Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk masalah ini misalkan dengan membiayai mereka2 itu untuk masuk sekolah dan membebaskanya dari jeratan mafia, mungkin anda juga bertanya biayanya gimana?
Sebenarnya dalam ajaran agama(islam) ada istilah zakat yang menurut saya tidak pernah di jalankan dengan benar, coba bayangkan misalkan setiap orang yang meimiliki penghasilan diatas 1 jt di wajibkan bayar zakat 2,5% = Rp25.000 dan misalkan dalam satu kota seperti di tempat saya tinggal surabaya misalkan ada sekitar Rp100.000 orang dengan penghasilan tersebut maka uang yang terkumpul kurang lebih Rp2.500.000.000 (dua setengah milyar) Itu kalo penghasilanya rata2 1 juta padahal yang penghasilanya di atas itu 2jt atau sampai 5 jt ada berapa banyak, yang jadi masalah kadang kita terlalu takut menjadi miskin dengan mambayar zakat. Untuk yang merasa muslim ingat di dalam harta kalian ada sebagian yang merupakan hak-hak anak-anak tersebut yang belum anda berikan. salam hasyim --- Toni Tegar Sahidi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Wah ya jangan dibiarkan mati tho, yang namanya anak > jalanan itu kan bagaimanapun juga adalah manusia. > Coba kalo ANda digitukan? mau? Itu namanya bukan > mati sevara terhormat, namun mati sebagai seorang > manusia yang sia-sia. > Apakah itu sebuah Eksploitasi..?? saya rasa bukan. > Yang meksploitasi mereka pada dasarnya adalah para > preman2 ataupun mafia2 yang mengkoordinir Anak2 > jalanan itu sehingga mereka tetap menjadi Anjal > hingga sekarang. Tapi bukanlah caranya jika kita ber > suudzon sehingga kita tidak mau meberikan rupiah > bagi mereka..!! > Dengan memberikan mereka beberapa rupiah, itu > bukanlah eksploitasi bagi mereka. Jika kita > berpositive thinking, setidaknya uang itu dapa > menyambung hidup mereka. MESKI HANYA SATU JAM...!! > Atau pun jika Anda berpikir bahwa mereka dikoordinir > oleh semacam mafia, Setidaknya kita bisa mengurangi > sebuah pukulan yang diberikan oleh bos mereka hanya > karena setoran mereka kurang. > Namun dibalik itu, sebenarnya memberi mereka uang > masih adalah jauh lebih mulia daripada tidak. Meski > itu hanya berefek pendek. Mau hal yang berefek > panjang..?? jadikan mereka jadi anak asuh. > Sekolahkan, dan penuhi kebutuhannya. Ini akan > menjadi sebuah efek berantai bagi pahala dan amal > anda untuk seterusnya. MAu tahu cara yang lain? ini > saya lampirkan (di bagian paling bawah email ini) > sebuah cerita dari eramuslim.com n moga berguna. Tak > hanya mengentas anak jalanan, namun juga mengangkat > mereka dan orang2 disekitar mereka, menjadi jauh > lebih ...... > Ingin sebenarnya saya juga melakukan apa yang saya > katakan diatas. Namun apalah daya, diri ini masih > SMA kelas 3, NAmun sungguh benar, bahwa jika kelak > saya diberi Rizki yang berlebih dari Allah, Insya > Allah akan saya usahakan untuk melakukan hal diatas. > so doain saya ya..!! > sesama orang baru... Salam kenal, aku jugabaru > koq.. ^_^; > > (Baca lampiran di bagian paling bawah email ini..) > ----- Original Message ----- > From: [EMAIL PROTECTED] > To: [email protected] > Sent: Monday, April 18, 2005 11:10 AM > Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan > Kalau menurut saya, berilah dan tidak usah > berpikir macam-macam tentang > mereka karena > tak ada yang buruk dengan memberi, apalagi memberi > dengan ikhlas dan dari > kekurangan anda. > Lebih baik memberi daripada menerima bukan? > Salam. > > > sari mawar <[EMAIL PROTECTED]> on 18/04/2005 > 10:43:51 > Please respond to [email protected] > > To: [email protected] > cc: (bcc: Antonius S Santosa/1000/SJB) > Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan > > > kalau menurut saya, kalau anda mau memberi > berilah, kalau tidak jangan. > Jangan sampai apa yang anda berikan tidak menjadi > berkat buat dia. Untuk > urusan perkataan apakah itu mengeploitasi mereka, > itu masalah yang bicara > saja. Mungkin anda coba mencari cara lain dalam > memberi. Kan memberi tidak > harus berupa uang, mungkin dengan mengajarkan > keterampilan yang anda > miliki. Kalau soal peraturan pemerintah????????? > jangan harap pemerintah > memikirkannya, karena mereka sudah sibuk dengan > pikiran mereka masing2 > bagaimana untuk mempertahankan kedududkan mereka > di sana. > Anak jalanan? ga tahu tuch?????Penting apa anak > jalanan itu?(mungkin itu > kali yach pikiran mereka)Semoga bisa berguna > thanks. > > akubiru_85 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > halo, aku orang baru. namun aku tertarik > mengemukakan satu pertanyaan > yang selama ini mengganggu. apa memberi sedekah > pada org2 di jalanan > itu benar suatu eksploitasi terhadap mereka > sendiri? burukkah itu? apa > lebih baik membiarkan mereka mati begitu saja 'dgn > terhormat'? (krn > pemerintah kita belum scr jelas memberi perhatian > terhadap hal ini. > > > > ::Berhenti Menjadi Pengemis > > > > Publikasi: 05/10/2004 11:18 WIB > > eramuslim - Selama ini, saya selalu menyediakan > beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau > melewati pengemis atau ada pengemis yang > menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat > satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh > di kantong habis baru lah aku berhenti dan > menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang > ke sekian. > > > > Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena > memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap > hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah > atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung > persediaan. > > > > Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya > saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah > melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal > kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. > Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah > dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat > sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar > Minggu, anggapan saya itu ternyata salah. > > > > Seorang ibu setengah baya sambil menggendong > anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan > tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang > mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding > mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu > lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu > rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa > yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua > lembar uang itu. > > > > "Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, > yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya > Diding > > > > Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan > memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang > serta merta menunjuk uang seratus ribu. > > > > "Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus > dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus > ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu > harus mengembalikannya dalam waktu yang kita > tentukan, bagaimana?" terang Diding. > > > > Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk > menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan > maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang > seratus ribu itu hanya pinjaman?" > > > > "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, > kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, > paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya > akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu > agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu > meminta-minta lagi," katanya. > > > > Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik > memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang > agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. > Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan > membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki > beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, > seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain. > > > > Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami > bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu > jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, > dan === message truncated === __________________________________ Do you Yahoo!? Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides! http://travel.yahoo.com/p-travelguide ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !! Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
