Bu Cut, sebenarnya kalau mau mendalami masalah Jabotabek atau sekarang disebut Jabodetabek (kalau mau konsisten disebut "Jago de tatang seba") bisa mulai dr keresahan pemerintah th 1972 akibat booming minyak dan memunculkan semangat pengembangan wilayah. Waktu itu terjadi wacana ledakan penduduk Jakarta. Sampai akhirnya terjadi Inpres 13/76. Disana ada 3 butir keputusan yg penting yi: renc pengemb wilayah Jabotabek dan pembentukan BKSP.
Nah disinilah bedanya dg Batam. Waktu itu keputusan ttg Batam juga sama, penyebabnya juga sama (kebetulan DTKTD-PU sama2 diminta merenc.), menyiapkan renc dan menyiapkan institusi pelaksana. Bedanya Jabotabek diserahkan ke daerah, Batam di Pusat melalui otorita. Nah kalau proses perijinan di Jabotabek langsung ditangani oleh daerah shg bisa cepat, Batam terjadi duplikasi antara perijinan otorita dan daerah. Ini tercermin dg konflik yg terjadi antara otorita dg daerah. Kedua, krn daerah tdk punya posisi utk ngembangkan daerahnya maka timbul proses pembiaran. Sementara Jabotabek didorong pertumbuhannya krn punya financial effect kpd daerahnya. Buktinya adalah munculnya 'Ruli' yg sangat meresahkan waktu itu. Akibatnya ada efek penghambat utk pertumbuhan kotanya. Ketiga, perbedaan yg menonjol adalah kecepatan tumbuh dr wing barat-wing timur Jabotabek dg diselesaikannya toll road, khususnya ke arah barat. Sementara Batam tdk didukung infrastruktur yg memadai utk tumbuh. Sbg perbandingan listrik yg dipasok di wilayah barat Jabotabek langsung diantisipasi dg pembangunan 2 PLTU baik muara karang maupun suralaya (meski alasannya utk trans jawa, tapi itu plus point utk tangerang cs). Sementara kita ketahui bhw Batam pernah shortage. Apalagi setelah era Habibie lewat. Keempat, ada rasa kepemilikan kolektif dr pembuat keputusan di jakarta (Pusat), sementara Batam seakan akan milik BPPT atau ristek cq habibie. Ya tentu menghambat pertumbuhan pembangunan tsb. Apalagi jaman suharto disana ada Probosutejo, Sudwikatmono, Liem Swi Liong. Bandingkan dg Batam yg relatif hanya 1 anchor. Kemudian, argumen mengenai location theory Jakarta-Serpong dibandingkan Batam-Singapura kok tdk relevan ya. Bukan krn Sing berjarak lbh jauh dr Batam sementara Serpong tdk. Sebenarnya kalau kasus pengembangan properti kelas menengah utk melayani kebutuhan ruang bagi kegiatan services utk melayani costumer dr Sing itu tdk ada, Batam akan lbh cepat lagi bergerak. Tapi yaitulah krn Ruli. Jadi bukan masalah keruangan yg menyebabkan, renc sdh dibangun dg basik, tetapi lbh krn masalah ketepatan dlm meletakkan otoritas pembangunan. Bu Ida saat ini saya yakin bisa bercerita banyak ttg hal ini. Salam bambang sp Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: cut safana <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 27 Jun 2010 21:13:11 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD Yth. Bp. BSP, Bp. BTS, Pak Deni dan milisters. Terima kasih informasinya Bapak-Bapak, walaupun hanya bagian dari tim yang menyelesaikan perencanaan wilayah regional nya, tetapi toh yang jelas yang PNS termasuk Pak SBA merupakan wakil dari Pemerintah, (kok saya yang bangga ya ?) dan rencana wilayah regional yang disusun tetap merupakan dasar pengembangan selanjutnya, yang berhasil dan berkembang pesat saat ini. Ini yang kita harapkan dari pemerintah kabupaten/kota saat ini, yaitu jangan menyusun RTRW kabupaten/kota karena diamanatkan/dipaksa oleh UU No 26/2007, tetapi ya memang kebutuhan. Demikian pula, jika Perda RTRW tidak dapat diimplementasikan, tolong dibuat rencana detailnya, wake up !. Kalau dari awal kita sadar akan hal ini, mungkin Jakarta sebagai Ibu Kota negara, tidak seperti ini, tentunya dengan sedikit mengenyampingkan masalah-masalah ekonomi sekelompok golongan, misal : moda transportasi. Pilihan roda 4 dan roda 2 merupakan alternatif terakhir masyarakat Jabodetabek. Bgmn kondisi 5 tahun kedepan ?. menyusul 10 tahun lagi Kota Bandung, Surabaya, Makassar ? Wallahu 'alam bissawab. Salam hangat. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, June 25, 2010 9:21:32 PM Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD Bu Cut, mmg benar yg merencanakan BSD adalah swasta dan itu termasuk mas BTS lho, lalu ada Pingky Pangestu dan Jo Santoso ... Mrk anggota milist ini tdk? Kaitannya dg pemerintah adalah dlm perenc. regionalnya. Waktu itu ada tim yg diminta menyusun renc regional namanya JMDP alias Jabotabek sbg pelaksanaan Inpres 13/76. Tapi renc itu tdk pernah ditetapkan dg peraturan. Baru sebagian dr Jabotabek terdiri dr 14 kec yg ditetapkan th. 92 melalui Renc Bopunjur. Mungkin ini bisa sedikit me refresh teman2 Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT ________________________________ From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Fri, 25 Jun 2010 22:46:29 +0800 (SGT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD Mbak Cut, setahu saya BSD itu tidak direncanakan oleh Pemerintah. Yang merencanakan dan yang membangun semua swasta. Pemerintah daerah hanya meng-iya-kan dan dapat pajaknya saja. Berkembangnya BSD akibat spill-over Jakarta. Kalau nggak ada Jakarta, BSD ya nggak jadi apa-apa. Thanks. CU. BTS. --- Pada Jum, 25/6/10, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> menulis: >Dari: cut safana <cutsaff...@yahoo. com> >Judul: Re: Bls [referensi] Fw: KEK >Kepada: refere...@yahoogrou ps.com >Tanggal: Jumat, 25 Juni, 2010, 11:06 AM > > > >Pak Aby, Pak Nuzul Ysh, >Terima kasih pencerahannya, mudah-mudahan penjabaran Pak Aby dan Pak Nuzul >akan terwujud. Namun walau bagaimanapun faktor efektifitas dan efisiensi >tetap menjadi salah satu dasar pertimbangan pilihan pengembangannya. >Contohnya, maaf, mungkin bukan suatu perbandingan yang tepat dan pengamatan >hanya secara general, tanpa dasar teori apapun. Perbedaan Batam dan BSD >-Tangerang, walau infrastruktur sudah dibantu dibangun di Batam, namun harga >lahan masih rendah (tidak ada 25 %nya Singapura), investasi masih tersendat, >belum menggembirakan. Sebaliknya BSD (yang direncanakan oleh Pemerintah >juga), tanpa dibantu infrastrukturnya, dapat sedemikian berkembang, 2-3 tahun >terakhir dibangun jalan bebas hambatan). Kita berdo'a semoga pengembangan KEK >ini dapat mengangkat perekonomian di Indonesia baik skala nasional maupun >regional/lokal, praktis dapat mengurangi jumlah pengangguran sekaligus >menurunkan persentase angka kemiskinan. >Salam hangat. > > > ________________________________ From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> >To: refere...@yahoogrou ps.com >Sent: Fri, June 25, 2010 8:15:57 AM >Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK > > > > >Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers, > >Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan saya berada dalam rapat >koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin >boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut >dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam >pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan >oleh Bappenas. > >Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi >Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas >baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah >ide agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar >ladang gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada >Pupuk Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang >paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk >domestik. > >Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini >pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif pengembangan >Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan Daerah. >Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy >dalam pembangunan daerah he he... > >Salam hangat selalu > >Nuzul Achjar > > > > > > >

