Rekans ysh, Karena mas Indra menyinggung masalah jembatan (Banjarmasin) saya jadi teringat pengalaman masa lalu. Waktu menelusuri sungai Ciliwung dari Depok sd Teluk Jakarta, saya merekam beberapa catatan kecil:
1. Beberapa jembatan tidak dirancang untuk memberi peluang untuk lewatnya kapal/perahu di bawahnya, terutama saat air pasang. 2. Rancangan bagian bawah beberapa jembatan tidak dirancang agar tidak memberi peluang sebagai tempat tinggal darurat masyarakat tertentu yang tidak beruntung memperoleh tempat bermukim selain kolong jembatan. Tentu ini belum termasuk rencana peruntukan dan rancangan struktur fisik sepanjang tepi sungai yang masih banyak yang memberi peluang untuk membangun perumahan darurat yang tidak mudah teridentifikasi pengelola kota maupun mudahnya membuang sampah tanpa terpantau masyarakat sekitar bagi warga yang tidak bertanggung jawab. Mungkin ini dapat menjadi masukan bagi para perancang bangunan jembatan dan tata ruang sungai. Salam, ATA 2010/8/20 Indra Budiman Syamwil <[email protected]> > > > Pak ATA, Pak Ukon dan Uda Eka Ysh, > > Kebetulan saya lama berbincang dalam kesempatan sayembara dengan peserta > dari Leuven itu. Saya ketahui dari diskusi dan brosur yang diberikan > mereka mempunyai laboratorium yang cukup mumpuni yang merupakan hybrid > dari ilmu arsitektur, urban desain dan planning serta tata kelola dan > rekayasa hidrologi. Mereka mengistilahkan sebagai 'water urbanism'. Bagi > mereka banyak penyelesaian perkotaan di dunia ini yang tidak diselesaikan > secara 'strategis'. Banyak perencanaan kota yang tidak didasarkan kepada > permasalahan mendasar yang futuristik dari perkotaan tersebut, yaitu > kelangkaan air dan kendala serta bencana yang disebabkan air di masa > mendatang. > > Memang sering kita mencampur adukkan yang visioner, strategis dan yang > immediate, seperti di restoran Padang ya Pak Eka, semua kumplit di meja, > rendang, dendeng batokok, gulai daun pucuk ubi, pangek jo gulai masin emh > .... bisa batal nih puasa. > > Harus ada suatu 'paradigm inquiry' yang diusung (sebagai 'key driver'), > sungguhpun secara lateral aspek lain juga disinergikan. Kalau memang di > Banjarmasin isu nya adalah pengendalian hidrologi, kualitas air serta > termaginalkannya dan kemiskinan struktural masyarakat pinggir sungai, > let's be it sebagai 'key driver' dalam perencanaan perkotaannya. Itu > sebabnya kota kita dari yang di pantai, di sungai, di gunung sama saja > karakternya, alias tidak berkarakter. Tidak mudah membalikkan sungai dari > di belakang rumah menjadi kembali di depan rumah. > > Tahun 1984 saya berkunjung ke Banjarmasin keliling ke lima kota sebagai > anggota tim World Bank, saya masih melihat bagaimana penduduk di tepian > Barito bisa masuk melalui sungai-sungai kecil di depan jalan besar maupun > kecil dengan sampannya sampai ke pasar tradisional di tengah kota > menjajakan beberapa tandan pisang dan sayur mayur. Sekarang semua sungai > dan parit kecil itu tertutup oleh jembatan Ruko yang menjamur di jalan > protokol. > > Mungkin kita perlu melihat inter-moda sungai dan transportasi darat > sebagai konsep transit development bagi kota sungai seperti banjarmasin. > > Wass, > Indra B Syamwil > > ------------- > > > Pak ATA dan Pak Uton ysh. > > Karena bapak berdua ini 'maqom'nya sudah tinggi, saya teringat dengan > > ungkapan