Ibu Cut Safana dan milisters ysh, Menyangkut tingkat perkembangan Batam yg menurut Ibu amat kurang memuaskan dibanding dgn BSD Tangerang misalnya (pdhal saya amat puas dgn perkembangan pesat dari Batam) ……saya kira proporsinya adlh sbb….. Pertama …Batam dan Singapura adlh hubungan antar 2 negara yg berbeda, jadi banyak sekali keleluasaan hubunganya yg terkendala ……setidaknya proses spill over dari Singapura ke Batam lbh terbatas menyangkut masalah investasi atau relokasi industri …..dan tdk lbh banyak menyangkut masalah pemukiman penduduknya atau ulang alik perjalanan ketempat kerja penduduk dari SIngapura ke Batam v.v….. Smtr itu Serpong adlh bagian dari Jabodetabek yg menempel kepada Jakarta tanpa halangan geografik apapun maupun juga tanpa halangan perbedaan ‘wilayah hukum’ apapun (sama2 satu negara) …..shg proses spill overnya baik menyangkut investasi maupun suburbanisasi penduduk berlangsung amatlah sempurna nyaris tanpa hambatan apapun …..spill over yg terjadi di Jkt hari2 ini adlh antara kota berpenduduk 9 atau 10 juta (Jkt) dan suburban sekitarnya (kini ada 4 kota metropolitan/ bodetabek) berpenduduk masing2 sekitar @ 1.5 juta jiwa……. Sementara itu spillover penduduk di SIngapura kalaupun toh terjadi ..itu akan lbh merupakan spill-over amat terbatas ke Johor (hubungan antara kota Singapura berpenduduk 4/ 4.5 juta dan kawasn metropolitan Johor berpenduduk sekitr 2.7 juta jiwa) ……jadi maka kalau Batam yg pada thn 1970-an hanya berpenduduk 6.000an jiwa kini mampu berpenduduk diatas 915.000 jiwa …maka itu adlh sdh merupakan suatu prestasi migrasi SDM kita yg luar biasa bagus.......... Kemudian antara Batam dan Singapura juga dipisahkan oleh laut selebar 20 km …smntr itu Singapura dan Johor hanya dipisahkan oleh selat selebar 2 km dan diatasnya telah dibuat 2 jalan raya dan jembatan penghubung (jadi keduanya dpt dikatakan nyaris menyatu) ……jadi dari sini saja sdh terlihat bhw spillover Singapura ke Johor/ Malaysia dpt dikatakan tak memiliki hembatan geografik apapun ……..ribuan pekerja dari Singapura tiap hari berkomuter ketempat kerjanya di Johor bahkan dgn mengendarai mobil pribadi (sesuatu yg tak mungkin terjadi dgn Batam) …….dan Batam jelas kalah jauh dalam hal keleluasaan spt itu ……maka itu kita harus melihat ‘kekurangan’ Batam dgn serba penuh pengertian …..dan boleh berprihatin bhw begitu sajapun ‘perkembangan pesat’ dari kota Batam itu masih ada jg yg mengkritik kenapa kok bukan pedalamannya Riau Kepulauan yg didulukan diperhatikan pembangunan fisiknya……. Terimasih banyak ibu Cut sdh melontarkan umpan diskusi yg masih menyangkut masalah keruangan dan tidak jawa dan jkt sentrisme(mohon terus ‘lanjutkan’)…..jadi kekhasan milis kita ini dapat terus muncul …..dan tak tenggelam oleh diskusi2 dgn topik2 non-keruangan…….salam, aby
--- On Fri, 6/25/10, cut safana <[email protected]> wrote: From: cut safana <[email protected]> Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK To: [email protected] Date: Friday, June 25, 2010, 4:06 AM Pak Aby, Pak Nuzul Ysh, Terima kasih pencerahannya, mudah-mudahan penjabaran Pak Aby dan Pak Nuzul akan terwujud. Namun walau bagaimanapun faktor efektifitas dan efisiensi tetap menjadi salah satu dasar pertimbangan pilihan pengembangannya. Contohnya, maaf, mungkin bukan suatu perbandingan yang tepat dan pengamatan hanya secara general, tanpa dasar teori apapun. Perbedaan Batam dan BSD -Tangerang, walau infrastruktur sudah dibantu dibangun di Batam, namun harga lahan masih rendah (tidak ada 25 %nya Singapura), investasi masih tersendat, belum menggembirakan. Sebaliknya BSD (yang direncanakan oleh Pemerintah juga), tanpa dibantu infrastrukturnya, dapat sedemikian berkembang, 2-3 tahun terakhir dibangun jalan bebas hambatan). Kita berdo'a semoga pengembangan KEK ini dapat mengangkat perekonomian di Indonesia baik skala nasional maupun regional/lokal, praktis dapat mengurangi jumlah pengangguran sekaligus menurunkan persentase angka kemiskinan. Salam hangat. From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Fri, June 25, 2010 8:15:57 AM Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers, Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan saya berada dalam rapat koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan oleh Bappenas. Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk domestik. Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan Daerah. Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy dalam pembangunan daerah he he... Salam hangat selalu Nuzul Achjar

