Kalo soal nasionalisme, orang Jepang paling nasionalis pergi keluar negeri
lebih memilih JAL airlines dari pada airline lain. Sehingga pesawatnya penuh dg
orang jepang.
http://www.facebook.com/hakie1
----- Original Message -----
From: [email protected]
To: [email protected]
Sent: Wednesday, March 07, 2012 11:35 PM
Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
Nubie mo ikut komen hu,
Setuju banget, masalahnya bukan nasionalisme atau tidak nasionalisme, tp
kalau dr fakta yg diberikan memang mencerminkan masih rendahnya kualitas SDM
lokal (terutama dari segi mental yg selalu mementingkan diri sendiri) mau
perusahaan sebagus apapun gak ada gunanya. dikasi negara dengan resource sekaya
apapun tetap aja negaranya miskin.
Bagusan tuh sekalian dikasi ke asing kalau memang bs berkembang, biar makin
pd terbuka matanya, salah nya lokal tuh apa sih.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
------------------------------------------------------------------------------
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Wed, 7 Mar 2012 16:29:11 +0000
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
Coba cek rate ke australia deh yg deket2 aja, kapanpun itu. Mahalan Garuda
drpd SQ. Ini sering diutarakan byk customer penerbangan hehe.
Sekedar sharing aja, saya jg ngga niat ngajak berdebat. Apapun tanggapan
anda, saya tidak perduli. Saya hanya berbicara kenyataan, jujur sajalah dgn
diri kita yg masih perlu berbenah. Rata2 BUMN yg sudah berisikan sebagian
direksinya dgn foreigner, kinerjanya jd "JAUH" lebih bagus. Contoh besarnya
TLKM. Sangat beruntung saya boleh bilang kl sahamnya jg dimiliki singapore. Kl
ngga, hancurlah TLKM dgn debt yg bergunung2. Hal ini jg sangat terasa baik dari
segi pelayanan dan kwalitas produk semenjak dibeli oleh Singapore. Ini jg
diakui oleh karyawan TLKM sendiri.
------------------------------------------------------------------------------
From: katrin <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 7 Mar 2012 22:48:50 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
hehehehehe mosok sih rate ticket GIA sama dengan SQ :D
trus coba deh di check lagi aging hutang nya :D
2012/3/7 <[email protected]>
Ada baiknya neng katrin langsung turun lapangan liat manajemen GIAA, drpd
sekedar teori nilai 7 dan nilai 9. Simplenya aja seperti kata bang Ian, dgn
rate tiket setara SQ, tapi ratio debtnya menggunung, yah pasti ada "penyakit"
didalam manajemen. Nah "penyakit"nya sama ajalah dgn BUMN yg lain.
Ini jg sering dibicarakan rekan investor dgn saya. Yah jujur ajalah dgn
diri kita, memang blm pantas GIAA disetarakan dgn AirAsia. Jauhlah perbandingan
manajemennya..
Saya rasa nasionalisme neng katrin tinggi banget sampai rela menggantikan
bule dgn nilai 9 dgn org lokal yg hanya 7. Seandainya saja pejabat kita seperti
neng katrin, maka Indonesia ngga "dijajah" seperti sekrg haha.
Sekedar sharing..
----------------------------------------------------------------------------
From: katrin <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 7 Mar 2012 22:22:29 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: [saham] Yang nasionalis beli GIAA
yah sudah cukup lah ngomongin soal asing-lokal :d
Statement terakhir aja ya, saya pribadi kalau ada orang Indonesia dengan
nilai prestasi katakanlah 7, kemudian ada orang asing dengan nilai 9, saya akan
memilih orang Indonesia....siapa tau orang Indonesia berikutanya bisa dapet
prestasi 8, trus 9, terus 10....:d
2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Posting saya merespon artikel yg dikirimkan dan sempat juga membaca
artikel lain yg terkait soal itu.
Di artikel jelas tertulis atau dikatakan bahwa saat ini kondisinya yg
tertarik membeli saham GIAA yg 13,28% itu adalah asing.
Nah, keberatan Pak Dahlan adalah karena asingnya itu. Makanya saya
sebutkan bahwa total saham yang mau dijual itu kalau dihitung hanyalah 13,28%
saja sehingga kalaupun asing semua yang beli, mereka masih minoritas. Toh
banyak perusahaan BUMN yg listed di BEI juga dimiliki oleh asing lebih dari
prosentase tersebut, ngga masalah toh, ngga dikeluhkan atau disayangkan.