Minang: alun takilek alah takalam, baru beriak air di kolam > sudah > > tahu jantan-betinanya ikan di dalam. Memang dari pandangan bapak-bapak > ini > > sebenarnya kita sedang menggocek paradigma pembangunan perkotaan yang > > berbasis sumber daya air. > > Saya kira terilhami dengan 'kenapa ada sayembara untuk Banjarmasin?', > > ditunjukkan dari diskusi sekilas kita kalau faktor air cukup atau bisa > > dominan dalam kehidupan perkotaan. Mengingat adanya peserta dari > > mancanegara > > yang mungkin tidak mengenali secara pasti kondisi sebenarnya, berarti ada > > dalil-dalil umum yang tersimpan pada kota-kota air. Dan kebetulan kita > > punya > > buanyak kota-kota air. Dari perspektif peserta dan juri sayembara, > > mudah-mudahan kita mendapatkan argumentasi dan dalil, untuk mengembangkan > > paradigma pembangunan perkotaan kita. Salam. > > > > -ekadj > > 2010/8/19 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]<takdir65%40gmail.com> > > > > > >> > >> > >> Rekans ysh, > >> > >> List sungai dan kota yang dilewati merupakan awal identifikasi peluang > >> dan > >> permasalahan pengembangannya. > >> > >> Tahap berikutnya adalah menelusuri karakteristik peluang dan masalah > >> yang > >> terkait dengannya, dari aspek alami dan buatan manusia, baik yang berupa > >> risiko (dampak negatif bahkan bencana bila diabaikan, maupun peluang > >> positif > >> bila diantisipasi sebelumnya) maupun manfaat lebih bila dikembangkan > >> secara > >> lebih arif pula (lingkungan perubahan alam maupun peningkatan kualitas > >> budaya manusia). Contoh dan pengalaman dari bagian dunia lain perlu > >> dikaji > >> peluang pengelolaannya. Penemuan dan perkembangan baru dalam IpTek dapat > >> merupakan peluang menghadapi tantangan yang dapat dihadapi. Temuan serta > >> konsekuensi pengembangan dan pengelolaannya perlu dikembangkan juga > >> bersama > >> perkembangan kultur masayarakat yang terkait dengannya. > >> > >> Tidak semua sungai besar berpotensi positif, tidak semua sungai kecil > >> terbatas peluang pengembangannya. Selain kajian dari sisi cakupan DAS, > >> juga > >> kesatuan sistem sungai dan kebijakan pengelolaannya dari hulu hingga > >> muara > >> dan pesisir sekitarnya serta perkembangan di daratan dan iklim yang > >> berpen > >> garuh setempat harus menjadi dasar pengembangan oleh pengelola kawasan > >> setempat. > >> > >> Dari kajian tersebut akan diperoleh bukan saja peluang pengembangannya > >> namun juga tinjauan kembali kepada pakem lama yang semula masih berlaku, > >> misalnya apakah garis sempadan (daratan tepian) sungai dan pantai > >> merupakan > >> ketentuan baku diseluruh Indonesia atau tergantung lokasi dan > >> perkembangan > >> peluang iptek dan manajemen setempat dan antar tempat untuk > >> mengelolanya. > >> Apakah sebaliknya garis sempadan perairan terhadap garis pangkal sungai > >> atau > >> pantai perlu mulai dikembangkan, sesuai dengan perkembangan fungsi dan > >> penyesuaian terhadap risiko dan manfaat pengembangannya sesuai > >> perkembangan > >> iptek dan kearifan lingkungan serta kemampuan pengelolaan oleh pemangku > >> kepentingan setempat dan sekitarnya. > >> > >> Dalam hal tersebut sebelumnya, konsep dan acuan "garis sempadan" dapat > >> berkembang karena fungsi sesungguhnya suatu sempadan adalah kesepakatan > >> yang > >> dibuat berdasarkan perkembangan