Sekedar tambahin ajah yahh ... Kantor saya direkturnya asing semua ternyata 
mereka hiring terus konsultan bule... jadi enggak semuanya jadi bagus, good 
governence ?? Enggak juga.. :D.. So jangan percaya 100% bule lebih cerdas dari 
orang lokal sudah terbukti di kantor saya :D

Sent from my iPhone

On 8 Mar 2012, at 03:56, "hakitrader" <[email protected]> wrote:

> 
> 
> Kalo soal nasionalisme, orang Jepang paling nasionalis pergi keluar negeri 
> lebih memilih JAL airlines dari pada airline lain. Sehingga pesawatnya penuh 
> dg orang jepang. 
> http://www.facebook.com/hakie1
> ----- Original Message -----
> From: [email protected]
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, March 07, 2012 11:35 PM
> Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
> 
>  
> Nubie mo ikut komen hu,
> 
> Setuju banget, masalahnya bukan nasionalisme atau tidak nasionalisme, tp 
> kalau dr fakta yg diberikan memang mencerminkan masih rendahnya kualitas SDM 
> lokal (terutama dari segi mental yg selalu mementingkan diri sendiri) mau 
> perusahaan sebagus apapun gak ada gunanya. dikasi negara dengan resource 
> sekaya apapun tetap aja negaranya miskin.
> 
> Bagusan tuh sekalian dikasi ke asing kalau memang bs berkembang, biar makin 
> pd terbuka matanya, salah nya lokal tuh apa sih.
> 
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
> From: [email protected]
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 7 Mar 2012 16:29:11 +0000
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
> 
>  
> Coba cek rate ke australia deh yg deket2 aja, kapanpun itu. Mahalan Garuda 
> drpd SQ. Ini sering diutarakan byk customer penerbangan hehe.
> 
> Sekedar sharing aja, saya jg ngga niat ngajak berdebat. Apapun tanggapan 
> anda, saya tidak perduli. Saya hanya berbicara kenyataan, jujur sajalah dgn 
> diri kita yg masih perlu berbenah. Rata2 BUMN yg sudah berisikan sebagian 
> direksinya dgn foreigner, kinerjanya jd "JAUH" lebih bagus. Contoh besarnya 
> TLKM. Sangat beruntung saya boleh bilang kl sahamnya jg dimiliki singapore. 
> Kl ngga, hancurlah TLKM dgn debt yg bergunung2. Hal ini jg sangat terasa baik 
> dari segi pelayanan dan kwalitas produk semenjak dibeli oleh Singapore. Ini 
> jg diakui oleh karyawan TLKM sendiri.
> From: katrin <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 7 Mar 2012 22:48:50 +0700
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
> 
>  
> hehehehehe mosok sih rate ticket GIA sama dengan SQ :D
> 
> 
> trus coba deh di check lagi aging hutang nya :D
> 
> 
> 
> 2012/3/7 <[email protected]>
>  
> Ada baiknya neng katrin langsung turun lapangan liat manajemen GIAA, drpd 
> sekedar teori nilai 7 dan nilai 9. Simplenya aja seperti kata bang Ian, dgn 
> rate tiket setara SQ, tapi ratio debtnya menggunung, yah pasti ada "penyakit" 
> didalam manajemen. Nah "penyakit"nya sama ajalah dgn BUMN yg lain.
> 
> Ini jg sering dibicarakan rekan investor dgn saya. Yah jujur ajalah dgn diri 
> kita, memang blm pantas GIAA disetarakan dgn AirAsia. Jauhlah perbandingan 
> manajemennya..
> 
> Saya rasa nasionalisme neng katrin tinggi banget sampai rela menggantikan 
> bule dgn nilai 9 dgn org lokal yg hanya 7. Seandainya saja pejabat kita 
> seperti neng katrin, maka Indonesia ngga "dijajah" seperti sekrg haha.
> 
> 
> Sekedar sharing..