Dalam tulisan tersebut saya tidak mempermasalahkan soal asing atau lokal,
karena prioritasnya adalah saham tersebut mau dijual dengan segera karena sudah
menjadi beban bagi tiga sekuritas BUMN yg "terpaksa" harus menyimpan saham
tersebut selama lebih dari setahun. Itu sebabnya, lahirlah kalimat saya yang
anda kutipkan, yaitu mencoba melihat sisi positifnya bila jadi dijual ke asing
yaitu, "Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi Garuda
Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya bisa
mengalahkan kinerja Air Asia."
Sayangnya anda lalu salam ambil kesimpulan seolah2 saya mendewakan asing
:)
Padahal, mau asing atau lokal direksinya, semua tergantung kualitas
orangnya. Orang asing ada juga yg ngga becus, begitu juga orang Indonesia juga
ada yg ngga becus. Jadi, saya bukan tipe orang suka men generalisir sesuatu yg
seharusnya tidak bisa di generalisir. Kalau sudah urusan bisnis, saya lebih
suka bicara profesionalisme tanpa harus melihat latar belakang nasionnality
seseorang. Bicara bisnis maka kita bicara profit, bukan bicara nasionalisme.
Kalau bicara politik, barulah kita bicara nasionalisme.
Bagi saya, kalau saya punya wewenang, maka kalau GIAA bisa lebih baik
kinerjanya dengan meng hire CEO orang asing yg tentunya profesional dan sudah
terbukti kemampuannya, dengan bayaran gaji USD1 juta per tahun pun akan saya
lakukan. Ketimbang karena demi rasa nasionalis, saya gaji CEO dari dalam negeri
dengan gaji USD200 ribu per tahun, tapi kinerjanya untuk bangkitin GIAA jadi
perusahaan elit, ngga berhasil.
Kalau sudah bicara bisnis, saya lebih senang berpikir secara profesional
dengan prioritas adalah profit/kinerja dan tentunya juga memperhatikan dan
mempertimbangkan sustainability nya. Saya kurang tertarik membelokkan ke arah
nasionalisme, apalagi soal saham GIAA ini.
Mungkin juga Pak Dahlan bicara seperti ini ke media, karena sudah ada
rencana atau pemikiran sendiri. Karena dia tahu saat ini hanya asing yg
tertarik beli, dan demi menjaga pencitraannya agar tidak dituduh menjual aset
negara ke asing, maka dia lemparkan dulu ke para investor lokal dengan menyebut
dua nama, Pak JK dan Pak SU. Tentunya dua tokoh pengusaha nasional ini
kemungkinan besarnya akan menolak karena tidak tertarik, maka setelah itu Pak
Dahlan akan memposisikan dirinya sudah terpaksa harus menjual ke pihak asing
walau dia tidak mau awalnya, demi menyelamatkan kondisi keuangan tiga
perusahaan sekuritas BUMN tersebut. Dengan demikian, Pak Dahlan tetap bisa
menjaga citranya dan dia tidak bisa disalahkan karena menjual ke pihak asing.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
2012/3/7 katrin <[email protected]>
ok lah........:)
cuman statement " Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran
direksi Garuda Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan
akhirnya bisa mengalahkan kinerja Air Asia. :) "
yang bisa diartikan bahwa harapan memperbaiki GIA hanya bisa kalau ada
Direksi orang asing...jangan sampai ada orang Indonesia bisa jadi top executive
di world bank, tapi kita ngimpor bule gembel ke Indonesia....:)
anw, kalau diperhatikan, jajaran direksi AirAsia sih gak perlu orang
asing :D Cuman 1 Non Asian/Malaysia , dan kerjaan nya sih di safety ajah :D
Anw, kalau diperhatiin sih IPO garuda yah korban politik efek dari ipo
Kras...
2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Saya mah sederhana sajalah mikirnya.
Tarif Garuda Indonesia itu kalau diperhatikan, bisa mencapai hampir
2x tarif pesawat komersil lainnya seperti air asia atau pun lion air. Kalau
saya pas terbang dengan garuda pas lagi ramai, bisa penuh. Lalu saya tanya
dengan air crew nya, dia bilang kalau weekend atau peak season memang penuh,
kalau hari2 biasa, rata2 terisi 60% atau lebih.
Nah, dari data tersebut, hitung2an kasar saya harusnya kinerja GIAA
itu kinclong banget. Kenapa koq ngga kinclong2? Secara sederhana saja
tentunya saya lalu mengambil kesimpulan ada yg harus diperbaiki di internal
Garuda Indonesia agar kinerjanya bisa membaik. Perlu diingat, GIAA sudah go
public lebih dari setahun. Belum terlihat peningkatan kinerja yg berarti. Kalau
tidak salah salah satu tujuan dari GIAA go public adalah untuk mengurangi
hutangnya yang besar tersebut. Cuma barusan saya cek lapkeu nya yang 2011 dan
dibandingkan dengan yang 2010 (saat sebelum IPO), koq hutangnya masih segitu2
saja ya? Tidak ada pengurangan berarti, bahkan jumlah hutang di Q3 2011 malah
lebih tinggi dari jumlah hutang di Q4 2010. Agak aneh juga sih. :)
Soal asing atau lokal, bagi saya ngga ada masalah. Mau lokal, okay.