alam dan iptek dalam suatu waktu-ruang > >> tertentu demi "keselamatan dan kesejahteraan manusia" yang berpeluang > >> dipengaruhi oleh perubahan perilaku alam tertentu. Jadi penentuan > >> sempadan > >> tersebut bukan demi "keamanan sungai" karena semua unsur alam selalu > >> berubah > >> dan berkembang dalam setiap waktu-ruangnya sesuai hukum alam. Sedangkan > >> jenis dan tingkat risiko pemanfaatan alam terhadap manusia dipengaruhi > >> oleh > >> jenis dan tingkat risiko perkembangan dan kearifan pemanfaatan iptek > >> dalam > >> proses pemanfaatan tersebut. > >> > >> Masih banyak PR yang perlu kita susun bersama dari setiap sektor ataupun > >> posisi kita berada. > >> Selamat mengembangkan. > >> > >> ATA > >> > >> 2010/8/18 muhammad koeswadi > >> <[email protected]<m_koeswadi%40yahoo.co.uk> > > > >> > >>> > >>> > >>> Mas Eka, sekedar ikut nambahi (barangkali bener)... > >>> 7. Bengawan Solo Jateng > >>> 8. Kali Brantas Jatim > >>> 9. Cisadane - Jabar/Banten > >>> 10. S.Landak Kalbar > >>> 11. S Mempawah - Kalbar > >>> 12. S. Serayu - Jateng > >>> 13. Sungai macam2 di Kalimantan yg mana penduduk asli dan pendatang > >>> (Madura, Banjar) memanfaatkannya dari dulu hingga sekarang. > >>> > >>> Dalam skala pendek (kecil/sempit/dangkal) banyak sungai telah digunakan > >>> membentuk peradaban. Tambahan, sungai2 di P.Jawa disebutkan memiliki > >>> ciri: > >>> 1. sebagai sungai yang pendek-pendek (jarak antara hulu hingga muara). > >>> 2. > >>> sebagai sungai yang volume airnya tidak ajeg (intermiten? atau > >>> apa...maaf > >>> lupa). Maksudnya pada musim hujan deras dan mbludag, sebaliknya kering > >>> (umprik) dan agak jernih. Barang kali karakter ini juga perlu disimak. > >>> Mungkin yang perlu (selanjutnya) memberi batasan kepada: sungai > >>> (fisik), > >>> sebaran pemukiman, budaya, dst...guna mempersiskan > >>> pendataannya...makasih, > >>> selamat mencoba. bravo. Salam, Koes. > >>> > >>> > >>> > >>> --- On *Wed, 18/8/10, - ekadj <[email protected] <4ekadj%40gmail.com>>* > wrote: > >>> > >>> > >>> From: - ekadj <[email protected] <4ekadj%40gmail.com>> > >>> Subject: [referensi] Kota Sungai Besar > >>> To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com> > >>> Date: Wednesday, 18 August, 2010, 21:02 > >>> > >>> > >>> > >>> Pak ATA dan Referensiers ysh. > >>> Memahami pemikiran Pak ATA, kota-kota sungai kita sudah saatnya > >>> diunggulkan melalui kreasi pembangunan kota. Saya ingin mendata > >>> kota-kota > >>> sungai (besar) kita, di antaranya bisa dilintasi perahu ukuran > >>> sedang, melalui memori rekan-rekan : > >>> 1. Pekanbaru - Sungai Siak > >>> 2. Jambi - Sungai Batanghari > >>> 3. Palembang - Sungai Musi > >>> 4. Pontianak - Sungai Kapuas > >>> 5. Banjarmasin - Sungai Martapura dan Barito > >>> 6. Samarinda - Sungai Mahakam > >>> 7. ... > >>> 8. ... > >>> > >>> Mohon partisipasi rekan-rekan. Salam. > >>> > >>> -ekadj > >>> 2010/8/18 abimanyu takdir alamsyah > >>> <[email protected] <takdir65%40gmail.com>< > http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > >>> > > >>> > >>> > >>> Pak Uton, Pak Deni, Pak Ekadj, dan referensier ysh, > >>> > >>> Saya sangat mendukung apabila kota perairan, kota pantai dan kota > >>> kepulauan dikembangkan sebagai salah satu bahan kajian utama (unggulan) > >>> pengembangan wilayah dan perkotaan di negara kepulauan