Pyuhh... :)
2011/8/18 positif01 <[email protected]>
> **
>
>
> Pertanyaan "mengapa" atas rencana manajemen KIJA untuk melakukan 'right
> issue' pada harga Rp250 yang jauh di atas harga pasar tertinggi saat ini,
> akan menjelaskan informasi yang kami indikasikan beberapa waktu sebelumnya
> mengapa 'well-informed foreign traders/investors' memutuskan
> mendistribusi/keluar pada harga yang dipandang baik dan masih terhitung
> sangat mahal ('over-price') saat ini (Rp190-200). Dua (2) hal penting
> jawabnya: 1) skenario seputar pricing 'right issue', dan 2) valuasi pasar;
> penutup: alternatif.
>
> Ringkasnya sebagai berikut:
>
> 1) *skenario pricing 'right issue'*
>
> Lihat contoh/praktik wajar pricing 'right issue' big name and big cap:
> -UNTR - 03 Mei 2011 (rilis prospektus RI kepada BEI): execution price:
> Rp15.050 - closing price (03 Mei 2011): Rp23.450; diskon -35,82%
> -BMRI - 28 Desember 2010 (rilis prospektus RI kepada BEI): execution price:
> Rp5.000 - closing price (28 Desember 2010): Rp6.450; diskon -22,48%
>
> UNTR/BMRI adalah contoh dari hampir semua 'secondary offering' yang pasti
> memberikan harga eksekusi dengan diskon dari harga pasar. Logikanya sangat
> sederhana. Right issue adalah alternatif pendanaan ('fund raising') untuk
> agenda korporasi di luar pinjaman bank. Tidak ada pendanaan tanpa biaya
> ('cost of fund') bagi emiten. Pinjaman bank mengenakan bunga maka 'secondary
> offering' memberikan 'profit margin' bagi pemberi dana sehingga harga
> eksekusi diberikan diskon.
>
> KIJA?
> 16 Agustus 2011 (rilis prospektus RI kepada BEI): execution price: Rp250 -
> closing price (03 Mei 2011): Rp192; harga eksekusi/harga pasar +30.21%
> (tanpa diskon dan pemberi dana/shareholders justru membayar ekstra).
>
> Kok bisa?
> Ya, jelas bisa kalau prospektus 'right issue'-nya dicermati mendalam. Dan,
> akan sampai pada kesimpulan bahwa Rp250 bukan harga riil eksekusi bagi
> 'stand-by buyer', tetapi ongkos riil bagi 'non-informed secondary offering
> buyers'.
> -Rencana penggunaan dana: akuisisi PT Banten West Java Tourism Development
> (BWJ) dan PT Tanjung Lesung Leisure Industry (TLLI).
> -Siapa pemilik BWJ? Meadowood Capital, Ltd. (77,72%); Green Emerald
> Investment, Ltd. (10,29%)
> -Siapa pemilik TLLI? BWJ (78,73%)
> -Siapa stand-by buyer right issue? Meadowood Capital Ltd. dan Green Emerald
> Investment Ltd.
>
> Rp250? Rp500 juga bisa kalau mau, tentu terlalu 'exaggerated' bagi persepsi
> pasar. Bagi stand-by buyer yang merangkap penerima dana akuisisi dari right
> issue, tinggal 'mark up' selisih kemahalan harga saham KIJA ke dalam nilai
> akuisisi. Yang apes? Yang tidak punya 'leverage' atau posisi terhadap
> skenario pendanaan ini karena mereka akan membayar Rp250 harga super-premium
> penuh dari kantongnya sendiri.
>
>
> http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/201108/E28724F3-64E8-42D5-8678-5A635785A1F9.PDF
>
> Jadi, berapa kisaran harga sebenarnya?
>
> 2) *valuasi pasar*
>
> Mudahnya menyimak
> http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13123/Harga-Saham-Jababeka-Lebih-Mahal-dari-Rata-Rata-Emiten-Properti
> .
>
> Dengan EPS ttm (q2)= Rp4,778 (empat koma tujuh tujuh delapan) maka closing
> price 16 Agustus lalu menghasilkan P/E ttm= 40,185.
> IFT dalam link di atas menyebutkan, "Dengah harga saham pada 16 Agustus
> 2011 sebesar Rp 192, maka trailing price earning (PE) 2011 mencapai 40 kali
> jauh dari rata-rata emiten properti sebesar 19 kali."
>
> Kalau P/E rata-rata industri 19 kali maka ekspektasi harga pasar KIJA=
> Rp91.
>
> Oleh karena itu, asing mendistribusikan holding KIJA-nya.:d
> Jargon-nya "Pasar global koreksi, yang murah banyak, kenapa cari yang
> mahal, apalagi laba akan terdilusi."
>
> *Alternatif*:
> Apabila otot perut traders/investor memang cukup kuat menahan volatilitas
> pasar secara umum, mencari dan memilih prospek yang jelas murah dan
> positif/'improving' jauh lebih baik/aman ketimbang bertahan kepada pilihan
> yang jelas mahal dan didasari tanpa pengetahuan yang memadai sebagaimana
> contoh terjebaknya berbondong-bondong ritel pada KIJA ketika institusi asing
> justru sibuk mendistribusi harga pada level yang nyaman berkat topangan
> ritel.
>
> MDLN jauh lebih prospektif dan terbukti faktual atas data/laporan kinerja
> tertulis.
> Bagaimana tidak? Dengan P/E historikal 10 tahun ke belakang (2001-2010)
> pada rasio terendah (lowest) 19,40 saja, P/E ttm (q1-2011) MDLN baru 16,04
> pada closing price 16 Agustus 2011 @ Rp335 dengan EPS ttm sampai rilis q1=
> Rp20,885.
>
> Bagaimana dengan prospek earnings q2? Rasanya sudah "dibocorkan" beberapa
> hari terakhir (
> http://www.investor.co.id/home/raih-penjualan-rp-400-m-modernland-siapkan-beberapa-klaster-hunian-baru/17681).
> EPS bertambah besar, P/E makin mengecil.
>
> Coba perbandingkan dengan LPCK yang P/E historical terendah 10 tahun
> terakhir-nya 4,21, dan P/E ttm per 16 Agustus 2011 sudah ada di 12,78 atau 3
> kali lipat P/E historikal terendah. Jika hal ini diterapkan dalam
> perhitungan valuasi P/E sederhana MDLN setara LPCK maka P/E-nya secara
> fundamental dapat mencapai 58,2. Is it possible and plausible? Very. Why?
> Karena P/E historikal MDLN 10 tahun terakhir juga mencatat level tertinggi
> P/E ada pada 162,22 kali.
>
> P/E 58,2 maka harga ada pada kisaran? Rp1.216.
>
> On technical? Breakout konsolidasi panjang (strong case of breakout) dan
> pada 16 Agustus 2011, break 52 week high yang sudah bertahan selama 216
> hari. Very-very strong breakout in all cases indeed.
>
> Ingat, hanya bagi yang yakin dengan prospek pasar ke depan, dan punya otot
> perut yang kuat. Pas untuk ukuran kantong lkuiditas ritel, dan fund manager
> small-medium.
>
> '+'
>
>
>
>