Jaya bbrp tahun yl ? Kalau benar, pasti 
kenal saya.

Regards,
R V Kawengian
-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent:  13-05-2010, 15.52 
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita


    Sepakat Pak Harya, dalam konteks lebih luas, seperti juga yang dibahas oleh 
Rhenal Kasali tentang dinamika di perusahaan IBM dan Motorola. Bahasan lengkap 
beliau tuangkan dalam buku 'Change' dan buku 'Recode Your DNA'.Powered by 
Telkomsel BlackBerry�-----Original Message-----From: Harya Setyaka Date: Wed, 
12 May 2010 19:55:19 To: Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan 
kita� Oh yaa... Darwin bilang Survival of the fittest.. bukan 'of the 
strongest'.. bukan yang paling kuat yang akan survive.. jadi bukan yang kuat 
akan hidup terus. tapi yang paling 'cocok' .. maksudnya yang punya kapabilitas 
adaptasi lah yg survive.. buat planning, not bad lah kalau kita selalu berpikir 
mengenai strategi adaptasi. Salam, -K- 2010/5/11 - ekadj [email protected]> > > 
> Pak Djarot dan rekans ysh. > Sebenarnya bila bapak mencermati, sejak tahun 
lalu kita sudah membicarakan > banyak paradigma besar dunia. Seperti misalnya 
Ms. EkoBK dkk bicara > fieldwork, analytical induction dll, kita sedang bicara 
tentang > 'fungsionalisme'. Juga Pak Koes dkk bicara keramat, hidayah, prihatin 
dll, > kita sedang bersentuhan dengan jalan tarikat. Tentunya juga dengan 
'posmo', > 'strukturalisme', 'komprehensivisme/sistemik', 'positivisme', 
'marxisme', > 'borjuisme', 'mbejo', 'nggowes', 'evolusionisme', dst. 
Masing-masing dari > kita telah memberikan kontribusi pemahaman yang luas 
tentang hal itu sebagai > referensi mengenai paradigma yang patut diketahui. 
Disadari atau tidak, > berbagai paradigma itu telah bersemayam dalam pemikiran 
'masyarakat' selama > ini, dan telah mendinamikakan dan mengkontestasikan 
resistensi hingga > dominasi dalam berbagai varian dan variasinya. > > Saya 
tanggapi beberapa komentar. Pertama, saya hanya membaca analisis dan > beberapa 
cuplikan catatan etnografi Darwin, "The Origin of Species by Means > of Natural 
Selection" (1859), salah satu di antaranya: "... I am fully > convinced that 
species are not immutable; but that those belonging to what > are called the 
same genera are lineal descendants of some other and > generally extinct 
species, in the same manner as the acknowledged varieties > of any one species. 
..." Pandangannya memang bertentangan dengan bab > penciptaan dalam Bible 
(namun tidak Al Qur-an), dan menimbulkan kontroversi > hingga saat ini. Perlu 
dicatat bila Darwin menempatkan 'link' dan 'fase' > dalam penelitiannya; satu 
hal yang kita pahami bahwa 'perkembangan' > disekat-sekat menjadi 'fase-fase', 
dan setiap fase adalah bermakna karena > mengandung kejadian penting. Dengan 
kata lain teori evolusi adalah bicara > tentang proses dan sejarah. Jadi 
sebenarnya mudah 'mencap' kaum > evolusionist, kalau terdengar ngomong tentang 
history, proses, kemajuan dst, > ... ya seperti saya ini ... hehehe ... Malah 