Mau asing, okay. Saya pun juga ngga ada menulis bahwa asing lebih baik dari
lokal. Cuma yg saya komentari adalah jangan hanya karena ada asing yg saat ini
tertarik untuk mengambil saham GIAA dimana saham yg mau dibeli itu saat ini
menjadi beban tiga perusahaan sekuritas BUMN yg ada, lalu ditolak. Urusan cash
flow itu urusan yg sangat penting dan urgent bagi kehidupan sebuah perusahaan.
Dari nada omongan meneg BUMN, saya bisa simpulkan kondisi cash flow tiga
perusahaan sekuritas BUMN tersebut sudah dalam kondisi tidak nyaman lagi akibat
terpaksa harus menampung saham GIAA waktu sisa IPO tahun lalu. Ini yang harus
segera diselamatkan lebih dahulu menurut saya ketimbang berpikir soal asing
atau tidak asing. Bila meneg BUMN belum mampu menyuntik dana tambahan ke tiga
perusahaan sekuritas tersebut sebagai tambahan modal disetor, maka akan jauh
lebih baik saham GIAA tersebut segera dilepas saja ke pembeli yang tertarik.
Toh kalau dilepas semua saham yg dipegang oleh tiga perusahaan
sekuritas BUMN sisa IPO tahun lalu itu hanya sekitar 13,28% saja sehingga asing
pun kalau ambil semua, dia belum jadi mayoritas. Masih minoritas. Pemerintah RI
masih mayoritas, sehingga kecemasan meneg BUMN bahwa Garuda Indonesia nantinya
jadi terbang dengan bendera asing, sepertinya kurang beralasan.
Setelah asing memiliki sekitar 13,28% tersebut, tentunya dia sudah
berhak untuk menaruh wakilnya di jajaran direksi maupun komisaris GIAA. Nah,
tulisan saya di bawah itu sedang mengatakan, siapa tahu saja dengan masuknya
direksi baru maupun komisaris baru, kinerja GIAA itu bisa meningkat jadi lebih
baik, lebih efisien, dst. Khan bisa saja asing yg masuk itu juga pemilik
maskapai penerbangan yg lain sehingga GIAA bisa di sinergikan dengan
maskapainya investor tersebut.
Jadi, dalam menghadapi kesulitan cash flow saat ini seperti yg
dialami oleh tiga perusahaan sekuritas BUMN tersebut, seorang CEO BUMN seperti
Pak Dahlan Iskan, harus bisa ambil keputusan cepat dan tidak terlalu lama2
berpikir dan terlalu banyak pertimbangan. Karena musuh utama dari hutang adalah
waktu. Semakin lama membereskan hutang, maka kondisinya bisa semakin parah.
Kesalahan dalam mengelola hutang, bisa membuat sebuah perusahaan bagus atau
prospektif sekalipun akan oleng dan bisa berakhir ambrug bila tidak cepat
ditangani.
Tapi kalau meneg BUMN berpikiran lebih baik tiga perusahaan sekuritas
BUMN yg terpaksa pegang GIAA sisa IPO itu kembang kempis cash flow nya, dan
bahkan terancam sesak napas, ketimbang harus menjual 13,28% saham GIAA yg ada
di tiga sekuritas BUMN tersebut ke pihak investor yg ada dalam hal ini asing,
ya ngga apa2 juga sih. Toh saya bukan pemilik tiga sekuritas BUMN tersebut. Mau
dibubarkan dan dinyatakan bangkrut untuk tiga perusahaan sekuritas BUMN itu pun
saya ngga ambil pusing koq. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
2012/3/7 katrin <[email protected]>
hehehe memang semua yang dikelola asing akan jadi lebih baik ?
Madoff juga orang asing :D Yang bikin dunia ekonomi jungkir balik
juga orang asing :D
Indonesia growth masih bagus di negara lain banyak yang berantakan
:d
Kalau perlu silahkan di cek bahwa yang masih membedakan gaji antara
expatriat dan local staff yah salah satunya di Indonesia ini...:d
sayang banget pak Irwan kok masih menganggap begitu :D
2012/3/7 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Total saham GIAA ada 22.640.996.000 lembar. Jadi, kalau hanya
3.008.406.725 lembar itu cuma 13,28% saja dari total seluruh saham GIAA yg
diterbitkan. Kasih ke asing sajalah, toh dikasih ke asing semua juga mereka
masih minoritas.