> 
> From: katrin <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 7 Mar 2012 22:22:29 +0700
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
> 
>  
> yah sudah cukup lah ngomongin soal asing-lokal :d
> 
> 
> Statement terakhir aja ya, saya pribadi kalau ada orang Indonesia dengan 
> nilai prestasi katakanlah 7, kemudian ada orang asing dengan nilai 9, saya 
> akan memilih orang Indonesia....siapa tau orang Indonesia berikutanya bisa 
> dapet prestasi 8, trus 9, terus 10....:d
> 
> 
> 
> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>  
> Posting saya merespon artikel yg dikirimkan dan sempat juga membaca        
> artikel lain yg terkait soal itu.
> 
> Di artikel jelas tertulis atau dikatakan bahwa saat ini kondisinya yg 
> tertarik membeli saham GIAA yg 13,28% itu adalah asing.
> Nah, keberatan Pak Dahlan adalah karena asingnya itu. Makanya saya sebutkan 
> bahwa total saham yang mau dijual itu kalau dihitung hanyalah 13,28% saja 
> sehingga kalaupun asing semua yang beli, mereka masih minoritas. Toh banyak 
> perusahaan BUMN yg listed di BEI juga dimiliki oleh asing lebih dari 
> prosentase tersebut, ngga masalah toh, ngga dikeluhkan atau disayangkan.
> 
> Dalam tulisan tersebut saya tidak mempermasalahkan soal asing atau lokal, 
> karena prioritasnya adalah saham tersebut mau dijual dengan segera karena 
> sudah menjadi beban bagi tiga sekuritas BUMN yg "terpaksa" harus menyimpan 
> saham tersebut selama lebih dari setahun. Itu sebabnya, lahirlah kalimat saya 
> yang anda kutipkan, yaitu mencoba melihat sisi positifnya bila jadi dijual ke 
> asing yaitu, "Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi Garuda 
> Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya bisa 
> mengalahkan kinerja Air Asia."
> 
> Sayangnya anda lalu salam ambil kesimpulan seolah2 saya mendewakan asing :)
> Padahal, mau asing atau lokal direksinya, semua tergantung kualitas orangnya. 
> Orang asing ada juga yg ngga becus, begitu juga orang Indonesia juga ada yg 
> ngga becus. Jadi, saya bukan tipe orang suka men generalisir sesuatu yg 
> seharusnya tidak bisa di generalisir. Kalau sudah urusan bisnis, saya lebih 
> suka bicara profesionalisme tanpa harus melihat latar belakang nasionnality 
> seseorang. Bicara bisnis maka kita bicara profit, bukan bicara nasionalisme. 
> Kalau bicara politik, barulah kita bicara nasionalisme.
> 
> Bagi saya, kalau saya punya wewenang, maka kalau GIAA bisa lebih baik 
> kinerjanya dengan meng hire CEO orang asing yg tentunya profesional dan sudah 
> terbukti kemampuannya, dengan bayaran gaji USD1 juta per tahun pun akan saya 
> lakukan. Ketimbang karena demi rasa nasionalis, saya gaji CEO dari dalam 
> negeri dengan gaji USD200 ribu per tahun, tapi kinerjanya untuk bangkitin 
> GIAA jadi perusahaan elit, ngga berhasil.
> 
> Kalau sudah bicara bisnis, saya lebih senang berpikir secara profesional 
> dengan prioritas adalah profit/kinerja dan tentunya juga memperhatikan dan 
> mempertimbangkan sustainability nya. Saya kurang tertarik membelokkan ke arah 
> nasionalisme, apalagi soal saham GIAA ini.
> 
> Mungkin juga Pak Dahlan bicara seperti ini ke media, karena sudah ada rencana 
> atau pemikiran sendiri. Karena dia tahu saat ini hanya asing yg tertarik 
> beli, dan demi menjaga pencitraannya agar tidak dituduh menjual aset negara 
> ke asing, maka dia lemparkan dulu ke para investor lokal dengan menyebut dua 
> nama, Pak JK dan Pak SU.  Tentunya dua tokoh pengusaha nasional ini 
> kemungkinan besarnya akan menolak karena tidak tertarik, maka setelah itu Pak 
> Dahlan akan memposisikan dirinya sudah terpaksa harus menjual ke pihak asing 
> walau dia tidak mau awalnya, demi menyelamatkan kondisi keuangan tiga 
> perusahaan sekuritas BUMN tersebut. Dengan demikian, Pak Dahlan tetap bisa 
> menjaga citranya dan dia tidak bisa disalahkan karena menjual ke pihak asing.
