Uda eka ysh,
Sy hanya tertarik dgn phrasa "paradigma pembangunan perkotaan berbasiskan 
sumber daya air"..nampaknya ide sangat menarik, hanya jangan sampai misslead 
bahwa utk kota2 di tepi sungai besar tsb hanya cocok dgn paradigma tersebutn 
sehingga melupakan komponen sumber daya lainnya.meskipun sdh disebutkan kata 
"berbasis".buat saya, pembangunan kota..ya hanya pembangunan kota saja dgn 
segala aspeknya..
Just kidding saja he2..
Salam hormat..
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Uton Rustan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 20 Aug 2010 06:40:44 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Kota Sungai Besar

Mas ekaj, selain para pencinta perkotaan tampaknya juga perlu diajak bicara 
para ekonom bagaimana hasil sayembara perbaikan lingkungan bagian kota dapat 
didanai pelaksanaannya. Supaya dengan main sepetak demi sepetak, penataan dan 
perbaikan lingkungan bagian kota bisa dilaksanakan dengan berkesibanbungan, 
tidak seperti karyanya Romo Mangun, setelah dapat AgaKhan Award, tidak 
berkelanjutan ke petak2 bagian kota Jogya lainnya. Sayang..

--- On Thu, 19/8/10, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Kota Sungai Besar
To: [email protected]
Date: Thursday, 19 August, 2010, 12:00 PM







 



  


    
      
      
      Pak ATA dan Pak Uton ysh.
Karena bapak berdua ini 'maqom'nya sudah tinggi, saya teringat dengan ungkapan 
Minang: alun takilek alah takalam, baru beriak air di kolam sudah tahu 
jantan-betinanya ikan di dalam. Memang dari pandangan bapak-bapak ini 
sebenarnya kita sedang menggocek paradigma pembangunan perkotaan yang berbasis 
sumber daya air.

Saya kira terilhami dengan 'kenapa ada sayembara untuk Banjarmasin?', 
ditunjukkan dari diskusi sekilas kita kalau faktor air cukup atau bisa dominan 
dalam kehidupan perkotaan. Mengingat adanya peserta dari mancanegara yang 
mungkin tidak mengenali secara pasti kondisi sebenarnya, berarti ada 
dalil-dalil umum yang tersimpan pada kota-kota air. Dan kebetulan kita punya 
buanyak kota-kota air. Dari perspektif peserta dan juri sayembara, 
mudah-mudahan kita mendapatkan argumentasi dan dalil, untuk mengembangkan 
paradigma pembangunan perkotaan kita. Salam.

 
-ekadj

2010/8/19 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>


  



Rekans ysh, 


List sungai dan kota yang dilewati merupakan awal identifikasi peluang dan 
permasalahan pengembangannya.


Tahap berikutnya adalah menelusuri karakteristik peluang dan masalah yang 
terkait dengannya, dari aspek alami dan buatan manusia, baik yang berupa risiko 
(dampak negatif bahkan bencana bila diabaikan, maupun peluang positif bila 
diantisipasi sebelumnya) maupun manfaat lebih bila dikembangkan secara lebih 
arif pula (lingkungan perubahan alam maupun peningkatan kualitas budaya 
manusia). Contoh dan pengalaman dari bagian dunia lain perlu dikaji peluang 
pengelolaannya. Penemuan dan perkembangan baru dalam IpTek dapat merupakan 
peluang menghadapi tantangan yang dapat dihadapi. Temuan serta konsekuensi 
pengembangan dan pengelolaannya perlu dikembangkan juga bersama perkembangan 
kultur masayarakat yang terkait dengannya.



Tidak semua sungai besar berpotensi positif, tidak semua sungai kecil terbatas 
peluang pengembangannya. Selain kajian dari sisi cakupan DAS, juga kesatuan 
sistem sungai dan kebijakan pengelolaannya dari hulu hingga muara dan pesisir 
sekitarnya serta perkembangan di daratan dan iklim yang berpen garuh setempat 
harus menjadi dasar pengembangan oleh pengelola kawasan setempat. 