Plato dan Aristoteles lebih > dulu mengembangkan teori evolusi-negatif, yang 
mengatakan binatang dan > tumbuhan bermula dari satu bentuk, kemudian secara 
bertahap dan menerus > berubah dari bentuk sempurna menjadi kurang sempurna, 
namun untuk manusia > melalui proses yang berbeda. > > Mengenai 'survival of 
the fittest' saya kira sudah dijawab oleh Harya. Saya > tertarik dengan 
'open/deep moral community', saya kira kita sudah masuk > dalam kajian baru, 
yaitu 'positivisme', atau mungkin juga 'konstruktivisme'. > Silahkan dibabarkan 
pak, kan ada Pak Sudaryono juga disini. > > Mengenai 'kehidupan dan alam', 
lebih relevan dengan tulisannya Pak Risfanyang similar dan setajam analisisnya 
Marx (namun bukan Marxian). Kapan waktu > saya coba ulas. Salam. > > -ekadj > > 
> 2010/5/11 Harya Setyaka > > >> Darwin mengajukan teori mengenai geo-biologi 
... sebenarnya Wallace juga >> sedang meneliti hal yang sama.. yaitu distribusi 
spatial flora dan fauna.. >> lalu memetakan similaritas dan dissimilaritas 
diantaranya.. >> Proposisi-proposisi Darwin semuanya bisa dibuktikan 
benar-salah nya >> secara ilmiah, diuji secara empirik. >> >> yang problematik 
adalah memproyeksikan proposisi Darwin mengenai alam >> kepada kehidupan 
sosial.. atau disebut Social Darwinism.. >> Jadi kalau udah pake imbuhan -ism 
.. udah gak netral lagi.. dan udah >> berangkat (departure from) kaidah-2 
ilmiah, dimana segala sesuatunya harus >> bisa diuji secara empirik. >> Ya sama 
aja kayak Pancasila laah.. itu kan gak ilmiah. >> >> Ya tentunya masing-2 kita 
ini memiliki (atau minimal merasa memiliki) >> dawuh ... >> Menjadi 
arsitek/planner kan pilihan profesi yang dibuat ketika >> cara-pandang dunia 
belum seperti sekarang ini.. >> Sedangkan diluar profesi arsitek/planner 
mungkin juga punya dawuh untuk >> melindungi yang lemah.. berupaya untuk 
mewujudkan "survival of the >> weakest".. >> >> salam, >> -K- >> >> >> >> 
2010/5/10 Djarot Purbadi >> >> >>> >>> Pak Eka dan Sahabats, >>> >>> Sudah lama 
saya dengar bahwa evolusi ala Darwin sebagai cara berpikir >>> dikritik oleh 
Mangunwijaya karena Darwinisme mengandung pemikiran "siapa >>> kuat dia hidup 
terus". Saya jadi terkaget-kaget ketika cara berpikir ini >>> justru menjadi 
cara pikir yang "penting atau pokok" di kalangan planning di >>> Indonesia. 
Benarkah begitu ? >>> >>> Dalam seminar APRF Januari 2010 ada tawaran 
"humanisme baru" menjadi >>> paradigma dalam planning dan arsitektur masa kini 
dan masa depan yang >>> menjanjikan kemajuan bagi kehidupan kita. Situasi 
pluralism yang kita hadapi >>> akan terus berkembang dan memerlukan "open moral 
community" yang berbasis >>> pada"deep moral community" atau "trancendentalism 
community". Intinya, >>> planning dan arsitektur semestinya terus berusaha 
mengarah kepada "space of >>> and for the common"....unik tetapi tidak 
ekslusif. Demikian konsep yang >>> ditawarkan Guruku Dr. Sudaryono dalam 
