Saya rasa gak ada yg meragukan story yg ibu Ida sampaikan adalah real. 
Kenyataannya seperti itu apa adanya. Gak ada yg seems unreal di sana. Tapi 
apakah itu yang semestinya terjadi?

APBD/N saya rasa bukan untuk mengentertain parlemen. Itu menurut saya sih. 
Kalau lantas itu yang terjadi, apa kita lantas tidak bisa cari akal utk mencari 
jalan lain... Seolah itu satu2nya jalan...

Kegagalan kita memberantas korupsi saya rasa karena kita begitu menerima begitu 
saja keadaan sebenarnya. 
Kasarnya:" yah memang keadaannya seperti itu, so be it lah...."

Itu recehan saya sih, yang memang gak pernah kerja di Pemda

Salam
Dwiagus. 

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ida gumelar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 13:50:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Buat yg tidak pernah bekerja di pemda, our story seems unreal. Tapi 
kenyataannya begitulah.

Kegagalan kita memberantas korupsi krn kita kurang memahami keadaan yang 
sebenarnya.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Benedictus Dwiagus S." <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 09:33:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Mestinya bukan dari APBN/APBD dong krena itu anggaran pembangunan,..
Kalau ini anggaran entertainment kayaknya, masuk dalam hospitality costnya 
partai.

Hehehhee
.

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ida gumelar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 02:35:56 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Dear all, pengalaman di Kepri lebih kurang sama dgn di DIY. 

Proses APBD bisa cepat dan bisa lama, tergantung pada beberapa faktor, antara 
lain seberapa besar keinginan gubernur, seberapa besar pula keinginan pimpinan 
dewan sebagai reaksi terhadap keinginan gubernur. Jika kesepakatan bagi kue 
antara kedua fihak cepat dicapai, cepat pula proses pengesahan APBD.

Kesepakatan biasanya dibahas dlm pertemuan informal. Di pertemuan formal 
tinggal pengesahannya saja (mungkin krn  ada CCTV, he he he). ini diluar dana 
alokatif.  

Peranan dana alokatif lebih untuk menghibur anggota biasa. Mereka bisa 
menggunakan dana untuk proyek2 kecil di dapilnya. Konstituennya happy ikut 
kecipratan. 5 thn lagi dukung dia lagi.
Pemilu yg lalu kelihatan, yg dananya dimakan sendiri, tdk sampai ke konstituen, 
kehilangan suara banyak.

Dulu, sebelum ada dana alokatif, kpl dinas/badan yg pusing ngatur agar 
permintaan konstituen yg kecil2 dipenuhi.

Pengalaman 4 tahun jadi anggota tim anggaran eksekutif memberi banyak 
pengalaman yg tdk mungkin saya dapatkan kalau bekerja di departemen.

Salam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "[email protected]" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 9 Jun 2010 12:12:58 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Cak Andri,

Cak Andri menanyakan ke bu Ida yang cantik :

Menarik sekali pengalaman Ibu Ida. Apakah ibu mengetahui bagaimana caranya dana 
tersebut "mempercepat" proses persetujuan APBD (oleh DPRD?)?

Saya berdasarkan pengalaman selama 7 tahun di propinsi, ternyata proses APBD 
bisa sangat sangat sangat dipercepat. Tetapi juga bisa sangat sangat sangat 
lambat ..... 

.....prinsipnya adalah bagaimana memenuhi hasrat anggota legislatif untuk 
mendapatkan tambahan revenue dengan segala macam cara dan usaha sehingga si 
anggota legislatif tersebut bisa memenuhi keinginan konstituennya yang selalu 
ngrumpi dan ngarariung (bahasa sunda yang berarti berkumpul) di kantor fraksi 
untuk meminta sumbangan.

Sehingga kalau diformulasikan adalah :

     Cp = f (Jka, Jke, Tab, tKk)
dimana :

   Cp = cepatnya proses APBD
   Jka = jumlah kebutuhan anggota legislatif yang bisa diderivasi kepada jumlah 
fraksi yang butuh
            (semakin banyak fraksi yang minta semakin cepat), jumlah anggota 
yang butuh ....
            ini berarti kalau faksi besar (jumlah anggotanya banyak) tapi 
tunggal ... lebih sulit 
            diprosesnya dibandingkan dengan yang fraksinya lebih banyak .
   Jke = jumlah kebutuhan eksekutif ... semaki nkecil semakin cepat
   Tab = Total anggaran belanja yang dibicarakan ... semakin besar semakin lama
   tKk = tingkat kontroversi kegiatan ... semakin kontroversi kegiatan semakin 
lama prosesnya

Nah untuk itu common denominatornya adalah jumlah anggaran yang dititipkan ke 
eksekutif ... artinya anggaran legislatif yang dititipkan ke eksekutif ... hal 
ini disebabkan karena adanya PP 11/2000.

Mungkin Cak Andri bisa sedikit melihat fungsi tersebut karena pengalaman 
empirik saya di Jogja. 

Salam

bambang sp

Kirim email ke