Dari kajian tersebut akan diperoleh bukan saja peluang pengembangannya namun 
juga tinjauan kembali kepada pakem lama yang semula masih berlaku, misalnya 
apakah garis sempadan (daratan tepian) sungai dan pantai merupakan ketentuan 
baku diseluruh Indonesia atau tergantung lokasi dan perkembangan peluang iptek 
dan manajemen setempat dan antar tempat untuk mengelolanya. Apakah sebaliknya 
garis sempadan perairan terhadap garis pangkal sungai atau pantai perlu mulai 
dikembangkan, sesuai dengan perkembangan fungsi dan penyesuaian terhadap risiko 
dan manfaat pengembangannya sesuai perkembangan iptek dan kearifan lingkungan 
serta kemampuan pengelolaan oleh pemangku kepentingan setempat dan sekitarnya. 



Dalam hal tersebut sebelumnya, konsep dan acuan "garis sempadan" dapat 
berkembang karena fungsi sesungguhnya suatu sempadan adalah kesepakatan yang 
dibuat berdasarkan perkembangan alam dan iptek dalam suatu waktu-ruang tertentu 
demi "keselamatan dan kesejahteraan manusia" yang berpeluang dipengaruhi oleh 
perubahan perilaku alam tertentu.  Jadi penentuan sempadan tersebut bukan demi 
"keamanan sungai" karena semua unsur alam selalu berubah dan berkembang dalam 
setiap waktu-ruangnya sesuai hukum alam. Sedangkan jenis dan tingkat risiko 
pemanfaatan alam terhadap manusia dipengaruhi oleh jenis dan tingkat risiko 
perkembangan dan kearifan pemanfaatan iptek dalam proses pemanfaatan tersebut. 



Masih banyak PR yang perlu kita susun bersama dari setiap sektor ataupun posisi 
kita berada. 
Selamat mengembangkan.


ATA



2010/8/18 muhammad koeswadi <[email protected]>


  








Mas Eka, sekedar ikut nambahi (barangkali bener)...



7. Bengawan Solo Jateng
8. Kali Brantas Jatim
9. Cisadane - Jabar/Banten
10. S.Landak Kalbar
11. S Mempawah - Kalbar
12. S. Serayu - Jateng
13. Sungai macam2 di Kalimantan yg mana penduduk asli dan pendatang (Madura, 
Banjar) memanfaatkannya dari dulu hingga sekarang.
 
Dalam skala pendek (kecil/sempit/dangkal) banyak sungai telah digunakan 
membentuk peradaban. Tambahan, sungai2 di P.Jawa disebutkan memiliki ciri: 1. 
sebagai sungai yang pendek-pendek (jarak antara hulu hingga muara). 2. sebagai 
sungai yang volume airnya tidak ajeg (intermiten? atau apa...maaf lupa). 
Maksudnya pada musim hujan deras dan mbludag, sebaliknya kering (umprik) dan 
agak jernih. Barang kali karakter ini juga perlu disimak. 

Mungkin yang perlu (selanjutnya) memberi batasan kepada: sungai (fisik), 
sebaran pemukiman, budaya, dst...guna mempersiskan pendataannya...makasih, 
selamat mencoba. bravo. Salam, Koes.
 


--- On Wed, 18/8/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Kota Sungai Besar
To: [email protected]

Date: Wednesday, 18 August, 2010, 21:02 





  


Pak ATA dan Referensiers ysh.
Memahami pemikiran Pak ATA, kota-kota sungai kita sudah saatnya diunggulkan 
melalui kreasi pembangunan kota. Saya ingin mendata kota-kota sungai (besar) 
kita, di antaranya bisa dilintasi perahu ukuran sedang, melalui memori 
rekan-rekan :

1. Pekanbaru - Sungai Siak
2. Jambi - Sungai Batanghari
3. Palembang - Sungai Musi
4. Pontianak - Sungai Kapuas
5. Banjarmasin - Sungai Martapura dan Barito
6. Samarinda - Sungai Mahakam
7. ...
8. ...
 