seminar itu. >>> >>> Dari paparan itulah, aku jadi mengerti, mengapa "ruang 
lokal" menjadi >>> penting dan bermakna karena boleh unik namun tidak eksklisif 
!!! Deep moral >>> community pada dasarnya melampaui "contractual community" 
yang secara tidak >>> kita sadari masih kuat mewarnai situasi kehidupan kita. 
Jika kita tidak >>> menyadari paradigma mana yang diperlukan dalam planning dan 
>>> arsitektur.....apakah kita masih punya keyakinan bahwa planning dan >>> 
arsitektur adalah berkah bagi kehidupan dan alam semesta ???? >>> >>> Salam, 
>>> >>> Djarot Purbadi >>> >>> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] 
>>> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] >>> 
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com >>> >>> >>> --- On *Mon, 5/10/10, - 
ekadj [email protected]>* wrote: >>> >>> >>> From: - ekadj [email protected]> >>> 
Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita >>> To: 
[email protected] >>> Date: Monday, May 10, 2010, 10:52 PM >>> >>> >>> 
>>> Ya sudah nasib pak. >>> Sejak kecil terbuai-buai ayunan, sudah besar 
terbuai-buai angan-angan. >>> >>> Lebih enak bicara biologi: tidak semua 
evolusi bermula dari kecil ke >>> besar, atau dari sederhana ke kompleks. 
Beberapa spesies malah berubah >>> menjadi lebih sederhana, seperti kambing 
pleistosen Afrika tiga kali lebih >>> besar dari kambing modern. Salam. >>> >>> 
2010/5/11 >>> > >>> >>>> >>>> >>>> So, seharusnya bagaimana, pak ? >>>> >>>> 
Powered by Telkomsel BlackBerry� >>>> ------------------------------ >>>> 
*From: *- ekadj 4ek...@gmail. com> >>>> >>>> *Date: *Mon, 10 May 2010 17:55:47 
+0700 >>>> *To: * >>>> > >>>> *Subject: *[referensi] ortogenesis dalam 
perencanaan kita >>>> >>>> >>>> >>>> Referensiers ysh. >>>> Hampir dipastikan 
seluruh perencana adalah penganut evolusionisme. >>>> Berarti penganut Charles 
Darwin. Evolusi merupakan suatu bentuk transformasi >>>> yang tetap dari kecil 
kepada yang lebih besar. Secara biologi hal ini coba >>>> dimaklumi dari 
generasi ke generasi, kemudian analogi biologi ini >>>> 'ditransplantasikan' ke 
dalam sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik, >>>> sistem kota, dst. 
Dengan dasar kaidah biologi ini, maka perencana banyak >>>> yang 'ngecap' 
menjelaskan gagasannya. Saya sudah sampaikan keluhan >>>> omongkosong ini >>>> 
dan tanggapannya >>>> . >>>> >>>> Namun dalam praktek teori evolusi ada 
permasalahan ortogenesis: >>>> kesalahpahaman asumsi mendasar tentang adanya 
'kekuatan' yang akan >>>> mengarahkan, menjadikan lebih cerdas, lebih baik, dan 
lebih terencana. >>>> Padahal dalam teori evolusi sendiri tidak ada pembuktian 
tentang adanya >>>> 'kekuatan supra'; malah evolusi sendiri merupakan proses 
random, tidak ada >>>> kemajuan atau gerakan umum ke arah 'superior'. Darwin 
sendiri tidak pernah >>>> menyebutkan kata-kata 'lebih tinggi' atau 'lebih 
rendah' dalam menguraikan >>>> tahap evolusi yang berbeda-beda. >>>> >>>> 
Salam. >>>> >>>> -ekadj >>>> >>>> >>>> >>> >>> >> > 