Indonesia ini. > >>> Pengembangan pemikiran dan gagasannya dapat saja melalui berbagai > >>> sayembara, > >>> mulai dengan sepotong-sepotong namun mendalam, kemudian dilanjutkan > >>> dengan > >>> kawasan yang lebih luas. > >>> > >>> Mengenang perasaan kami waktu menelusuri "Venesia" sungai Martapura dan > >>> permukiman terapung dan di atas air Mentuil dan Bajo di Wakatobi, saya > >>> jadi > >>> teringat kepada berbagai contoh-contoh pengembangan kawasan perairan di > >>> berbagai bagian dunia ini. Berbagai cara pengolahan tepi sungai di > >>> salah > >>> satu bagian tepi sungai kota Brisbane, Melbourne, pesisir Singapura , > >>> bahkan > >>> kota-kota baru di China dan banyak tepi sungai dan pantai kota lainnya > >>> dapat > >>> menjadi contohnya. Wisata sungai yang dikombinasikan dengan pengolahan > >>> di > >>> sekitar pintu-pintu air di kota-kota sekitar Reading atau jalur air di > >>> Cambridge (UK) ataupun sungai (ex-sungai kumuh & highway) di Seoul > >>> ataupun > >>> alur-alur air di kota-kota Jepang juga merupakan contoh kemungkinan > >>> peningkatan kualitas dan sumber wisata lingkungan buatan yang > >>> memanfaatkan > >>> perairan sebagai bagian dari "jualan" suatu kota. > >>> > >>> Daya tarik tersebut tentu mampu mengundang lahirnya kegiatan ekonomi > >>> kota > >>> seperti yang diidam-idamkan Eyang Aby selama ini. Walaupun tidak > >>> melalui > >>> pembidanan Metropolitan atau counter magnet baru, pengembangan potensi > >>> unggulan di setiap daerah/kota secara incremental atau peacemeal > >>> mungkin > >>> lebih tertangani untuk membantu pengembangan mereka. Dengan > >>> sayembara-sayembara tersebut, dibantu media masa, perubahan cara > >>> pandang > >>> para "penggemar (kalau kata "pakar" tidak cocok) aspek keruangan" > >>> maupun > >>> penentu kebijakan pusat hingga daerah mungkin dapat lebih berkembang > >>> dan > >>> terbuka. Dengan meningkatnya alternatif pengembangan kawasan yang > >>> tadinya > >>> hampir dijadikan "daerah belakang" tersebut, maupun "blow up" berbagai > >>> pelaksanaannya di Indonesia selama ini, walaupun masih > >>> sepotong-sepotong > >>> tersebut, selain merupabah pola pikir dan tata nilai warga kota > >>> setempat > >>> maupun yang di daerah serupa juga dapat melahirkan peluang > >>> berkembangnya > >>> berbagai gagasan baru penerapan iptek serta daya tarik investasi bagi > >>> pengembang lokal maupun luar untuk merubah strategi penanaman modal dan > >>> merealisasikan. > >>> > >>> Saya percaya bahwa selain pemikiran kreatif, berbagai realisasi gagasan > >>> tersebut di berbagai bidang yang sedang ditangani para rekans sekalian > >>> akan > >>> mampu secara akumulatif merealisasikan terwujudnya ruang-ruang > >>> peralihan dan > >>> interaksi tanah dan air yang lebih kaya, berkualitas, produktif dan > >>> bermanfaat bagi generasi kini maupun mendatang. Dalam suasana merayakan > >>> hari > >>> proklamasi merdekanya tanah-air ini semoga kemerdekaan berkreasi ini > >>> juga > >>> membawa kesejahteraan bagi mereka yang berkehidupan di sekitar daratan > >>> maupun perairan negara kepulauan ini. > >>> > >>> Merdeka..... > >>> > >>> ATA > >>> > >>> > >>> > >> > >> > > > > Indra Budiman Syamwil, PhD > Human Settlement Research Group > School of Architecture, Planning and Policy Development > Institut Teknologi Bandung > Indonesia > > >

