Pak Nuzul dan milisters ysh,

Ttg keinginan pak Nuzul menyangkut green energy ….kalau tak salah kedepan  
kebijakan enegy kita arahnya  memang benar mau akan lebih nge-green beneran spt 
dgn akan semakin banyak dipakainya  gas alam dan geothermal dan semakin akan 
dikuranginya pemakaian batubara utk pembangkit listrik…….

Sedangkan ttg hipotesa pusat pertumbuhan baru yg diharapkan dpt muncul berbasis 
pd sumber daya alam atau khususnya berbasis sumber energy gas, minyak atau 
berbasis  bahan tambang lainnya……. Bontang sendiri telah menunjukkan bhw 
‘pertumbuhan’ yg ditunjukkan  ternyata paling banyak hanya akan menarik 
berdirinya sedikit industri dasar lainnya …..itupun jg yg hanya mampu dilakukan 
oleh pemerintah/ BUMN ………dan papers sebelumnyapun menunjukkan pula bhw hipotesa 
ttg pusat pertumbuhan baru berbasis industri pertambangan (Freeport, Inco, dan 
nampaknya juga Caltex, Arun dsb) ternyata hanya menumbuhkan berdirinya sedikit 
enklaf internasional  pada lingkungan yg jatuhnya tetap saja ‘tertinggal’, 
miskin  dan lbh banyak hanya jadi penonton saja……

Sebaliknya ……pusat pertumbuhan yg disandarkan/ menyusu pada pusat2 berbasis 
kegiatan manusia perkotaan (manufaktur, trade, turisme) spt Batam yg ‘menyusu’ 
pada Singapura …..atau  Shenzhen (meniru Batam!)  menyusu pada Hongkong  
…..terbukti dgn amat meyakinkan ……keduanya dapat berkembang pesat (Batam semula 
hanya berpenduduk 5.000an jiwa kini menjadi diatas 500.000 jiwa  …Shenzhen yg 
semula hanya sebuah desa dalam 20 tahun kemudian berpenduduk 10 juta jiw, 
bodetabek dari semula hanya kota2 berpenduduk dibawah 500.000 jiwa kini masing2 
telah menjadi kota2 metropolitan  berpenduduk diatas 1,5 juta jiwa 
.……Cikarangpun juga begitu…... Los Angeles dgn Holywoodnya yg semula dulu bukan 
apa-apa kini berpenduduk sekitar 10jutaan jiwa …..mengimbangi New York ……atau 
dalam konteks regional …pantai barat dgn pusat Los Angeles dgn kegiatan utama 
(selain minyak) berbasis pengembangan amenity resources (industri film, 
pemukiman
 bintang2 mahal, pemukiman kaum tua kaya raya, turisme berbasis sea-sand-sun 
dan tanpa salju sepanjang tahun)  mampu mengimbangi dahsyatnya pemusatan  
kegiatan dan migrasi  penduduk dideretan megalopolis pantai timur AS 
…….kegagalan pengembangan pusat2 baru di Bari-Taranto- Brindisi (Operation Casa 
per il Mezzogiorno) di Italia Selatan nampaknya juga dikarenakan  pertumbuhan 
diharapkan dari basis2 industri SDA/ pertambangan dan bukannya berbasis 
‘kegiatan industrious manusia’ spt diutara….

Sepertinya supaya tidak bias berkepanjangan, tidak buang waktu menelan 
kegagalan  dn spy lbh efektif  …..kita perlu lbh memperdalam/ memperkokoh  lagi 
 tafsir atas cita2  ttg ‘pusat pertumbuhan baru’ itu ……sama sbgmn kita sampai 
saat ini masih memiliki tafsir ganda dan paradoksal ttg ‘kawasan tertinggal’ 
atau malahan juga sekedar  ttg ‘countermagnet city’. kutub pertumbuhan, 
hirarkhi kota dsb…….