 

  

    Sepakat Pak Harya, dalam konteks lebih luas, seperti juga yang dibahas oleh 
Rhenal Kasali tentang dinamika di perusahaan IBM dan Motorola. Bahasan lengkap 
beliau tuangkan dalam buku 'Change' dan buku 'Recode Your DNA'.

Powered by Telkomsel BlackBerry�


-------------------------------------
From:  Harya Setyaka <[email protected]>

Date: Wed, 12 May 2010 19:55:19 -0700

To: <[email protected]>

Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita




   Oh yaa... Darwin bilang Survival of the fittest.. bukan 'of the 
strongest'..bukan yang paling kuat yang akan survive.. jadi bukan yang kuat 
akan hidupterus.tapi yang paling 'cocok' .. maksudnya yang punya kapabilitas 
adaptasi lah ygsurvive..buat planning, not bad lah kalau kita selalu berpikir 
mengenai strategiadaptasi.Salam,-K-2010/5/11 - ekadj [email protected]>>>> Pak 
Djarot dan rekans ysh.> Sebenarnya bila bapak mencermati, sejak tahun lalu kita 
sudah membicarakan> banyak paradigma besar dunia. Seperti misalnya Ms. EkoBK 
dkk bicara> fieldwork, analytical induction dll, kita sedang bicara tentang> 
'fungsionalisme'. Juga Pak Koes dkk bicara keramat, hidayah, prihatin dll,> 
kita sedang bersentuhan dengan jalan tarikat. Tentunya juga dengan 'posmo',> 
'strukturalisme', 'komprehensivisme/sistemik', 'positivisme', 'marxisme',> 
'borjuisme', 'mbejo', 'nggowes', 'evolusionisme', dst. Masing-masing dari> kita 
telah memberikan kontribusi pemahaman yang luas tentang hal itu sebagai> 
referensi mengenai paradigma yang patut diketahui. Disadari atau tidak,> 
berbagai paradigma itu telah bersemayam dalam pemikiran 'masyarakat' selama> 
ini, dan telah mendinamikakan dan mengkontestasikan resistensi hingga> dominasi 
dalam berbagai varian dan variasinya.>> Saya tanggapi beberapa komentar. 
Pertama, saya hanya membaca analisis dan> beberapa cuplikan catatan etnografi 
Darwin, "The Origin of Species by Means> of Natural Selection" (1859), salah 
satu di antaranya: "... I am fully> convinced that species are not immutable; 
but that those belonging to what> are called the same genera are lineal 
descendants of some other and> generally extinct species, in the same manner as 
the acknowledged varieties> of any one species. ..." Pandangannya memang 
bertentangan dengan bab> penciptaan dalam Bible (namun tidak Al Qur-an), dan 
menimbulkan kontroversi> hingga saat ini. Perlu dicatat bila Darwin menempatkan 
'link' dan 'fase'> dalam penelitiannya; satu hal yang kita pahami bahwa 
'perkembangan'> disekat-sekat menjadi 'fase-fase', dan setiap fase adalah 
bermakna karena> mengandung kejadian penting. Dengan kata lain teori evolusi 
adalah bicara> tentang proses dan sejarah. Jadi sebenarnya mudah 'mencap' kaum> 
evolusionist, kalau terdengar ngomong tentang history, proses, kemajuan dst,> 
... ya seperti saya ini ... hehehe ... Malah Plato dan Aristoteles lebih> dulu 
mengembangkan teori evolusi-negatif, yang mengatakan binatang dan> tumbuhan 
bermula dari satu bentuk, kemudian secara bertahap dan menerus> berubah dari 
bentuk sempurna menjadi kurang sempurna, namun untuk manusia> melalui proses 
yang berbeda.>> Mengenai 'survival of the fittest' saya kira sudah dijawab oleh 
Harya. Saya> tertarik dengan 'open/deep moral community', saya kira kita sudah 
masuk> dalam kajian baru, yaitu 'positivisme', atau mungkin juga 
'konstruktivisme'.> Silahkan dibabarkan pak, kan ada Pak Sudaryono juga 
disini.>> Mengenai 'kehidupan dan alam', lebih relevan dengan tulisannya Pak 
Risfanyang similar dan setajam analisisnya Marx (namun bukan Marxian). Kapan 
waktu> saya coba ulas. Salam.>> -ekadj>>> 2010/5/11 Harya Setyaka >>>> Darwin 
mengajukan teori mengenai geo-biologi ... sebenarnya Wallace juga>> sedang 
meneliti hal yang sama.. yaitu distribusi spatial flora dan fauna..>> lalu 
memetakan similaritas dan dissimilaritas diantaranya..>> Proposisi-proposisi 
Darwin semuanya bisa dibuktikan benar-salah nya>> secara ilmiah, diuji secara 
empirik.>>>> yang problematik adalah memproyeksikan proposisi Darwin mengenai 
alam>> kepada kehidupan sosial.. atau disebut Social Darwinism..>> Jadi kalau 
udah pake imbuhan -ism .. udah gak netral lagi.. dan udah>> berangkat 
(departure from) kaidah-2 ilmiah, dimana segala sesuatunya harus>> bisa diuji 
secara empirik.>> Ya sama aja kayak Pancasila laah.. itu kan gak ilmiah.>>>> Ya 