> 
> 
> 
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
> 
> 2012/3/7 katrin <[email protected]>
> 
> 
> ok lah........:)
> 
> cuman statement "  Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi 
> Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya 
> bisa mengalahkan kinerja Air Asia. :) "
> 
> yang bisa diartikan bahwa harapan memperbaiki GIA hanya bisa kalau          
> ada Direksi orang asing...jangan sampai ada orang Indonesia bisa jadi         
>  top executive di world bank, tapi kita ngimpor bule gembel ke Indonesia....:)
> 
> anw, kalau diperhatikan, jajaran direksi AirAsia sih gak perlu orang asing :D 
> Cuman 1 Non Asian/Malaysia  , dan kerjaan nya sih di safety ajah :D
> 
> Anw, kalau diperhatiin sih IPO garuda yah korban politik efek dari ipo Kras...
> 
> 
> 
> 
> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>  
> Saya mah sederhana sajalah mikirnya.
> Tarif Garuda Indonesia itu kalau diperhatikan, bisa mencapai hampir 2x tarif 
> pesawat komersil lainnya seperti air asia atau pun lion air. Kalau saya pas 
> terbang dengan garuda pas lagi ramai, bisa penuh. Lalu saya tanya dengan air 
> crew nya, dia bilang kalau weekend atau peak season memang penuh, kalau hari2 
> biasa, rata2 terisi 60% atau lebih.
> 
> Nah, dari data tersebut, hitung2an kasar saya harusnya kinerja GIAA itu 
> kinclong banget.   Kenapa koq ngga kinclong2? Secara sederhana saja tentunya 
> saya lalu mengambil kesimpulan ada yg harus diperbaiki di internal Garuda 
> Indonesia agar kinerjanya bisa membaik. Perlu diingat, GIAA sudah go public 
> lebih dari setahun. Belum terlihat peningkatan kinerja yg berarti. Kalau 
> tidak salah salah satu tujuan dari GIAA go public adalah untuk mengurangi 
> hutangnya yang besar tersebut. Cuma barusan saya cek lapkeu nya yang 2011 dan 
> dibandingkan dengan yang 2010 (saat sebelum IPO), koq hutangnya masih segitu2 
> saja ya? Tidak ada pengurangan berarti, bahkan jumlah hutang di Q3 2011 malah 
> lebih tinggi dari jumlah hutang di Q4 2010. Agak aneh juga sih. :)
> 
> Soal asing atau lokal, bagi saya ngga ada masalah. Mau lokal, okay. Mau 
> asing, okay. Saya pun juga ngga ada menulis bahwa asing lebih baik dari 
> lokal. Cuma yg saya komentari adalah jangan hanya karena ada asing yg saat 
> ini tertarik untuk mengambil saham GIAA dimana saham yg mau dibeli itu saat 
> ini menjadi beban tiga perusahaan sekuritas BUMN yg ada, lalu ditolak. Urusan 
> cash flow itu urusan yg sangat penting dan urgent bagi kehidupan sebuah 
> perusahaan. Dari nada omongan meneg BUMN, saya bisa simpulkan kondisi cash 
> flow tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut sudah dalam kondisi tidak nyaman 
> lagi akibat terpaksa harus menampung saham GIAA waktu sisa IPO tahun lalu. 
> Ini yang harus segera diselamatkan lebih dahulu menurut saya ketimbang 
> berpikir soal asing atau tidak asing. Bila meneg BUMN belum mampu menyuntik 
> dana tambahan ke tiga perusahaan sekuritas tersebut sebagai tambahan modal 
> disetor, maka akan jauh lebih baik saham GIAA tersebut segera dilepas saja ke 
> pembeli yang tertarik.
