hehehehehe mosok sih rate ticket GIA sama dengan SQ :D trus coba deh di check lagi aging hutang nya :D
2012/3/7 <[email protected]> > ** > > > ** Ada baiknya neng katrin langsung turun lapangan liat manajemen GIAA, > drpd sekedar teori nilai 7 dan nilai 9. Simplenya aja seperti kata bang > Ian, dgn rate tiket setara SQ, tapi ratio debtnya menggunung, yah pasti ada > "penyakit" didalam manajemen. Nah "penyakit"nya sama ajalah dgn BUMN yg > lain. > > Ini jg sering dibicarakan rekan investor dgn saya. Yah jujur ajalah dgn > diri kita, memang blm pantas GIAA disetarakan dgn AirAsia. Jauhlah > perbandingan manajemennya.. > > Saya rasa nasionalisme neng katrin tinggi banget sampai rela menggantikan > bule dgn nilai 9 dgn org lokal yg hanya 7. Seandainya saja pejabat kita > seperti neng katrin, maka Indonesia ngga "dijajah" seperti sekrg haha. > > > Sekedar sharing.. > ------------------------------ > *From: * katrin <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Wed, 7 Mar 2012 22:22:29 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA > > > > yah sudah cukup lah ngomongin soal asing-lokal :d > > Statement terakhir aja ya, saya pribadi kalau ada orang Indonesia dengan > nilai prestasi katakanlah 7, kemudian ada orang asing dengan nilai 9, saya > akan memilih orang Indonesia....siapa tau orang Indonesia berikutanya bisa > dapet prestasi 8, trus 9, terus 10....:d > > > > 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > >> ** >> >> >> Posting saya merespon artikel yg dikirimkan dan sempat juga membaca >> artikel lain yg terkait soal itu. >> >> Di artikel jelas tertulis atau dikatakan bahwa saat ini kondisinya yg >> tertarik membeli saham GIAA yg 13,28% itu adalah asing. >> Nah, keberatan Pak Dahlan adalah karena asingnya itu. Makanya saya >> sebutkan bahwa total saham yang mau dijual itu kalau dihitung hanyalah >> 13,28% saja sehingga kalaupun asing semua yang beli, mereka masih >> minoritas. Toh banyak perusahaan BUMN yg listed di BEI juga dimiliki oleh >> asing lebih dari prosentase tersebut, ngga masalah toh, ngga dikeluhkan >> atau disayangkan. >> >> Dalam tulisan tersebut saya tidak mempermasalahkan soal asing atau lokal, >> karena prioritasnya adalah saham tersebut mau dijual dengan segera karena >> sudah menjadi beban bagi tiga sekuritas BUMN yg "terpaksa" harus menyimpan >> saham tersebut selama lebih dari setahun. Itu sebabnya, lahirlah kalimat >> saya yang anda kutipkan, yaitu mencoba melihat sisi positifnya bila jadi >> dijual ke asing yaitu, "Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran >> direksi Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan >> akhirnya bisa mengalahkan kinerja Air Asia." >> >> Sayangnya anda lalu salam ambil kesimpulan seolah2 saya mendewakan asing >> :) >> Padahal, mau asing atau lokal direksinya, semua tergantung kualitas >> orangnya. Orang asing ada juga yg ngga becus, begitu juga orang Indonesia >> juga ada yg ngga becus. Jadi, saya bukan tipe orang suka men generalisir >> sesuatu yg seharusnya tidak bisa di generalisir. Kalau sudah urusan bisnis, >> saya lebih suka bicara profesionalisme tanpa harus melihat latar belakang >> nasionnality seseorang. Bicara bisnis maka kita bicara profit, bukan bicara >> nasionalisme. Kalau bicara politik, barulah kita bicara nasionalisme. >> >> Bagi saya, kalau saya punya wewenang, maka kalau GIAA bisa lebih baik >> kinerjanya dengan meng hire CEO orang asing yg tentunya profesional dan >> sudah terbukti kemampuannya, dengan bayaran gaji USD1 juta per tahun pun >> akan saya lakukan. Ketimbang karena demi rasa nasionalis, saya gaji CEO >> dari dalam negeri dengan gaji USD200 ribu per tahun, tapi kinerjanya untuk >> bangkitin GIAA jadi perusahaan elit, ngga berhasil. >> >> Kalau sudah bicara bisnis, saya lebih senang berpikir secara profesional >> dengan prioritas adalah profit/kinerja dan tentunya juga memperhatikan dan >> mempertimbangkan