Sebentar lagi Pak Dahlan akan ambil keputusan masalah GIAA

Saat ini Beliau sedang melakukan pendekatan ke 3 org pengusaha lokal


\(´▽`)/  HiDuP Cm SkLi JgN DiBuAt SuSaH

-----Original Message-----
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 7 Mar 2012 21:33:05 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA

Saya mah sederhana sajalah mikirnya.
Tarif Garuda Indonesia itu kalau diperhatikan, bisa mencapai hampir 2x
tarif pesawat komersil lainnya seperti air asia atau pun lion air. Kalau
saya pas terbang dengan garuda pas lagi ramai, bisa penuh. Lalu saya tanya
dengan air crew nya, dia bilang kalau weekend atau peak season memang
penuh, kalau hari2 biasa, rata2 terisi 60% atau lebih.

Nah, dari data tersebut, hitung2an kasar saya harusnya kinerja GIAA itu
kinclong banget.   Kenapa koq ngga kinclong2? Secara sederhana saja
tentunya saya lalu mengambil kesimpulan ada yg harus diperbaiki di internal
Garuda Indonesia agar kinerjanya bisa membaik. Perlu diingat, GIAA sudah go
public lebih dari setahun. Belum terlihat peningkatan kinerja yg berarti.
Kalau tidak salah salah satu tujuan dari GIAA go public adalah untuk
mengurangi hutangnya yang besar tersebut. Cuma barusan saya cek lapkeu nya
yang 2011 dan dibandingkan dengan yang 2010 (saat sebelum IPO), koq
hutangnya masih segitu2 saja ya? Tidak ada pengurangan berarti, bahkan
jumlah hutang di Q3 2011 malah lebih tinggi dari jumlah hutang di Q4 2010.
Agak aneh juga sih. :)

Soal asing atau lokal, bagi saya ngga ada masalah. Mau lokal, okay. Mau
asing, okay. Saya pun juga ngga ada menulis bahwa asing lebih baik dari
lokal. Cuma yg saya komentari adalah jangan hanya karena ada asing yg saat
ini tertarik untuk mengambil saham GIAA dimana saham yg mau dibeli itu saat
ini menjadi beban tiga perusahaan sekuritas BUMN yg ada, lalu ditolak.
Urusan cash flow itu urusan yg sangat penting dan urgent bagi kehidupan
sebuah perusahaan. Dari nada omongan meneg BUMN, saya bisa simpulkan
kondisi cash flow tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut sudah dalam
kondisi tidak nyaman lagi akibat terpaksa harus menampung saham GIAA waktu
sisa IPO tahun lalu. Ini yang harus segera diselamatkan lebih dahulu
menurut saya ketimbang berpikir soal asing atau tidak asing. Bila meneg
BUMN belum mampu menyuntik dana tambahan ke tiga perusahaan sekuritas
tersebut sebagai tambahan modal disetor, maka akan jauh lebih baik saham
GIAA tersebut segera dilepas saja ke pembeli yang tertarik.

Toh kalau dilepas semua saham yg dipegang oleh tiga perusahaan sekuritas
BUMN sisa IPO tahun lalu itu hanya sekitar 13,28% saja sehingga asing pun
kalau ambil semua, dia belum jadi mayoritas. Masih minoritas. Pemerintah RI
masih mayoritas, sehingga kecemasan meneg BUMN bahwa Garuda Indonesia
nantinya jadi terbang dengan bendera asing, sepertinya kurang beralasan.

Setelah asing memiliki sekitar 13,28% tersebut, tentunya dia sudah berhak
untuk menaruh wakilnya di jajaran direksi maupun komisaris GIAA. Nah,
tulisan saya di bawah itu sedang mengatakan, siapa tahu saja dengan
masuknya direksi baru maupun komisaris baru, kinerja GIAA itu bisa
meningkat jadi lebih baik, lebih efisien, dst. Khan bisa saja asing yg
masuk itu juga pemilik maskapai penerbangan yg lain sehingga GIAA bisa di
sinergikan dengan maskapainya investor tersebut.

Jadi, dalam menghadapi kesulitan cash flow saat ini seperti yg dialami oleh
tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut, seorang CEO BUMN seperti Pak
Dahlan Iskan, harus bisa ambil keputusan cepat dan tidak terlalu lama2
berpikir dan terlalu banyak pertimbangan. Karena musuh utama dari hutang
adalah waktu. Semakin lama membereskan hutang, maka kondisinya bisa semakin
parah.  Kesalahan dalam mengelola hutang, bisa membuat sebuah perusahaan
bagus atau prospektif sekalipun akan oleng dan bisa berakhir ambrug bila
tidak cepat ditangani.

Tapi kalau meneg BUMN berpikiran lebih baik tiga perusahaan sekuritas BUMN
yg terpaksa pegang GIAA sisa IPO itu kembang kempis cash flow nya, dan
bahkan terancam sesak napas, ketimbang harus menjual 13,28% saham GIAA yg
ada di tiga sekuritas BUMN tersebut ke pihak investor yg ada dalam hal ini
asing, ya ngga apa2 juga sih. Toh saya bukan pemilik tiga sekuritas BUMN
tersebut. Mau dibubarkan dan dinyatakan bangkrut untuk tiga perusahaan
sekuritas BUMN itu pun saya ngga ambil pusing koq. :)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu





2012/3/7 katrin <[email protected]>

>
>
> hehehe memang semua yang dikelola asing akan jadi lebih baik ?
>
> Madoff juga orang asing :D Yang bikin dunia ekonomi jungkir balik juga
> orang asing :D
>
> Indonesia growth masih bagus di negara lain banyak yang berantakan :d
> Kalau perlu silahkan di cek bahwa yang masih membedakan gaji antara
> expatriat dan local staff yah salah satunya di Indonesia ini...:d
>
>
> sayang banget pak Irwan kok masih menganggap begitu :D
>
>
> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>
>> **
>>
>>
>> Total saham GIAA ada 22.640.996.000 lembar. Jadi, kalau hanya 3.008.406.725
>> lembar itu cuma 13,28% saja dari total seluruh saham GIAA yg
>> diterbitkan. Kasih ke asing sajalah, toh dikasih ke asing semua juga mereka
>> masih minoritas.
>> Saham BUMN yg ada di BEI saat ini juga banyak koq yg kepemilikan asingnya
>> lebih dari 13%, santai2 saja tuh. :)
>>
>> Kalau ditunda2 penjualannya, kasihanlah tiga sekuritas plat merah yg
>> terpaksa harus menanggung beban bunga terus. Mumpung lagi ada yg mau beli,
>> kasih sajalah. Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi
>> Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya
>> bisa mengalahkan kinerja Air Asia. :)
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>>
>> 2012/3/7 Nico Adhitya <[email protected]>
>>
>>>
>>>
>>> *Jakarta* - Pemilik Kalla Grup, yang juga mantan Wapres Jusuf Kalla
>>> (JK) menegaskan tak berminat untuk menyerap sebagian saham Garuda yang kini
>>> masih dipegang 3 sekuritas BUMN. JK mengaku tak sanggup membeli nilai saham
>>> yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah itu.
>>>
>>> "Nggak minat, nggak sanggup, tidak pernah main saham. Lagi pula ini kan
>>> perusahaan BUMN," tegas JK kepada *detikFinance*, Rabu (7/3/2012)
>>>
>>> JK menuturkan beban saham yang harus ditanggung oleh 3 perusahaan
>>> sekuritas BUMN itu suatu risiko bisnis. Sejak awal seharusnya para
>>> perusahaan sekuritas sudah menghitung proyeksi harga saham yang bisa
>>> diserap pasar.
>>>
>>> "Kan ada penjamin, namanya pedagang nggak selalu untung, dia harus
>>> menjual, itu tergantung proyeksi sejak awal," katanya.
>>>
>>> Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, siap
>>> merayu pengusaha nasional termasuk Sandiaga Uno, untuk memiliki saham PT
>>> Garuda Indonesia Tbk (GIAA) milik tiga perusahaan sekuritas. Dahlan juga
>>> menawarkan saham Garuda yang sepi peminat ini ke mantan Wakil Presiden RI
>>> Jusuf Kalla (JK).
>>>
>>> Dahlan mengaku tidak rela jika saham Garuda yang juga jadi kebanggan
>>> negara, jatuh ke tangan asing. "Sekuritas yang pegang saham Garuda sudah
>>> ingin jual. Namun belum ada satupun perusahaan dalam negari yang tertarik.
>>> Semuanya asing. Saya prihatin, apa harus seperti itu? Apa ngga ada
>>> pengusaha dalam negeri yang bisa bantu?," jelasnya.
>>>
>>> Lalu kemanakah Dahlan akan menawarkan saham GIAA? Ia hanya sempat
>>> menyebut Jusuf Kalla dan Sandiaga Uno, yang barang kali tertarik untuk
>>> memiliki saham Garuda.
>>>
>>> "Ya mungkin JK (Jusuf Kalla), atau Sandi (Sandiaga Uno). Ada satu lagi
>>> pengusaha asal Jawa Timur. Namun saya lewat media saja, nanti kalau saya
>>> tawarkan nanti disalahkan lagi," tuturnya.
>>>
>>> Keinginan ini menurut Dahlan datang dari aspirasi masyarakat. Jangan
>>> lagi ada perusahaan negara dimiliki asing. Karena sudah waktunya masyarakat
>>> mempunyai semangat yang sama dalam membangun perusahaan kebanggaan
>>> Indonesia.
>>>
>>> "Saya tangkap suara masyarakat. Kita harus akhirnya jual-jual saham ke
>>> asing. Waktunya justru kita beli saham-saham di luar negeri. BUMN haruslah
>>> ekspasi. Kalau diizinkan, saya akan merayu," tambahnya.
>>>
>>> *"Saya tahu risiko harga saham Garuda mahal. Saya sedih. Saya ingin
>>> menyentuh rasa nasionalisme. Siapa tahu ada yang bergerak menjadi pemegang
>>> saham Garuda dan ikut menyehatkan saham Garuda," tegas Dahlan.***
>>> *
>>> *
>>> Seperti diketahui, tiga sekuritas plat merah PT Bahana Securities, PT
>>> Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas terpaksa menyerap saham
>>> perdana (initial public offering/IPO) Garuda karena tidak laku di pasar
>>> karena dianggap terlalu mahal.
>>>
>>> Usai periode penawaran saham perdana Garuda, terdapat sisa saham
>>> 3.008.406.725 lembar yang tidak terserap investor, dengan nilai Rp 2,256
>>> triliun. Ketiganya terpaksa menyerap saham GIAA dengan porsi berimbang dan
>>> kini seluruhnya memiliki kepemilikan 8% dari total modal ditempatkan dan
>>> disetor penuh GIAA.
>>> *(hen/dnl)*
>>>
>>> sumber :
>>> http://finance.detik.com/read/2012/03/07/115528/1859998/6/ditawari-dahlan-beli-saham-garuda-jk-saya-tak-pernah-main-saham
>>>
>>>
>>>
>>
>
>
> --
> Sent With Love *©*
>
>
> 
>

Kirim email ke