tentunya masing-2 kita ini memiliki (atau minimal merasa memiliki)>> dawuh 
...>> Menjadi arsitek/planner kan pilihan profesi yang dibuat ketika>> 
cara-pandang dunia belum seperti sekarang ini..>> Sedangkan diluar profesi 
arsitek/planner mungkin juga punya dawuh untuk>> melindungi yang lemah.. 
berupaya untuk mewujudkan "survival of the>> weakest"..>>>> salam,>> 
-K->>>>>>>> 2010/5/10 Djarot Purbadi >>>>>>>>>> Pak Eka dan Sahabats,>>>>>> 
Sudah lama saya dengar bahwa evolusi ala Darwin sebagai cara berpikir>>> 
dikritik oleh Mangunwijaya karena Darwinisme mengandung pemikiran "siapa>>> 
kuat dia hidup terus". Saya jadi terkaget-kaget ketika cara berpikir ini>>> 
justru menjadi cara pikir yang "penting atau pokok" di kalangan planning di>>> 
Indonesia. Benarkah begitu ?>>>>>> Dalam seminar APRF Januari 2010 ada tawaran 
"humanisme baru" menjadi>>> paradigma dalam planning dan arsitektur masa kini 
dan masa depan yang>>> menjanjikan kemajuan bagi kehidupan kita. Situasi 
pluralism yang kita hadapi>>> akan terus berkembang dan memerlukan "open moral 
community" yang berbasis>>> pada"deep moral community" atau "trancendentalism 
community". Intinya,>>> planning dan arsitektur semestinya terus berusaha 
mengarah kepada "space of>>> and for the common"....unik tetapi tidak ekslusif. 
Demikian konsep yang>>> ditawarkan Guruku Dr. Sudaryono dalam seminar 
itu.>>>>>> Dari paparan itulah, aku jadi mengerti, mengapa "ruang lokal" 
menjadi>>> penting dan bermakna karena boleh unik namun tidak eksklisif !!! 
Deep moral>>> community pada dasarnya melampaui "contractual community" yang 
secara tidak>>> kita sadari masih kuat mewarnai situasi kehidupan kita. Jika 
kita tidak>>> menyadari paradigma mana yang diperlukan dalam planning dan>>> 
arsitektur.....apakah kita masih punya keyakinan bahwa planning dan>>> 
arsitektur adalah berkah bagi kehidupan dan alam semesta ????>>>>>> 
Salam,>>>>>> Djarot Purbadi>>>>>> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi 
MWK]>>> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]>>> 
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com>>>>>>>>> --- On *Mon, 5/10/10, - 
ekadj [email protected]>* wrote:>>>>>>>>> From: - ekadj [email protected]>>>> 
Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita>>> To: 
[email protected]>>> Date: Monday, May 10, 2010, 10:52 PM>>>>>>>>>>>> 
Ya sudah nasib pak.>>> Sejak kecil terbuai-buai ayunan, sudah besar 
terbuai-buai angan-angan.>>>>>> Lebih enak bicara biologi: tidak semua evolusi 
bermula dari kecil ke>>> besar, atau dari sederhana ke kompleks. Beberapa 
spesies malah berubah>>> menjadi lebih sederhana, seperti kambing pleistosen 
Afrika tiga kali lebih>>> besar dari kambing modern. Salam.>>>>>> 2010/5/11 >>> 
>>>>>>>>>>>>>>>> So, seharusnya bagaimana, pak ?>>>>>>>> Powered by Telkomsel 
BlackBerry�>>>> ------------------------------>>>> *From: *- ekadj 
4ek...@gmail. com>>>>>>>>> *Date: *Mon, 10 May 2010 17:55:47 +0700>>>> *To: 
*>>>> >>>>> *Subject: *[referensi] ortogenesis dalam perencanaan 
kita>>>>>>>>>>>>>>>> Referensiers ysh.>>>> Hampir dipastikan seluruh perencana 
adalah penganut evolusionisme.>>>> Berarti penganut Charles Darwin. Evolusi 
merupakan suatu bentuk transformasi>>>> yang tetap dari kecil kepada yang lebih 
besar. Secara biologi hal ini coba>>>> dimaklumi dari generasi ke generasi, 
kemudian analogi biologi ini>>>> 'ditransplantasikan' ke dalam sistem sosial, 
sistem ekonomi, sistem politik,>>>> sistem kota, dst. Dengan dasar kaidah 
biologi ini, maka perencana banyak>>>> yang 'ngecap' menjelaskan gagasannya. 
Saya sudah sampaikan keluhan>>>> omongkosong  ini>>>> dan tanggapannya >>>> 
.>>>>>>>> Namun dalam praktek teori evolusi ada permasalahan ortogenesis:>>>> 
kesalahpahaman asumsi mendasar tentang adanya 'kekuatan' yang akan>>>> 
mengarahkan, menjadikan lebih cerdas, lebih baik, dan lebih terencana.>>>> 
Padahal dalam teori evolusi sendiri tidak ada pembuktian tentang adanya>>>> 
'kekuatan supra'; malah evolusi sendiri merupakan proses random, tidak ada>>>> 
kemajuan atau gerakan umum ke arah 'superior'. Darwin sendiri tidak pernah>>>> 
menyebutkan kata-kata 'lebih tinggi' atau 'lebih rendah' dalam menguraikan>>>> 
tahap evolusi yang berbeda-beda.>>>>>>>> Salam.>>>>>>>> 
-ekadj>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> >

 

  

  


Kirim email ke