Mohon partisipasi rekan-rekan. Salam.
 
-ekadj

2010/8/18 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>


  



Pak Uton, Pak Deni, Pak Ekadj, dan referensier ysh, 


Saya sangat mendukung apabila kota perairan, kota pantai dan kota kepulauan 
dikembangkan sebagai salah satu bahan kajian utama (unggulan) pengembangan 
wilayah dan perkotaan di negara kepulauan Indonesia ini. Pengembangan pemikiran 
dan gagasannya dapat saja melalui berbagai sayembara, mulai dengan 
sepotong-sepotong namun mendalam, kemudian dilanjutkan dengan kawasan yang 
lebih luas. 



Mengenang perasaan kami waktu menelusuri "Venesia" sungai Martapura dan 
permukiman terapung dan di atas air Mentuil dan Bajo di Wakatobi, saya jadi 
teringat kepada berbagai contoh-contoh pengembangan kawasan perairan di 
berbagai bagian dunia ini. Berbagai cara pengolahan tepi sungai di salah satu 
bagian tepi sungai kota Brisbane, Melbourne, pesisir Singapura , bahkan 
kota-kota baru di China dan banyak tepi sungai dan pantai kota lainnya dapat 
menjadi contohnya. Wisata sungai yang dikombinasikan dengan pengolahan di 
sekitar pintu-pintu air di kota-kota sekitar Reading atau jalur air di 
Cambridge (UK) ataupun sungai (ex-sungai kumuh & highway) di Seoul ataupun 
alur-alur air di kota-kota Jepang juga merupakan contoh kemungkinan peningkatan 
kualitas dan sumber wisata lingkungan buatan yang memanfaatkan perairan sebagai 
bagian dari "jualan" suatu kota. 



Daya tarik tersebut tentu mampu mengundang lahirnya kegiatan ekonomi kota 
seperti yang diidam-idamkan Eyang Aby selama ini. Walaupun tidak melalui 
pembidanan Metropolitan atau counter magnet baru, pengembangan potensi unggulan 
di setiap daerah/kota secara incremental atau peacemeal mungkin lebih 
tertangani untuk membantu pengembangan mereka. Dengan sayembara-sayembara 
tersebut, dibantu media masa, perubahan cara pandang para "penggemar (kalau 
kata "pakar" tidak cocok) aspek keruangan" maupun penentu kebijakan pusat 
hingga daerah mungkin dapat lebih berkembang dan terbuka. Dengan meningkatnya 
alternatif pengembangan kawasan yang tadinya hampir dijadikan "daerah belakang" 
tersebut, maupun "blow up" berbagai pelaksanaannya di Indonesia selama ini, 
walaupun masih sepotong-sepotong tersebut, selain merupabah pola pikir dan tata 
nilai warga kota setempat maupun yang di daerah serupa juga dapat melahirkan 
peluang berkembangnya berbagai gagasan baru penerapan
 iptek serta daya tarik investasi bagi pengembang lokal maupun luar untuk 
merubah strategi penanaman modal dan merealisasikan.           



Saya percaya bahwa selain pemikiran kreatif, berbagai realisasi gagasan 
tersebut di berbagai bidang yang sedang ditangani para rekans sekalian akan 
mampu secara akumulatif merealisasikan terwujudnya ruang-ruang peralihan dan 
interaksi tanah dan air yang lebih kaya, berkualitas, produktif dan bermanfaat 
bagi generasi kini maupun mendatang. Dalam suasana merayakan hari proklamasi 
merdekanya tanah-air ini semoga kemerdekaan berkreasi ini juga membawa 
kesejahteraan bagi mereka yang berkehidupan di sekitar daratan maupun perairan 
negara kepulauan ini.



Merdeka.....


ATA    










    
     

    
    


 



  






Kirim email ke