Saham BUMN yg ada di BEI saat ini juga banyak koq yg kepemilikan
asingnya lebih dari 13%, santai2 saja tuh. :)
Kalau ditunda2 penjualannya, kasihanlah tiga sekuritas plat merah
yg terpaksa harus menanggung beban bunga terus. Mumpung lagi ada yg mau beli,
kasih sajalah. Mudah2an, setelah ada asing yg masuk ke jajaran direksi Garuda
Indonesia nantinya, maka kinerja GIAA jadi makin baik dan akhirnya bisa
mengalahkan kinerja Air Asia. :)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
2012/3/7 Nico Adhitya <[email protected]>
Jakarta - Pemilik Kalla Grup, yang juga mantan Wapres Jusuf
Kalla (JK) menegaskan tak berminat untuk menyerap sebagian saham Garuda yang
kini masih dipegang 3 sekuritas BUMN. JK mengaku tak sanggup membeli nilai
saham yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah itu.
"Nggak minat, nggak sanggup, tidak pernah main saham. Lagi pula
ini kan perusahaan BUMN," tegas JK kepada detikFinance, Rabu (7/3/2012)
JK menuturkan beban saham yang harus ditanggung oleh 3
perusahaan sekuritas BUMN itu suatu risiko bisnis. Sejak awal seharusnya para
perusahaan sekuritas sudah menghitung proyeksi harga saham yang bisa diserap
pasar.
"Kan ada penjamin, namanya pedagang nggak selalu untung, dia
harus menjual, itu tergantung proyeksi sejak awal," katanya.
Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan
Iskan, siap merayu pengusaha nasional termasuk Sandiaga Uno, untuk memiliki
saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) milik tiga perusahaan sekuritas. Dahlan
juga menawarkan saham Garuda yang sepi peminat ini ke mantan Wakil Presiden RI
Jusuf Kalla (JK).
Dahlan mengaku tidak rela jika saham Garuda yang juga jadi
kebanggan negara, jatuh ke tangan asing. "Sekuritas yang pegang saham Garuda
sudah ingin jual. Namun belum ada satupun perusahaan dalam negari yang
tertarik. Semuanya asing. Saya prihatin, apa harus seperti itu? Apa ngga ada
pengusaha dalam negeri yang bisa bantu?," jelasnya.
Lalu kemanakah Dahlan akan menawarkan saham GIAA? Ia hanya
sempat menyebut Jusuf Kalla dan Sandiaga Uno, yang barang kali tertarik untuk
memiliki saham Garuda.
"Ya mungkin JK (Jusuf Kalla), atau Sandi (Sandiaga Uno). Ada
satu lagi pengusaha asal Jawa Timur. Namun saya lewat media saja, nanti kalau
saya tawarkan nanti disalahkan lagi," tuturnya.
Keinginan ini menurut Dahlan datang dari aspirasi masyarakat.
Jangan lagi ada perusahaan negara dimiliki asing. Karena sudah waktunya
masyarakat mempunyai semangat yang sama dalam membangun perusahaan kebanggaan
Indonesia.
"Saya tangkap suara masyarakat. Kita harus akhirnya jual-jual
saham ke asing. Waktunya justru kita beli saham-saham di luar negeri. BUMN
haruslah ekspasi. Kalau diizinkan, saya akan merayu," tambahnya.
"Saya tahu risiko harga saham Garuda mahal. Saya sedih. Saya
ingin menyentuh rasa nasionalisme. Siapa tahu ada yang bergerak menjadi
pemegang saham Garuda dan ikut menyehatkan saham Garuda," tegas Dahlan.
Seperti diketahui, tiga sekuritas plat merah PT Bahana
Securities, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas terpaksa menyerap
saham perdana (initial public offering/IPO) Garuda karena tidak laku di pasar
karena dianggap terlalu mahal.
Usai periode penawaran saham perdana Garuda, terdapat sisa
saham 3.008.406.725 lembar yang tidak terserap investor, dengan nilai Rp 2,256
triliun. Ketiganya terpaksa menyerap saham GIAA dengan porsi berimbang dan kini
seluruhnya memiliki kepemilikan 8% dari total modal ditempatkan dan disetor
penuh GIAA.
(hen/dnl)
sumber :
http://finance.detik.com/read/2012/03/07/115528/1859998/6/ditawari-dahlan-beli-saham-garuda-jk-saya-tak-pernah-main-saham
--
Sent With Love ©
--
Sent With Love ©
--
Sent With Love ©
--
Sent With Love ©