sustainability nya. Saya kurang tertarik membelokkan ke >> arah nasionalisme, apalagi soal saham GIAA ini. >> >> Mungkin juga Pak Dahlan bicara seperti ini ke media, karena sudah ada >> rencana atau pemikiran sendiri. Karena dia tahu saat ini hanya asing yg >> tertarik beli, dan demi menjaga pencitraannya agar tidak dituduh menjual >> aset negara ke asing, maka dia lemparkan dulu ke para investor lokal dengan >> menyebut dua nama, Pak JK dan Pak SU. Tentunya dua tokoh pengusaha >> nasional ini kemungkinan besarnya akan menolak karena tidak tertarik, maka >> setelah itu Pak Dahlan akan memposisikan dirinya sudah terpaksa harus >> menjual ke pihak asing walau dia tidak mau awalnya, demi menyelamatkan >> kondisi keuangan tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut. Dengan demikian, >> Pak Dahlan tetap bisa menjaga citranya dan dia tidak bisa disalahkan karena >> menjual ke pihak asing. >> >> >> jabat erat, >> Irwan Ariston Napitupulu >> >> 2012/3/7 katrin <[email protected]> >> >>> >>> >>> ok lah........:) >>> >>> cuman statement " Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran >>> direksi Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan >>> akhirnya bisa mengalahkan kinerja Air Asia. :) " >>> >>> yang bisa diartikan bahwa harapan memperbaiki GIA hanya bisa kalau ada >>> Direksi orang asing...jangan sampai ada orang Indonesia bisa jadi top >>> executive di world bank, tapi kita ngimpor bule gembel ke Indonesia....:) >>> >>> anw, kalau diperhatikan, jajaran direksi AirAsia sih gak perlu orang >>> asing :D Cuman 1 Non Asian/Malaysia , dan kerjaan nya sih di safety ajah :D >>> >>> Anw, kalau diperhatiin sih IPO garuda yah korban politik efek dari ipo >>> Kras... >>> >>> >>> >>> >>> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>> >>>> ** >>>> >>>> >>>> Saya mah sederhana sajalah mikirnya. >>>> Tarif Garuda Indonesia itu kalau diperhatikan, bisa mencapai hampir 2x >>>> tarif pesawat komersil lainnya seperti air asia atau pun lion air. Kalau >>>> saya pas terbang dengan garuda pas lagi ramai, bisa penuh. Lalu saya tanya >>>> dengan air crew nya, dia bilang kalau weekend atau peak season memang >>>> penuh, kalau hari2 biasa, rata2 terisi 60% atau lebih. >>>> >>>> Nah, dari data tersebut, hitung2an kasar saya harusnya kinerja GIAA itu >>>> kinclong banget. Kenapa koq ngga kinclong2? Secara sederhana saja >>>> tentunya saya lalu mengambil kesimpulan ada yg harus diperbaiki di internal >>>> Garuda Indonesia agar kinerjanya bisa membaik. Perlu diingat, GIAA sudah go >>>> public lebih dari setahun. Belum terlihat peningkatan kinerja yg berarti. >>>> Kalau tidak salah salah satu tujuan dari GIAA go public adalah untuk >>>> mengurangi hutangnya yang besar tersebut. Cuma barusan saya cek lapkeu nya >>>> yang 2011 dan dibandingkan dengan yang 2010 (saat sebelum IPO), koq >>>> hutangnya masih segitu2 saja ya? Tidak ada pengurangan berarti, bahkan >>>> jumlah hutang di Q3 2011 malah lebih tinggi dari jumlah hutang di Q4 2010. >>>> Agak aneh juga sih. :) >>>> >>>> Soal asing atau lokal, bagi saya ngga ada masalah. Mau lokal, okay. Mau >>>> asing, okay. Saya pun juga ngga ada menulis bahwa asing lebih baik dari >>>> lokal. Cuma yg saya komentari adalah jangan hanya karena ada asing yg saat >>>> ini tertarik untuk mengambil saham GIAA dimana saham yg mau dibeli itu saat >>>> ini menjadi beban tiga perusahaan sekuritas BUMN yg ada, lalu ditolak. >>>> Urusan cash flow itu urusan yg sangat penting dan urgent bagi kehidupan >>>> sebuah perusahaan. Dari nada omongan meneg BUMN, saya bisa simpulkan >>>> kondisi cash flow tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut sudah dalam >>>> kondisi tidak nyaman lagi akibat terpaksa harus menampung saham GIAA waktu >>>> sisa IPO tahun lalu. Ini yang harus segera diselamatkan lebih dahulu >>>> menurut saya ketimbang berpikir soal asing atau tidak asing. Bila meneg >>>> BUMN belum mampu