Pengertian dan ‘harapan’  dari berkembangnya ‘pusat pertumbuhan baru’ kiranya 
perlu kita cermati ……bhw selain ia harus memiliki ‘leading activities’ atau  
‘propulsive activities’ yg mandiri dan sustainable …….namun juga  pd saat yg 
sama agar dipastikan ia mampu pula membangkitkan datangnya arus migrasi dari 
berbagai lapisan masyarakat  (termasuk dalam artian yg sering dianggap enteng 
:  istri dan anak2 …..dan bukan hanya bujangan saja) …..maupun agar ia  juga 
mampu menarik berdirinya berbagai macam aktivitas usaha baru dari multi sektor 
yg sangat luas……..

Dgn demikian brkali dari sini saja kita sdh akan mampu mengidentifikasi ttg 
pilihan strategi menumbuhkan pusat2 baru’ ….…ialah pertama ……apakah kita kapan 
saja akan selalu lbh utamakan berdirinya ‘leading activities dgn teknologi yg 
benar dan ideal’ (yg ‘kalaupun berhasil’ masih tak jelas efek migrasinya apakah 
akan menarik bujangan saja ataukah mampu  menarik juga istri dan anak2)   
…….ataukah mengutamakan  ‘leading activities yg secara meyakinkan mampu 
membangkitkan munculnya arus migrasi yg kuat’ ……dan yg mampu membangkitkan 
multipler effect yg kuat pula berupa berdirinya berbagai macam ragam aktivitas 
usaha pd multisektor yg luas ……baik formal  dan informal …..sektor modern dan 
tradisional …maupun juga maaf  ….sekali lagi ….mampu meyakinkan para bujangan 
utk membawa serta istri dan anak2nya berpindah dan menetap……

Bhw faktor istri dan anak2 akan membawa kita pada pemikiran ttg ‘lingkungan 
pemukiman’ serta sarananya ……. Akhirnya kita tahu …..bhw kalau demikian maka 
kita seharusnya sadar bhw ternyata yg namanya konsep ttg ‘pusat pertuimbuhan 
baru’ itu seharusnya  sekaligus  juga secara terpadu dan tak boleh terpisah 
perlu mencantumkan pula skenario ttg desain kota dan sekaligus urban planning 
…….

Bahkan bukan hanya itu …….kalau kesadaran kita semua telah meningkat  sampai 
pada parameter ‘keberhasilan migrasi’ yg diukur dari ‘dibawanya serta istri dan 
anak2’ (yg mengindikasikan keperluan  perumahan, sekolah, pasar, rumah sakit 
dan sarana  rekreasi terjawab pula) ……kitapun dari situ akan sampai pula pd 
kesadaran bhw kalau absoluditas ‘keberhasilan migrasi’  itu hrs menyangkut 
multisektor yg luas (atau sama dengan  menyangkut strata masyarakat yg luas) 
……lalu maka sejak sekarang kita seharusnya mampu berpikir pula bhw “kalo 
gitu”…….maka sejak sekarang seharusnya kita hanya akan lbh banyak merancang 
strategi ‘pusat pertumbuhan baru’ dgn berkait dgn level dan atmosfir ‘kota 
metropolitan’ ……dan bukannya pusat2 berbasis ladang2 gas, minyak atau bahkan  
emas ditempat terpencil seperti Donggi-Senoro……… krn brkali akan tetap lbh 
ekonomis bila gas itu cukup dialirkan saja atau dikapalkan saja kepusat2
 pertumbuhan berbasis kota dan manusia ……..sama spt  aktivitas pertambangan 
minyak oleh Exxon Mobil di Cepu juga tidak serta merta menarik datangnya 
rencana berbagai investasi pabrik datang mendekat kesana dan cukuplah Surabaya 
tetap menjadi basis industri dan pemukiman manusianya …….apakah begitu 
....salam, 
aby        

--- On Thu, 6/24/10, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:


From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK
To: [email protected]
Date: Thursday, June 24, 2010, 8:45 PM


  




 
Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers,
 
Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan  saya berada dalam rapat 
koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin 
boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut 
dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam 
pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan 
oleh Bappenas. 
 
Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi 
Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas 
baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide 
agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang 
gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk 
Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang 
paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk 
domestik.
 
Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini 
pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif  pengembangan  
Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan  Daerah. 
Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy 
dalam pembangunan daerah he he...
 
Salam hangat selalu
 
Nuzul Achjar  
 
 
 
 
 
 







      

Kirim email ke