> 
> Toh kalau dilepas semua saham yg dipegang oleh tiga perusahaan sekuritas BUMN 
> sisa IPO tahun lalu itu hanya sekitar 13,28% saja sehingga asing pun kalau 
> ambil semua, dia belum jadi mayoritas. Masih minoritas. Pemerintah RI masih 
> mayoritas, sehingga kecemasan meneg BUMN bahwa Garuda Indonesia nantinya jadi 
> terbang dengan bendera asing, sepertinya kurang beralasan.
> 
> Setelah asing memiliki sekitar 13,28% tersebut, tentunya dia sudah berhak 
> untuk menaruh wakilnya di jajaran direksi maupun komisaris GIAA. Nah, tulisan 
> saya di bawah itu sedang mengatakan, siapa tahu saja dengan masuknya direksi 
> baru maupun komisaris baru, kinerja GIAA itu bisa meningkat jadi lebih baik, 
> lebih efisien, dst. Khan bisa saja asing yg masuk itu juga pemilik maskapai 
> penerbangan yg lain sehingga GIAA bisa di sinergikan dengan maskapainya 
> investor tersebut.
> 
> Jadi, dalam menghadapi kesulitan cash flow saat ini seperti yg dialami oleh 
> tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut, seorang CEO BUMN seperti Pak Dahlan 
> Iskan, harus bisa ambil keputusan cepat dan tidak terlalu lama2 berpikir dan 
> terlalu banyak pertimbangan. Karena musuh utama dari hutang adalah waktu. 
> Semakin lama membereskan hutang, maka kondisinya bisa semakin parah.  
> Kesalahan dalam mengelola hutang, bisa membuat sebuah perusahaan bagus atau 
> prospektif sekalipun akan oleng dan bisa berakhir ambrug bila tidak cepat 
> ditangani.
> 
> Tapi kalau meneg BUMN berpikiran lebih baik tiga perusahaan sekuritas BUMN yg 
> terpaksa pegang GIAA sisa IPO itu kembang kempis cash flow nya, dan bahkan 
> terancam sesak napas, ketimbang harus menjual 13,28% saham GIAA yg ada di 
> tiga sekuritas BUMN tersebut ke pihak investor yg ada dalam hal ini asing, ya 
> ngga apa2 juga sih. Toh saya bukan pemilik tiga sekuritas BUMN tersebut. Mau 
> dibubarkan dan dinyatakan bangkrut untuk tiga perusahaan sekuritas BUMN itu 
> pun saya ngga ambil pusing koq. :)
> 
> 
> 
> 
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
> 
> 
> 
> 
> 
> 2012/3/7 katrin <[email protected]>
> 
> 
> hehehe memang semua yang dikelola asing akan jadi lebih baik ?
> 
> Madoff juga orang asing :D Yang bikin dunia ekonomi jungkir balik juga orang 
> asing :D
> 
> Indonesia growth masih bagus di negara lain banyak yang berantakan :d
> Kalau perlu silahkan di cek bahwa yang masih membedakan gaji antara expatriat 
> dan local staff yah salah satunya di Indonesia ini...:d
> 
> 
> sayang banget pak Irwan kok masih menganggap begitu :D
> 
> 
> 2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>  
> Total saham GIAA ada 22.640.996.000 lembar. Jadi, kalau hanya 3.008.406.725 
> lembar itu cuma 13,28% saja dari total seluruh saham GIAA yg diterbitkan. 
> Kasih ke asing sajalah, toh dikasih ke asing semua juga mereka masih 
> minoritas.
> Saham BUMN yg ada di BEI saat ini juga banyak koq yg kepemilikan asingnya 
> lebih dari 13%, santai2 saja tuh. :)
> 
> Kalau ditunda2 penjualannya, kasihanlah tiga sekuritas plat merah yg terpaksa 
> harus menanggung beban bunga terus. Mumpung lagi ada yg mau beli, kasih 
> sajalah. Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi Garuda 
> Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya bisa 
> mengalahkan kinerja Air Asia. :)
> 
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
> 
> 
> 
> 2012/3/7 Nico Adhitya <[email protected]>
> 
> 
> Jakarta - Pemilik Kalla Grup, yang juga mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) 
> menegaskan tak berminat untuk menyerap sebagian saham Garuda yang kini masih 
> dipegang 3 sekuritas BUMN. JK mengaku tak sanggup membeli nilai saham yang 
> jumlahnya mencapai triliunan rupiah itu.