menyuntik dana tambahan ke tiga perusahaan sekuritas >>>> tersebut sebagai tambahan modal disetor, maka akan jauh lebih baik saham >>>> GIAA tersebut segera dilepas saja ke pembeli yang tertarik. >>>> >>>> Toh kalau dilepas semua saham yg dipegang oleh tiga perusahaan >>>> sekuritas BUMN sisa IPO tahun lalu itu hanya sekitar 13,28% saja sehingga >>>> asing pun kalau ambil semua, dia belum jadi mayoritas. Masih minoritas. >>>> Pemerintah RI masih mayoritas, sehingga kecemasan meneg BUMN bahwa Garuda >>>> Indonesia nantinya jadi terbang dengan bendera asing, sepertinya kurang >>>> beralasan. >>>> >>>> Setelah asing memiliki sekitar 13,28% tersebut, tentunya dia sudah >>>> berhak untuk menaruh wakilnya di jajaran direksi maupun komisaris GIAA. >>>> Nah, tulisan saya di bawah itu sedang mengatakan, siapa tahu saja dengan >>>> masuknya direksi baru maupun komisaris baru, kinerja GIAA itu bisa >>>> meningkat jadi lebih baik, lebih efisien, dst. Khan bisa saja asing yg >>>> masuk itu juga pemilik maskapai penerbangan yg lain sehingga GIAA bisa di >>>> sinergikan dengan maskapainya investor tersebut. >>>> >>>> Jadi, dalam menghadapi kesulitan cash flow saat ini seperti yg dialami >>>> oleh tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut, seorang CEO BUMN seperti Pak >>>> Dahlan Iskan, harus bisa ambil keputusan cepat dan tidak terlalu lama2 >>>> berpikir dan terlalu banyak pertimbangan. Karena musuh utama dari hutang >>>> adalah waktu. Semakin lama membereskan hutang, maka kondisinya bisa semakin >>>> parah. Kesalahan dalam mengelola hutang, bisa membuat sebuah perusahaan >>>> bagus atau prospektif sekalipun akan oleng dan bisa berakhir ambrug bila >>>> tidak cepat ditangani. >>>> >>>> Tapi kalau meneg BUMN berpikiran lebih baik tiga perusahaan sekuritas >>>> BUMN yg terpaksa pegang GIAA sisa IPO itu kembang kempis cash flow nya, dan >>>> bahkan terancam sesak napas, ketimbang harus menjual 13,28% saham GIAA yg >>>> ada di tiga sekuritas BUMN tersebut ke pihak investor yg ada dalam hal ini >>>> asing, ya ngga apa2 juga sih. Toh saya bukan pemilik tiga sekuritas BUMN >>>> tersebut. Mau dibubarkan dan dinyatakan bangkrut untuk tiga perusahaan >>>> sekuritas BUMN itu pun saya ngga ambil pusing koq. :) >>>> >>>> >>>> >>>> jabat erat, >>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> 2012/3/7 katrin <[email protected]> >>>> >>>>> >>>>> >>>>> hehehe memang semua yang dikelola asing akan jadi lebih baik ? >>>>> >>>>> Madoff juga orang asing :D Yang bikin dunia ekonomi jungkir balik juga >>>>> orang asing :D >>>>> >>>>> Indonesia growth masih bagus di negara lain banyak yang berantakan :d >>>>> Kalau perlu silahkan di cek bahwa yang masih membedakan gaji antara >>>>> expatriat dan local staff yah salah satunya di Indonesia ini...:d >>>>> >>>>> >>>>> sayang banget pak Irwan kok masih menganggap begitu :D >>>>> >>>>> >>>>> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>>>> >>>>>> ** >>>>>> >>>>>> >>>>>> Total saham GIAA ada 22.640.996.000 lembar. Jadi, kalau hanya >>>>>> 3.008.406.725 >>>>>> lembar itu cuma 13,28% saja dari total seluruh saham GIAA yg >>>>>> diterbitkan. Kasih ke asing sajalah, toh dikasih ke asing semua juga >>>>>> mereka >>>>>> masih minoritas. >>>>>> Saham BUMN yg ada di BEI saat ini juga banyak koq yg kepemilikan >>>>>> asingnya lebih dari 13%, santai2 saja tuh. :) >>>>>> >>>>>> Kalau ditunda2 penjualannya, kasihanlah tiga sekuritas plat merah yg >>>>>> terpaksa harus menanggung beban bunga terus. Mumpung lagi ada yg mau >>>>>> beli, >>>>>> kasih sajalah. Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi >>>>>> Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya >>>>>> bisa mengalahkan kinerja Air Asia. :) >>>>>> >>>>>> jabat erat, >>>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>>> >>>>>> >>>>>> 2012/3/7 Nico Adhitya <[email protected]> >>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> *Jakarta* - Pemilik Kalla Grup, yang juga mantan Wapres Jusuf Kalla >>>>>>> (JK) menegaskan tak berminat untuk menyerap sebagian saham Garuda yang >>>>>>> kini >>>>>>> masih dipegang 3 sekuritas BUMN. JK mengaku tak sanggup membeli nilai >>>>>>> saham >>>>>>> yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah itu. >>>>>>> >>>>>>> "Nggak minat, nggak sanggup, tidak pernah main saham. Lagi pula ini >>>>>>> kan perusahaan BUMN," tegas JK kepada *detikFinance*, Rabu >>>>>>> (7/3/2012) >>>>>>> >>>>>>> JK menuturkan beban saham yang harus ditanggung oleh 3 perusahaan >>>>>>> sekuritas BUMN itu suatu risiko bisnis. Sejak awal seharusnya para >>>>>>> perusahaan sekuritas sudah menghitung proyeksi harga saham yang bisa >>>>>>> diserap pasar. >>>>>>> >>>>>>> "Kan ada penjamin, namanya pedagang nggak selalu untung, dia harus >>>>>>> menjual, itu tergantung proyeksi sejak awal," katanya. >>>>>>> >>>>>>> Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, >>>>>>> siap merayu pengusaha nasional termasuk Sandiaga Uno, untuk memiliki >>>>>>> saham >>>>>>> PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) milik tiga perusahaan sekuritas. Dahlan >>>>>>> juga >>>>>>> menawarkan saham Garuda yang sepi peminat ini ke mantan Wakil Presiden >>>>>>> RI >>>>>>> Jusuf Kalla (JK). >>>>>>> >>>>>>> Dahlan mengaku tidak rela jika saham Garuda yang juga jadi kebanggan >>>>>>> negara, jatuh ke tangan asing. "Sekuritas yang pegang saham Garuda sudah >>>>>>> ingin jual. Namun belum ada satupun perusahaan dalam negari yang >>>>>>> tertarik. >>>>>>> Semuanya asing. Saya prihatin, apa harus seperti itu? Apa ngga ada >>>>>>> pengusaha dalam negeri yang bisa bantu?," jelasnya. >>>>>>> >>>>>>> Lalu kemanakah Dahlan akan menawarkan saham GIAA? Ia hanya sempat >>>>>>> menyebut Jusuf Kalla dan Sandiaga Uno, yang barang kali tertarik untuk >>>>>>> memiliki saham Garuda. >>>>>>> >>>>>>> "Ya mungkin JK (Jusuf Kalla), atau Sandi (Sandiaga Uno). Ada satu >>>>>>> lagi pengusaha asal Jawa Timur. Namun saya lewat media saja, nanti kalau >>>>>>> saya tawarkan nanti disalahkan lagi," tuturnya. >>>>>>> >>>>>>> Keinginan ini menurut Dahlan datang dari aspirasi masyarakat. Jangan >>>>>>> lagi ada perusahaan negara dimiliki asing. Karena sudah waktunya >>>>>>> masyarakat >>>>>>> mempunyai semangat yang sama dalam membangun perusahaan kebanggaan >>>>>>> Indonesia. >>>>>>> >>>>>>> "Saya tangkap suara masyarakat. Kita harus akhirnya jual-jual saham >>>>>>> ke asing. Waktunya justru kita beli saham-saham di luar negeri. BUMN >>>>>>> haruslah ekspasi. Kalau diizinkan, saya akan merayu," tambahnya. >>>>>>> >>>>>>> *"Saya tahu risiko harga saham Garuda mahal. Saya sedih. Saya ingin >>>>>>> menyentuh rasa nasionalisme. Siapa tahu ada yang bergerak menjadi >>>>>>> pemegang >>>>>>> saham Garuda dan ikut menyehatkan saham Garuda," tegas Dahlan.*** >>>>>>> * >>>>>>> * >>>>>>> Seperti diketahui, tiga sekuritas plat merah PT Bahana Securities, >>>>>>> PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas terpaksa menyerap saham >>>>>>> perdana (initial public offering/IPO) Garuda karena tidak laku di pasar >>>>>>> karena dianggap terlalu mahal. >>>>>>> >>>>>>> Usai periode penawaran saham perdana Garuda, terdapat sisa saham >>>>>>> 3.008.406.725 lembar yang tidak terserap investor, dengan nilai Rp 2,256 >>>>>>> triliun. Ketiganya terpaksa menyerap saham GIAA dengan porsi berimbang >>>>>>> dan >>>>>>> kini seluruhnya memiliki kepemilikan 8% dari total modal ditempatkan dan >>>>>>> disetor penuh GIAA. >>>>>>> *(hen/dnl)* >>>>>>> >>>>>>> sumber : >>>>>>> http://finance.detik.com/read/2012/03/07/115528/1859998/6/ditawari-dahlan-beli-saham-garuda-jk-saya-tak-pernah-main-saham >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>> >>>>> >>>>> >>>>> -- >>>>> Sent With Love *©* >>>>> >>>>> >>>>> >>>> >>> >>> >>> -- >>> Sent With Love *©* >>> >>> >>> >> > > > -- > Sent With Love *©* > > > -- Sent With Love *©*