> 
> "Nggak minat, nggak sanggup, tidak pernah main saham. Lagi pula ini kan 
> perusahaan BUMN," tegas JK kepada detikFinance, Rabu (7/3/2012)
> 
> JK menuturkan beban saham yang harus ditanggung oleh 3 perusahaan sekuritas 
> BUMN itu suatu risiko bisnis. Sejak awal seharusnya para perusahaan sekuritas 
> sudah menghitung proyeksi harga saham yang bisa diserap pasar.
> 
> "Kan ada penjamin, namanya pedagang nggak selalu untung, dia harus menjual, 
> itu tergantung proyeksi sejak awal," katanya.
> 
> Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, siap merayu 
> pengusaha nasional termasuk Sandiaga Uno, untuk memiliki saham PT Garuda 
> Indonesia Tbk (GIAA) milik tiga perusahaan sekuritas. Dahlan juga menawarkan 
> saham Garuda yang sepi peminat ini ke mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla 
> (JK).
> 
> Dahlan mengaku tidak rela jika saham Garuda yang juga jadi kebanggan negara, 
> jatuh ke tangan asing. "Sekuritas yang pegang saham Garuda sudah ingin jual. 
> Namun belum ada satupun perusahaan dalam negari yang tertarik. Semuanya 
> asing. Saya prihatin, apa harus seperti itu? Apa ngga ada pengusaha dalam 
> negeri yang bisa bantu?," jelasnya.
> 
> Lalu kemanakah Dahlan akan menawarkan saham GIAA? Ia hanya sempat menyebut 
> Jusuf Kalla dan Sandiaga Uno, yang barang kali tertarik untuk memiliki saham 
> Garuda.
> 
> "Ya mungkin JK (Jusuf Kalla), atau Sandi (Sandiaga Uno). Ada satu lagi 
> pengusaha asal Jawa Timur. Namun saya lewat media saja, nanti kalau saya 
> tawarkan nanti disalahkan lagi," tuturnya.
> 
> Keinginan ini menurut Dahlan datang dari aspirasi masyarakat. Jangan lagi ada 
> perusahaan negara dimiliki asing. Karena sudah waktunya masyarakat mempunyai 
> semangat yang sama dalam membangun perusahaan kebanggaan Indonesia.
> 
> "Saya tangkap suara masyarakat. Kita harus akhirnya jual-jual saham ke asing. 
> Waktunya justru kita beli saham-saham di luar negeri. BUMN haruslah ekspasi. 
> Kalau diizinkan, saya akan merayu," tambahnya.
> 
> "Saya tahu risiko harga saham Garuda mahal. Saya sedih. Saya ingin menyentuh 
> rasa nasionalisme. Siapa tahu ada yang bergerak menjadi pemegang saham Garuda 
> dan ikut menyehatkan saham Garuda," tegas Dahlan.
> 
> Seperti diketahui, tiga sekuritas plat merah PT Bahana Securities, PT 
> Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas terpaksa menyerap saham perdana 
> (initial public offering/IPO) Garuda karena tidak laku di pasar karena 
> dianggap terlalu mahal.
> 
> Usai periode penawaran saham perdana Garuda, terdapat sisa saham 
> 3.008.406.725 lembar yang tidak terserap investor, dengan nilai Rp 2,256 
> triliun. Ketiganya terpaksa menyerap saham GIAA dengan porsi berimbang dan 
> kini seluruhnya memiliki kepemilikan 8% dari total modal ditempatkan dan 
> disetor penuh GIAA.
> (hen/dnl)  
> 
> sumber : 
> http://finance.detik.com/read/2012/03/07/115528/1859998/6/ditawari-dahlan-beli-saham-garuda-jk-saya-tak-pernah-main-saham
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> Sent With Love ©
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> Sent With Love ©
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> Sent With Love ©
> 
> 
> 
> -- 
> Sent With Love ©
> 

Kirim email ke